Kabur sebelum Layani Tamu


Dua Gadis Bandung Diduga Jadi Korban Human Trafficking

Kabur sebelum Layani Tamu
Gelar: Tersangka Yuli diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang saat digelar di Mapolsekta Sukarami oleh Kapolsekta Kompol Nurhadiansyah, kemarin.

* * * * * * * * * * * * * * *

PALEMBANG – Dua gadis belia asal Bandung SM (16) dan NE (18) nekat kabur dan melapor ke petugas kepolisian. Mereka diduga menjadi korban human trafficking (perdagangan orang, red). Hendak dijual untuk melayani pria “hidung belang” di kafe kawasan eks lokalisasi Teratai Putih, Jalan Teratai, Kecamatan Sukarami.

Yang menjual Yuli Muliani (29) kasir Kafe Fantasi di eks Lokalisasi Teratai Putih. Hanya saja, SM dan NE “melarikan diri” sekitar pukul 21.00 WIB, Minggu (23/8). Itu setelah keduanya berpura-pura hendak mengisi pulsa.

Menaiki motor yang dipinjam dari tersangka, keduanya langsung menghampiri petugas pos polisi simpang empat Tanjung Api-Api (TAA). Lalu diantarkan ke Mapolsek Sukarami. Oleh petugas, selanjutnya memancing tersangka Yuli untuk keluar. Saat tersangka berada di depan SPBU Punti Kayu, langsung dibawa petugas.

Kapolsek Sukarami Kompol Nurhadiansyah mengatakan awalnya kedua korban datang ke Mapolsek nangis-nangis. Mengaku dijebak oleh tersangka yang awalnya menjanjikan untuk bekerja sebagai karyawan toko.

“Pengakuan keduanya, tersangka Yuli malah menjual mereka ke lelaki hidung belang,” tutur Nurhadiansyah. Tersangka Yuli dijerat UU tindak pidana pemberantasan perdagangan orang. “Kasusnya masih kita dalami. Kedua korban dalam perlindungan. Nanti, akan kita kembalikan ke tempat asalnya,” ungkap Kapolsek.

NE (18), warga Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jabar menceritakan dia dan SM (16), warga Kecamatan Gunung Hala, Bandung barat bertemu dengan tersangka di Bandung. “Dia (tersangka, red) lagi jalan-jalan ke Bandung,” ujar NE.

Ketika itu, Yuli menawarkan pekerjaan. “Kami bilang mau kerja di Palembang, tapi izin dulu sama orang tua. Kata Teh Yuli nggak usah izin, nanti uang transfer aja,” ungkapnya.

Lanjut NE, mereka pun pergi ke Palembang menggunakan bus. Tiba di kapal baru diberi tahu kalau kerjanya di kafe. Kemudian sampai di Palembang, keduanya diminta makan dan mandi. “Setelah mandi kami disuruh melayani tamu. Karena takut. Jadi kami pura-pura izin isi pulsa. Terus dikasih motor, katanya biar cepat,” tukasnya sambil menangis.

Yuli mengaku telah memberitahu kedua korban bahwa mereka akan bekerja menjadi penyanyi kafe. “Mereka setuju untuk bekerja di kafe tempat saya bekerja. Makanya saya tawarin bekerja di kafe sebagai penyanyi bukan melayani tamu,” jelasnya.

Menurut Yuli, di Bandung kedua korban juga bekerja sebagai penyanyi kafe. “Mereka hanya diminta menyanyi. Kalau ingin melayani tamu itu urusan mereka. Gaji menyanyi itu, Rp 1 juta. Tapi, kalau melayani tamu mereka kan dapat tip,” bebernya.

Saat mereka izin mau ixi pulsakan pake motor, karena terlalu lama Yuli pun mencoba menghubungi tapi tidk ada respons. “Tiba-tiba jam 21.00 WIB, saya di telepon oleh NE katanya, mereka nyasar terus motor dibegal. Mereka minta di jemput di depan SPBU Punti Kayu, ketika mau jemput ternyata saya dibawa ke mobil dan di bawa ke Polsek Sukarami,” ujar janda 3 anak itu. (wiy/gti/ce1)

Sumatera Ekpres, Selasa, 25 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: