Stok Kritis, RPH Tutup


Stok Kritis, RPH Tutup
Tak Jualan: Kios-kios daging sepi aktivitas. Para pedagang daging sapi di Pasar Cinde Palembang mogok jualan karena stok daging kritis dan RPH tidak melakukan pemotongan. Karenanya, harga jual daging sapi pun masih tinggi di seluruh pasar, di atas Rp 100 ribu per kilogram (foto: Sumeks, Selasa, 11 Agustus 2015)

________________________________________

Mogok jualan daging sapi tak hanya terjadi di wilayah Jakarta, Bandung, dan Banten. Di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) pedagang juga tutup lapak. Apa yang terjadi?

* * * * * * * * * * * * * * *

Sejak Lebaran hingga kini, harga daging sapi makin mahal. Dijual Rp 110-Rp 140 ribu per kg. ironisnya, kondisi ini bikin banyak pedagang di pasar tidak kebagian stok daging sapi. Mereka lantas memilih tak berjualan.

Kalau ada, itu karena ada daging stok yang belum habis terjual. Selain itu yang dijual bukan dagingnya lagi, tetapi jeroan dan tulang sapi. “Saya masih jual karena sisa kemaring yang belum habis. Rugi kalau tidak dijual. Hari ini (kemarin, red) suplai daging sapi dari RPH nihil. Saya tak tahu penyebabnya,” jelas Alex, pedagang daging sapi di Pasar Km 5. Alex menjelaskan hanya 3-4 dari 20 pedagang daging sapi yang berjualan.

Dia mengakui, karena suplai makin minim, harga daging sapi tak kunjung turun sejak Lebaran. Terakhir Minggu (9/8) masih Rp 120 ribu per kg. “Idealnya Rp 100 ribu maksimal. Lebih dari itu, permintaan surut seperti saat ini,” bebernya.

Era, pedagang daging sapi lain juga demikian. “Sejak harga daging sapi tinggi, saya hanya mampu jual 10-15 kg sehari. Dulu banyak,” imbuhnya.

Di Pasar Sekip lebih parah. Tidak ada satu pun pedagang daging sapi jualan. Staf Administrasi PD Pasar Sekip, Yeni Nagalu, mengatakan, sebenarnya pagi tadi ada empatr pedagang datang menunggu suplai. “Karena tidak ada, ya mereka tidak jualan katanya.

Serupa di Pasar 16 Ilir. Ali, pedagang mengaku sudah dari minggu tidak berdagang daging karena tidak dapat suplai. “Kami dengar-dengar, daging sapi bakal kosong hingga tiga hari ke depan,” tambahnya.

Sementara pedagang di Pasar Lemabang, Jomong (45), menjelaskan, masih punya stok daging. “Tapi pembeli sepi karena harga tinggi. Seharusnya pasca-Lebaran harga turun,” ujarnya. Di sini daging sapi dijual Rp 120 ribu, biasanya paling mahal Rp 105 ribu per kg.

Selain pasar tradisional, agak berbeda dengan pasar modern. Staf Meat and Fish Hipermart PSx, Febi Febriadi, mengatakan sejauh ini permintaan daging sapi masih normal. “Sehari laku 2-3 kg,” cetusnya.

Coordinator Customer Service Carefour, Ferawati Alawiyah, menegaskan, kekosongan daging sapi di pasaran tidak berdampak di Carefour. “Kami menyetok daging sapi lokal dan impor dari super preme, daging rending, hingga giling,” bebernya.

Di Lottemart, daging sapi yang sudah dikemas masih bisa ditemui. “Harga stabil, tidak ada perubahan Rp 12 ribu per ons,” ujar pramuniaga Lottemart bagian daging, ayam potong, ikan yang enggan namanya dikorankan.

Budi, pramuniaga daging Diamond PTC Mall juga mengakui pihaknya menjual daging sapi impor Australia. “Kita impor langsung sapinya. Pemotongan dilakukan sendiri, jadi kualitas tetap terjaga,” tuturnya.

Bagaimana di daerah? Harga daging sapi bervariasi. Di Lahat, Rp 130 ribu-Rp 140 ribu per kg. “Harga ini masih tergolong tinggi,” kata Hj Sa’adah pengusaha daging sapi di Kota Lahat, kemarin. Tingginya harga daging, lanjutnya, akibat ditutupnya kran impor.

Sementara peternak lokal belum mampu memenuhi kebutuahan daging. Di Muaradua, OKU Selatan, tepatnya, Pasar Saka Selabung, daging sapi dihargai Rp 130 ribu-Rp 150 ribu per kg. “Ini akibat stok persediaan daging menipis, sementara permintaan masih tinggi,” ujar Laili, pedagang.

Di Banyuasin dan Ogan Ilir, harga daging sapi bisa dibilang lebih murah. Hanya Rp 110 ribu per kg. “Ini harga terendah pasca-Idul Fitri, karena sebelumnya sempat Rp 150 ribu per kg,” ujar Kepala Pasar Pangkalan Balai, Mul’in.

Di Martapura, OKU Timur, harga daging sapi belum beranjak dari Rp 120 ribu per kg sejak Lebaran. Meski tinggi, stok daging masih aman dan belum terjadi kelangkaan.

Sementara di Empat Lawang harga daging sapi berkisar Rp 100 ribu-Rp 120 ribu per kg. Untuk stok diprediksi masih aman. Pasokan daging di Pasar Tebing Tinggi kebanyakan dari peternak hewan di kawasan Empat Lawang. “Di sini masih banyak peternak hewan sapi,” kata Lefi, warga Tebing Tinggi.

Di Pagaralam harga daging Rp 130 ribu per kg. Meskipun naik, stok masih ada. Ical didampingi Yusuf penjual daging sapi di Pasar Dempo Permai menuturkan, harga itu naik dari semula Rp 100 ribu-Rp 110 ribu per kg. “Penyebab kenaikan lantaran perusahaan pemasok daging ke Kota Pagaralam stok sapinya kosong. Sontak, harga ikut naik,” tuturnya.

Di Martapura, harga juga Rp 120 ribu per kg. “Stok daging di kota ini masih aman dan belum ada kelangkaan,” ujar Husein, pedagang. Itu karena daging di sini kebanyakan dari OKU Timur ini juga. Lalu di OKI, daging sapi tembus Rp 130 per kg.

Di Sekayu, harga daging sapi Rp 120 ribu per kg karena minimnya stok daging di Bumi Serasan Sekate. Bila pun stok daging ada, itupun harga sangatlah tinggi dari agen di Lampung.

Kemarin (10/8), Rumah Potong Hewan (RPH) di Gandus, Palembang, sudah tak melakukan akitivitas pemotongan. Pengusaha mengaku rugi akibat harga yang terus “meroket”. “RPH tak lagi berdarah,” ujar Suandi Jauhari kepala RPH Gandus, kepada koran ini.

Ia tak terkejut mendengar kabar banyak pedagang daging di pasar tradisional Kota Palembang mogok jualan. Pasalnya, RPH sudah kosong mulai kemarin kemarin hingga Kamis nanti. “Pengusaha mengaku rugi jika terus menjual daging dengan modal tinggi. Mogok itu kesepakatan pengusaha.”

Selama ini, RPH hanya menerima pemotongan daging dari para pengusaha. Per hari, rata-rata ada 40 ekor sapi yang dipotong. “Tapi sekarang, memang tidak ada daging yang akan dipotong,” sambungnya.

Masih kata Suandi, harga daging saat ini berkisar Rp 42.500/kg. Ditambah lagi ongkos kirim Rp 500/kg. Sedangkan daging yang dipotong juga harus memberikan biaya restrebusi potong Rp 50 ribu per ekor. Padahal, harga daging yang diterima pengusaha berkisar Rp 38.000/kg di tingkat pengusaha. “Harga daging saat ini memang jauh meningkat drastis.”

Berdasakan pengakuannya, sebelumnya impor daging sapi dari Australia 250 ribu ekor per tiga bulan. Saat ini hanya 50 ribu ekor per tiga bulan untuk seluruh Indonesia.

“Jadi bayangkan saja. Se-Indonesia harus berbagi daging sapi,” katanya lagi. Sementara, pemerintah mengeluarkan aturan tersebut dengan analisis untuk memberikan kesempatan peternak lokal untuk menjual sapi hasil ternak.

Terpisah, H Andak pengusaha sapi di Sumsel menjelaskan minimnya suplai daging menyebabkan harga daging mahal. Padahal, semua sapi impor Australia. Berdasarkan data, Januari-Maret, impor sapi yang diberi izin pemerintah sebanyak 100 ribu ekor dan April-Juni 250 ribu ekor. Untuk Juli-September awalnya dijanjikan pemerintah 280 ribu ekor, tetapi yang disetujui hanya 50 ribu ekor. Itu untuk konsumsi nasional.

“Impotir sapi itu yang besar berada di Lampung, Jakarta, Bandung, Tangerang, dan Cikampek,” bebernya. Selama ini untuk konsumsi pulau Jawa dan sekitarnya, pengusaha sapi mendapatkan dari importer di sana. Tapi berhubung importir Jakarta kekurangan sapi, pengusaha di sana meminta ke importir sapi di Lampung.

Dia mengatakan, harga sapi impor Australia ditimbang hidup dibeli Rp 41 ribu-Rp 42 ribu per kg saat ini. Padahal sebelum Lebaran lebih murah Rp 36 ribu-Rp 37 ribu per kg ditimbang hidup. “Kalau beli sapi lokal itu mahal, harganya ditimbang hidup Rp 42.500 ribu-Rp 43.000 ribu per kg saat ini dan sebelum Lebaran Rp 39 ribu per kg,” bebernya.

Makanya pengusaha sapi banyak membeli sapi impor. “Kalau mau beli sapi lokal, yang kata pemerintah sapi peternak banyak dan impor cukup 30 persen. Sekarang kami tanya sapi peternak yang di mana,” sebut dia.

Dia melihat hal yang wajar jika konsumsi daging sapi di Provinsi Sumsel khususnya Palembang itu 99 persen sapi impor Australia bukan sapi lokal. “Kalau impor dikurangi otomatis mempengaruhi pasokan ke pasar,” beber dia.

Lanjutnya, pemotongan sapi normal disatu-satunya tempat pemotongan RPH Palembang mencapai 50-70 kg sehari. Sekitar 14 ton, naik 4-5 kali lipat saat Lebaran. “Sekarang karena kami sulit dapat sapi dari importir, yang dipotong tidak banyak,” jelasnya.

Dia melihat petugas RPH bukan mogok. Sebab, masih ada pengusaha sapi yang memotong di RPH jika mereka dapat sapi. “Kalau tidak ya tidak bisa,” sebutnya. Makanya, daging sapi masih bisa didapat di sebagian pasar.

Saking susahnya dapat sapi, tambah dia, kadangkala sapi belum cukup umur (sapi bibit, red) kurang dari 350 kg terpaksa dipotong. Seharusnya beratnya 450 kg dan digemukkan selama 3-4 bulan. “Kita beli susah, harga terpaksa naik. Orang pasar menjual dengan harga tinggi jadi bisa merugi kalau tidak laku. Karena itu sekarang kami lihat pasar dan kondisi stok di importir,” tuturnya.

Dia mengatakan, karena harga timbang hidup naik, pengusaha juga terpaksa melakukan penyesesuaian. “Sapi itu kami bawa ke Palembang,” ujarnya. Nah, di RPH, harga karkas sapi dibelah empat Rp 84 ribu per kg. Beda di Jakarta lebih mahal Rp 89 ribu per kg.

Kepolisian Daerah Sumatera Selatan khawatir masuknya daging tak layak konsumsi di tengah terbatasnya peredaran daging sapi saat ini. Yang lebih dikhawatirkan lagi kemunculan oknum pedagang nakal menjual daging celeng (babi) karena bentuk dan teksturnya mirip. “Sudah kita turunkan tim. Mengawasi dan mencari daging yang tak sesuai standar kesehatan,” kata Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Iza Fadri.

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin menegaskan dirinya akan memanggil Kadisperindag Sumsel untuk menjelaskan kondisi dan permasalahan daging serta distribusinya di Sumsel. Hanya saja, dia minta warga Sumsel bisa memanfaatkan peranan subtitusi pangan. Maksudnya mengurangi daging dan menggantinya dengan bahan pangan lain, seperti tahu, tempe, dan daging ayam.

Kepala Disperindag Sumsel Permana menjelaskan, pasokan daging berkurang karena impor sapi dibatasi. “Ini terjadi bukan hanya di Sumsel, tetapi seluruh Indonesia,” ujarnya. Ia membeberkan, tahun ini pasokan daging sapi ke Sumsel triwulan pertama, 380.000 ton. Berkurang jadi 250.000 ton triwulan kedua, dan anjlok triwulan ketiga 50.000 ton.

Kepala Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumsel, Ahmad Rizal mengatakan, kelangkaan daging sapi akibat biro statistic salah memetakan jumlah dan asumsi kebutuhan daging sapi di Indonesia. Seharusnya, biro statistic menghitung jumlah sapi yang siap masuk RPH. “Dari sana bisa diakumulasikan berapa jumlah sapi yang dipotong dan berapa jumlah kebutuhan konsumsi masyarakat,” tandasnya. (tim/ce1)

Stok Kritis, RPH Tutup

Impor 50 Ribu Sapi

Masuk Pekan Depan
Rendang tidak akan sampai menghilang dari rumah makan Padang. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) akhirnya mengeluarkan izin impor sapi. Setelah melalui birokrasi teknis, sapi-sapi impor diperkirakan mulai masuk ke Indonesia pekan depan.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Jalil, mengatakan, Presiden sudah memerintahkan menteri-menteri ekonomi mencari jalan keluar atas menghilangnya daging sapi di pasaran Jakarta dan Jawa Barat. “Bulog terus (melakukan) operasi pasar. Solusi jaka pendeknya, Bulog diizinkan mengimpor 50 ribu sapi siap potong,” ujarnya usai rapat koordinasi di Kantor Presiden, kemarin (10/8).

Selain operasi pasar, Sofyan mengatakan jika pemerintah sudah memberi izin impor sapi siap potong kepada Bulog. Terkait teknis pelaksanaannya, sepenuhnya diserahakan pada Bulog. Yang jelas, lanjut dia, dengn tambahan pasokan tersebut, diharapkan para peternak yang saat ini menahan atau tidak menjual sapinya, bisa segera melepaskan sapinya ke pasar. “Kalau tidak, mereka (peternak atau penggemuk sapi) akan berhadapan dengan Bulog,” ucapnya.

Tak hanya amcaman berhadapan dengan Bulog, para peternak yang jelas-jelas tidak mau melepas sapinya ke pasar juga bakal diancam pidana. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menambahkan, pihaknya akan memanggil pihak perusahaan penggemukan sapi untuk memberi pengertian agar segera melepas stok sapinya. “Kalau tetap tidak mau menyalurkan (sapinya), (sanksi aturan) Undang-undang Pangan dan Undang-undang Perdagangan akan diterapkan,” ujarnya. Karena itu, Rachmat berharap agar pemilik penggemukan sapi bisa kooperatif dan segera melepaskan stoknya agar harga di pasar bisa turun. “Saya bilang, jangan mengganggu roda ekonomi nasional, apalagi dalam kondisi ekonomi lesu seperti sekarang,” katanya.

Di tempat terpisah, Wakil Presiden Yusuf Kalla mengakui jika permasalahan saat ini lebih pada pasokan. Karena itu, langkah operasi pasar oleh Bulog sudah tepat. Namun, untuk jangka panjang, dia menyebut jika Indonesia harus mengembangkan sendiri peternak sapi skala besar. “Kalau harus impor, jangan hanya dari Australia, harus cari alternatif lain,” ucapnya.

Kepala Perum Bulog Djarot Kusumayakti menuturkan banyak rangkaian proses yang harus dia kebut sampai sapi-sapi impor bisa masuk ke Indonesia. “Tapi semuanya dikerjakan paralel, tidak satu-satu,” katanya.

Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta itu mengatakan, bakal ada dua opsi kondisi sapi yang akan diimpor. Pertama sapi bakalan yang masih utuh proses penggemukan 3 bulan. Kedua sapi siap potong. Setelah izin Kemendag keluar, Bulog bisa mengimpor sapi. “Sapinya dari Australia. Proses pengapalannya 3 minggu sampai masuk Indonesia,” jelas dia.

Djarot belum bisa membuka perkiraan harga sapi di Australia. Namun yang jelas prosesnya bakal ditender. Terkait kondisi harga daging sapi saat ini, Djarot mengatakan Bulog sudah operasi pasar di sejumlah daerah, seperti Bandung dan Jakarta. Total daging disiapkan Bulog untuk operasi pasar 80 ton. rata-rata daging dijual dalam operasi pasar ini Rp 90 ribu/kg.

Terkait harga terkini yang sampai Rp 120 ribu, pemerintah berharap pedagang menahan diri untuk tidak merengkuh laba tinggi dulu.

Di sisi lain, Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana masih berharap pemerintah tak sembarangan memutar kran impor sapi siap potong. Memang, jika melihat data sensus ternak dari Badan Pusat Statistik (BPS), populasi sapi potong di Indonesia tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. “Populasi sapi kita itu sekitar 14 juta ekor, tapi yang bisa dipotong maksimal 12 persen saja, atau 1,6 juta ekor. Apalagi, tidak semua sapi boleh dipotong untuk harus menjaga siklus reproduksi secara nasional,” ungkapnya.

Dengan kebutuhan sapi sekitar tiga juta ekor setiap tahun, tentu 1,6 juta ekor pasokan dari dalam negeri sangat tidak mencukupi. Oleh karena itu, mau tak mau pemerintah harus membuka kran impor sapi potong.

RM Kurangi Pembelian, Tahan Harga Bakso
Semenatara itu, tingginya harga daging sapi di pasaran membuat RM (rumah makan) di Kota Palembang mengurangi permintaan. Tarmizi, karyawan RM Bundo Kandung Km 4 mengakui kalau harga daging sapi normal, pihaknya memesan hingga 20 kg, normalnya untuk dua hari. “Tapi saat ini dikurangi hanya beli 15 kg,” ujarnya, kemarin.

Selain RM, pedagang bakso pun terimbas. Eko, pedagang mie ayam dan bakso Lumayan di Jl Dwikora II terpaksa menyetok daging sapi untuk tiga hari. “Biasanya tak pernah nyetok karena daging di pasaran menipis saya harus memenuhi kebutuhan tiga hari,” katanya.

Dia juga beli dengan harga tinggi Rp 130 ribu per kg. “Ini bikin berat kami menentukan harga bakso,” ungkapnya. Kalau dinaikkan, takut pembeli tambah sepi. Karena itu, dia tetap mempertahankan harga lama dan mengurangi keuntungan. “Terpaksa modal dan untung di-press,” katanya. Pemilik warung bakso Sakti Plaju, Rahmat, mengatakan, dia beli daging sapi Rp 120 ribu per kg. “Tapi saya khawatir nanti makin sulit didapat,” bebernya. Harga mahal efek-nya terasa, solusinya menaikkan harga atau mengecilkan ukuran bakso. (tim jp/art/wia/bsp/ce1)

Sumatera Ekspres, Selasa, 11 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: