Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida


Icon Palembang Terancam Punah

Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida
Potensi sektor perikanan Sumatera Selatan harus terus dilakukan. Salah satunya mengoptimalkan produksi tambak yang tersebar di 17 kabupaten/kota

Ikan belida (notopterus chitala) yang menjadi icon Kota Palembang sudah sulit ditemukan. Terpicu kelangkahan tersebut, Penkot Palembang melalui Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan akan melakukan penangkaran pada tahun depan dengan mencari induk ikan tersebut.

________________________________________

Keberadaan ikan belida banyak dijumpai hanya sebagai ikan hias. Ini karena terbilang jenis ikan langkah. Sebelumnya, ikan tersebut sebagai bahan baku pembuatan pempek, tapi lambat laun makin habis. Kalaupun ada, harganya jauh lebih mahal sehingga tidak sebanding dengan keuntungan yang didapat.

Ir H Harrey Hadi Ms selaku Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kota Palembang pada 2016 akan mencari indukan belida dan ikan gabus yang menjadi bahan dasar pembuatan pempek yang ditemukan. “Dicarinya indukan belida dan gabus, sebagai riset pengembangan budidaya ikan belida yang dilakukan dengan asumsi teknologi memija (kembang biak),” ujarnya.

Ia mengatakan, bila program budidaya ikan belida ini berhasil, pihaknya akan melibatkan masyarakat untuk turut serta guna meningkatkan taraf hidup. “Tahap awal melakukan penangkaran induk,” terang Harrey didampingi Kabid Perikanan Ir M Yusuf dan Kasi Bina Usaha Perikanan Rani.

Ikan belida, kata Harrey, bersifat endemik (hanya bisa hidup di habitatnya). Apakah tidak ada teknologi, ia menegaskan, ada, tapi saat ini hanya sebatas eksperimen dengan skala kecil, untuk skala besar sangat sulit. “Bayangkan saja satu induk jantan dan satu induk betina ikan belida, untuk satu kali produksi paling banyak menghasilkan 50 telur yang belum tentu bisa menetas menjadi benih,” terangnya.

Ikan yang hidup di air tawar ini jika diambil dari hasil tangkapan habitatnya paling lama hanya bertahan enam. “Tergantung perlakuan dan penanganan. Hanya, dari tempat tangkapan bisa bertahan enam jam dengan menggunakan oksigen. Jika sudah enam jam oksigen harus diganti,” ulasnya.

Lanjutnya, pada 2014 produksi ikan di Palembang naik 10 persen dari tahun sebelumnya. Untuk budidaya 13.205,47 ton, tangkapan 1.366,04 ton. “Target produksi ikan pada 2014-2018 mencapai 13.227,77 ton untuk seluruh ikan budidaya,” terangnya.

Nah, untuk tangkapan perairan umum jenis ikan gabus yang produksinya mencapai 1.96,24 ton. Sedangkan budidaya terdiri dari kan patin sebesar 6.420,75 ton, lele 3.374 ton, nila 634,07 ton, gurami 765,70 ton.

“Dinas Perikanan untuk meningkatkan produksi ikan di Palembang melakukan pembinaan di setiap kecamatan. Hanya untuk binapolitan (kawasan pengembangan produksi ikan, red) terhadap ikan belida. Hanya, setiap enam jam oksigen haru dig anti,” katanya.

Lihat saja, setiap ikan belida yang dijumpai di pasar pasti sudah mati, kalaupun ada yang hidup pastinya dijadikan ikan hias. “Penangkaran ikan belida saat ini belum ada, sebab jenis ikan ini termasuk ikan yang hidup di perairan umum,” katanya.

Ikan belida, ikan ini memiliki ciri punggung seperti pisau yang meninggi sehingga bagian tampak perut melebar dan pipih. Biasanya ikan ini hidup di sungai yang tenang airnya. Ikan ini juga biasanya memiliki corak bulat-bulat hitam di bagian tubuhnya. “Ikan ini dikenal karena rasanya yang khas,” terangnya. Untuk pengawasan, DP2K melakukan tindakan preventif agar tidakk ada ilegal fishing, penangkapan ikan dengan menggunakan racun atau penyetruman.

Diungkap Harrey, saat ini ada Balai Benih Ikan di Soak Bujang, Gandus. Namun, yang dibudidayakan jenis lele, patin, nila, dan gurami. Untuk pempek atau kemplang berbahan baku ikan belida, diakuinya, sudah sangat jarang ditemui. Karena pertumbuhannya sangat minim, pihaknya tidak punya data produksi ikan belida di Palembang. “Kalau untuk produksi terbesar Palembang adalah iikan patin,” tandasnya

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Ir Permana MMA, mengatakan, saat ini produksi ikan hanya cukup digunakan untuk konumsi lokal. “Ekspor unggulan masih pada sektor pertambangan dan perikanan, batu bara, CPO, karet, kayu, serta gas,” katanya.

Katanya, sektor perikanan untuk ekspor masih mendominasi udang dan kodok yang kebanyakan negara Jepang dan Korea. “Tidak begitu besar untuk ekspornya, Sumsel masih surplus. Artinya, masih besar impor dari ekspor,” terang Permana. Saat ditanya untuk ikan belida yang saat ini cenderung langka ditemukan di pasaran. Dirinya mengaku, belum ada budidaya hingga saat ini. Katanya, ikan belida dulunya makanan para sultan yang banyak berada di pperairan Sumsel. Untuk realisasi ekspor non-migas menurut jenis komoditas Provinsi Sumsel ikan segar pada 2014 sebanyak 582 ton untuk periode Januari hingga Juli 2014. “Tergantung permintaan, tidak setiap saat ekspor,” tukas Permana. (nni/asa/ce1)

Jangan Hanya Wacana

Anggota DPRD Kota Palembang M Aidil Adhari, mengatakan, wacana Pemkot Palembang melalui Dinas Perikanan yang bakal membudidayakan indukan ikan belida dan gabus – guna menjaga populasi ikan belida yang saat ini cenderung langka – merupakan program yang dilakukan.

“Kita sambut baik wacana Dinas Perikanan untuk membudidayakan indukan ikan belida, sebab saat ini diakui sudah sulit dijumpai. Kalaupun ada hanya temat-tempat tertentu dan harganya cenderung mahal,” ujar M Aidil Adhari.

Potensi ikan air tawar di Palembang, lanjut M Aidil, sangat bagus jika populasinya tetap dijaga dengan baik. Misalnya, menjaga Sungai Musi tetap baik, terhindar dari limbah industri dan rumah tangga.

“Jangan biarkan Sungai Musi tercemar, pemerintah harus tegas jika ada masyarakat atau industri yang melakukan pencemaran,” ucapnya.

Katanya, rencana budidaya indukan ikan belida jika sudah berjalan harus seriau dijalankan, jangan hanya semangat di awal, tapi kenyataan di tengah jalan hilang begitu saja.

“Semua harus ada keseriusan, jangan hanya semarak di awal, kemudian melempem di tengah jalan,” ucap M Aidil.

“Ancaman kelangkan ikan belida saat ini sangat bagus sekali jika ada program budidaya. Selain sebagai icon Palembang, juga untuk konsumsi juga baik bahkan besar kemungkinan nantinya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat di Palembang,” tukasnya. (nni/ce1)

Rutin Edukasi Pengelolaan Tambak, Pastikan Pasokan Ikan Aman

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Sri Dewi, mengatakan, permintaan ikan di Sumsel rata-rata ikan air tawar, bukan ikan laut. “Masyarakat tidak perlu khawatir, kami pastikan pasokan ikan aman,” terangnya, belum lama ini.

Ia mengatakan, permintaan ikan di Sumsel terus mengalami peningkatan setiap tahunnya, itu dipicu oleh pertumbuhan jumlah penduduk Sumsel. “Kami optimis bisa mencukupi permintaan karena kami juga harus berusaha meningkatan produksi sendiri seperti pembudidayaan ikan yang benar,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk meningkatkan produksi ikan, pihaknya terus berupaya dengan cara mengedukasi para pengelola tambak dalam hal pembudidayaan ikan dan para nelayan cara menangkap ikan yang benar.

“Nelayan terus kita imbau agar tidak menggunakan alat-alat penangkap ikan yang berbahaya. Seperti racun maupun bom. Karena selain menjaga kesehatan konsumen juga untuk menjaga spesies agar tetap ada,” imbuhnya.

Dikatakannya, ada dua jenis ikan yang memenuhi permintaan masyarakat, yakni hasil tangkapan nelayan baik di laut maupun perairan umum seperti sawah, keramba, keramba jaring apung (KJA) maupun pen sistem dan hasil budidaya. “Memang saat ini kita masih tergantung dari nelayan karena pasokan terbesar masih dari hasil tangkapan di perairang Sungsang,” katanya.

Sementara hasil budidaya saat ini belum begitu maksimal karena masih banyak daerah kabupaten/kota yang membuat tambak ikan. “Saat ini baru beberapa kabupaten yang memiliki tambak ikan dalam jumlah besar yakni Pagaralam dan Musi Rawas,” imbuhnya.

Sedangkan untuk kabupaten/kota lain belum memiliki. Nah, lokasi inilah rencananya akan kita sosialisasikan untuk melakukan penambakan ikan. Dikatakan, luas budidaya perikanan di Sumsel hingga akhir 2013 tercatat sebanyak, tambak 29.838 hektare, kolam air deras (KAD) 1.559 unit, kolam air tenang (KAT) 12.955 hektare, sawah 17.609 hektare, keramba 15.407 unit, KJA 1.886 unit dan pen sistem 2.075 unit. “Dari total penangkaran tersebut produksi ikan di Sumsel mencapai 435.001 ton per tahun,” ungkapnya.

Saat ini konsumsi masyarakat Sumsel rata-rata mencapai 35,8 kilogram per harikapita per tahun. Artinya, jika dikalkulasikan dengan total masyarakat Sumsel yang berkisar 8 juta jiwa. Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel harus menyiapkan pasokan ikan berkisar 286 ribu ton per tahun. “Artinya, dengan jumlah budidaya saat ini Sumsel sudah bisa mengekspor ikan ke provinsi lain,” tandasnya. (nni/asa/ce1)

Larang Pakai Bahan Peledak, Dalam Menangkap ikan

Penggunaan bahan peledak dan bahan kimia berbahaya memang dilarang dalam penggunaannya di dunia perikanan, baik di perairan umum berupa laut maupun sungai dan danau.

Penggunaan bahan peledak berbahaya dapat mengakibatkan rusaknya dan pencemaran bagi lingkungan perairan, sampai dapat merusak renik dan ikan yang masih kecil mupun bibit ikan. Sehingga akan memusnahkan jenis-jenis ikan tertentu. Demikian diungkap Kabid Perikanan Dinas Perikanan Kota Palembang Ir M Yusuf.

Katanya, meski diketahui semua orang bahwa menangkap ikan di laut memang menggunakan bermacam alat tangkap, sehingga hasil tangkapanya juga bervariasi. Apalagi nelayan yang pekerjaan sehari-harinya memang mencari ikan di laut, sehingga wajar jika menggunakan alat tangkap yang cepat dan banyak hasilnya. “Nelayan sekarang sudah semakin pintar seiring dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucapnya.

Penangkapan ikan bersifat merusak (destructive fishing) merupakan bentuk upaya penangkapan ikan yang membawa dampak negatif bagi populasi biota dan ekosistem. Jenis penangkapannya dengan menggunakan racun sianida, potassium, dan racun tumbuhan. Selain itu, menangkap ikan dengan mengunakan bahan peledak (bom), serta menggunakan alat jaring bermata kecil (nonselektif) dan menghancurkan struktur bentuk (pukat dasar dan modifikasinya). “Apapun bentuknya, tangkapan yang bersifat merusak dilarang oleh pemerintah,” tandasnya. (nni/asa/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Sabtu, 21 Februari 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

One Response to Rencana Pemkot Budidaya Ikan Belida

  1. melazuardi says:

    Terima kasih artikel ini menambah wawasan saya. Sedikit info. Salah satu pemasok ikan belida ke Palembang adalah dari Kab. Kampar. di Kampar sendiri ikan ini tidak begitu diminati karena duri halusnya yang banyak. Namun harga di pasar relatif tinggi (90 ribuan/kg). Data produksi ikan belida di Dinas Perikanan Kab. Kamparpun tidak ada. Salah satunya adalah karena ikan belida bukan tangkapan utama. Tantangan untuk perikanan belida berkelanjutan adalah adanya survei stok ikan belida di alam, serta pengembangan tehnik budidaya supaya tidak selamanya tergantung pada tangkapan di alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: