Menelusuri Harta Karun Sungai Musi


Diburu Kolektor Malaysia-Singapura

Menelusuri Harta Karun Sungai Musi
Bernilai Sejarah:Tampak bati giok seukuran jam dinding yang diduga asal Tiongkok yang ditemukan di Sungai Musi

Sungai Musi menyimpan banyak benda antik dan kuno yang bernilai jual tinggi. Tak sedikit yang dijual kepada kolektor luar negeri, terbanyak dari Malaysia dan Singapura. Tentu saja, tanpa sepengetahuan pemerintah alias perdagangan gelap. Harganya ada yang hanya ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah.

* * * * * * * * * * * * * *

Karena nilai ekonomisnya, ada banyak pihak yang tertarik dengan benda-benda antik dan kuno. Termasuk beragam temuan dari dasar Sungai Musi. Salah satu perkumpulan yang fokus mengumpulkan benda “berharga” dari zaman dahulu ini adalah Komunitas Barang Antik Sriwijaya (Kombas).

Penelusuran koran ini ke sebuah rumah di kawasan Bukit, tampak puluhan bahkan mungkin ratusan barang antik barang antik. Kediaman itu milik Yudi, ketua kombas. Menurutnya, sebagian besar benda-benda bahkan mengandung nilai sejarah itu didapatkannya dari para penyelam lokal yang beraksi di Sungai Musi. “Ada yang merupakan peninggalan zaman prasejarah, pra-Sriwijaya, zaman Kolonial dan zaman Kesultanan Palembang,” ungkapnya.

Keseriusan Yudi dan kawan-kawannya mengumpulkan benda-benda antik dan bernilai sejarah ini membuat mereka kenal dengan hampir seluruh penyelam tersebut.

“Para penyelam sudah ada wilayah masing-masing,” tambahnya. Secara umum, ada penyelam di perairan sekitar Tangga Buntung. Ada pula penyelam di perairan Pulau Kemaro dan sekitarnya. “Kebanyakan penyelam hanya mau menyelam di daerah hilir karena daerah Ulu lebih dalam dan berlumpur,” beber Yudi.

Di perairan sekitar Pulau Kemaro, rata-rata banyak ditemukan keramik. Sedangkan di wilayah perairan Tangga Buntung lebih banyak diperoleh uang logam dan lainnya. Sedang di perairan sekitar Pusri banyak ditemukan emas dan keramik. “Menurut sejarawan, di sana dahulu kala bekas daerah pasar,” tuturnya. Berdasar cerita dari para penyelam kenalannya, benda-benda itu diambil dari napal (lapisan) pertama di dasar Sungai Musi. Sebenarnya ada banyak napal yang diyakini lebih banyak lagi benda-benda sejarahnya.

Namun karena keterbatasan peralatan, yang berhasil dieksplorasi para penyelam tradisional itu hanya napal pertama. Yudi sendiri punya ratusan koleksi benda bersejarah, kebanyakan dari dasar Musi. Seperti kapak batu, kapak perunggu, gerabah, keramik dan lainnya. Ada pula tiga perahu usia ratusan tahun dari kayu unglen. Tiga perahu itu kemungkinan besar bekas persajian masyarakat zaman dahulu.

Selain itu, ada botol minuman abad 18 seharga puluhan juta, piring seladon kembang yang diduga kuat dari Dinasti Yuan abad ke-12. Kemudian, dayung sekaligus senjata, mahkota Prabu Siliwangi, batu satam sebesar kepala yang diperkirakan jatuh waktu hujan meteor, helm besi zaman kolonial Belanda, dan masih banyak lainnya.

Yudi mengungkapkan, para penyelam sering menemukan tengkorak dengan helm besi zaman Jepang yang tertembus senjata. “Dari semua itu kita bisa melihat nilai sejarah berbagai temuan itu benar-benar fakta,” jelas Yudi.

Bahkan cincin emas dengan batu safir, selon, batu cornelian ganggang emas pun pernah ditemukan di Sungai Musi. “Semua sudah terjual kepada kolektor Singapura,” katanya. Keramik dan koin hingga sekarang masih yang paling diminati karena para kolektor sangat menghargai itu, termasuk benda jenis logam. Dari semua koleksi barang antik yang dimiliki, benda tertua yang diperoleh dari dasar Musi yaitu tapak batu dari masa prasejarah. Ini mengindikasikan, peradaban di perairan Musi ada yang lebih tua dari era Sriwijaya.

Hobinya bersama anggota Kombas mengumpulkan benda-benda itu mendatangkan rezeki. Banyak kolektor barang antik yang datang ke tempatnya. Terutama, untuk kolektor dari Singapura dan Malaysia yang sangat menghargai benda bersejarah.

Mereka, ucap Yudi, mau dan mampu membeli dengan harga tinggi. “Bahkan ada benda bersejarah yang tembus ratusan juta harganya,” ungkap Yudi. Belakangan, muncul kolektor lokal seperti Wakil Ketua DPR-RI yang membuat museum benda-benda peninggalan sejarah.

Kombas bukannya tidak pernah memberitahukan temuan itu kepada pihak pengelola museum. Respon yang didapat cukup mengecewakan. Pihak museum terkesan acuh dan tidak berbuat. Salah satunya karena tidak punya dana.

Keterbatasan itu dinilai Yudi akan makin mempersempit sejarah yang pernah ada di Sumsel, khususnya perairan Sungai Musi. Tak heran, cerita Kerajaan Sriwijaya dikenal asal Palembang, tapi banyak bukti-bukti peninggalan era ini berada di Singapura atau negara lain.

Yudi punya rencana membuat video yang mengangkat cerita Sungai Musi. Ia akan mengajak para penyelam langsung ke titik mereka menyelam menggunakan alat ecosonder yang bisa melihat dasar sungai. “Maksudnya supaya gubernur dan wali kota bisa terbuka serta tidak terkesan cuek seperti sekarang,” tandasnya.

Dia pun kini aktif mengajarkan sejarah melalui benda-benda antik dan bersejarah di rumahnya. Beberapa kali dia dipanggil pihak universitas untuk berbagi wawasan. (chy/ce1)

Temukan Kapal Abad Ke-1

Menelusuri Harta Karun Sungai Musi Lebih Tua dari Zaman Sriwijaya
Barang antik dan bernilai sejarah temuan para penyelam tradisional di perairan Sungai Musi diduga kuat dari masa Kesultanan Palembang Darussalam. Asalnya kemungkinan ada dua. Dari kapal VOC yang karam dalam pertempuran sebelum masuk pusat Kota Palembang atau perhiasan dan alat rumah tangga penduduk kala itu.

Peneliti Balai Arkeologi (Balar) Palembang, Budi Wiyana mengungkapkan, banyak penyelam mendapat keramik dan tembikar di perairan hilir Pulau Kemaro. Berdasar sejarah, itu dari kapal karam milik VOC sekitar abad 17. “Kemungkinannya seperti itu, tapi kami tidak pernah secara fisik mendapatkan serpihan kapalnya,” ungkap Budi. Tapi dari fakta fisik temuan para penyelam di kawasan BKB dan perairan Pusri, kuat dugaan benda-benda itu peninggalan Kesultanan Palembang.

Temuan seperti uang gepeng, besi, paku dan manik-manik merupakan ciri perhiasan dan alat-alat yang berkembang masa itu. Masyarakat Kota Palembang waktu itu, menggunakan perairan sebagai jalan utama dan kawasan BKB sebagai pasar terapung. Tidak heran jika cukup banyak temuan berupa uang. Selain itu, penduduk juga tinggal di rumah rakit di sungai.

Menelusuri Harta Karun Sungai MusiNamun, peneliti yang juga penyelam ini mengaku belum pernah menemukan kapal di daerah induk Sungai Musi, justru beberapa serpihan kapal ditemukan di wilayah anak sungai. Diungkapnya, peneliti Balai Palembang menemukan kanal kapal peninggalan Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 di Sungai Buah, Lemabang. Lalu, perahu kayu di kolam vinisi Bukit Siguntang dank anal kompleks Kedukan Bukit Siguntang di TPKS Gandus. “Di lokasi Kedukan Bukit itu juga ditemukan arca berlapis emas,” bebernya.

Sekarang arca itu disimpan di Jakarta. Tak hanya di wilayah Palembang, kapal peninggalan Sriwijaya juga ditemukan di jalur 16 Desa Margomulyo dan Sugihwaras, Banyuasin tahun 2011. Saat itu, peneliti mendapat serpihan kapal peninggalan abad ke-9. Di tempat yang sama dua tahun kemudian, ditemukan serpihan kapal yang lebih lama tahunnya, yakni peninggalan abad ke-2 di kedalaman lumpur hampir 2 meter. “Semua kapal ini mencirikan tipe kapal Asia Tenggara, yakni berbentuk huruf V, simestris dan punya dua kemudi,” tutur Budi. Bentuknya beda dengan perahu Tingkok abad 13-14 yang berbentuk U dan bersekat.

Temuan lain, serpihan kapal di Jalur 27 Desa Kerta Mukti Banyubiru, Kabupaten OKI. Kemudian di Karang Agung Tengah, Muba berupa kemudi perahu. Bahkan, hingga sekarang kapal masih berada di lokasi itu belum di angkut. Yang menarik di Tulung Selapan OKI, ditemukan tungku berbentuk sepatu, untuk memasak pada zaman itu. “Itu juga peninggalan Sriwijaya,” imbuhnya. Temuan terbaru, kapal di sungai daerah Prabumulih, dekat Bumi Ayu. Hasil penelitian mengungkap kalau kapal itu peninggalan abad ke-1, lebih tua dari Kerajaan Sriwijaya. Tapi, tetap saja dengan ciri khasnya sebagai kapal Asia Tenggara. Tak jauh dari daerah itu, sebelumnya sudah ditemukan kapal peninggalan Sriwijaya, tepatnya di sungai pada Kecamatan Merapi, Lahat.

“Ini menunjukkan nenek moyang orang Palembang penduduk maritim,” ulas Budi. Masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 sudah terjalin kerja sama perdagangan dengan Tingkok. Jadi jika ada temuan keramik hijau, itu peninggalan Dinasti Tang di abad ke 7-9. Budi mengingatkan masyarakat tidak mencari benda antik karena melanggar UU RI No 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya. Berbagai benda itu mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. (mik/ce1)

Menyoal Kepemilikan Benda-Benda Bersejarah Hasil Temuan

Menelusuri Harta Karun Sungai Musi
Cari Harta Karun: Menggunakan perahu, masyarakat Metropolis beramai-ramai menyelami Sungai Musi mencari harta karun peninggalan zaman Kerajaan Sriwijaya hingga Kesultanan Palembang Darussalam

Boleh Dikoleksi, Dilarang Jual ke Asing
Karena untung yang besar, banyak benda-benda bersejarah hasil temuan pindah tangan ke orang asing. Seharusnya, keberadaannya dijaga dan dilestarikan karena menjadi bukti sejarah masa lampau di Kota Palembang.

* * * * * * * * * * * * * * *

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan mencatat banyak benda bersejarah dan antik sudah ditemukan di dasar sepanjang Sungai Musi. Sebab dulu Sungai Musi jalur transportasi satu-satunya bagi pendatang. Mulai dari masa Kerajaan Sriwijaya, Panglima Cheng Ho, Pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang, hingga Kesultanan Palembang Darussalam.

Plt Kepala Disbudpar Sumsel Irene Camelyn Sinaga melalui Kasi Purbakala A Rapanie Igama mengatakan, sejak dulu selalu ada perang di atas perairan Sungai Musi. “Akibatnya banyak kapal tenggelam. Dimulai abad ke 3 setelah Masehi,” kata dia.

Dia juga mengakui, hingga kini sudah banyak ditemukan penggali sejarah artefak di sana. Di antaranya, keramik, mata uang, bangkai perahu, alat rumah tangga, dan sisa bangunan. Barang temuan pun banyak benda-benda asing bukan berasal dari suku bangsa Indonesia. “Karena dulu Sumsel banyak disinggahi warga asing dalam hubungan dagang. Juga ada artefak lokal,” ungkapnya.

Perlu diketahui, berdasarkan UU RI No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, setiap orang boleh memiliki benda cagar budaya yang diperoleh dari warisan, hibah, tukar-menukar, hadiah, pembelian, dan sebagainya. Karena itulah, banyak masyarakat Sumsel berlomba-lomba mencari artefak di Sungai Musi.

“Ini diperbolehkan. Bahkan bisa jadi hak milik. Tapi syaratnya harus didaftarkan ke pemerintah setempat. Dalam hal ini Disbudpar kabupaten/kota,” bebernya. Setiap individu juga boleh menjual artefak tersebut. Namun harus dilaporkan jika pindah tangan dan tidak boleh dijual kepada orang asing atau dipindahkan lokasinya ke luar Indonesia. “Hanya boleh selama itu berada di nusantara,” ujarnya.

Rapanie menuturkan, jika tak mengikuti peraturan yang ada, pihak berwajib bisa mengambil tindakan tegas. Dia mengimbau masyarakat Sumsel tidak semata-mata berpikir tentang materi dengan memperjualbelikan artefak yang ada. Namun harus menyadari bahwa artefak itu penting dan menjadi jati diri sebagai masyarakat Sumsel.

“Jika ini dimasukkan ke museum yang ada di Sumsel, kami sangat berterima dan terbuka. Di museum akan diurus sebaik mungkin. Apalagi artefak itu benda bersejarah,” tuturnya. Pemprov Sumsel sejauh ini telah membuat Perda No 4 Tahun 2015 tentang pelestarian kebudayaan daerah Sumsel yang terbit April 2015. Perda itu menyebut setiap masyarakat yang memiliki artefak atau benda bersejarah bisa bersama-sama jaga kelestariannya.

“Kita pelopori adanya perda ini. Sekarang kita proses pengajuan Pergub pelestarian benda sejarah. Ini tidak menjadi tanggung jawab pemerintah saja, juga semua masyarakat,” tandasnya. (wia/fad)

Tampung Porselen Dinasti Ming

Menelusuri Harta Karun Sungai Musi Barang-barang antik yang didapat penyelam dibeli oleh pedagang dan kolektor. Tak hanya tertarik karena istimewanya barang tersebut juga karena nilainya tinggi. Makanya, keberadaannya tak hanya dikoleksi, juga dijual kembali oleh kolektor. Rata-rata barang antik pecah belah (utuh/tidak utuh) yan langka.

Kolektor sekaligus pedagang barang antik, Herman (50) mengaku dia banyak mengoleksi barang antik jenis mangkuk, piring, kendi air, dan teko. Selain utuh, ada pula barang sudah pecah. “Semuanya barang porselen dari Dinasti Ming,” ujarnya kepada koran ini, dikediamannya Jalan Kapten Cek Syeh, Jumat (31/7).

Dia mengakui, selain didapatkan dari toko barang antik, dia juga membelinya dari penyelam dasar Sungai Musi. “Kalau jual kembali mangkuk utuh bisa Rp 50 ribu-Rp 100 ribu. Sedangkan yang pecah dihargai Rp 15 ribu-Rp 30 ribu,” tuturnya. Harga yang ditawarkan berdasarkan jenis barang-barang antik dan ukuran. Selain itu, ada pula kendi air dan sendok porselen Dinasti Ming, Tiongkok yang dijual seharga di atas Rp 15 ribu. “Sendok Rp 15 ribu, sedangkan kendi air Rp 35 ribu,” katanya. Meski ada barang yang pecah, para pembeli tertarik karena bentuk barang tersebut langka dan bisa dipoles kembali sebagai koleksi. “Mereka biasanya menambah bahan tanah liat,” jelasnya.

Dia mengatakan, setiap barang bisa diidentifikasi peninggalan zaman apa, seperti barang pakaian di zaman Kerajaan Sriwijaya. Selain itu, status sosial jadi pembeda pemakaian barang. Untuk barang yang biasa dipakai para raja, ratu hingga pangeran seperti piring, teko, dan kendi air minum. “Sedangkan mangkuk biasa dipakai masyarakat menengah,” ujarnya.

Sebagai pedagang, dirinya tidak menerjunkan langsung para penyelam untuk mendapatkan barang antik. Jika ada yang menjual kepadanya, dia langsung membeli barang tersebut. “Kami juga memilih barang yang dijual agar layak dijual kembali,” tutupnya. (bsp/fad)

Penyelam yang Nekat Mencari Harta Karun di Sungai Musi

Menelusuri Harta Karun Sungai Musi Dapat Granat, Buang Lagi ke Sungai
Potensi harta karun di Sungai Musi sudah terbukti. Penyelam sering kali menemukan barang-barang antik bernilai tinggi. Wajar jika kini banyak masyarakat menekuni profesi tersebut meski beresiko tinggi.

* * * * * * * * * * * * * * *

Harga barang antik yang mencapai puluhan juta menjadi sumber pendapatan penyelam. Jadi tak ayal, meski beresiko tinggi para penyelam tetap melakukan pencarian harta karun di Sungai Musi. Wadi (40), warga Mariana saat ditemui koran ini di kediaman kolektor barang antik di Jl Putih Rambut Selako misalnya enam tahun menggeluti profesi penyelam harta karun. Dia biasa bersama rekannya menyelam di daerah Pulau Kemaro dan sekitar Pusri karena di sana banyak terdapat besi dan kayu yang tenggelam di dasar sungai. “Profesi ini membutuhkan modal nekad,” bebernya.

Dia menjelaskan, di daerah Pusri itu pernah ada kapal karam dan istana terbakar jadi diduga banyak meninggalkan harta karun. “Di sana saya sering menemukan guci keramik dari Dinasti Yuan, Tsung, dan Tang tapi dalam kondisi sudah pecah tak bisa dijual,” sebutnya. Dia juga pernah menemukan guci utuh dihargai Rp 2,5 juta. Mungkin kalau dijual sekarang, harganya puluhan juta. “Dulu kami tidak tahu harga dan nilai sejarahnya,” terangnya.

Masih kata dia, seperti temannya yang juga penyelam lain pun pernah menemukan perahu dari kayu unglen zaman Kerajaan Sriwijaya di daerah Keramasan pada 2014. Kayu unglen itu dijualnya Rp 10 juta serta berbagai sampan perahu dengan ukuran cukup panjang yang masih utuh.

Nyarisnya, tak hanya menemukan barang berharga, dia juga pernah menemukan granat, meriam, selonsong dan senapan. “Karena takut, benda tersebut saya buang lagi ke Sungai Musi,” cetusnya. Dia tidak mau mengambil resiko karena ada temannya yang juga penyelam pernah ditangkap polisi akibat membawa barang itu, ada yang melaporkan ke pihak berwajib.

Baginya, menyelam butuh strategi khusus karena benda di sana banyak terbenam. Kalau salah strategi bisa membahayakan. “Menyelam itu juga ada untung ruginya, kalau tidak sedang beruntung tidak ada satupun barang dibawa pulang, tapi jika bernasib bagusbisa bawa pulang besi dan bisa dijual ke kolektor,” tuturnya.

Untuk menjangkau dasar sungai, Wadi menggunakan peralatan lengkap seperti baju ditambahkan besi seberat 20 kg. Lalu selempangan dari tali tas, untuk membantu alat pernapasan dia menggunakan kompresor. Untuk mencari benda, katanya, dia harus menyelam hingga kedalaman 30 meterdalam waktu 30 menit. Selama menyelam dia hanya bisa meraba mencari benda.

Sekali beraksi pihaknya butuh 10 liter bensin dan 20 liter solar, yang dikeluarkan seorang mandor dengan biaya Rp 250 ribu. “Kalau lagi apes ketemu barang rongsokan harganya murah Rp 3 ribu per kg. Tapi kalau ketemu kayu meranti diolah jadi papan yang dijual mahal,” imbuhnya.

Sekarang, kata dia, mendapatkan barang antik makin sulit. “Daripada rugi lebih baik alih profesi. Sekarang saya putuskan tidak lagi menyelam dan menjadi buruh bangunan, terangnya. Senada Yani (40), warga Plaju ini mengaku pernah bergesekan dengan ikan besar tapi tidak tahu jenisnya karena kondisi sungai gelap. Saat itu dia berusaha tenang agar misi penyelaman berhasil. “Untuk itu perlu keberanian yang kuat,” ungkapnya. (uni/fad)

Pemkot Tak Bisa Melarang

Aktivitas penyelaman harta karun di dasar Sungai Musi mendapat sorotan dari Pemerintah Kota Palembang. Walau begitu, nyatanya pemerintah tak bisa berbuat banyak. Plt Wali Kota Palembang H Harnojoyo mengaku tidak bisa melarang kegiatan tersebut. “Sekalipun ada benda cagar budaya yang ditemukan harusnya diserahkan ke pemerintah pusat,” katanya.

Sekretaris Disbudpar Kota Palembang, Ahmad Zazuli mengaku ada aturan tertulis tidak boleh memperjual-belikan benda cagar budaya. “Diatur UU cagar budaya,” bebernya. Akan tetapi, pihaknya sendiri tak punya kemampuan menetapkan suatu benda yang diperoleh dari dasar Sungai Musi merupakan benda cagar budaya atau bukan. “Semua benda yang didapat belum tentu cagar budaya,” katanya.

Sedangkan, dalam aturan tertulis itu, yang dilarang diperjualbelikan dan dimiliki masyarakat hanya benda yang sudah dipastikan cagar budaya. “Kalau ternyata benda cagar budaya ditemukan, yang berwenang mengambilnya negara melalui Badan Arkeologi. Bukan wewenang Pemkot,” tegasnya.

Itulah kini pihaknya pun tak bisa melarang sekaligus menghentikan penyelam mencari benda berharga di Sungai Musi. “Sekarang ini silakan saja,” katanya pasrah. Pihaknya pun tak bisa menuntut penyelam karena tak punya bukti. (chy/fad)

Sumatera Ekspres, Minggu, 2 Agustus 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: