Sang Saka Merah Putih Berkibar di Hutan Pedalaman


Merdeka itu Bisa Maju

Sang Saka Merah Putih Berkibar di Hutan Pedalaman
Upacara Perdana: Warga suku kubu Merasi dan Semangus di Dusun IV, Desa Harapan Makmur, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas memberi hormat kepada bendera Merah Putih dalam upacara Peringatan HUT ke-70 Kemerdekaan RI, kemarin. Ini merupakan upacara perdana sejak enam tahun bermukim, 2009 lalu.

* * * * * * * * * * * * * * *

“Indonesia tanah airku. Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku…..”

Siti Saudah (19), remaja suku anak dalam (suku kubu) Merasi menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan lantang. Bersama belasan suku kubu lainnya, dia mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-70.

Pelaksanaan upacara, di halaman kampung mereka, Dusun IV Desa Harapan Makmur, Sungai Teras, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura). Salah satu Kabupaten di Sumatera Selatan yang harus ditempuh sembilan jam dari Ibu Kota Provinsi, Palembang.

Sang Saka Merah Putih Berkibar di Hutan PedalamanLidah Saudah beberapa kali “terpeleset”. Dia tak hapal betul lagu kebangsaan RI tersebut. Padahal, Saudah yang telat bersekolah itu, baru tahun ini menamatkan SD Lokal Jauh. Maklum, selama bersekolah, di SD-nya upacara jarang dilakuka. Sesekali, Saudah bersama teman-temannya ikut upacara bendera di sekolah lain.

Hal serupa dialami suku kubu Semangus asal Gumay. Pukul 07.00 kemarin (17/8), mereka juga bergabung ikut upacara. Alih-alih mau paham lagu Indonesia Raya, tahu upacara Hari Kemerdekaan RI saja baru kemarin. Maklum, itu perdana dilakukan sejak mereka menetap 2009 lalu.

Meski tak kunjung mengerti, mereka tetap semangat. Mengikuti rangkaian upacara bendera yang dikomandoi Mansari, kepala Suku Kubu Merasi. Barisan diatur. Tiga anak berseragam sekolah mendapat tugas mengibarkan bendera. Mereka terlihat paling siap. Sejak pagi sudah mandi.

Nah, anak dan suku kubu lainnya terlihat berbeda. Keluar rumah, mereka langsung ikut barisan. Bapak-bapak ada yang tak mengenakan baju. Hanya memakai celana kumal. Muka kusut, rambut kusam dan tak disisir. Begitu juga anak-anaknya. Tanpa sandal mereka pede berdiri paling depan. Memberi hormat kepada bendera merah putih sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Meniru lagu dari tape mobil Innova milik Dinas Sosial Provinsi Sumsel.

Tak sedikit di antara mereka menatap nanar ke arah bendera merah putih yang berkibar dari tiang bambu di halaman depan rumah. Benar-benar, pagi itu suku anak dalam merasakan suasana kemerdekaan.

Terakhir, mendengarkan pidato patriotisme dari Inspektur Upacara. Kasi pemberdayaan Kominitas Adat Terpencil (KAT) Dinsos Provinsi Sumsel, Elman Zamhari. “Merdeka!” sebut Elman mengakhiri pidato sambil mengangkat tangannya. Sontak diikui warga suku anak dalam dengan mengangkat dan mengepalkan tangan.

Rasa haru dan semangat patriotisme seolah menancap di dada. Tapi setelah upacara, apakah semangat itu, sirna? Bagi Mansari, bisa hidup dan makan sudah sangat bersyukur. Anak-anak bisa sekolah, itu luar biasa. Apalagi, kondisinya mau sekolah saja, sulit. Melintas hutan dan sungai untuk sampai ke dusun seberang.

Sebetulnya, lokasi tinggal suku kubu di Dusun IV Desa Harapan Makmur (SP 9) terbagi dua. Total jumlahnya 35 KK (125 jiwa). Di atas, tinggal 21 suku kubu Semangus. Di bawah tempat upacara, suku Merasi ada 14 KK. keduanya dipisahkan hutan dan Sungai Teras.

Nah, posisi SD Lokal Jauh itu, berada di atas. Tempat tinggal suku kubu Semangus. Praktis, anak-anak Semangus dengan mudah bisa menjangkau sekolah.

Tidak demikian dengan anak suku Merasi. Bukan hanya menghadapi jauh dan beratnya medan yang menuju lokasi. Namun, ketika tiba di sekolah guru terkadang tidak ada. “Pelajaran juga itu-itulah,” celetuk Mansari.

Kenyataannya memang demikian. Usai upacara, beberapa warga dan anak suku Semangus yang ikut upacara beranjak pulang. Koran ini mengikuti mereka menelusuri jalan setapak menuju dusun atas. Jalan itulah yang setiap hari dilewati anak-anak Merasi untuk sekolah. “Kalau kami harus jalan kaki sejam hingga sampai ke sekolah,” ujar Siti Saudah.

Penelusuran pergi dan pulang sekolah melewati jalan setapak. Kanan-kiri kebun karet, semak belukar, dan pohon-pohon besar. Lalu turun tebing. Melintasi Sungai Teras yang lebarnya sekitar 10 meter. Setelah itu menaiki tebing dan menyusuri jalan setapak dalam hutan lagi. Barulah tiba di kampung suku kubu Semangus. Jaraknya sekitar 2 km atau sejam perjalanan.

Sampai di kampung suku Semangus, koran ini melihat bangunan SD Lokal Jauh. Ada dua kelas bangunan lama. Satu bangunan lagi 2 lokal masih baru. “Ada 15 anak suku Merasi yang sekolah di SD ini,” sebut Mansari yang ikut rombongan.

Siti Saudah menimpali, “Sewaktu masih SD, pergi jam 7 sampai sekolah jam 8.” Kalau sedang hujan, lanjutnya, dia dan anak-anak laintak bisa sekolah karena sungai banjir dan sulit diseberangi. “Kedalaman sungai bisa sampai 10 meter,” ujarnya. Tak ada perahu, tidak bisa juga menyeberang karena penuh pohon dan semak belukar menutupi sungai. “Ada jembatan tapi sudah lama putus,” lsnjut Siti Saudah.

Di sana SMP terdekat ada 2. Yakni SMP Bumi Makmur I, jaraknya 15 km. lalu SMP Pian Raya (20 km). Tidak mungkin anak-anak bisa jalan sejauh itu. Menerobos hutan dan melewati jalan tanah berbatu dan berdebu.

Untuk SMA juga cuma 1. Terdekat SMA di Bumi Makmur yang menginduk ke SMA Bangun Jaya, Kecamatan BTS Ulu Cecar. Dari Kelurahan Bangun Jaya, Simpang 4 BTS Ulu Cecar menuju Dusun IV Desa Harapan Makmur hampir 25 km. Selain sekolah, di kelurahan itu ada permukiman, pasar, warung, dan aktivitas masyarakat lain.

Selain Siti Saudah, Siti Wantini (17) yang tamat SD Tahun 2012, juga ingin meneruskan ke SMP. “Tapi, sekolahnya jauh. Saya tidak sanggup,” katanya lirih.

Novitasari, warga suku kubu Merasi mengungkap banyak anak putus sekolah di tempatnya. “Kalau mau lanjutkan ke SMP, tidak ada keluarga di sana,” ungkapnya. Dia berharap anak-anak mereka bisa seperti orang-orang luar. Bisa maju dan sukses. Bisa membaca dan berbaur. “Saya tidak bisa baca Pak,” ujarnya.

Bukan hanya Novitasari yang tak bisa membaca teks Pancasila inspektur Upacara tadi. Warga juga banyak yang geleng-geleng kepala. “Merdeka itu bisa maju Pak. Tolong perhatikan kami,” imbuhnya. “Tahun ini ada 8 anak tamat SD, tapi tidak melanjutkan,” pungkas wanita 30 tahun itu.

Fauzi (25), guru kelas 4-5 SD Lokal Jauh ikut menyaksikan pelaksanaan upacara. Dia sekolahnya setara sekolah pada umumnya. Persoalan muncul karena kurang guru dan lokal. “Cuma ada tiga guru dengan 25 siswa,” ujar alumni Institut Al Azhar Lubuklinggau ini. Mereka berbagi dua kelas masing-masing. “Saya mengajar seluruh mata pelajaran. Tiap hari pukul 07.30-11.00,” sebut anak Sudirman, pendamping KAT (komunitas adat terpencil) suku anak dalam ini.

Kalau ujian menginduk ke SD SP9 HTI. “Mengajar di sini sulit,” ujarnya. Apalagi antara anak suku kubuMerasi dan Semangus selalu tidak akur alias sering berkelahi. “Dinas Pendidikan juga kurang perhatian,” ungkapnya.

Fauzi sudah enam tahun honor. Namun, dia belum memiliki NUPTK (nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan). Gaji APBD yang ia terima Rp 400 ribu tiap bulannya. “Tapi, saya jalani saja. Demi kemajuan suku anak dalam. Kemauan mereka untuk maju sangat kuat.”

Kelurahan terdekat dari tempat tinggal suku anak dalam itu, bernama Bangun Jaya. Sekitar 21 km. Penduduknya lebih maju. Di sana banyak yang lulus sarjana. Seperti diungkap Malik, Pendamping KAT Suku Anak Dalam. “Tapi, belum bisa memotivasi suku anak dalam,” tukasnya.

Kasi Pemberdayaan KAT Dinsos Provinsi Sumsel, Drs Elman Zamhari menjelaskan, upacara bendera dilakukan untuk memberikan pembelajaran bahwa suku anak dalam bagian dari rakyat Indonesia. Punya hak yang sama. “Mereka ingin maju. Kendalanya, belum mau melepas adat istiadat. Jadi, masih merasa belum merdeka.

Belum Merdeka
Merdeka itu berarti bebas. Sejauh ini, suku anak dalam belum bisa “bebas” keluar masuk ke permukiman masyarakat luar. Artinya mereka sulit untuk berbaur/tinggal. Selain jauh dari pemukiman masyarakat umum, juga penampilan suku kubu yang mereka anggap kurang pantas. Mau pergi sendiri rasanya “malu.”

“Kami juga paham sebagai bangsa Indonesia,” sebut Mansari, Kepala Suku Kubu Merasi. Tapi kesetaraan itu sepertinya sulit berlaku bagi suku kubu. “Kami ingin desa kami maju, dilihat orang.” Sulitnya, jarak desa mereka terlalu jauh dari jangkauan pemukiman masyarakat umum.

“Kalau ada tempat baru yang lebih strategis, kami mau pindah,” imbuhnya. Paling tidak, bisa lebih cepat berbaur dan kenal dengan masyarakat luar. “Anak-anak lebih mudah sekolah.”

Bagaimana dengan berpergian sendiri? “Sulit kami lakukan,” ujarnya. Sebab, pesan nenek moyang jangan berpencar. “Harus berkumpul,” tuturnya. Lagipula untuk keluar sendiri, banyak warga suku anak dalam sulit beradaptasi. Mereka tidak punya skill (kemampuan), tidak punya pekerjaan, dan takut tidak diterima jadi malu. “Kami biasa hidup di hutan, tidak tahu adat istiadat orang luar. Kalau memakai baju kurang layak, malu,” imbuhnya.

Plt Kepala Dinsos Provinsi Sumsel, Belman Karmuda SH MSi, mengatakan, yang diajari ini sikap mental mereka. “Ini yang sudah. Makanya, Dinsos berupaya memberdayakan mereka. Biar cepat beradaptasi,” tandasnya. (fad/nur/ce1)

Lagi Musim, Bolos Sekolah

Disdik Kesulitan Didik Anak Suku Kubu
Siswa suku kubu yang putus SD/SMP/SMA ikut memacu rendahnya angka partisipasi kasar (APK) dan angka partisipasi murni (APM) Provinsi Sumatera Selatan.

Makin minim berarti kualitas sumber daya manusia (SDM) juga kian kritis. Ini yang membuat pembangunan suatu wilayah tidak berhasil. Wajar jika pemerintah terus menggencarkan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun. Pendek kata, sampai lulus SMA sederajat. Makin banyak yang mengeyam pendidikan, APK/APM makin tinggi. Tapi, nyatanyadi Sumsel, capaian APK belum terlalu memuaskan.

Berbagai permasalahan disinyalir memicu tidak tercapainya APK-APM. Salah satunya, jauhnya akses sekolah bagi masyarakat terisolir seperti yang dialami suku kubu ini.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, tahun 2014 lalu, untuk APK TK/PAUD baru mencapai 55,13 persen, APK SD 111,02 persen, APK SMP 92,82 persen, dan APK SMA/SMK sebesar 62,78 persen. Ini menandakan rasio putus sekolah memang tinggi yakni 37,22 persen untuk SMA/SMK. Sementara target nasional itu, APK anak-anak yang bersekolah harus mencapai 97 persen pada 2020.

Kepala Disdik Provinsi Sumsel, Drs Widodo MPd menjelaskan, untuk meningkatkan angka partisipasi pendidikan di beberapa kabupaten/kota memang kadang jadi kendala. Seperti masyarakat terisolir itu, yang sulit dijangkau. “Padahal kita tidak bedakan, semua berhak mengenyam pendidikan termasuk skuk anak dalam,” sebutnya.

Untuk itu, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Sosial agar masyarakat terisolir menetap dan bisa mendapatkan pendidikan. Namun, untuk melaksanakan kelas jauh, Disdikjuga kendala dengan tenaga guru. “Gurunya kita kirim ke sekolah lokal jauh itu seminggu sekali baru pulang,” sebutnya.

Tidak ada yang menetap di sana. Selain guru, juga fasilitas sekolah. “Kalau memang perlu sekolah baru, kita bisa inventaris,” ujarnya. Soal dana bisa APBD/APBN. “Yang penting pemkabnya usulkan dulu, kita bantu,” imbuhnya. Apalagi Pemprov Sumsel ada program sekolah gratis.

Hartoyo, Kabid Program Dinas Pendidikan Kabupaten Mura, mengatakan, Pemkab Mura telah menyediakansekitar lima sekolah jauh. Ini khusus untuk membantu peningkatan pendidikan masyarakat KAT di sekitar wilayah Semangus. Khusus Desa Harapan Makmur ada dua lokal bangunan SD yang baru dibangun. “Semuanya SD, untuk SMP belum ada,” ujarnya. Diakuinya, paling dekat dengan Desa Harapan Makmur itu, ada dua SMP yakni di Desa Bumi Makmur I dan Pian Raya.

Diakuinya, cukup sulit memberikan perhatian terhadap masyarakat KAT seperti suku kubu yang mayoritas bertahan hidup dengan cara berburu hewan di hutan. “Jika ada musim durian, duku, manggis mereka semua tidak masuk sekolah. Ada yang datang sekali, lalu tidak datang lagi,” ujarnya.

Menurut Hartoyo, Disdik berupaya melakukan peningkatan sekolah jauh menjadi sekolah definitif. Caranya mengarahkan sejumlah tegana pengajar profesional. “Pengembangan terus kami lakukan. Tapi itu memerlukan proses yang cukup lama.”

Sebelumnya Presiden Joko Widodo dalam penjelasan Nota Keuangan atas RAPBN 2016 di depan rapat paripurna Gedung MPR RI pada 14 Agustus lalu mengungkapkan anggaran pendidikan punya porsi 20 persen. Mencapai Rp424,25 triliun. Ada kenaikan sekitar Rp 16,2 triliun dibandingkan dengan 2015.

Selain itu, dana transfer daerah menyedot paling banyak hingga Rp 275,4 triliun. Menariknya, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan pagu anggaranfungsi pendidikan di antaranya difokuskan untuk merealisasikan Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun atau sampai lulus SMA sederajat.

Artinya apa? dengan Wajar 12 Tahun seluruh orang tua harus membawa anaknya yang usia SMA/sederajat masuk ke sekolah. Tetapi sebelum itu pemerintah wajib menyiapkan dulu sarana dan prasarana. Apalagi, Anies mencatat setiap tahun ada 2,56 juta anak putus sekolah karena tidak ada fasilitas ruang kelas.

Sementara itu, data BPS Kabupaten Mura mencatat angka melek huruf masyarakatnya 97,37 persen. Mampu mengenyam bangku sekolah rata-rata 7,19 tahun. Pengeluaran per kapita Rp 620,49 ribu/tahun. Kabupaten Mura mendapat nilai IPM 69,57. Menempati peringat 15 dari 17 kabupaten/kota di wilayah Sumatera Selatan.

Kepala BPS Kabupaten Mura Aidil Adha, menyatakan, nilai IPM dipengaruhi beberapa faktor. Seperti sarana pendidikan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan penduduk. “IPM Kabupaten Mura sangat rendah. Artinya sarana kesehatan, pelayanan kesehatan, pendidikan, ekonomi maupun tingkat kesejahteraan penduduk masih minim,” tegasnya. (cj13/wia/nni/fad/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 18 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: