Angkri Jagoan Tanjung Priok


Angkri Jagoan Tanjung Priok

Oleh: Dhanasawara P

Sekali ini, kejumawaan Angkri akhirnya harus terhenti. Betapa tidak, ia benar-benar tidak mampu menghadapi serangan demikian gencar yang dilancarkan Bek Kasan. . . .

______________________________

Alkisah, sekitar abad ke-19 Masehi, Pelabuhan Batavia Lama yang kini dikenal dengan nama Pelabuhan Tanjuk Priok, adalah merupakan salah satu pusat kegiatan perdagangan yang seolah tak pernah tidur barang sekejap pun.

Betapa tidak, tiap hari, mata selalu disuguhi dengan pemandangan kegiatan bongkar muat berbagai jenis barang dagangan, mulai dari hasil bumi, barang pecah belah, sampaii dengan kain sutera yang mahal harganya untuk disimpan di gudang-gudang yang terdapat di sekitar pelabuhan.

Sebagaiaman lazimnya pusat keramaian, kala itu, Pelabuhan Batavia Lama pun dikuasai oleh jagoan silat bernama Angkri, dengan dua orang pembantu setianya, Bai dan Madun. Tiap hari Angkri selalu mengenakan pakaian berwarna hitam, ikat kepala, gelang akar bahar di kedua lengannya, sementara di jai-jari tangannya, bertengger cincin dengan batu akik besar. Tak hanya itu, di pinggang sang jagoan bersama dua anak buahnya, terselip sebilah golok yang amat tajam. Sehingga tak mengherankan jika ketiganya amat ditakuti oleh penduduk sekitar, terutama yang tinggal di sekitar Pasar Ikan.

Hingga pada suatu siang. Sebuah kapal besar yang sandar di Pelabuhan Batavia Lama menurunkan barang-barang pecah belah dan kain sutera yang kemudian disimpan di dalam gudang milik seorang opsinder yang bernama Bloomekomp. Mengetahui hal itu, Angkri bersama kedua anak buahnya pun segera menyusun siasat busuknya.

Ketika malam semakin tua, dan suasana di sekitar gudang mulai sepi, Angkri dan kedua anak buahnya segera bertindak. Dengan penuh kehati-hatian, mereka menjebol kunci pintu gudang itu dan menyelinap masuk. Sementara Bai dan Madun memasukkan sejumlah barang pecah belah dan kain sutera ke wadah yang mereka bawa, Angkri dengan waspada berjaga-jaga di dekat pintu.

Tak lama kemudian, setelah wadah mereka penuh, Angkri dan kedua anak buahnya segera meninggalkan gudang itu dengan menyusuri lorong-lorong di sekitar rumah penduduk menuju ke arah barat Kota Intan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali opsinder Bloomekomp pun dibuat terkejut. Dengan geram ia segera melaporkan kejadian itu kepada opas yang berjaga di kawasan Pelabuhan Batavia Lama. Dalam waktu singkat, kepala opas yang memimpin penyelidikan langsung mafhum, itu semua perbuatan Angkri dengan dibantu dua orang begundalnya.

Kepala opas langsung menghubungi Bek (kepala kampung) Kasan dan tiga orang anggota keamanan untuk mencari tahu keberadaan Angkri, Bai dan Madun. Mereka pun mencarinya ke Pasar Ikan dan Kampung Kapal Rusak, tetapi, ketiga bandit itu seolah hilang ditelan bumi.

Mereka mencoba menggali keterangan dari penduduk. Hasilnya, Angkri, Bai dan Madun kini sedang berada di sebelah barat Kota Intan, dekat laut menuju ke Kamal.

“Baik kita segera ke sana sebelum mereka berhasil meninggalkan Kota Intan,” kata Bek Kasan.

Meski hari mulai gelap, namun, kepala opas dan rombongannya seolah tak mau ketinggalan waktu. Mereka terus melakukan pengejaran. Pada saat yang bersamaan, Angkri bersama dua begundal setianya sedang menuju rumah teman mereka yang bernama Pak Ocin.

“Ocin, gua mau nitip barang. Besok pagi, kalo udah dapat kapal, gua ambil,” kata Angkri sambil menyerahkan bungkusan yang tadi dibawa oleh Bai dan Madun.

“Wah . . . ogah ah,” jawab Pak Ocin seketika.

“Apa. . . .?” gerta Angkri.

Bai dan Madun langsung hendak mencabut goloknya. Namun, hal itu dicegah oelh Kasun yang kebetulan datang bersama dengan istrinya dan sudah lebih dahulu bertemu di rumah Pak Ocin.

“Sabar Dun, sabar Bai, kita semua kan temen lama,” kata Kasun menenangkan.

Baru saja kata-kata itu berhenti, mendadak, sebuah tamparan keras Angkri bersarang di pelipis kanannya.

“Rasain bagian lu,” seru Angkri.

Karena mendapatkan serangan terlebih dahulu, maka, Kasun pun langsung naik pitam. Dengan serta merta, ia mengirimkan serangan balasan ke arah Angkri. Kasun berupaya keras untuk menghadapi Angkri dan kedua anak buahnya. Istri Kasun pun berteriak-teriak minta tolong. Tetapi apa daya, para tetangga yang mendengar pun tidak ada yang berani datang menolong. Mereka takut, dan lebih baik pura-pura tidak tahu.

Perlahan tapi pasti, akibat dikeroyok, Kasun pun roboh dengan muka babak belur. Dengan senyum puas, Angkri dan kedua begundalnya pun bergegas meninggalkan rumah Pak Ocin dengan membawa barang-barang curian mereka.

Tak berapa lama kemudian, kepala opas dan rombongannya pun tiba di rumah Pak Ocin. “Sun . . . siapa yang bikin muka lu babak belur kaya begini?” tanya Bek Kasan keheranan.

“Biasa, sama dua anak buahnya,” sahut Pak Ocin dengan nada jengkel.

“Terus di mana tu orang?” tanya kepala opas yang sudah tidak sabar ingin menghajar mereka.

“Baru saja pergi. Sekitar lima menit,” jawab Pak Ocin.

“Baik,” kata kepala opas. “Tolong rawat dan obati lukanya si Kasun. Kita mau mengejar Angkri.”

Tidak begitu sulit kepala opas dan rombongannya menemukan mereka, karena, Angkri dan anak buahnya sedang membawa bungkusan yang lumayan berat.

“Hai . . . berhenti!” teriak kepala opas ketika melihat Angkri dan anak buahnya.

Ketiganya berusaha untuk mempercepat larinya. Tetapi apa daya, kepala opas dan ketiga anggota keamanan berhasil dengan mudah mengejar, bahkan langsung meringkus Bai dan Madun yang sudah tak berdaya akibat kelelahan. Sementara Bek Kasan menantang Angkri untuk berkelahi secara jantan. Dan Angkri pun menerima tantangan itu dengan jumawa.

“Buset . . . Bek Kasan, lu beguru dulu yang lama, baru boleh bekelai ama gua. Tapi, kalo mang udah niat pengen cepet mampus, maju aja,” kata Angkri sambil tersenyum sinis.

Pertarungan sengit pun tak terelakkan. Mulanya dengan tangan kosong, tetapi, ketika mulai kewalahan menghindari serangan Bek Kasan yang datang bertubi-tubi, Angkri pun segera mencabut goloknya. Tapi sayang, begitu ia hendak mengayunkan goloknya, tiba-tiba, sebuah tendangan keras dari Bek Kasan bersarang tepat di pergelangan tangannya.

“Ah. . . . ,” hanya itu yang keluar dari mulut Angkri ketika melihat golok yang ada di genggamannya terpental.

Akhirnya, Angkri terpaksa harus kembali menggunakan tangan kosong sambil mengeluarkan jurus-jurus andalannya. Sekali ini, salah satu pukulannya berhasil bersarang dengan telak di dada Bek Kasan hingga jatuh terlentang di atas sebuah batu besar. Kesempatan yang bagus itu tidak disia-siakan oleh Angkri. Dengan gerakan kilat, ia melompat dan menghujamkan kedua lututnya ke arah dada Bek Kasan. Angkri benar-benar tak menyangka, dengan gerakan yang indah, Bek Kasan berhasil menggulingkan badannya terlebih dahulu ke arah kanan.

Akibatnya, terdengar lolongan panjang dari mulut Angkri akibat kedua lututnya menhujam ke batu besar. “Aduuuuh!”

Tak ayal kedua lutut itu patah, dan Angkri pun tak mampu berdiri lagi. Bek Kasan segera memegang kepala dan menarik rambut musuhnya dari belakang.

“Ampun . . . ampun Bek, aya ngaku kalah,” demikian rintih Angkri memohon ampun.

Singkat kata, jagoan dari Pelabuhan Batavia Lama pun menyerah. Dengan tangan terikat, ia ditandu dan dibawa ke kantor opas yang terletak di Kota Intan, dan selanjutnya disidang. Berdasarkan keputusan hakim, Angkri dan kedua anak buahnya dihukum atas tuduhan mencuri barang milik opsinder Bloomekomp. Bai dan Madun dihukum penjara selama lima tahun, sedang Angkri dihukum gantung.

Sejak itu, kawasan Pelabuhan Batavia Lama menjadi aman. Para pedagang dan nelayan dapat melaksanakan pekerjaannya sehari-hari dengan rasa tenang dan damai tanpa harus dihantui perasaan takut mendapat gangguan dari Angkri dan anak buahnya. (dari berbagai sumber terpilih). (*)

Sumber: Misteri Edisi 599 Tahun 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: