Menelusuri Jejak Eksploitasi Anak Jalanan (anjal)


Nyetor, Sehari Dapat Rp 50-150 ribu

Menelusuri Jejak Eksploitasi Anak Jalanan (anjal) Anak jalanan (anjal) sebuah fenomena sekaligus masalah sosial yang tak kunjung selesai. Mereka berada di jalanan sejak pagi hingga malam hari. Melihat wajah-wajah mereka, tak terlihat secercah pun masa depan.

* * * * * * * * * * * * * * *

Pada 2013 lalu, jajaran Polresta Palembang pernah mengamankan 10 anjal, pengamen, dan koodinator mereka. Semua diangkut dari kawasan simpang Jakabaring, sekitar pukul 21.00 WIB.

Dari 10 orang itu, ada yang satu keluarga. Bahkan ada di antara anjal yang mengisap bau lem perekat kemasan kaleng kecil. Sang koordinator mengaku mereka hanya mencari makan di jalan. Nyata sudah, para anjal ini dikoodinir. Inidikasi eksploitasi makin kuat.

Berangkat dari temuan itu, seharusnya semua pihak bertindak tegas dan mencari cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini. Sayangnya, eksploitasi anak-anak tersebut hingga kini masih saja terjadi. Tak mendekati mereka yang ada di jalanan. Mereka mau uang, tapi tidak ma uterus terang menceritakan siapa yang menyuruh mengemis. Diselokan jalan kawasan simpang Charitas, sering ditemukan kaleng kecil bekas lem perekat yang aromanya acapkali dicium para anjal ini.

Panti Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT) Palembang pun tak pernah kosong dari anjal. Selalu ada yang terjaring razia dan dititipkan di sana. Joko (15), salah seorang dari mereka, anjal asal Lampung Timur ini datang ke Palembang sekitar sebulan lalu. Tiba di terminal Palembang, ia dijemput seorang teman yang jadi koordinator mereka. Joko pun menginap di rumah sang teman. Ia dipinjami gitar dan dijamin aman menjalankan aktivitas mengamen. “Kami mengamen berkelompok, empat orang, Kak,” ungkapnya terus terang kepada koran ini.

Tiap hari, mereka mengumpulkan receh demi receh di kompleks perbelanjaan Ilir Barat Permai (IBP). Dalam sehari Joko bisa mendapat Rp 60 ribu. “Tiap hari saya nyetor (berikan setoran) ke teman Rp 15 ribu,” bebernya. Apes, beberapa hari lalu dia terjaring razia tim terpadu.

Joko ternyata masih punya orang tua yang berprofesi sebagai petani di Lampung. Namun dia tidak mau kembali ke daerahnya dan memilih bertahan hidup di kota pempek. Dia mengaku tidak betah di rumah. “Mau di Palembang saja,” cetusnya.

Anjal lain yang dititipkan di PGOT Palembang, Aini (9). Siswi kelas 4 SD di kawasan Kertapati itu tertangkap tim terpadu yang menggelar razia saat sedang mengamen di kawasan Ilir Barat I. Bedanya, ia disuruh beraksi di jalanan oleh ibunya sendiri. Tiap hari, usai pulang sekolah, bermodal gitar kecil, bocah ini harus mengamen bersama dua kakaknya. “Dapatnya bisa Rp 150 ribu,” ujarnya. Jika saja tiap hari dia mendapatkan sebanyak itu, maka dalam sebulan Aini mengumpulkan Rp 4,5 juta.

Pendapatan itu lebih besar dari gaji pokok PNS yang baru masuk dan kebanyakan pekerja kasar yang hanya mendapatkan upah minimum provinsi (UMP). Kata Aini, uang hasil mengamen diserahkan semua kepada sang ibu. Ia hanya mendapatkan uang jajan, paling juga tidak lebih dari Rp 5 ribu. “Kata emak, uangnya ditabung untuk sekolah,” tutur Aini polos. Setiap pergi, dia diantarkan hingga naik angkot tujuan Ramayana oleh ibunya. Saat sore, ia pulang sendiri bersama kedua saudaranya. “Emak tahunya kami dapat duit,” katanya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) PGOT Palembang, Indi Suhanto, mengatakan, rata-rata tiap bulan mereka mendapatkan titipan 10 anjal. Para anjal itu hasil razia penertiban tim terpadu Pemkot Palembang dan instansi terkait. Kebanyakan, anjal yang tertangkap wajah baru dan berasal dari daerah luar Palembang. “Kami hanya dititipkan saja,” imbuhnya. Para anjal boleh keluar jika dijemput orang tuanya.

Modus lain digunakan pengemis yang mencoba peruntung di kawasan Masjid Agung, setiap hari Jumat. Mereka mengemis di sana membawa anak, berharap iba dari para jemaah shalat Jumat.

Seperti yang dilakukan Novi (25). Ibu tiga orang anak itu mengaku hanya mengemis setiap hari Jumat. “Kalau hari lain, saya di rumah mengurus tiga anak yang masih kecil,” ujarnya sembari menoleh ke kanan dan kiri. Rupanya, dia takut ada petugas gabungan yang sering patroli dan menertibkan mereka. Mengemis dilakukannya untuk mencari seseran. Sudah dua tahun terakhir ini dia jadi pengemis mingguan. Kondisi perekonomian yang makin sulit membuatnya terpaksa melakukan hal itu. “Suami hanya tukang becak di Pasar 16 Ilir,” ungkapnya. Dengan penghasilan pas-pasan, Novi pun diizinkan suaminya mengemis.

Ia berjalan dari rumahnya di kawsan Plaju ke Masjid Agung. Dia tidak sendiri, tapi didampingi kakak perempuannya yang juga ikut mengemis sembari membawa anaknya. “Kami sengaja bawa anak agar dermawan kasihan dan mau memberi uang,” bebernya.

Meski harus berpanas-panasan, Novi tetap melakoninya. Ia menegaskan tidak pernah memperlakukan anak yang dibawanya mengemis dengan kasar. “Saya hanya mengajak dia mengemis,” sebutnya terus terang.

Saat sang anak rewel, dia pun menyusuinya. Berkeliaran di jalanan Palembang, Novi bersama anak dan saudaranya harus kucing-kucingan dengan petugas tim gabungan. Mangkal di Masjid Agung tiap hari Jumat, ia bisa mendapatkan Rp 50 ribu.

Novi nongkrong di sana mulai pukul 10.00-14.00 WI. “Lumayan, Dek, bisa untuk belanja,” tuturnya. Mega, warga Tangga Buntung juga mengajak kedua anaknya mengemis. Pekerjaan ini dilakoninya kembali setelah tujuh sempat berhenti. Saat setop mengemis, anaknya masih kecil sekali. Saat ini anaknya sudah berusia tujuh tahun. Mega mengaku terpaksa mengemis mengajak kedua anaknya karena tak ada yang mengasuh mereka di rumah.

Suaminya hanya seorang buruh bangunan. Saat ini seringkali sepi permintaan sehingga lebih sering tidak bekerja. Meski begitu, Mega kadang sangat merasa bersalah mengemis mengajak anak-anaknya yang masih kecil. “Tapi mau bagaimana lagi, sulit dapat pekerjaan halal,” tandasnya. (mik/chy/ce1)

Alami Kekerasan, Pelecehan Seksual

Banyak perlakuan tak layak yang dialami para anak jalanan (anjal). Tak hanya dari orang yang mengkoordinir mereka, tapi juga sesama anjal. Kebanyakan sang koordinator masih punya hubungan dekat, keluarga atau kerabat dengan para anjal. Karenanya, saat anjal-anjal ini terjaring razia, mereka tutup mulut, bungkam seribu bahasa. “Para anjal itu tidak mau mengungkap siapa yang menyuruh mereka mengemis,” kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumsel, Adi Sangadi SH.

Komisi khusus anak ini menemukan anak yang dieksploitasi berusia 0-16 tahun. Setiap hari mereka beraktivitas di berbagai titik, khususnya persimpangan jalan yang ramai. Ada yang jadi pengamen, penyemir sepatu, pengemis, dan lainnya. Tak sedikit yang hingga malam masih berada di jalan. “Dari beberapa anjal yang pernah kami temui, mereka bisa mendapat Rp 50 ribu per hari,” ungkap Adi. Uang itu diakui para anjal untuk makan hingga biaya sekolah. Ada beberapa yang rupanya masih melanjutkan pendidikan, meski untuk mendapatkan biaya sekolah harus mengemis.

Tapi tak sedikit yang menghabiskan uang untuk foya-foya. Para anjal kebanyakan dari keluarga kurang mampu. Keterbatasan ekonomi kadang membuat satu keluarga turun ke jalan, mengemis. Adi menambahkan, sebagian anjal mengalami kekerasan. Bahkan ada yang mengaku pernah mengami pelecehan seksual dari para pengemis lainnya. Semua kejadian itu akan berpengaruh pada psikis anak-anak itu. Sulit bagi para anjal ini untuk keluar dari lingkaran kehidupan jalanan itu. Anjal yang beraksi di Palembang dari 3-4 Ulu, 5 Ulu, Km 12, hingga Ogan Ilir dan Banyuasin. Jumlah meraka akan bertambah saat Ramadhan dab jelang Lebaran. “Tapi kami terus lakukan penertiban, paling tidak bisa meminimalisir anjal di jalanan,” pungkasnya. (uni/ce1)

Anjal Diperdayakan oleh Patron Klien

Menelusuri Jejak Eksploitasi Anak Jalanan (anjal)
Berbahaya: Anjal berpakaian SD berkeliaran di simpang empat RS RK Charitas sambil mengemis ke pengendara. Situasi ini nyata-nyata membahayakan sang anak dan merugikan pengendara motor maupun mobil

Tiga Kali Tertangkap Disanksi Pidana
Setiap perempatan lampu merah metropolis, pengendara atau pejalan kaki bisa menemukan anak jalanan (anjal) meminta-minta, mengamen, juga menjual koran pada jam tertentu. Ironisnya ada anjal di bawah umur menggendong bayi dan mengemis supaya orang kasihan. Sayangnya problem sosial ini tak kunjung hilang meski pemerintah gencar merazia. Siapa dalang anjal sebenarnya.

* * * * * * * * * * * * * * *

Tanpa suruhan, mungkin sekali razia anjal jera meminta-minta. Tapi temuan di lapangan tidak demikian. Anjal-anjal itu ternyata diberdayakan orang yang atau dikenal istilah hubungan patron-klien. Patron di sini bisa hubungan keluarga (ibu, bapak, paman) atau orang lain. Jadi hasil meminta-minta, mereka setor ke patronnya. Anjal (klien) pun tak berdaya supaya bisa bertahan hidup, bergantung pada orang lain atau keluarga.

Oleh karena itu, wajar setelah ditangkap dan dibina, anjal mengulang kembali ke jalan-jalan. Jika tidak, boleh jadi disiksa patronnya, tidak diberi makan, dan kekerasan lain. Sayangnya, penindakan kepada patron (sang koordinir) seperti luput dari perhatian. Pemerintah hanya menindak anjal dan membina supaya tak mengulang.

Pantauan koran ini, anjal dibawa umur beraksi di beberapa perempatan lampu merah. Lokasi rawan anjal, yakni simpang empat Charitas, DPRD Provinsi, SPBU Km 9, Kambang Iwak, Simpang Angkatan 45, simpang empat Angkatan 66, simpang empat Polda Sumsel, simpang empat Patal-Perumnas, simpang empat Tanjung Api-Api. Koran ini melakukan penelusuran kemarin (8/8) mulai pukul 10.00 WIB ke simpang Polda Sumsel lebih dulu.

“Sekarang sudah jarang ada, Dek. Sebab petugas sering merazia. Kalau dulu tiap hari ada anjal di sini,” sebut penjual rokok di kawasan lampu merah flyover Polda Sumsel yang tidak mau disebut namanya. Dari sana koran ini meluncur ke simpang empat Charitas pukul 11.00 WIB. Di sana ditemui anjal di bawah umur, cuma ada anjal seusia sekitar 18 tahun menjajakan koran.

Dari sana, koran ini meluncur ke simpang empat Jakabaring, kondisi juga demikian tidak ditemukan anjal berkeliaran. Sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB, simpang RS RK Charitas juga tidak lagi ada anjal, mungkin karena pemerintah gencar razia. Baru malam hari pukul 20.45 WIB, koran ini melihat anak perempuan berumur sekitar 10 tahun menggendong bayi mmeminta-minta ke pengendara mobil dan motor. Koran ini menyapanya, “Siapa namanya, Dek. Adiknya tidur ya?” Anak itu diam saja, saat ditanya kembali dia tetap diam dan menunduk. “Adiknya tidak kedinginan?”

Dia masih tak menjawab. “Tinggal di mana, Dek? Mana ayah ibunya. Dia malah ketakutan dan hanya tertunduk, bayinya pun menangis dan dia langsung pergi. Selain di sana koran ini juga menyaksikan lokasi mangkal anjal serupa berumur sekitar 12 tahun menggendong bayi di SPBU Km 9 sekitar pukul 23.00 WIB. Di sana dia juga mengemis ke pengendara yang mengisi bensin.

Setelah pemerintah gencar razia, anjal seperti kucing-kucingan dengan petugas. Mereka kebanyakan beraksi malam hari dan tidak lama, sekitar 1-4 jam dari pukul 19.00-23.00 WIB. Setelah itu tak terlihat lagi. “Mereka ini kalau ada petugas patroli langsung menghilang bak ditelan bumi. Tapi saat tidak ada pengawasan muncul untuk mengemis dan mengamen,” ujar penjual nasi goreng di perempatan RS RK Charitas. Katanya, hampir setiap hari ada petugas patroli di sana. “Aki anjal berbahaya, mereka tidak menghiraukan mobil dan motor yang setop atau melintas,” kata dia.

Yudi Irawan, Kasi Pelayanan Rehabilitasi dan Perlindungan Dinsos (Dinas Sosial) Kota Palembang mengatakan, pihaknya selalu menurunkan tim patroli memantau dan menjaring anjal yang berkeliaran. “Setiap tertangkap mereka kami pulangkan ke keluarga masing-masing,” bebernya. Penertiban anjal ini mengacu pada Perda Nomor 12/2013.

Dia membenarkan, anjal berasal dari daerah terus bertambah jumlahnya. Apalagi usai Lebaran, saat mobilitas mudik dan balik Lebaran tinggi. Mereka berasal dari Inderalaya, Lampung, Bengkulu. “Saat tertangkap, mereka beralasan ikut keluarga karena tak ada pekerjaan di tempat asalnya. Mereka juga sengaja datang ke Palembanguntuk mengemis,” ucapnya.

Yudi mengakui, beberapa anjal memang dieksploitasi (diberdayakan, red) terutama di simpang Charitas. Itu terjadi karena faktor ekonomi, keluarga, juga pergaulan. “Temuan kami seperti itu, padahal kami sudah berupaya membina anjal dan memberi peringatan,” imbuhnya. Kalau mengulang boleh jadi ada yang menyuruh. Walau begitu, pihaknya mengaku kesulitan memberantas pemberdayanya (patron) langsung apalagi selama ini belum pernah ada yang tertangkap, cuma berdasarkan cerita anjal. “Untuk menindak eksploitasi ini belum bisa. Ironisnya anjal terjaring ternyata disuruh keluarganya sendiri untuk mengemis,” sebutnya.

Menurut Yudi, pihaknya pernah menangkap anjal menggendong balita. Modusnya, mereka pegang koran satu, sedangkan anak kecil yang digendong dikasih obat tidur. “Kalau tidak dikasih obat tidur, anak itu sering menangis,” bebernya. Saat penertiban dan tertangkap, selagi anjal bersifat kooperatif, petugas memberlakukannya dengan baik. Jika tertangkap maksimal dua kali akan dibawa dan ditampung ke panti dan dikelaurkan jika ada keluarga yang mau menjamin anjal tidak lagi mengulangi. Akan tetapi, jika sudah tertangkap hingga tiga kali akan dilimpahkan ke pengadilan kelas I. Di sana akan disidang yustisi. “Soal apakah mendapatkan hukuman penjara, Dinsos hanya melimpahkan ke pengadilan,” sambungnya.

Ali Roni, Kabid Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Kota Palembang menjelaskan, anjal melanggar UU Tenaga Kerja dengan mencari nafkah di jalanan sampai larut malam. “Prinsipnya kami tidak halangi mereka hidup,” imbuhnya. Untuk penertiban dibagi tiga shift. 1 shift terdiri dari 9 orang gabungan dari intern Dinsos, Pol PP, Polresta, Kodim, dan LSM. Shift pertama mulai pukul 08.00-12.00 WIB. Shift kedua 13.00-17.00 WIB. Dan shift ke tiga 19.00-00.00 WIB. (nni/chy/fad)

Asian Games 2018, Target Tidak Ada Anjal

Plt Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel Berman Karmuda SH MSi mengatakan anjal itu milik kabupaten/kota. “Kita hanya jalankan fungsi koordinasi,” katanya, kemarin. Seberannya, sebutnya, cukup banyak dengan rata-rata usia 5-17 tahun dan memiliki kegiatan di jalanan, minimal tiga jam sehari.

“Yang jadi perhatian kami anjal yang punya kegiatan ekonomi di jalanan namun masih memiliki hubungan dengan keluarganya,” beber dia. Untuk mengurangi keberadaan anjal di ibu kota, Dinas Sosial Sumsel mengimbau setiap kabupaten/kota memperhatikan dengan membina anak jalanan. “Ini tugas bersama. Tapi pengelolaannya ditugaskan tiap kabupaten/kota,” cetusnya.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin prihatin dengan masih banyaknya anjal. Dia meminta setiap kepala daerah fokus menuntaskan anjal dan mempersiapkan mereka menjadi generasi bermanfaat. “Anjal tidak ada pengawasan dan perlindungan. Harusnya ada jaminan bagi mereka. Ini tugas Dinsos,” beber dia. Alex meminta kabupaten/kota bergerak cepat agar tidak ada ditemukan anjal di Sumsel. Sebab pada 2018, Sumsel akan menjadi tuan rumah Asian Games. “Tidak boleh ada anak jalanan. Apalagi anak di bawah umur yang bekerja mencari nafkah di jalanan. Setiap jalan di Sumsel harus bersih dari anjal,” tandasnya.

Di Lubuklinggau, kasus anjal juga ditemui Dinsos setempat. Pihaknya belum mengendus indikasi adanya anjal baru datang ke Lubuklinggau mengadu nasib. “Belum ada indikasi itu. Tapi ada kemungkinan, masih pemain lama. Mereka ada yang dari sini (Lubuklinggau), ada pula dari Curup, Empat Lawang, dan Jambi,” kata Sekretaris Dinsos Lubuklinggau, Indra Syafei, kemarin.

Data yang dimiliki, ada sekitar 15 anjal dan gepeng masih sering beroperasi di persimpangan lampu merah Lubuklinggau. “Indikasi mereka dieksploitasi ada. Itu berdasarkan laporan dan pengamatan petugas kita di lapangan, mereka dibawa ke simpang lampu merah di antaranya oleh dua orang pakai motor,” bebernya.

Dia juga mengingatkan masyarakat tidak memberi sumbangan ke anjal. “Bukannya kita tidak boleh memberi sedekah ke mereka. Itu sebagai bentuk dukungan agar mereka menatap masa depan dengan bekerja keras tanpa mengemis,” bebernya. Tak hanya Dinsos, Pol PP Kota Palembang pun mengawasi anjal. Pihaknya memfokuskan penangkapan anjal di tempat ramai. “Untuk rutinnya, kami lakukan penyisiran di kawasan Pasar 16 Ilir, Dika dan Megahria,” ungkap Ismail Ali, Kabid Tibum dan Tranmas Pol PP Palembang. Dia mengaku, timnya sering mendapati anak kecil dijadikan umpan mengemis. Bahkan juga ada anak kecil yang sewaan. (wia/chy/wek/fad)

Sumatera Ekspres, Minggu, 9 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: