Jerat Wanita Muda, Dijadikan Pemuas Nafsu


Kasus Human Trafficking di Eks Lokalisasi Teratai Putih

Jerat Wanita Muda, Dijadikan Pemuas NafsuPALEMBANG – Kasus Human Trafficking (perdagangan manusia, red) di eks Lokalisasi Teratai Putih, Kampung Baru kembali terkuak. Sebelumnya SM (16) dan NE (18), warga Bandung Barat, dijadikan PSK di eks lokalisasi Teratai Putih. Namun korban berhasil kabur Minggu (23/8) setelah berpura-pura hendak membeli pulsa.

Terbaru, janda anak satu, CN (20) asal Bandung mendatangi Mapolda Sumsel, Jumat malam (28/8). Wanita muda itu menjadi korban perdagangan manusia oleh mami berinisial L, di wisma eks lokalisasi Kampung Baru.

Diceritakan, jika ia pernah bertemu L Januari lalu di Bandung. Korban diajak bekerja di Palembang sebagai pelayan rumah makan. Tiba di Palembang, disuruh untuk melayani pelanggan laki-laki yang berkunjung di kafe atau wisma pelaku. Korban juga dipaksa untuk menandatangi kontrak kerja di atas materai oleh pelaku.

Dengan kontrak kerja selama enam bulan, korban tidak berdaya, dan menyetujui kontrak tersebut sengan upah Rp 80.000 per setengah jam. “Saya diupah Rp 120.000 per perlanggan, untuk saya Rp 80.000 dan Rp 120.000 dibagi dua lagi dengan LN,” ungkap korban.

Setelah enam bulan bekerja sebagai wanita penghibur di tempat lokalisasi tersebut, korban berniat untuk pulang lantaran masa kontraknya sudah habis. Setelah meminta izin kepada pelaku, korban diperbolehkan pulang namun total gaji korban yang berjumlah Rp 15 juta baru dibayar (LN) sebanyak Rp 5 juta, sisanya akan ditransfer.

Saat korban pulang ke Bandung, sisa uang hasil ia bekerja tak kunjung ditransfer L. Ternyata saat kembali ke Palembang dan menagih uang kepada L, malah dipaksa bekerja kembali. “Karena mau dijadikan PSK lagi saya kabur, Selasa tadi (25/8). Saya tidak mau lagi saya mau uang saya dikembalikan dan mau pulang ke Bandung,” ungkap korban.

Sebelumnya, selain dua kasus tersebut juga pernah terjadi kasus human trafficking yang dijadikan PSK di eks lokalisasi Teratai Putih. Di antaranya Rhm (15), siswi kelas III SMP di Bogor bersama dua perempuan lain yang bernasib sama, Nv (16), asal Jl Kampung Rawa Sawah, Jakarta Pusat, dan DR (21), asal Jl Senen Raya, Jakart Pusat. Ketiga wanita ini kabur dari eks lokalisasi Teratai Putih, pada 31/12/2012. Menindaklanjuti pengaduan ketiga korban, aparat Polsek Sukarami meringkus mucikarinya, tersangka Feri Iskandar (32) yang saat ini telah menjalani hukuman.

Menanggapi permasalahan tersebut, Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Irza Fadri menegaskan bahwa Human Trafficking (perdagangan manusia, red) menjadi sorotan serius pihaknya. Untuk kasus tersebut, Ditreskrimum melalui Subdit Renata akan menindak tegas pelaku. Begitupun dengan polres jajaran melalui Unit PPA yang ada ditiap Polres.

“Akan kita selidiki apakah adfa korban Human Trafficking lainnya. Sedangkan untuk masalah izin maupun penyakit masyarakat di eks lokalisasi tersebut menjadi kewenangan pemerintah,” tandasnya.

Ditambahkan Kasat Reskrim Kompol Suryadi SIK, selama dua tahun terakhir, ungkap kasus Human Trafficking yang dilakukan jajaran Satreskrim Polresta Palembang, mengarah kepada eksploitasi seksual terhadap para korbannya.

“Mereka tidak jual orang, tetapi perempuan atau anak di bawah umur untuk dijadikan pekerja seks,” kata Kasat Reskrim Kompol Suryadi SIK yang dibincangi Jumat (28/8).

Potensi yang menggiurkan dari bisnis perdagangan ini, dinilai Suryadi membuat para pelaku masing-masing juga bersaing. Ada yang menawarkan perempuan berdasarkan tingkat usia dan asal daerahnya. Ada pula yang menambahkan bonus tertentu.

Meski tidak secara langsung, pelaku juga tak jarang memberikan syarat khusus bagi para pelanggan. Tak lain, untuk meminimalisir resiko tertangkap polisi. Sebab, sanksinya jelas, mencapai 15 tahun penjara, sesuai dengan UU No. 21/2007 Tentang Pemberantasan Perdagangan Orang.

“Akan lebih berat hukumnnya jika korban yang dijual merupakan anak-anak, sesuai dengan Pasal yang diatur UU No. 35/2014 tentang Perlindungan Anak,” sambung Kasat Reskrim.

Lebih lanjut, salah satu faktor keterbatasan dalam ungkap kasus perdagangan orang yang terjadi di Palembang, juga karena minimnya laporan masyarakat. Padahal, di luar sana pasti ada banyak korban yang tentu tidak hanya berasal dari dalam Kota Palembang saja.

Dari data yang dihumpun yang dihimpun, sepanjang 2013 Unit PPA Satreskrim Polresta Palembang telah menyelesaikan tiga kasus dari tiga laporan yang masuk tentang perdagangan orang yang dijadikan pekerja seks.

Sementara di tahun berikutnya, tidak ada laporan yang masuk. Sedangkan untuk tahun 2015 ini hingga pertengahan tahun aparat baru telah menyelesaikan satu kasus dan memproses satu kasus dari dua laporan yang masuk.

“Karena itu kami juga mengharapkan peran serta masyarakat dalam ungkap perkara kasus-kasus seperti ini,” tukasnya. (gti/aja/ce1)

Tak Ada Izin, Penertiban Akan Dikoordinasikan

PALEMBANG – Terkait adanya wisma-wisma yang menyediakan wanita pekerja seks komersial (PSK) di eks lokalisasi Teratai Putih, dijelaskan Kasat Pol-PP Kota Palembang, Tatang Duka Direja, bahwa tidak ada izinnya.

Menurutnya lokalisasi Teratai Putih telah lama tidak beroperasi, sehingga bila ada, tentu wisma tersebut ilegal. “Yang jelas, itu (lokalisasi, red) sudah lama tutup. Bahkan sebelum saya menjabat,” ungkap Tatang dihubungi, kemarin.

Begitupun terkait adanya korban trafficking yang ternyata dijadikan PSK di eks lokalisasi Taratai Putih belum lama ini. “Saya belum pantau, kalau untuk trafficking itu masuk pidana dan pihak kepolisian yang menangani. Sementara untuk penertiban memang belum kita lakukan dan akan berkoordinasi dengan instansi terkait,” bebernya.

Ditambahkan, Kadinsos Palembang Faizal AR mengatakan eks lokalisasi Teratai Putih sudah lama operasionalnya ditutup. Namun, untuk kewenangannya saat ini sepenuhnya menjadi kewajiban Dinsos Provinsi dan juga kerja sama dengan Pol-PP selaku aparat penertib. “Itu kewenangan provinsi, koordinasi dengan Pol-PP,” ujarnya.

Kendati demikian, karena Kampung Baru sudah ditutup maka secara otomatis tidak ada kewenangan apapun untuk melakukan penyuluhan kerana memang sudah tertutup. “Kampung Baru itu tidak dilegalkan,” tukasnya. (chy/gti/ce1)

Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: