Maut Itu Bernama “Lalai”


Maut Itu Bernama “Lalai”

Maut Itu Bernama Lalai
Berbahaya: Dengan satu tangan, seorang ibu membonceng empat anaknya naik sepeda motor.

______________________________

Kecelakaan kendaraan roda dua masih yang terbanyak dari semua kasus kecelakaan lalu lintas. Penyebab terbanyaknya adalah kesalahan manusia (human error). Termasuk kelalaian dalam berkendaraan.

* * * * * * * * * * * * * * *

Banyak wujud kelalaian dalam berkendaraan. Anak tidak dipakaikan helm, dibonceng tanpa pengaman, boncengan lebih dari dua serta banyak pelanggaran lain. Semua bagian dari human error. Para orang tua umumnya tahu kalau beberapa perilaku itu menyalahi aturan dan berbahaya bagi keselamatan.

Tapi tetap saja pengetahuan itu tidak membuat sadar semua pengendara roda dua. Bahkan ada kecenderungan menyepelekan pelanggaran itu. Kalau sudah demikian, maut pun mengintai. Salah satu contohnya, karena mencoba menyalip tanpa perhitungan. Kasus ini terjadi di Jalan Rustam Effendi, Desa Banu Ayu Lubuk Batang, OKI, 1 September 2013 lalu.

Ujang (27), warga Paninjauan OKU kehilangan istrinya, Saita (24) dan anaknya Liza (5). Sebabnya sepeda motor yang mereka naiki membentur bak sebuah truk. Awalnya Ujang mencoba menyalip truk itu. Tapi dari arah berlawan ada mobil lain yang melaju kencang sehingga dia memutuskan banting setir ke kiri.

Apes, stang motor menyenggol bak truk. Istrinya jatuh tepat di bawah truk dan tergilas ban. Sedang anaknya luka serius, sempat dilarikan ke RSUD Ibnu Sutowo Baturaja, tapi tak tertolong. Ujang sendiri hanya lecet-lecet.

Kasus lain, tak mampu menghindari lubang, Cak Imin kehilangan istrinya. Kejadiannya di ruas Jalintim Palembang-Jambi Km 49, Kecamatan Banyuasin III. Gara-gara sepeda motor yang dikendarainya berusaha memotong truk dari jalur kiri. Istri yang ia bonceng, Nirwana, terlempar ke kanan setelah sepeda motor oleng dan jatuh.

Nahasnya, Nirwana terlindas ban kiri fuso tersebut hingga meregang nyawa di lokasi kejadian. Sedang Cak Imin dan anaknya, Wiwik Wulandari (16) hanya lecet-lecet. Kejadiannya 6 Januari 2015.

Meski banyak kasus serupa, tetap saja angka kecelakaan khususnya untuk roda dua tetap tinggi. Terhitung Januari hingga Juli 2015 tercatat 697 kecelakaan di Sumsel. Dari jumlah itu, 1.018 unit sepeda motor. Dengan kata lain, satu kecelakaan melibatkan lebih dari satu sepeda motor.

Untuk korban meninggal dunia dalam periode tersebut mencapai 455 orang. Baik kecelakaan roda dua maupun roda empat. Secara spesifik, belum ada UU yang mengatur ancaman hukuman bagi orang tua lalai yang menyebabkan anaknya kecelakaan hingga kehilangan nyawa.

Tapi dalam Pasal 310 dan 311 UU No 22/2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan jelas disebutkan sanksi untuk kasus kecelakaan itu. Karena tidak spesifik menyebutkan hubungan antarkorbannya, maka jika anaknya jadi korban, orang tuanya bisa dipidana.

Kapolresta Palembang Kombes Pol Tjahyono Prawoto SH MM melalui Kasat Lantas, Kompol Benny Prasetyo SH SIK membenarkan banyaknya kelalaian pengendara dalam berkendaraan.

“Untuk meminimalisir kecelakaan itu, taati dan patuhilah aturan berkendaraan dan berlalu lintas,” imbuhnya. Ia juga mengimbau pengendara sepeda motor, khususnya, orang tua, untuk memikirkan buah hati mereka. Duduk di bagian depan sebagai “tameng” membuat anak tanpa perlindungan. Mereka terkena angin dan debu jalanan.

Effisiensi, cepat dan tidak repot tidak seharusnya jadi alasan pembenaran. “Jelas-jelas perilaku berkendaraan seperti itu membahayakan,” tegas Benny. Saat anak berada di depan, pengendara akan kesulitan melakukan akselerasi mendadak, misalnya untuk berbelok.

Apalagi jika sang anak tertidur. Faktor X seperti inilah yang sering jadi penyebab terjadinya kecelakaan. “Kalau bertabrakan dengan kendaraan lain, anak yang sering jadi korban,” bebernya. Kecelakaan yang terjadi tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga orang lain.

Karenanya, Satlantas Polresta Palembang gencar melakukan kampanye keselamatan berlalu lintas (safety riding). Agar efektif, digandenglah sejumlah stakeholder terkait. Mulai produsen sepeda motor dan helm SNI hingga masyarakat level terkecil, yakni keluarga.

Para pelajar juga diingatkan untuk tidak mengendarai sepeda motor saat belum cukup umur untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Benny menegaskan, Satlantas Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumsel, Kombes Pol Bambang Pristiwanto SH MM melalui Kepala Sub Direktorat Penegak Hukum (Kasubdit Gakkum), AKBP Elirman Mengungkapkan hasil evaluasi yang sama.

Katanya, kecelakaan kendaraan roda dua maupun roda empat terbanyak akibat pengendara lalai. “Pengendara masih mengabaikan rambu lalu lintas, tidak menggunakan perlengkapan berkendaraan dan banyak kelalaian lain,” bebernya. (aja/uni/ce1)

Orang tua Dapat Dipidana

Kriminolog Sri Sulastri berpendapat, perilaku orang tua yang membonceng anak lebih dari kapasitas seharusnya sepeda motor merupakan pelanggaran lalu lintas. Dalam ilmu sosiologi hukum ini disebut perbuatan melawan hukum.

“Jika terjadi kecelakaan yang mengakibatkan kehilangan nyawa sang anak, orang tua tersebut dapat dipidana,” kata Sri, kemarin. Dijelaskan Wakil Dekan I Fakultas Hukum (FH) Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP) itu, perbuatan seseorang mengakibatkan orang lain celaka dalam berkendaraan dikategorikan sebagai kelalaian.

“Orang itu dapat dijerat dua pasal berlapis,” ujarnya. Selain kelalaian yang mengakibatkan nyawa orang melayang, juga melanggar peraturan tentang lalu lintas. Masih terjadi perbuatan melawan hukum ini bukan karena kurangnya sosialisasi UU Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).

Tapi cenderung minimnya kesadaran hukum. Tidak hanya itu, sikap arogansi dalam berkendaraan justru menjadi faktor utama kecelakaan lalu lintas. Sri mencontohkan macet, terjadinya karena tak ada yang mau saling mengalah di jalanan. Begitu juga kecelakaan. “Pengendaranya tidak menggunakan helm bahkan lebih muatan, semua itulah penyebab utamanya,” bebernya.

Menurutnya, pihak keamanan sebagai penegak UU harus bersikap tegas. Apalagi ketika yang menjadi korban merupakan anak sendiri, bukan orang lain. “Sanksinya harus tegas, agar menjadi pelajaran bagi yang lain,” tadas Sri.

Harapannya, masyarakat benar-benar memperhatikan dan menaati aturan berlalu lintas. Jangan sampai juga secara umur belum saatnya berkendaraan, tapi nekat untuk mengemudi. Kesalahan ini juga menjadi penyebab banyaknya kecelakaan. “Kalau patuh, maka kita akan selamat,” pungkasnya. (mik/ce1)

Maraknya Perilaku Orang Tua Melawan Peraturan
Lalu Lintas

Ingin Hemat, Pertaruhkan Nyawa

Maut Itu Bernama Lalai Kebiasaan orang tua mengendaraai sepeda motor dengan membonceng beberapa anak kecil, masih terjadi, menghemat waktu dan uang menjadi alasan, tapi tak sadar telah mempertaruhkan nyawa dalam berkendara.

* * * * * * * * * * * * * * *

Perilaku melawan hukum dengan menerobos peraturan lalu lintas ternyata sudah lama terjadi. Tak terkecuali bagi orang tua dalam membonceng anak-anaknya ketika pergi sekolah. Tak berpikir akibatnya, justru kebiasaan ini terus menerus terjadi, menjadi tradisi.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Indonesia (KPAID) Palembang, Adi Sangadi SH mengatakan, kebiasaan ini sudah lama terjadi di metropolis. Alasan mereka untuk menghemat waktu, uang dan tenaga. “Kasus ini cukup ringan, tapi masuk kasus berat jika terjadi korban meninggal dunia,” kata Adi kepada koran ini, kemarin.

Dijelaskan Adi, meskipun mengetahui bahwa mengendarai sepeda motor dengan membawa beberapa anak tanpa menggunakan helm merupakan faktor pelanggaran, tetap saja dilakukan orang tua. Ironinya, jika terjadi kecelakaan, hanya dianggap sebagai pelanggaran lalu lintas saja. Padahal, jika terjadi kehilangan nyawa dapat diproses hukum lebih lanjut. “Sayangnya selama ini, masih menganggap asas kemanusiaan dan menggunakan hukum keluarga sehingga berlalu begitu saja,” ulasnya.

Menurut Adi, selain asas kemanusiaan, untuk menjerat orang tua jika terjadi kecelakaan, masih mengedepankan prinsip tidak mungkin orang tua akan membunuh anak sendiri. Lantaran, jika pelaku ditahan, baik ayah maupun ibu korban, otomatis akan memengaruhi perekonomian keluarganya. “Tidak ada lagi yang akan menghidupi anak-anaknya maupun keluarga lain jika pelaku ditahan,” katanya.

Adi menerangkan, orang tua masih kurang menyadari mengenai pelanggaran yang jelas sangat membahayakan pengendara jika hal semacam ini terus dilakukan. Sesuai dengan Undang-Undang (UU) Perlindungan Anak pasal 77 terhadap anak yang mengakibatkan korban mengalami kerugian baik material dan moril akan dikenai ancaman 5 tahun penjara denda Rp 100 juta. “Jika kami sosialisasi, justru orang tua balik memarahi kami. Inilah menjadi tantangan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Sumsel, Kombes Pol Bambang Pristiwanto SH MM melalui Kepala Sub Direktorat Penegakan Hukum (Kasubdit Gakkum), AKBP Elirman mengatakan, banyaknya terjadi kecelakaan roda dua maupun roda empat akibat kelalaian pengendara. “Masih mengabaikan rambu lalu lintas dan tidak menggunakan perlengkapan berkendara,” katanya.

Dijelaskan, pihaknya telah melakukan berbagai antisipasi dengan menekan angka kecelakaa. Misalnya melakukan razia di berbagai titik strategis, melakukan tilang dan memanggil serta memberikan surat teguran. “Lebih-lebih yang membonceng anak-anak,” ungkapnya. Menurutnya, belum adanya aturan yang memberikan sanksi tegas kepada orang tua apabila membonceng anak tanpa menggunakan perlengkapan berkendara menjadi kendala tersendiri dalam penertiban.

“Apalagi saat ini banyak orang tua yang sengaja membelikan kendaraan untuk anak mereka masih di bawah 17 tahun dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Anak-anak ini sama sekali tidak mengerti aturan lalu lintas yang bisa membahayakan nyawa,” pungkasnya. (uni/ce2)

Melanggar, Disanksi Sesuai UU

Maut Itu Bernama Lalai Dalam berlalu lintas di jalur darat ada banyak hal yang harus diutamakan. Salah satunya keselamatan diri sendiri dan juga pengendara serta penumpang lain. Meski ada hubungan keluarga dan keakraban, keselamatan berlalu lintas tetap harus jadi prioritas sebab sanksi hukum akan terus berlaku.

Apalagi jika ada kejadian kecelakaan, dipastikan pengendara yang tidak taat peraturanlah yang akan bertanggung jawab. “Semua diatur dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan,” cetus Sudirman, Kabid LLAJ dan Perkeretaapian, kemarin.

Dalam UU tersebut, kata dia, ada di antaranya pengendara dan penumpang di atas kendaraan roda dua hanya diperuntukkan dua orang. Tidak diperbolehkan adanya tambahan baik anak sendiri. “Ketentuannya sudah jelas. Jika lebih dari itu, maka sudah pasti salahi aturan,” tukasnya.

Sudirman menjelaskan, bagi pengendara yang melakukan kesalahan, maka akan diberikan sanksi. Yakni mulai dari denda, proses pengadilan, dan sanksi lainnya. “Pengendara akan kena tilang. Tapi bukan kami yang melakukannya melainkan pihak kepolisian,” tutur dia.

Ia mengimbau kepada masyarakat Sumsel agar tidak melanggar peraturan yang sudah ada. Sebab, kata dia, akan banyak faktor dan orang lain yang dirugikan jika sampai ada kecelakaan nanti. “Di Sumsel ini banyak pengendara yang membandel. Kita selalu bekerja sama dengan instansi lain untuk merazia dan meminimalkan agar masyarakat Sumsel taat peraturan dalam berkendara,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Kabid Pengendalian dan Pengawasan Operasional Dishub Kota Palembang Isranedy. Dikatakan, selama ini masih banyak ditemukan pengguna kendaraan bermotor umumnya keluarga yang membonceng anaknya dengan over capacity.

“Itu memang dilarang dan sudah diatur dalam UU-nya,” ujarnya. Apalagi, selain over capacity hal itu sangat membahayakan keselamatan baik pengendara maupun yang dibonceng. “Jika sudah berempat ataupun bonceng lima di motor, untuk menggunakan helm pun sudah risih,” lanjutnya.

Kendati demikian, Isranedy mengklaim kalau jumlah pengendara seperti ini masih sedikit ditemukan. “Semakin ke sini, pengendara sudah banyak yang mematuhi aturan lalu lintas,” sambungnya. Namun sejatinya, untuk menertibkan pengendara khususnya kendaraan tunggal, merupakan kewenangan Dirlantas. “Itu di luar kapasitas kami,” pungkasnya. (wia/chy/ce2)

Kisah Duka Korban Kecelakaan Maut
Kehilangan Suami dan Anak, Trauma Naik Motor

Maut Itu Bernama Lalai
Trauma: Rozi Sulfiani (memeluk anak), ikhlas melepaskan kepergian suami dan anak sulungnya akibat kecelakaan maut, 2012 lalu.

Rozi Sulfiani, harus kehilangan suami dan anaknya akibat kecelakaan, 31 Maret 2012 lalu. Saat itu, sepeda motor yang dikendarai suaminya ditabrak truk. Suaminya tewas di tempat, begitupun juga anak sulungnya. Meskipun selamat, ia harus kehilangan kaki sebelah kiri lantaran diamputasi. Bagaimana kisahnya?

================================

Agustriawan – Palembang

================================

Senyum mengembang terpancar dari wajah Oci, sapaan akrab Rosi Sulfiana ketika wartawan koran ini berkunjung ke rumahnya, di Maskarebet Jalan Sedap Malam I, RT 2/1, Kelurahan Talang Kelapa, Alang-Alang Lebar. Meskipun kehilangan kakinya dan harus menggunakan alat bantu saat berjalan, ia tetap semangat menjalani hidup. “Masuk, Dek, ada apa,” kata Oci menyabut kedatangan koran ini, sembari mempersilakan duduk.

Oci merupakan korban selamat dari peristiwa kecelakaan tragis yang dialaminya. Suaminya Zulkifli dan anaknya Reyza Faravisa atau Eca meninggal dalam kecelakaan. Motornya disenggol truk hingga mereka bertiga terjatuh. Saat itu, anaknya masih berumur 3,5 tahun meninggal.

Pascakejadian itu, Oci mengaku terpukul, namun lambat laun dan dukungan keluarga dirinya bisa bangkit dari keterpurukan. Apalagi, masih ada satu anaknya yang harus dididik dan dibesarkan, yakni M Rachzuelo atau Elo yang kini berusia hampir liam tahun. “Keluarga kasih buku kisah inspiratif agar tegar dan selalu memberi semangat, jadi saya merasa lebih baik,” ungkap Oci. Walau sudah merasa lebih baik dan mulai baraktivitas seperti sehari-hari dengan hanya satu kaki, namun trauma tetap dirasakan. Oci takut bila melihat hujan dan angin kencang. Wanita berkulit putih dan berparas manis ini merasa akan ditumbangkan oleh angin dan hujan. “Dak tahu kenapa takut nian dengan hujan sama angin kencang, rumah langsung kututup dan merasa cemas bae,” ujarnya.

Dirinya juga mengakui juga trauma bila melihat kecelakaan. Seolah-olah ingatannya akan peristiwa tragis itu kembali terulang sehingga bila melihat kecelakaan, dirinya langsung menutup muka. “Pernah waktu mau kontrol ke rumah sakit sekitar empat bulan pascakejadian, aku lihat ada anak kecil bawa motor diserempet. Aku langsung jerit sampai sopir taksi langsung terkejut,” kenangnya.

Satu hal lagi, dirinya juga takut kalau si bungsu dibonceng naik motor atau menumpang ojek bila akan berpergian. Dirinya terus berpesan kepada pengendara untuk hati-hati membawa anaknya itu. “Tahu dek, oncak itu tuh (si bungsu, red).” Tegasnya. Sementara dirinya juga belum berani menaiki motor. Bila berpergian Oci lebih memilih menaiki mobil. “Kapok naik motor,” pungkasnya. (*)

Komentar:

Kucurkan Santunan Rp 15,250 M
Tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Sumsel dapat dilihat dari jumlah santunan yang dikeluarkan oleh PT Jasaraharja. Hingga Juli 2015 ini, perusahaan pelat merah ini telah mengucurkan dana santunan kematian akibat kecelakaan lalu lintas mencapai Rp 15,250 M.

Kepala Bidang Humas PT Jasaraharja (persero) Sumbagsel, Zulham Irawan mengatakan, dana yang telah disalurkan ini merupakan total kecelakaan yang terjadi sepanjang tahun ini, baik kendaraan roda dua, roda empat, kendaraan umum di darat, hingga laut/sungai.

“Biasanya dominan kecelakaan memang kendaraan roda dua atau hampir sekitar 70 persen,” ungkapnya. Jadi secara tidak langsung resiko tertinggi berkendaraan yang dapat menimbulkan kecelakaan mengakibatkan kematian adalah sepeda motor.

Dikatakan Zulham, meski angka santunan di semester ini masih terbilang tinggi, namun secara statistic angka santunan kematian yang diberikan pihak Jasaraharja sejak 3 tahun terakhir memiliki tren menurun. Tercatat dari tahun 2012 jumlah santunan kematian/meninggal dunia Rp 39,112 miliar turun di tahun 2013 menjadi Rp 32,462 M, dan pada tahun 2014 turun lagi menjadi Rp 28,997 M. “Mungkin, tingkat kesadaran berkendaraan masyarakat di sini sudah mulai tinggi sehingga pemahaman akan keselamatan berkendaraan sudah banyak diterapkan.”

Masih menurut Zulham, mengenai taknis penyaluran santunan ini, Jasaraharja bekerja sama dengan pihak kepolisian. Biasanya kurang dari 1 x 24 jam, polisi sudah memberikan laporan jika ada kecelakaan. “Jika tidak ada laporan dari pihak kepolisian biasanya kami akan cek kembali mengenai kebenarannya,” jelas dia.

Ditambahkan, proses pencairan dana tidak memakan waktu lama, paling cepat satu hari sudah selesai dan paling lama sekitar satu minggu atau 7 hari. “Sedangkan untuk santunan kematian, masing-masing korban akan diberikan dana Rp 25 juta,” pungkasnya. (cj10/ce2)

Maut Itu Bernama Lalai

Maut Itu Bernama Lalai

Sumatera Ekspres, Minggu, 16 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: