Menyibak Rahasia Niat


Menyibak Rahasia Niat

Oleh: Mal An Abdullah
Wakil Rais PWNU Sumatera Selatan

Pasti ada ilmu dan kebenaran yang hakiki yang tersembunyi di balik niat sehingga Allah dan Rasul-Nya menekankan makna sangat pentingnya niat. Niat memengaruhi putaran energi di sekitar kita. Niat juga memengaruhi kerja sistem fisiologis tubuh yang membuatnya menjadi lebih efektif atau bila niatnya jelek malah menjadi rusak (Hosen dan Hammado 2013).

Rasulullah SAW bersabda:

Yang Artinya: “Sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada niatnya; dan seseorang itu akan memperoleh apa yang telah diniatkannya. Siapa yang hijtah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan memperoleh pahala. Siapa yang hijrah karena harta dan wanita maka ia hanya akan memperoleh apa yang diniatkannya itu…,” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika kita mempunyai niat dan menanamkannya dalam pikiran bawah sadar kita, secara otomatis akan mengalir sugesti dan energi yang luar biasa yang bisa mengantarkan kita pada sesuatu yang kita niatkan. Apakah niat itu baik atau buruk, secara sadar maupun tak sadar, sistem pikiran yang ada dalam diri kita akan tertuju ke sana.

Ketika kita berniat dan mencurahkannya pada alam semesta, alam juga akan merespons dan mengiringi sugesti kita pada apa yang kita niatkan. Pikiran bawah sadar mempunyai mekanisme sendiri untuk mewujudkan niat itu, dan semesta pun mendukungnya.

Maka berhati-hatilah dengan lintasan niat jelek. Alkisah, Raja Anusyirwan sedang berburu. Ia memasuki sebidang kebun dalam keadaan yang sangat haus. Ia pun melihat banyak pohon delima. Kepada anak penunggu kebun, sang raja berkata: “Berikan kepadaku sebutir delima.” Delima itu ternyata sangat manis dan airnya yang lezat keluar mel,impah. Raja begitu terkesan sehingga terlintas niat jelek untuk menguasai kebun itu.

Pada kali kedua ia meminta lagi sebutir delima. Namun, kali ini buah delimanya berasa kecut. Sang raja keheranan sambil berkata kepada si penjaga kebun: “Mengapa rasanya begini?” Sang penjaga kebun yang tidak tahu siapa yang dihadapinya menjawab: “Mungkin ada raja di negeri ini yang bermaksud berbuat zalim karena niat jeleknya delima ini menjadi kecut.”

Sang raja terkejut, lalu ber-istighfar di dalam hatinya. Tak lama kemudian ia pun meminta lagi sebutir delima. Kali ini rasanya kembali menjadi nikmat seperti butir yang pertama. Demikian dinukilkan dalam Tafsir al-Fakhr al-Razi.

Sumatera Ekspres, Rabu, 8 Juli 2015
* * * * * * * * * * * * * * *

Menyibak Rahasia Niat (2)
Memiliki niat baik sebetulnya mudah. Yang sulit ialah menjaga agar niat kita agar senantiasa baik. Selalu saja ada pelajaran dalam hidup ini, apa pun profesi dan pekerjaan yang kita jalani, yang memaksa untuk kembali me-review apa niat kita yang sesungguhnya. Mampu mempertahakan niat baik itulah yang termasuk bagian dari tanda-tanda istiqamah.

Kalau kita memasang niat melakukan sebuah perbuatan semata-mata karena Allah (lillahi ta’ala) kira-kira apa yang akan terjadi? Yang terjadi pada hakikatnya ialah kita menghubungkan ruh suci kita dengan Dzat Yang Maha Suci. Begitu koneksi ini tersambung lewat niat yang tulus dan bersih kepada-Nya, maka perbuatan kita akan dipelihara oleh Allah. Bukan hanya itu: semua panca indera kita dalam melakukan perbuatan yang sesuai dengan niat itu juga akan tersambung semuanya kepada Allah.

Begitulah sebagaimana dari hadits Qudsi ketika Allah berfirman yang artinya:

“Karena Aku-lah yang menjadi pendengarnyayang dengannya ia mendengar, Aku-lah yang menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat; Aku-lah yang menjadi lidahnya yang dengannya ia bertutur kata; dan Aku menjadi akalnya yang dengannya ia berpikir. Apabila ia berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya; apabila ia meminta sesuatu kepada-Ku, niscaya Aku akan mengaruniakannya; dan apabila ia meminta pertolongan kepada-Ku, niscaya Aku akan menolongnya. Ibadah yang dilakukannya kepada-Ku yang paling Aku senangi adalah menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya untuk-Ku.” (HR. Thabrani)

Begitulah dahsyatnya kekuatan sebuah niat. Maka mari kita benahi niat kita. Bukan hanya semesta yang akan mendukung, tetapi juga penguasa jagad raya ini akan “mewakili” kita menjalankan aktivitas kita.

Subhanallah, Maha Suci Dia yang telah menyediakan bulan Ramadhan sebagai bulan berlimpah hikmah dan kebaikan. Salah satu hikmahnya ialah menanamkan dalam diri kita kesinambungan niat tulus dan bersih dari waktu ke waktu, sejak dari sebelum fajar sampai fajar hari berikutnya, dan seterusnya. Yaitu melalui rutinitas ibadah dan amal shaleh yang kita lakukan, sejak dari sahur, puasa, shalat, membaca dan tadarus Al-Qur’an, sedekah, zakat fitrah, dzikir, i’tikaf, dan banyak lagi. Semoga Allah berkenan menyatukan hati kita dengan kesucian Dzat-Nya Yang Maha Suci. (*/ce1)

Sumatera Ekspres, Kamis, 9 Juli 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: