Gua Jepang, Sebuah Kisah Klasik


Gua Jepang, Sebuah Kisah Klasik
Tak Terurus: Salah satu gua Jepang yang yang berada di Jalan AKBP H Umar Km 5.kondisinya terbangkalai dan tidak terawatt, padahal tempat ini merupakan bangunan bersejarah yang harus dilestarikan.

______________________________

Di Kota Palembang ada banyak tempat bersejarah yang bisa dikunjungi. Namun, tak banyak orang tahu kalau tempat tersebut ada. Seperti, keberadaan gua Jepang dibeberapa titik di Kota Palembang.

* * * * * * * * * * * * * * *

Salah satu gua Jepang berada di tanah tinggi yang berada tepat di sebelah RS Charitas di Jalan Jenderal Sudirman. Di sini terdapat bunker peninggalan Jepang pada masa prakemerdekaan.

Dijelaskan Kemas Ari Panji, sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia Sumsel, fungsi utama bunker sebagai tempat persembunyian tentara Jepang dari barbagai serangan.

Read more of this post

Advertisements

Sejarah Kota Prabumulih


Sejarah Kota Prabumulih 1. Masa sebelum Pemerintahan Belanda

Lebih kurang 700 Tahun lalu Puyang Tageri Juriat Puyang Singe Patih Keban Baru Rambang Penegak dan Pendiri Talang Tulang Babat dan berkembang dengan juriat anak Cucung masing-masing mendirikan talang-talang cikal bakal dari Dusun Pehabung Uleh, Tanjung Raman, Sukaraja, Karang Raja, Muara Dua dan Dusun Gunung Kemala. Pada masa kurang lebih 250 tahun yang lalu Dusun Pehabung Uleh masih bernama Lubuk Bernai yang dipimpin seorang Kerio bernama Keri Budin dan Kepala Menyan adalah Puyang Dayan Duriat Puyang Tegeri dibantu Minggun, Resek, Jamik, menemukan tempat tanah yang meninggi (Mehabung uleh) kemudian ditetapkan oleh mereka berempat (Dayan, Resek, Minggun, dan Jamik) untuk mendirikan kampong dengan diiringi keturunan masing-masing menghadap tanah yang Menghabung Uleh (Meninggi / Bertambah) dengan nama Kebur Bunggin, Anggun Dilaman, Kumpai Ulu dan Karang Lintang. Dengan kesepakatan mereka dusun ini dengan empat kampung disebut Pehabung Uleh berpegang pada aturan adat Simbur Cahaya.

2. Masa Pemerintahan Belanda

Pehabung Uleh berubah menjadi Peraboeng ngoeleh dan pada pendudukan jepang berubah lagi menjadi Peraboeh Moelih dengan ejaan sekarang menjadi Prabumulih termasuk didalam wilayah Marga Rambang Kapak Tengah dengan Pusat Pemerintahannya berkedudukan di Tanjung Rambang yang tergabung dalam wilayah Pemerintahan Onder Afdeeling Ogan Ulu dengan status Pemerintahan Marga meliputi Marga Lubai Suku I, Marga Lubai Suku II dan Marga Rambang Kapak Tengah yang dipimpin oleh Pasirah. (MORE….)

Nama-nama Raja Sriwijaya


Nama-nama Raja SriwijayaOleh : Syamsul Noor Al-Sajidi

Raja-raja yang pernah berkuasa dan memerintah Sriwijaya sampai saat ini masih menyimpan teka-teki besar. Walaupun begitu, dari hasil interpretasi para peneliti terhadap prasasti-prasasti Sriwijaya, berita-berita Cina, serta catatan-perjalanan orang-orang Arab-Persia telah memberikan sedikit gambaran ihwal para penguasa atau raja-raja yang memerintah kerajaan ini.

Paling tidak, sejak tahun 683 Masehi disebutkan dalam Prasasti Kedukan Bukit sampai tahun 1044 Masehi yang tertera pada Prasasti Chola. Masa pemerintahan dari masing-masing raja Sriwijaya tersebut belum diketahui karena tidak tersebut di dalam sumber. Angka tahun yang ada hanyalah angka yang diduga kuat sebagai tahun pembuatan prasasti atau penulisan berita/kronik.

1. Dapunta Hyan Srijayanasa (terdapat dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 Masehi dan Prasasti Talang Tuwo tahun 684 Masehi)

2. Sri Indrawarman (terdapat dalam Berita Cina tahun 724 Masehi (MORE…)

Lebih Tua Dari Ampera


Lebih Tua Dari Ampera

Keunikan Jembatan Ogan Kertapati Lebih Kokoh Dibanding Musi II
Dibangun tahun 1939 lalu, jembatan Ogan Kertapati dinamakan dengan nama Ratu Belanda, Wilhelmina. Kala itu, jembatan tersebut termasuk bangunan fenomenal di Sumsel. Seiring perkembangan zaman, jembatan ini kurang mendapat perhatian masyarakat meski umurnya lebih tua dibanding ikon Palembang, Jembatan Ampera. Padahal, sebagai bagian dari sejarah panjang Palembang, seorang sesepuh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Sumsel menilai, jembatan ini lebih kokoh dibanding Jembatan Musi II.

Catatan sejarah jembatan Ogan di Kertapati ibarat misteri. Banyak memperkirakan, catatan dibangun penjajah itu, dibawa sang penjajah ke negerinya, Belanda. Para pelaku sejarah pun banyak sudah meninggal.

Read more of this post

Menelusuri Jejak Dinasti Sailendra


Hurup Palawa Kawi Oleh : Syamsul Noor Al-Sajidi

Keberadaan dan penyebutan Dinasti Sailendra selalu berkaitan dan tidak dapat dilepaskan dari Kerajaan Sriwijaya. Pernyataan ini untuk sementara boleh saja dianggap sekadar asumsi, meskipun secara ilmiah tidak seorang pun ahli sejarah berani menyangkalnya. Kenapa? Ada cukup banyak sumber tertulis, terutama prasasti peninggalan Sriwijaya yang menguatkan pernyataan ini.

Sailendra ialah nama suatu dinasti yang pernah menyebarkan pengaruhnya ke hampir seluruh pelosok Nusantara, semenanjung Malaya (Singapura dan Malaysia sekarang), Thailand, Indochina (antara lain Vietnam, Laos, Burma, dan Kamboja), Filipina, dan hingga India. Nama Sailendra dijumpai antara lain di dalam Prasasti Kalasan dari tahun 778 Masehi (Sailendragurubhis; Sailendrawansatilakasya; Sailendrarajagurubhis). Kemudian ditemukan juga di dalam Prasasti Kelurak dari tahun 782 Masehi (Sailendrawansatilakena), di dalam Prasasti Abhayagiriwihara dari tahun 792 Masehi (Dharmmatungadewasyasailendra), Prasasti Sojomerto (Batang, Jawa Tengah) dari tahun 725 Masehi (Selendranamah) dan Prasasti Kayumwunan (Temanggung, Jawa Tengah) dari tahun 824 Masehi (Sailendrawansatilaka). Semua prasasti tersebut ditemukan di Indonesia. Nama dinasti ini ditemukan juga dalam Prasasti Ligor di Thailand dari tahun 775 Masehi dan juga dijumpai pada Prasasti Nalanda di India. Read more of this post

%d bloggers like this: