Tugu Belida Telan Dana Rp 1,4 M


Tugu Belida Telan Dana Rp 1,4 M PALEMBANGRencana Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang membangun tugu ikan Belida di pelataran BKB akan diwujudkan tahun ini (2015) juga. Dananya dari alokasi CSR (corporate social responsibility) PT Bukit Asam (PTBA).

Menurut Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Investasi Pemkot Palembang, Sudirman Tegoeh, rencana anggaran biaya (RAB) tugu itu sudah selesai dibuat Dinas PU Cipta Karya. “RAB-nya sudah diserahkan kepada pihak PTBA. Mereka pun sudah setuju. Dari hasil RAB, biaya yang diperlukan sekitar Rp 1,4 miliar,” jelasnya.

Akan adanya pembangunan tugu Belida itu sudah pula dilaporkan kepada Gubernur Sumsel dan Pemprov telah menyetujuinya. “Dalam waktu dekat, kami dan PTBA sebagai pemberi dana akan meninjau langsung ke lokasi,” imbuhnya. Tugu Belida ini akan menjadi ikon baru Kota Palembang yang bisa dinikmati langsung dari Jembatan Ampera.

Pembangunan tugu Belida ini juga untuk mengingatkan masyarakat Palembang jenis ikan asli Sungai Musi itu walaupun keberadaannya hampir punah. “Tugu ini diharapkan dapat mengingatkan masyarakat untuk terus melestarikan ikan belida,” ujar Sudirman.

Pembangunan diusahakan tahun ini juga agar bisa jadi salah satu tujuan wisata saat Asean Games berlangsung di Palembang, 2018 nanti. Ditambahkan Kepala Dinas Tata Kota Palembang, Isnaini Madani, peninjauan lapangan sebenarnya telah dijadwalkan Kamis atau Jumat minggu lalu. “Tapi karena kesibukan lain, jadinya tertunda,” jelasnya.

Dijelaskan Isnaini, tugu Belida raksasa yang akan dibangun itu tingginya sembilan meter yang melambangkan batang hari sembilan. Bahan dasar tugu ini dari batu bara. Nantinya akan dilengkapi permainan cahaya (lighting) sehingga menarik saat malam hari. Air dari mulut tugu Belida akan langsung jatuh ke Sungai Musi. (chy/ce4)

Belida Jadi Ikan Hias
===============================
Makin Punah, Tak Ada Budidaya

Rencana pembangunan tugu ikan Belida di pelataran BKB seakan ingin menasbihkan ikan tersebut sebagai salah satu ikon Kota Palembang. Sayangnya, keberadaan ikan itu makin susah dicari (langka, red), boleh dikatakan tinggal nama.

Saradi, salah seorang akuarium di kawasan Pasar Burung Jl Masjid Lama, 16 Ilir mengatakan, lima tahun terakhir ikan belida makin sulit didapat. “Untuk yang berukuran 3 kilo, harganya bisa mencapai Rp 1 juta. Paling murah yang kecil Rp 35 ribu,” ungkapnya, kemarin.

Kesulitan mendapatkan ikan belida ia rasakan untuk memenuhi permintaan calon pembeli dari luar kota, seperti Jakarta. Sebagian besar yang mencari untuk dipelihara. Belida jadi ikan hias di akuarium, bukan lagi untuk dimakan. Dia mendapatkan ikan belida dari sejumlah nelayan di daerah Kenten.

“Mereka pun kadang dapat, sering tidaknya. Karena itu, saya juga tidak bisa menjanjikan kepada konsumen ada tidaknya ikan belida pesanan mereka,” beber Saradi.

Diakuinya, dahulu ikan belida memang bahan baku favorit untuk membuat pempek. Tapi sekarang hampir sudah tidak ada lagi yang melakukan itu karena sulitnya mendapatkan ikan ini dalam jumlah banyak. Seorang penjual kemplang dan pempek di kawasan 26 Ilir, Andi menjelaskan, dirinya menggunakan ikan kakap, tenggiri, dan gabus sebagai bahan baku pembuat pempek. “Hampir semua penjual kemplang dan pempek tidak ada lagi yang menggunakan ikan belida. Selain mahal, susah dapatnya. Kalau ada yang mengaku jual kemplang dan pempek dari ikan itu, rasanya tidak mungkin lagi,” tandasnya.

Kepala Dinas Perternakan, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang, Harrey Hadi, mengakui sulitnya menemukan ikan belida saat ini. Untuk melakukan budidaya ikan belida, terdapat kendala teknologi. “Sekarang kita belum punya penangkaran dan budidaya khusus ikan belida karena terbatasnya teknologi,” kata Harrey. Upaya pelestarian ditempuh DP2K dengan menyosialisasikan kepada masyarakat untuk menjaga ekosistem sungai.

Untuk pengawasan, DP2K melakukan tindakan preventif agar tidak ada ilegal fishing, penangkapan ikan dengan menggunakan racun atau penyetruman. Diterangankan Harrey, saat ini ada Balai Benih Ikan di Soak Bujang Gandus. Namun, yang dibudidayakan jenis lele, patin, nila, dan gurami. Untuk pempek atau kemplang berbahan baku ikan belida, diakuinya, sudah sangat jarang ditemui. Karena pertumbuhannya sangat minim, pihaknya tidak punya data produksi ikan belida di Palembang. “Kalau untuk produksi terbesar Palembang, adalah ikan patin,” tukasnya. (uni/chy/ce4)

Sumber: Sumatera Ekspres, Selasa, 10 Februari 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: