Terpaksa Gunakan Air Kotor


Terpaksa Gunakan Air Kotor
Tak Layak:Minimnya air di musim kemarau memaksa warga menggunakan air tak layak. Bahkan, air di Sungai Ogan yang digunakan warga dipenuhi sampah dan berbau.

* * * * * * * * * * * * * * *

BATURAJA – Kondisi air Sungai Ogan sangat tak layak digunakan. Air sungai in tak hanya kotor, tapi juga menyebarkan bau menyengat. Padahal di musim kemarau seperti saat ini, warga banyak memanfaatkan air sungai. Pasalnya, air sumur banyak mengering.

Di Sungai Ogan sendiri banyak terdapat sampah plastik dan kotoran lainnya. Beragam penyakit pun akan mengancam warga yang memanfaatkan air sungai tersebut.

Namun, kondisi ini tidak membuat warga menghentikan aktivitasnya di Sungai Ogan. Mereka memilih tetap bertahan mengonsumsi air yang dinilai sudah tak layak lagi. Baik untuk mencuci, mandi, maupun diminum. “Mau bagaimana lagi. Kami sudah puluhan tahun aktivitasnya di sungai. Air PAM pun tak ada. Ya, terpaksa memakai air sungai (Ogan, red) walau kondisinya memang tidak layak,” kata warga Baturaja, Sidik.

Di musim kemarau seperti ini, lanjutnya, mereka tak langsung mengonsumsi air sungai, tapi harus diendapkan terlebih dahulu agar bisa digunakan. “Terkadang kami juga meminta air dengan tetangga yang mempunyai air PDAM. Untuk air minum, sebagian warga membeli air isi ulang. Ada juga yang masih memanfaatkan air sungai,” ucapnya. (gsm/ce4)

Berpotensi Timbulkan Diare
Sosialisasi soal tak layaknya air Sungai Ogan sudah sering dilakukan Dinas Kesehatan OKU. Sungai ini dinilai tak layak konsumsi. “Jika warga terpaksa menggunakan air tersebut, selayaknya mencari sumber air yang bersih,” ujar Kepala Dinas Kesehatan OKU, Suharmasto.

Dikatakan, jika dikonsumsi, air harus dimasak dengan benar hingga 15 menit mendidih. “Ini agar air benar-benar baik untuk dikonsumsi dan tidak menyebabkan penyakit,” ujarnya.

Jika air tak dimasak, berpotensi menimbulkan penyakit diare. “Biasanya saat kemarau, kasus diare menonjol. Namun, tahun ini kami belum mendapat laporan dan kasusnya belum menonjol. Ini karena sudah dilakukan imbauan sejak awal,” pngkasnya. (gsm/ce4)

Gatal, Merah hingga Panas
Penggunaan air sungai yang kotor akan berdampak buruk terhadap kesehatan. Terlebih jika digunakan secara rutindalam jangka waktu lama. Dampak bagi kulit, bisa menimbulkan rasa gatal, merah, hingga kulit terasa panas.

dr Indah Permata Sari SpKK, spesialis kulit dan kelamin Klinik Adhitia Palembang mengatakan, proses toksikan diserap melalui kulit. Zat kimia tersebut harus menembus sel epidermis dan sel kelenjar masuk melalui folikel rambut. “Meskipun jalan folikel memperbolehkan masuknya sejumlah kecil toksikan dengan segera, kebanyakan zat kimia menembus sel-sel epidermis yang menyusun daerah permukaan yang besar dari kulit,” ujar.

Dikatakan, kulit gatal, panas, dan merah merupakan gejala dermatitis. Itu merupakan respons kulit. “Gangguan ini merupakan reaksi langsung yang disertai dengan edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi dengan bahan kimia yang kontak langsung dengan kulit,” ungkapnya. (may/ce4)

Sumatera Ekspres, Selasa, 25 Agustus 2015

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: