Sikap warga Setelah Kepastian Revitalisasi Rusun Jadi Sentraland


Relokasi jangan terjadi

Sikap warga Setelah Kepastian Revitalisasi Rusun Jadi Sentraland
Warga menjemur pakaian di depan rumah (kamar) masing-masing. Kondisi ini membuat rusun tampak kumuh

Proyek revitalisasi rmah susun (rusun) 24 Ilir sudah mendesak. Pasalnya kondisi bangunan dan lingkungan rusun tak layak huni lagi. Walau nyatanya warga rusun nyaman-nyaman saja. Seberapa parah kondisi lingkungan, bangunan, dan bagaimana warga menyoal revitalisasi? Berikut penelusurannya.

___________________________________

Siapa tak kenal kompleks rusun di Kelurahan 24 Ilir. Lokasinya persis berada di pusat jantung Kota Palembang dan tempat ini juga dikanal sebagai sebagai kompleks rusun terluas di Tanah Air. Tapi nyatanya memang tak sesuai harapan. Koran ini menelusuri rusun 24 Ilir yang terbagi dalam banyak blok (gedung) rusun. Yakni belakang PIM Blok 1-29, Blok 30-24 depan Ramayana, dan 43-54 depan Pasar 26 Ilir.

Berada di kawasan ini, kesan pertama pasti terhenyak. Maklum, rasanya memang tak layak lagi rusun itu dihuni. Kesan kumuh karena banyak sampah di pinggiran jalan, drainase, hingga anak sungai. Tak hanya, dinding rusun juga kusam dan tua. Belum lagi banyaknya jemuran menggantung di teras setiap rumah. Kondisi itu hampir ditemu disetiap blok. Tapi nyatanya, warga rusun 23 Ilir nyaman-nyaman saja tinggal di sana.

Kehidupan di rusun ini berlangsung hampir 24 jam. Sidin, penghuni rusun Blok 22, mengaku demikian. “Kalau pagi hari, warga rusun bekerja ke luar, kalau malam banyak yang ngobrol sampai tengah dalu, bermain catur atau gaple,” ujar dia ditemui koran ini, kemarin. Dikatakan, hampir sebagai besar warga rusun bekerja serabutan, jadi buruh swasta, penjahit pakaian, penjual makanan atau nasi.

Namanya keramaian, tinggal di rumah berdempet-dempetan, persoalan antartetangga sering terjadi. “Perang mulut masalah jemuran itu biasa,” ucapnya. Dulu karena distribusi air macet sering menimbulkan kegaduhan. “Ada yang dapat air, ada yang tidak. Tapi sekarang tidak lagi,” tuturnya. Keributan juga dipicu perseteruan anak muda oleh hal sepele. Di apartemen, kondisi seperti ini tentu tidak akan ditemui. Pola interaksi antarpenghuni tak begitu terasa. Hal ini karena umumnya penghuni berasal dari kalangan yang sedikit mapan. “Terbalik dengan rusun,” terangnya.

Mala (47), ibu enam anak, mengaku jadi penghuni rusun Blok 13 mulai 1992. Dikatakan, Blok 13 sendiri memiliki 96 pintu (rumah). Dihuni sekitar 90 kepala keluarga (KK). ada KK yang mmenyewa lebih dari satu rusun. “Kecil hanya 3×6 meter persegi satu pintu,” terangnya. Istri Ketua RT 36 ini juga mengakui penghuni hampir semuanya penyewa. Kalau pemilik tidak tinggal di sini.

“Kalau persoalan air dan lisrik tidak ada masalah lagi, hanya keamanan dan kebersihan,” bebernya. Sementara soal jemuran, dirinya paham. Namun terkadang karena banyaknya penghuni rusun berdampak pada terbatasnya ruang tempat menjemur.

Dengan kondisi itu, nyatanya keluarganya juga nyaman tinggal lama di sini. “Kalau pemerintah merelokasi akan berdampak pada penghasilan kami,” sebutnya. Sebab, hampir semua pedagang di sini semunya penghuni rusun. Walau begitu, dia setuju rusun tua ini dibangun baru asal tidak dibebankan ke penghuni. “Karena perbaikan sewa malah naik terus,” ucapnya. Selain itu, asal penghuni bisa balik lagi ke tempat asal. “Kalau pindah kam tidak mau,” bebernya.

Soal kepemilikan rusunnya, dia juga tidak tahu persis. “Hanya tahu yang punya PNS dan mereka selalu datang menagih setiap awal tahun,” jelasnya. Dodi Chabdar (22), penghuni Blok 13 RT 36, mengaku dirinya generasi ketiga dan sudah 20 tahun tinggal di tempat ini dan merasa nyaman. “Saya penghuni ruangan 4×9 meter persegi,” ucapnya. Soal revitalisasi, dia tidak bersedia dan berharap itu jangan terjadi. Sementara Wati seorang nenek yang menghuni Blok 13 sejak 1995 ini, mengaku sudah sejak dirinya mendengar akan ada relokasi, tapi hingga sekarang nyatanya isu belaka. “Kalau direlokasi, kami siap tidak siaplah. Namanya sewa,” tutupnya. (nni/fad/ce6)

Rusun Dibongkar Tahun Ini juga
Perumnas Cek Sertifikat Hak Milik

Sikap warga Setelah Kepastian Revitalisasi Rusun Jadi Sentraland
Salah satu sudut rumah susun (rusun) di kawasan sekitar Jl Radial yang akan direvitalisasi oleh Perum Perumnas

Rencana meremajakan rusun 24 Ilir jelas sudah. Itu setelah penekenan MoU (momerandum of understanding) antara Pemerintah Kota Palembang dan Perumnas. Terkait kerja sama pembangunan kembali kawasan rusun yang sudah tua di wilayah Ilir Barat menjadi kawasan baru yang layak huni.

General Manager (GM) Perum Perumnas Regional II, Rohmad Budiyanto, mengakui pihaknya akan segera memulai revitalisasi rusun 26 Ilir dalam waktu dekat pada tahun 2015 ini juga. “Kita akan bangun apartemen Sentraland di kawasan tersebut,” ujar dia, kemarin.

Proyek komersial Sentraland serupa juga sudah dibangun Perum Perumnas di Semarang, Jawa Tengah, dan ditarget rampung Desember 2015. “Pembangunan kawasan baru ini sudah mendesak karena bangunan rusun lama sudah tua lebih dari 25 tahun, kumuh padahal lokasinya tengah kota,” cetusnya.

Menurut dia, sudah dibentuk tim kerja oleh Pemkot Palembang dan Pemprov Sumsel menyukseskan proyek ini. “Saat ini kami sudah mengurus perizinan pembangunan dan sosialisasi kepada semua warga rusun. Butuh waktu sebelum proyek dimulai. Sebab, ini tidak akan berjalan jika tidak ada persetujuan,” beber dia.
Sosialisasi itu meliputi pengecekan kelengkapan sertifikat hak milik penghuni. Selama ini para penghuni rusun banyak menyewakan rusun itu kepada warga lain. “Jadi kami perlu cek pemilik asli bukan penyewa,” bebernya. Sebenarnya, status kepemilikan rusun itu HGB (hak guna bangunan) yang berakhir 2013 lalu. Tapi akan diperbaharui lagi hingga 25 tahun ke depan. “Sekarang juga lagi kami proses,” tuturnya.

Jika itu semua beres, Perum Perumnas akan mulai membangun Sentraland tahun ini juga. “Bangunan lama akan dbongkar dan kita bangun baru. Pengerjaannya sekitar 1-2 tahun,” beber dia. Sebagai kompensasi, Perumnas akan memberikan uang kontrak kepada warga pemilik sah rusun selama proses pembangunan Sentraland. Itu karena Perumnas belum bisa menyediakan rusun atau apartemen pengganti selama masa pembangunan. “Silakan nanti pemilik gunakan uang itu untuk mencari tempat tinggal sementara hingga bangunan selesai,” bebernya.

Untuk besaran uang kontrak, pihaknya belum menentukan. “Tapi yang jelas, kami akan menyiapkan dana revitalisasi rusun lebih dari Rp 4 yang didapat dari APBN,” tegasnya. Jika kurang diharapkan kontribusi pemerintah daerah menyokong dana.

Diketahui, Sentraland rencananya dibangun 20 lantai dengan 12 blok dengan lebih dari 9 ribu rumah (kamar, red). Sebelumnya hanya sebanyak 3.584 rumah. “Untuk apartemen baru nanti kita berikan kepada pemilik sesuai dengan dengan ukuran dan tipe sebelumnya. Jika sebelumnya tipe 36, maka akan diberikan tipe 36,” tandas dia. Rencananya kawasan ini juga nantidilengkapi ruang terbuka hijau, kawasan bisnis, drainase, taman bermain, dan fasilitas lain. (roz/fad/ce6)

Hanya Beri Izin, Dijual Umum

Sikap warga Setelah Kepastian Revitalisasi Rusun Jadi Sentraland
Setelah proyek apartemen Sentraland atau rusunami (rumah susun milik) selesai digarap Perum Perumnas, maka kamar-kamar di rusunami selain untuk penghuni atau pemilik rusun yang lama juga akan dijual ke masyarakat.

Kepala Bidang Perumahan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya Kota Palembang, Albert, mengatakan kawasan rusun 26 Ilir itu akan dibangun baru menjadi rusunami. “Nantinya bisa dibeli masyarakat luas. Sebab, akan ada penambahan dan perluasan rusun tersebut,” ujar dia dihubungi koran ini, kemarin.

Karena itulah peruntukkannya bukan hanya untuk pemilik rusun lama, juga masyarakat baru yang ingin tinggal di kawasan ini. Pemilik lama nanti akan diberikan rusun baru dengan tipe kamar atau rumah yang sama. Hak guna bangunannya memang sudah habis, tapi nanti akan diperbaharui,” cetusnya.

Dijelaskan, pengembangnya yakni BUMN Perum Perumnas. “Tanah yang berada di atas kawasan rusun itu milik Perumnas, jadi BUMN ini yang berwenang menggarapnya. Kami hanya selaku pemerintahyang memberi izin pendirian bangunan. Termasuk tipe bangunan dan cocok tidaknya dengan standar pembangunan kota,” beber dia. Dikatakan, pemerintah akan memfasilitasi pihak Perumnas untuk membangun rusun baru sesuai dengan MoU yang sudah dilakukan.

Nah, terkait banyaknya pegawai negeri sipil (PNS) yang memiliki rusun 24 Ilir, Albert menilainya wajar. Sebab, zaman dulu harga rusun masih murah dan tak hanya PNS saja yang membeli. “Mungkin kebetulan saja kalau ada PNS banyak punya rusun,” tuturnya. Kalau nyatanya banyak disewakan, bagi Albert, itu sah-sah saja asalkan sesuai perjanjian dan kesepakatan. (roz/fad/ce6)

Kontruksi Gedung Tahan 70 Tahun

Sikap warga Setelah Kepastian Revitalisasi Rusun Jadi Sentraland Bangunan rumah susun sebenarnya bisa dipakai dan digunakan sebagai tempat tinggal warga sampai dengan masa 70 tahun sejak pertama kali dibangunan. “Artinya selama 70 tahun, kontruksi bangunan rusun masih cukup aman bagi warga yang tinggal di sana,” ujar Eddy Ganepo, ketua DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), kemarin.

Tetapi dengan syarat, adanya perpanjangan masa dengan melihat kondisi kelayakan bangunan. Bisa diperpanjang selama tiga kali yakni dimulai 25 tahun pertama, lalu 25 tahun kedua, dan 20 taun ketiga.

“Akan tetapi karena kondisi rusun 24 Ilir yang sudah berusia lebih dari 25 tahun, kesannya pun kumuh dan berada di tengah pusat kota, saya kira sangat penting untuk segera direvitalisasi dengan bangunan baru yang berkualitas. Itu juga untuk keamanan bagi warga penghuni rusun,” ujar Eddy.

Jika tidak secepatnya direvitalisasi, Eddy melihat hal itu akan mengganggu estetika Kota Palembang yang merupakan pusat ibu kota Provinsi Sumsel. “Jadi saya dukung rencana revitalisasi rusun kerena memang sudah 25 tahun masa berdirinya,” ungkapnya.

Namun, revitalisasi ini memiliki konsekuensi. Sebelum membongkar bangunan lama, Perumnas wajib memindahkan warga ke lokasi baru. Atau memberikan uang kepada warga untuk mencari tempat tinggal sementara sebelum kembali lagi ke tempat semula. “Intinya setelah revitalisasi selesai, warga harus dikembalikan lagi ke rumahnya,” pungkasnya. (roz/fad/ce6)

Sumatera Ekspres, Minggu, 26 April 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: