Dampak Negatif Anak Kecanduan Gadget


Cenderung Malas, Tak Mau Berinteraksi

Dampak Negatif Anak Kecanduan Gadget
melihat anak kecil sibuk dengan gadget, kini sudah menjadi pemandangan biasa. Anak-anak tak lagi menghabiskan waktu dengan bermain sepeda atau bermain bola dengan bersama teman-temannya. Tapi menghabiskan waktunya dengan bermain gadget, sendirian. Fenomena ini sudah menular ke anak-anak di Kota Pempek.

* * * * * * * * * * * * * * *

Banyak orang tua yang bangga, anak-anaknya begitu melek teknologi. Salah satunya mahir memainkan gadget. Di antara para orang tua, tak sedikit orang tua yang gagap teknologi (gaptek) atau setengah melek teknologi, sedangkan anaknya begitu mahir. Selain melek teknologi, banyak informasi penting barmanfaat dan berharga bisa didapatkan anak dari gadget. Itu jika gadget dimanfaatkan dengan baik. Bagaimana jika tidak? Koran ini telah melakukan survei ke 192 responden dari kalangan orang tua secara acak.

Total responden ada 192 orang. Dua orang berusia di bawah 20 tahun, 82 orang usia 20-30 tahun, 67 orang usia 31-40 tahun, 25 orang usia 41-50 tahun dan 6 orang usia 51-60 tahun. Ada sepuluh orang yang tidak menyatakan usianya.

Seberapa sering anak mereka main gadget? Ternyata, 45 responden (23,4 persen) menyatakan kalau anak mereka sangat sering bermain gadget. Sedangkan yang mengatakan sering ada 71 responden atau 36,98 persen. Yang kadang-kadang hanya 59 orang (30,72 persen) dan tidak suka ada 15 orang (7,81 persen), serta dua tidak menjawab (1,04 persen).

Seberapa kecanduan mereka dengan gadget? Tanda-tanda inidapat terlihat dari respon mereka jika dilarang bermain gadget. Dari semua responden, 82 anak (42,70 persen) marah atau menangis jika dilarang bermain gadget. Sedangkan 20 orang (10,41 persen) akan mengurung diri mereka dan tidak mau menjawab. Lalu, 64 orang (33,33 persen) menyatakan anak mereka biasa saja, cuek jika dilarang. Tapi ada 24 orang (12,5 persen) yang mengetahui anak mereka bermain gadget diam-diam serta dua tidak menjawab (1,04 persen).

Intensitas mereka bermain gadget dipengaruhi mudahnya anak-anak tersebut mendapatkan gadget untuk mereka mainkan. Dari 192 responden, ada 55 orang (28,64 persen) yang menggunakan semua gadget yang ada di rumah. 66 orang (34,37 persen) menggunakan gadget milik ayah dan ibunya. Hanya 18 orang (9,37 persen) yang pinjam punya kakak atau teman. Tapi lebih banyak yang punya gadget sendiri, yaitu 47 orang (24,47 persen), sisanya tiga orang tidak menjawab.

Dan bagaimana pengaruh gadget terhadap anak-anak itu? 71 responden (36,97 persen) menyatakan anak mereka jadi pemalas. Ada 19 responden (9,89 persen) yang mengatakan anak mereka jadi sakit/mengalami kelainan mata. Lalu 35 responden (18,22 persen) mengatakan anak mereka tidak mau berinteraksi dan 57 orang (29,68 persen) mengatakan tidak ada pengaruh apapun. Ada tiga yang tidak menjawab (1,56 persen).

Bicara soal dampaknya, ada sejumlah alasan anak-anak harus lepas dari ketergantungan gadget. Pertumbuhan otak anak akan menjadi terlalu cepat, tidak sesuai dengan usianya. Belum lagi gadget dapat menghambat perkembangan anak serta menyebabkan obsesitas.

Sembari tenggelam dalam permainan gadget, anak biasanya sambil ngemil. Inilah yang menyebabkan terjadinya obsesitas. Tak sedikit yang mengalami gangguan tidur. Ada pula yang terganggu mentalnya, karena kecanduan gadget. Sebagian anak jadi lebih agresif dari anak-anak pada umumnya.

Tapi ada pula yang merasakan dampak lain seperti pikun digital. Tapi kebanyakan, anak mengalami adikasi, merasa tdak bisa hidup tanpa gadget. Orang tua harus paham dari dampak dari terpapar radiasi dari gadget secara terus-menerus dapat membahayakan si buah hati. Di sisi lain, edukasi yang diberikan gadget bersifat tidak berkelanjutan.

Hasil survei itu tentu tak bisa dibanding-bandingkan dengan dampak positif dari gaulnya anak mengikuti perkembangan teknologi. Banyak para anak yang bahkan jauh lebih melek teknologi ketimbang orang tuanya.

Namun sebagian orang tua mulai menyadari, akses anak terhadap gadget perlu dibatasi. Seperti yang dilakukan Taufik Hidayat (36). Akhir-akhir ini, ia sering mengajak keluarganya jalan-jalan keluar. “Supaya anak tidak terlalu bergantung dengan gadget,” ujarnya.

Putranya, Nichola Harisay Feta (7,5) saat ini sudah duduk di kelas III. Secara tidak langsung ia terbantu aktivitas sekolah anaknya yang makin padat. “Jadi waktu bermain gadget berkurang,” kata Taufik. Selama ini Nichola sering ngambek saat disuruh berhenti mengutak-atik gadgetnya. Wajar saja, sudah sejak kelas I SD dia mengenal gadget dan tiap hari menghabiskan waktu memainkannya.

“Sudah ada satu tab yang rusak karena tiap hari dimainkan,” ungkap Taufik. Paling tidak, tiap hari dua jam Nichola bergelut dengan gadgetnya. Termasuk saat ada acara keluarga, tidak pernah berbaur dengan anggota keluarga yang lain.

Akhirnya dia menyadari kebiasaan putranya yang asyik sendiri menyebabkan dia kurang bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Keputusan yang sama diambil Dwi Andini (26), Ibunda Dafin (2,5) sudah mengurangi aktivitas putranya memainkan gadget.

Menurutnya, keasyikan memainkan gadget mempengaruhi perkembangan sang anak yang hingga saat ini belum terlalu lancar berbicara. Dahulu, saat membujuk sang anak agar mau makan, dia selalu memberikan handphone-nya.

Beberapa waktu terakhir, hal itu jadi kebiasaan. “Anak saya tidak bisa lihat handphone terletak sembarangan, pasti dimainkannya,” ungkap Dwi. Dalam sehari Dafin bisa bermain sendiri hingga 45 menit. Bahkan, anakna tahu kalau diberi handphone yang tidak ada games-nya.

Kondisi ini membuat Dwi makin khawatir. Ia lalu berusaha menjauhkan gadget dari anaknya. “Salah satu cara yang saya lakukan, mengajak Dafin bermain bola kaki yang memang sangat ia sukai,” tandasnya. (uni/tha/tim/ce1)

Konten Gadget Harus Edukatif

Gadget punya pengaruh besar dalam pertumbuhan anak di zaman globalisasi sekarang ini. Bila orang tua tidak peka, pengaruh negatif bisa menyerang anak. Tumbuh kembang mereka menjadi terhambat.

Menurut dokter spesialis anak, dr Rismarini SpA, usia rentan sang anak lambat dalam tumbuh kembangnya yakni berusia 0-18 tahun. “Karena mereka sibuk dengan smartphone (gadget), sosialisasi nyata anak jadi berkurang,” jelasnya.

Kondisi ini membuat sang anak terganggu dalam berbicara, tidak aktif bergerak (usia 3-6) sehingga bisa terjadi obesitas di usia dini. Ia mengakui, sering mendapat pasien yang orang tuanya mengeluhkan tumbuh kembang sang anak, terutama dalam berbicara jadi terganggu karena kegandrungan gadget.

“Intinya jangan kenalkan dahulu anak-anak di bawah 3 tahun dengan gadget,” ujarnya. Ia menyarankan orang tua harus berperan aktif memberikan permainan edukatif, terutama bagi anak berusia di bawah 5 tahun. Di antaranya, belajar berhitung, mengenal warna, menggenggam benda sambil diajak berbicara. “Dengan catatan, orang tua damping anak,” katanya.

Bila telah dikenalkan dengan permainan edukatif dan mendapatkan hasilnya, anak bisa langsung dikenalkan dengan gadget. “Dalam smartphone juga terdapat konten atau aplikasi permainan edukatif anak untuk menambah pengetahuan sambil didampingi orang tua,” tutur Rismarini. Peran orang tua dan lingkungan serta teman sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak hingga beranjak dewasa. “Karena itu perlu pengawasan ekstra dari para orang tua,” tandasnya. (bsp/ce1)

Ketika Gadget Menjadi Candu bagi Anak

Hilang Masa Bermain, Picu Kelainan Mata
Kini hampir semua anak mengenal dan memainkan perangkat gadget. Ironinya, kemajuan teknologi membuat gadget dengan mudah bisa didapat anak-anak dari keluarga atau temannya. Sayangnya, tak banyak yang paham jika dampak gadget bagi perilaku dan kesehatan anak luar biasa.

* * * * * * * * * * * * * * *

Beberapa tahun terakhir, perangkat gadget (smartphone/tablet) dengan cepat menjamur di pasaran. Harganya yang murah membuat setiap orang dengan mudah bisa membeli dan memilikinya. Masalahnya, kepemilikan gadget kini tak hanya untuk kebutuhan telekomunikasi saja, juga bermain internet dan games.

Ketika orang tua meletakkan sembarangan gadget itu di rumah, rasa ingin tahu anak tidak bisa dibatasi. Tanpa atau dengan sepengetahuan, anak-anak akan mengambil gadget itu dan mengutak-atiknya. Ironinya, anak berusia satu tahun pun dengan mudah bisa mendapatinya.

Hasil survei dampak gadget Sumatera Ekspres kepada 192 responden orang tua di metropolis, ternyata mayoritas orang tua mengaku anaknya sudah bermain gadget sejak usia 3 tahun (20,3%), 4 tahun 28 responden (14,5%), sementara anak yang berusia 5-6 tahun masing-masing 11,9 persen. Ada juga umur 2 tahun 7,8 persen, bahkan umur 1 tahun 1 persen.

Tentu saja, di usia dini seharusnya anak jangan terbiasa berinteraksi dengan gadget apalagi hanya untuk bermain games karena dampaknya tak hanya bagi kesehatan juga pola pikir dan perilaku anak. Beberapa orang tua menyadari pengaruh negatif gadget karena itu mereka berusaha mengalihkan perhatian anak supaya tidak bermian gadget. Survei Sumatera Ekspres, mayoritas orang tua menyuruh anaknya bermain keluar rumah (11 responden), ada mengajak anak jalan-jalan, menyimpan gadget dan lainnya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, Dr Anton Suwindro MKes mengatakan pada umumnya, candu gadget mempunyai dua pengaruh bagi anak. “Positif-nya membuka wawasan dan pengetahuan baru,” jelas dia, kemarin. Tetapi sayang, pengaruh negatif justru lebih banyak. Mulai dari hilangnya jiwa sosial anak dan teman bermain, apatis, merusak kesehatan, dan yang untuk hobi massager dan BBM akan terjadi atritis/kekakuan otot terutama pada kedua jempol.

Dr Anton menjelaskan, seharusnya masa kecil anak diisi dengan bermain mainan tradisional, seperti laying-layang atau kelereng. “Permainan itu mengasah jiwa sportivitas, melatih saling bekerja sama, dan adanya interaksi,” katanya. Kalau justru anak disibukkan bermain gadget, jiwa sosial anak akan hilang. Kemudian hilangnya teman bermain, jika anak yang selama ini bisa bermain bersama-sama, justru beralih ke permainan individu.

Tak sampai di situ saja, anak yang kecanduan gadget susah dikomunikasikan dengan orang tua maupun temannya. Dr Anton memberikan contoh, jika disuruh makan, anak menunda, disuruh buang air kecil selalu ditahan karena asyik bermain gadget. Akibatnya bisa menimbulkan penyakit. Hal-hal yang biasanya terjadi komunikasi dua arah antar orang tua dan anak seketika hilang. “Misalnya, saat makan bersama di restoran, bapak, ibu dan anak langsung memainkan gadget satu sama lain,” terangnya.

Keadaan seperti ini tidak ada lagi komunikasi dua arah antara keluarganya, kalau komunikasi sudah terhenti, bakal berakibat pada hubungan keluarga dan tidak akan harmonis. Dampak negatif terakhir, menyebabkan kekakuan terjadi karena gerakan-gerakan yang tidak konstan dan hanya terjadi pada otot-otot jari jempol yang melebihi batas aktivitas yang biasanya dilakukan.

Jika sebelumnya kaki digunakan untuk berjalan atau berlari sedangkan tangan hanya memegang dan mengusap. Karena kecanduan gadget, tangan diperlakukan berlebihan gerakan ototnya terutama jempol. Selain itu, lanjut Dr Anton. Juga berakibat pada penyakit radiasi yang bisa menyebabkan bermacam-macam komplikasi. Baik ke mata maupun ke otak.

Ke mata misalnya, sinar gadget yang masuk berlebihan dalam jangka panjang menyebabkan otot-otot mata kelelahan. “Ini dapat menyebabkan terjadinya kelainan refleksi mata pada anak yang belum waktunya untuk menderita kelainan,” imbuhnya. Jika pada umumnya menggunakan kacamata di usia 30 tahun, saat justru banyak anak kecil yang sudah menggunakan kacamata efek candu gadget. (chy/fad/ce2)

Galakkan Permainan Tradisional

Tidak semua kebutuhan fasilitas anak harus dipenuhi orang tua. Tapi karena sering memanjakan anak-anaknya, orang tua kadang lupa efek negatif gadget. Salah satunya kurang bersosialisasi dengan lingkungannya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Palembang, Adi Sangadi SH mengungkapkan, saat ini gadget bukan lagi barang mewah, hampir semua anak mengenal dan bisa memainkannya. Padahal barang ini sangat besar efek negatifnya bila sering digunakan. “Khususnya sisi sosial dan kesehatan,” bebernya.

Karena dengan diberikan kebebasan menggunakannya, anak sering lupa waktu sehingga memengaruhi prestasinya di sekolah. Dia juga tak akan peduli dengan orang yang ada di sampingnya meski itu orang tuanya.

Dikatakannya, boleh saja anak diberikan gadget dengan syarat orang tua harus mendampingi dan memberi waktu yang tepat dan dibatasi. Seharusnya, kata dia, orang tua menawarkan permainan lain yang lebih mendidik pada anak dan menguras emosi serta kepandaian berpikir, seperti permainan tradisional. Sayangnya, saat ini permainan tradisional sudah banyak yang ditinggalkan.

Psikolog anak dan remaja, Hari Sumantri MPsi menilai kebiasaan orang tua memanjakan anak dengan gadget berdampak panjang bagi perkembangan anak. Apalagi, kebiasaan ini membuat ketagihan atau ketergantungan pada games. “Fatalnya, keasyikan bermain games dapat menurunkan motivasi belajar,” ujar Hari, kemarin.

Dijelaskan, secara psikologis apa yang terdapat dalam gadget akan memengaruhi pola pikir anak, meskipun tidak semuanya berdampak negatif. Tetap saja akan memengaruhi daya kognitif bila sudah kecanduan. Selain itu, jika sudah dibiasakan sejak kecil, anak akan tertutup dengan dunia luar. Lantaran, dia telah asyik dengan dunianya sendiri sehingga lupa ada tahapan yang harus dilalui anak. “Lebih baik dia bermain bersama temannya, ada interaksi dan logikanya berjalan sesuai pada usianya,” paparnya.

Sementara dokter klinik BPJS Pusri, dr Muniati Ismail menyarankan terapi anak yang sudah kecanduan, anak bisa diajak bermain keluar untuk memperlihatkan bahwa dunianya lebih luas lagi bukan hanya terbatas pada gadget. Sangat dianjurkan anak diberi permainan seperti bola atau sepeda yang mengasah semua sarafnya. Karena kebanyakan anak yang bermain gadget, emosinya tinggi karena dia fokus target yang akan dicapai, kurang bergaul, kurang bergerak, dan lainnya. (uni/mik/fad/ce2)

Sumatera Ekspres, Minggu, 30 Agustus 2015

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

2 Responses to Dampak Negatif Anak Kecanduan Gadget

  1. Yang penting penggunaannya harus diawasi, jangan sampai berlebihan hingga anak tak mau lagi berinteraksi dengan orang tuanya dan teman sebayanya

  2. Inzanami says:

    bukan cuma anak-anak. sekarang orang dewasapun lebih dekan dengan gadget mereka daripada dengan anak atau anggota keluarga lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: