Kehidupan Suku Kubu Sungai Teras


Tetap Berladang dan Berburu

Kehidupan Suku Kubu Sungai Teras
Sungai Teras: Suku kubu memanfaatkan Sungai Teras sebagai tempat mandi dan menangkap ikan atau labi-labi.

Kehidupan Suku Kubu Sungai Teras
Ada Listrik: Suku kubu Semangus asal Gumay duduk di pondok depan permukiman

Semula suku anak dalam Merasi dan Semangus tidak menetap di Sungai Teras, Dusun IV Desa Harapan Makmur (SP 9), Muara Lakitan. Mereka berpindah-br pindah (nomaden). Menyiris sungai yang satu ke sungai yang lain. Seperti apa kehidupannya?

* * * * * * * * * * * * * * *

Perjalanan menuju Dusun IV Desa Harapan Makmur terasa sangat berat. Mengendarai Innova wartawan koran ini harus melintasi jalan tanah berdebu dan berbatu. Saat itu, Jumat (15/8) sore hari. Perjalanan dari simpang empat Kelurahan Bangun Jaya, BTS Ulu Cecar menuju Desa Harapan Makmur (SP 9) sekitar 25 km.

Kanan kiri jalan semak belukar dan sebagian hutan. Masuk kawasan usaha perusahaan HTI (hutan tanaman industri) yang ditanami akasia, sawit, dan ekaliptus. Maklum dusun ini memang berada di kawasan hutan yang dikelola MHP seluas 70 ribu hektare.

Selain Desa Harapan Makmur SP 9, juga ada desa trans lain. Yakni Tri Anggun HTI (SP 6), Bumi Makmur (SP 9), Pianraya (SP 10), Sp 7, dan SP 11. Tetapi hanya Desa Harapan Makmur tempat hunian suku anak dalam (suku kubu/orang rimba) Merasi asal Rawas dan Semangus Asal Gumay.

Di luar dugaan, nyatanya untuk sampai ke Dusun IV, suku kubu Merasi dan Semangus tak perlu repot-repot jalan kaki. Berbeda dengan yang ada di Pulau Kidak, Ulu Rawas, Musi Rawas Utara. Harus jalan kaki dan menumbus hutan sejauh 7 km.

Mobil bisa parkir di halaman suku anak dalam Semangus. Sore itu, sekitar pukul 18.00 WIB. Senja berangsur hilang, malam mulai gelap. Tiba-tiba suara genset hidup dibarengi nyala lampu dan TV.

Gelap pun sirna. Rumah-rumah penduduk suku kubu di sana sudah terpasang listrik, genset, bahkan TV juga parabola di depan rumahnya. Rumahnya pun kini tak seperti aslinya (godong, red). Beratap daun serdang, dinding rumah kulit kayu, dan lantai bambu yang dijalin dengan rotan tanpa paku.

Semua rumah mereka, kini sudah permanen. Berukuran 6 x 4 meter persegi. Berlantai dan dinding kayu serta atap seng. Ada ruang tamu, kamar, dan dapur. Tetapi tidak ada WC dan tempat mandi.

Semua permukiman dan perlengkapan rumah tangga dan hiburan itu, bantuan program pemberdayaan Kementerian Sosial/Dinas Sosial. Di sana juga ada dua balai ada sosial/desa, sekolah dua lokal, dan mushalla masih dibangun. Malam itu, rumah-rumah penduduk yang punya TV, ibu dan anak-anaknya asyik menonton. Kaum adamnya mendekati Sumatera Ekspres dan pendamping KAT suku anak dalam, Malik. Duduk di pondok depan rumah.

Mereka ternyata tidak banyak omong. Kadang sering melamundan tatapannya nanar. Entah mandi atau tidak, suku kubu ini terlihat masih mengenakan baju/celanakumal. Rambutnya kusam dan gimbal. Ada yang mengisap rokok. Tanpa ditegur, mereka tak bicara sama sekali. Koran ini hanya menyaksikan sebentar, berhubung masih ada lokasi hunian lain, lanjut ke desa bawah, suku kubu Merasi.

“Dulu pernah ada anak gadis suku anak dalam asal Gumay diculik suku anak dalam asal Rawas,” Malik mengawali cerita. Masalah itu diperkarakan pesirah. Suku Gumay kalah dan nenek moyangnya meninggalkan pesan jangan bersatu dengan suku Rawas. “Makanya sekarang kampung mereka dipisahkan,” ucapnya.

Untuk mencapai dusun suku kubu Merasi, harus memutar arah dari depan. Jaraknya sekitar 15 km. mobil masuk jalan setapak yang penuh semak belukar. Anjing-anjing sahut menyahut di dusun yang gelap gulita itu.

Malam itu, wartawan koran ini tinggal di rumah Mansari (43), kepala suku anak dalam Merasi asal Rawas. Didampingi Malik. Di sana, sebagian penduduk juga sudah punya genset, TV, DVD, parabola, bahkan HP. Lantaran banyak rusak dan tak mampu memperbaiki, mereka rela gelap-gelapan. “Hanya pe-nerangan lampu lilin,” tutur Mansari.

Mansari tinggal bersama istrinya, Siti Raya dan lima anaknya: Ali Rosanda, Ali Hartono, Lina Purwanti, Endang, dan Bayu Saputri. Karena tak banyak yang bisa dilakukan malam hari, istri Mansari dan anaknya yang kecil cepat tidur. Bersama pendamping KAT, Malik, koran ini menginap di sana hingga mengikuti upacara 17 Agustus. Rumah Mansari juga seperti rumah masyarakat umum kebanyakan. Ada TV, DVD, dan speaker. “Tapi tidak bisa hidup karena tidak ada aliran listrik.”

Keluarga Mansari belum juga bangun. Barus selepas pukul 07.00 pagi, istrinya terdengar memasak nasi sambil menggedong anaknya yang baru dua tahun. “Ure nak kemone (kau mau kemana)?” kata Mansari ketika melihat anak laki-lakinya, Ali Rosanda turun mengangkut keranjang dan tombak. “Setiap pagi, saya bersama anak tertua, kadang istri pergi ke ladang dan berburu labi-labi, biawak, kura-kura, kancil, kijang, babi hutan, ular juga menangkap ikan,” kata dia.

Dia akan membawa tombak, bedil (senjata api/kecepek), keris, dan anjing. “Sekarang ke ladang bersih-bersih karena bulan depan mau nanam padi. Saya juga menanam karet, ubi, pisang di kebun 2 hektare,” cetusnya. Untuk ke kebun, dia harus masuk hutan. Berjalan kaki 1-2 km karena hasil tanaman itu musiman, mereka tetap berburu cari tambahan. Sehari hasil berburu kancil 5 kg, dijual 3 kg dapat Rp 80 ribu-Rp 100 ribu. Jika bahan pangan habis, dia bersama warga biasanya manda (berburu 3 hari-1 seminggu tanpa pulang ke rumah). (fad)

Melangun Diganti Sesaji

Adat istiadat suku kubu turun temurun dari nenek moyang. Namun, pemberdayaan oleh Dinsos Provinsi Sumsel mengubah pola hidup dan kebudayaan, meski ada juga yang dipertahankan.

* * * * * * * * * * * * * * *

Pemberdayaan dimulai 2009. Sebelum itu, suku kubu berpindah-pindah (nomaden). “Kami biasanya menelusuri sepanjang sungai, ujar Edi Kusnadi, wakil kepala suku Merasi. Sungai yang dimaksud yakni Sungai Enau, Semangus, Cawang Gilo, Keruh, dan Teras. “Bermukim paling lama satu bulan. Bangun sodong sebagai tempat menetap sementara,” bebernya.

Sebetulnya, walau berpindah tempat, mereka tetap memutar lagi ke lokasi singgah pertama. “Berpindah jika sumber buruan dan pangan habis atau jika ada musibah,” ujar dia. Kepercayaan suku kubu, jika ada musibah, mereka hilangkan kesedihan dan buang sial dengan meninggalkan lokasi tinggal (adat melangun, red). Sekarang adat melangun hilang karena suku kubu kini menetap di Sungai Teras. “Semua atas saran tim dari Dinas Sosial,” ujarnya.

Dikatakan, mereka semua sudah beragama Islam. Hanya saja, belum melaksanakan ajarannya. “Shalat tahu dikit-dikit. Tidak ada yang ngajari,” ujarnya. Menurut Mansari sukunya masih memegang adat istiadat tidak boleh mengganggu keluarga. Juga merugikan orang lain. “Kalau minat melamar orang lain, boleh-boleh saja,” tuturnya.

Soal adat melangun, kata dia, sudah diganti dengan sesaji atau sedekah bumi. Ini biar desa selamat setiap masuk tahun baru masehi. “Warga wajib bawa serabi ke rumah kepala suku. Di sana diritualkan sambil memanjatkan doa kepada roh nenek moyang,” tuturnya.

Malik, Pendamping KAT Suku Anak Dalam (APBN) mengakui adat istiadat nenek moyang suku anak dalam sudah banyak yang hilang. Yang masih ada, seperti ilmu meramu menjadi obat-obatan tradisional yang mujarab. “Kalau terbuat dari apa? rahasia,” ujarnya.

Selain itu paling ditakuti suku kubu, ilmu pemikat lawan jenis (pelet) seburuk tulang. Ini dimiliki orang tertentu. “Ilmu ini masih ada, saking kuat reaksinya bisa membuat orang mati/sampai tulang kita buruk. Jadi kalau suku kubu sudah menaksir orang lain, dipelet dengan ilmu ini maka orang tersebut akan menetap selamanya di suku kubu,” sebutnya.

Kemudian adat pengasingan yang dipegang oleh Kepala Suku Anak Dalam Semangus (Dumay). “Kalau orang tua sakit di atas umur 60 tahun akan diasingkan (dibikinkan pondok kecil). Tujuannya supaya penyakit yang diderita tidak menular ke anak cucu,” sebutnya. Dulu, pengasingannya harus berbatas sungai atau jalan, tetapi tidak demikian.

“Seharusnya yang sakit itu dirawat, bukan dijauhi. Kalau diasingkan, artinya ditelantarkan,” bebernya. Kepercayaan menyedihkan itu dilakukan Kepala Suku Nurdin (70). Saat koran ini menemuinya, Nurdin tidur-tiduran di pondok belakang rumah. Dia memang sedang sakit paru cukup lama. Nurdin bercerita manusia itu seolah dikejar turun ke dunia. “Selalu berburu (mencari makan, red) dan tak punya waktu bersenang-senang,” katanya. Makanya mereka tak henti berburu, bertanam di ladang, mengambil madu sialang, dan mengasah kayu. (fad)

Hutan Dieksploitasi, Dorong Bermukim


Sebaran suku kubu di Kabupaten Musi Rawas dan Muratara tidak merata. Kini, kehidupan mereka terus tertata. Yang sudah diberdayakan sedikit maju. Yang belum masih primitif

* * * * * * * * * * * * * * *

Suku kubu atau suku anak dalam (orang rimba) dikenal sejak lama. Mereka survive di hutan, berburu dan berpindah menyisiri sungai. Punya ciri khas kaki kembang, berkulit gelap dan rambut gimbal/keriting, jalan mengayun, punggung lentik, berpakai dari kulit kayu/pakaian kumal, dan kalau berjalan berkelompok. Tapi yang primitif seperti ini sudah sulit ditemukan.

Maklum hutan kian habis karena terus dieksploitasi. Begitu pula sumber makanan mereka. Kemana lagi suku kubu harus berpindah kalau tidak dengan bermukim?

Di Musi Rawas dan Muratara, keberadaan suku kubu menyebar di beberapa lokasi. “Kalau masih dalam hutan, tidak ada interaksi dengan masyarakat luar, sulit dijangkau, hidup berpindah masuk KAT (komunitas adat terpencil) kategori 1,” ujar Plt Kepala Dinsos Provinsi Sumsel, Belman Karmuda, SH MSi kepada koran ini setiba di lokasi bermukim suku anak dalam Sungai Teras, Dusun IV.

Belman merinci, suku kubu sudah mendapat pemberdayaan di Muratara. Yakni di daerah Sungai Jernih, Muara Tiku, Pulau Kidak. “Kalau Sungai Kijang Rawas Ulu malah mau dijadikan desa. Mereka sudah membaur dan maju,” kata dia.

Sementara di Mura, Sungai Teras dan Sungai Hitam Desa Semangus. Awalnya, semua KAT suku kubu masuk kategori 1. Setelah diberdayakan masuk kategori 2-3. Artinya menetap dan mulai maju. Sejauh ini, pihaknya mengklaim KAT 1 tidak ada lagi di Sumsel. “KAT 1 sama sekali tak bisa berkomunikasi dengan orang luar,” ucapnya.

Dalam pemberdayaan, Dinas Sosial punya target. “KAT 1 tahun pertama dijajaki dulu,” ujarnya. Nah, tahun kedua pembangunan yakni menarik mereka keluar dari hutan. Tujuannya supaya bermukim. “Kami bantu bahan bangunan rumah, jaminan makan, peralatan rumah tangga, pakaian, sampai perlengkapan hiburan seperti TV, parabola, dan genset,” cetusnya.

Tahun ketiga pemberdayaan, suku kubu dibantu usaha ekonomi produktif (UEP). Mulai pemberian bibit tanaman (karet, kacang, jagung) setiap KK. “Tahun ketiga itu tahun purnabina, seperti suku kubu Sungai Teras.”

Dikatakan, sejak diberdayakan, suku kubu di Sungai Teras mulai jauh dari primitif. “Kami memulai Agustus 2009,” bebernya. Penjajakan lokasi pemberdayaan KAT atas laporan Dinsos Kabupaten Lahat. “Dua suku di Sungai Teras ini, sulit disatukan. Mereka percaya pesan nenek moyangnya.” (wia/fad)

Pembangunan Terkendala Kawasan HTI

Keberadaan masyarakat Komunitas Adat Terpencil (KAT), suku kubu Sungai Teras belum mendapat perhatian serius pemda setempat. Alasannya, kawasan mereka masuk lokasi hutan tanaman industri (HTI).

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mura, Yamin Pabli mengatakan, pihaknya hanya bisa memantau. Namun untuk pembanguan sarana lainnya seperti kantor desa, puskesmas, pendidikan tidak mungkin dilakukan. “Jika kami Pemkab Mura mendirikan bangunan, Nanti bisa disalahkan Kementerian Kehutanan. Kecuali bangunan itu sudah mendapat izin pembebasan lahan,” ujarnya.

Permasalahan tersebut, tambah dia, menjadi hambatan pemda. Sehingga wilayah KAT jauh dari pembangunan dan jangkauan masyarakat luas.

“Kami akan coba gunakan cara lain, seperti pemberdayaan skill masyarakat setempat. Tahun 2016 sudah masuk dalam anggaran pemberdayaan masyarakat KAT,” bebernya.

Dikatakan, pihaknya akan mengambil 30-50 masyarakat di sana untuk disekolahkan ke daerah lain yang lebih maju. “Jadi ketika mereka kembali, sudah bisa menggunakan skill sebagai sumber mata pencarian.”

Terpisah, Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata Mura, Hamam Santoso mengatakan, kebudayaan masyarakat KAT tetap mereka pantau. Sekaligus ditelusuri. “Kondisi masyarakat KAT jauh dan sudah ditempuh. Kadang menyulitkan kami mendokumentasikannya.”

Persoalan lain, saat petugas datang, suku kubu selalu menghindar masuk hutan.

Memed, pemerhati masyarakat KAT Mura, berpendapat umumnya pola hidup suku kubu tak mau terikat peraturan di masyarakat. Wajar jika hingga kini masyarakat KAT masih menjadi komunitas tertinggal dan terasing. (cj13/fad)

Sumatera Ekspres, Selasa, 18 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: