Pakaian BJ, Digemari tapi Mengandung Bakteri


Dari Gatal hingga Penyakit Kelamin

Pakaian BJ, Digemari tapi Mengandung Bakteri
Pakaian bekas alias BJ yang ditawarkan di Pasar 16 Ilir diminati sebagian kalangan karena kualitas branded dengan harga miring. Namun sayang, pakaian impor ini rentan mengandung bakteri yang membahayakan kesehatan pemakaiannya

__________________________________________

Minat sebagaian orang membeli pakaian bekas luar neegeri alias BJ cukup tinggi. Mereka (pembeli, red) tak memikirkan dampak yang ditimbulkan. Padahal, pakaian tersebut mengandung bakteri yang membahayakan kesehatan si pemakai. Seperti apa?

* * * * * * * * * *

Terkadang masyarakat terjebak dengan barang murah. Tanpa memperhitungkan dampak yang ditimbulkan. Apalagi, menyangkut kesehatan. Ini terjadi pada BJ atau pakaian bekas yang banyak disuplai dari luar negeri. Ternyata, hasil penelitian sangat mencengangkan. Pasalnya, ada bakteri berbahaya yang menempel dalam pakaian tersebut.

Dimana, pakaian bekas beresiko untuk menularkan penyakit kulit. Ini sangat beralasan, sebab pakaian tersebut tidak diketauhi siapa pemilik sebelumnya. Apakah menderit penyakit kulit tertentu sehingga dapat menularkan pada pemilik baru.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin RSMH Palembang, dr Yuli Kurniawati SpKK, mengungkapkan, bukan hanya pakaian bekas pakai, pakaian baru saja sebaiknya dicuci sebeum dipakai. Karena bisa saja bakteri dan jamur telah bersarang pada pakaian tersebut, sehingga dapat menimbulkan penyakit kulit. “Misalnya infeksi jamur atau parasit,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, debu atau kotoran yang lama menempel pada pakaian tersebut dapat juga menimbulkan reaksi iritasi atau alergi yang menyebabkan kulit menjadi kemerahan dan gatal. “Apabila terpaksa memakai BJ, sebaiknya dilakukan pencucian dahulu, lebih baik diremdam dulu dengan sabun dan air panas, lalu dijemur dan disetrika sebelum dipakai,” bebernya.

Menurut dia, penyakit yang bisa dibawa oleh pakaian yang sudah tersimpan lama dalam sebuah tempat (pakaian bekas) bisa disebabkan oleh jamur dan bekateri, kutu badan dan jamur kemaluan atau kelamin. Bahkan kalau di luar kalau sudah tahu baju bekas itu terdapat kutu badan, biasanya dibuang bahkan dibakar. Virus dan bakteri tersebut bisa menyebabkan herpes simplex, genital herpes. Kemudian gatal-gatal pada kulit.

Dia mengatakan, kemungkinan seseorang terjangkit penyakit akibat bakaian bekas pun makin terbuka jika orang tersebut kondisi daya tahan tubuhnya sedang lemah. “Sehingga diperlukan kewaspadaan dan jika ingin membeli pakaian bekas,” tambahnya.

Di Palembang sendiri, pakaian bekas masih menjadi incaran masyarakat. Sebaiknya saat membeli pakaian bekas harus langsung menggunakan air panas 100 derajat celcius dalam waktu 10 menit. Pencucian sebaiknya terpisah dengan pakaian lain, agar bakteri yang dibawa pada pakaian bekas tidak menempel pada paaian lain dan tidak menyebarkan penyakit kulit.

Proses pencucian juga sebaiknya menggunakan detergen, dia menyarankan memakai detergen yang mengandung antiseptik. Setelah dicuci menggunakan detergen lalu dijemur. Nah, hingga disetrika juga suhunya harus lebih panas dari biasanya. Dia mengaku, banyak konsumen yang tidak tahu dari mana pakaian bekas itu berasal. Pemilik sebelumnya pun tidak dan bisa saja mengidap penyakit tertentu. Belum lagi saat proses pengepakan di tempat penjual.

Sebelumnya, Direktorat Jenderal (Dirjen) Standardisasi Perlindungan Konsumen (SPK) Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan hasil uji laboratorium terhadap 25 sampel pakaian bekas impor yang diambil secara acak di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Hasilnya, ditemukan dari seluruh sampel positif mengandung bakteri dan jamur. Bahkan ditemukan dalam satu helai pakaian impor mengandung ribuan koloni bakteri. Drijen SPK Kemendag Widodo sempat kaget saat mendengar laporan bila ada satu pakaian wanita jenis hotpants yang mengandung ratusan ribu bakteri.

“Yang mengagetkan saya itu ada celana bekas eks impor berwarna ungu mengandung bakteri lempeng total 216.000 koloni per gram,” kata Widodo. Ia mengungkapkan alasan mengapa celana bekas eks impor ini mengandung nilai total mikroba (ALT) sampai 216.000 koloni/gram.

“Kenapa sampai 216.000 koloni per gram ternyata celana itu bekas menstruasi (datang bulan) tanpa dicuci masuk ke Indonesia. Sangat mengerikan. Jadi ini luar biasa dampak celana bekas itu,” katanya. Selain ditemukan bakteri di celana ini juga ditemukan kandungan jamur yang cukup besar. “E Coli (bakteri) tidak ditemukan tetapi kita temukan jamur 36.000 jenis jamur katang sedangkan jamur kamir tidak titemukan,” katanya.

Ditambahkan, sample yang diambil Ditjen Standarisasai Perlindungan Konsumen (SPK) adalah pakaian anak (jaket), pakaian wanita (vest, baju hangat, dress, rok, atasan, hot pants, celana pendek). Pakaian pria (jaket, celana panjang, celana pendek, kemeja, t-shirt, kaos, sweater, boxer hingga celana dalam). Pengambilan sample dilakukan pada akhir Desember 2014. Sementara itu, meski banyak ditemukan bakteri, namun masyarakat tetap memburu BJ yang ada di pasaran. (way/jpnn/asa/ce1)

Lalui Ratusan Pelabuhan Tikus di Sumatera

Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) menemukan modus baru perdagangan pakaian bekas impor yang masuk ke Indonesia. Modus ini dilakukan untuk memperlebar penyebaran bisnis pakaian bekas di dalam negeri.

Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan DJBC Haryo Limanseto mengungkapkan modus baru ini ditemukan pada kasus penggagalan upaya penyeludupan pakaian bekas di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Dimana modusnya perdagangan antarpulau menggunakan kapal antarpulau. “Yang kami temui pada kasus yang terjadi di Jawa Timur,” katanya. Haryo menjelaskan pada 12 Januari 2015 lalu, Bea Cukai berhasil menggagalkan upaya penyeludupan 17 kontainer berisi ribuan pakaian bekas impor. Pakaian bekas impor tersebut didatangkan dari Malaysia.

Namun, upaya penyeludupan pakaian bekas impor Malaysia tersebut tidak langsung diarahkan dari Malaysia ke Jawa Timur. Kapal antarpulau yang mengangkut pakaian bekas impor yang secara total berjumlah 4.602 karung tersebut dulu dikirim lewat jalur Timor Leste, kemudian diarahkan ke Kendari. Lalu barang kemudian dikirim ke Tanjung Perak, Surabaya.

Modus ini baru pertama kali ditemukan, selama ini mayoritas pakaian bekas Malaysia diseludupkan di Pulau Sumatera tepatnya melalui ratusan pelabuhan tikus yang tersebar di sepanjang pantai timur Sumatera. Dari sana kemudian pakaian dikemas dan dikirim kembali melalui jalur darat hingga masuk ke berbagai kota besar di Pulau Jawa termasuk Jakarta.

“Modus ini dia menggunakan kapal antarpulau dari Malaysia lalu masuk perbatasan Kalimantan, lalu ke Sulawesi dan masuk ke Surabaya,” paparnya. Hingga saat ini ke-4.602 karung pakaian bekas impor tersebut masih ditimbun di gudang Kanwil DJBC Jawa Timur I menunggu penyelidikan lebih lanjut. (jpnn/asa/ce6)

Dosen pun Berburu Jas BJ

Larangan Kementerian Perdagangan terhadap penjualan pakaian bekas impor karena mengandung bakteri tidak dihiraukan pedagang dan pembeli. Di sejumlah pasar di Metropolis, penjualan pakaian bekas yang kerap disebut BJ itu tetap marak.

========================================

Pantauan Koran Ini, sejumlah pedagang pakaian bekas di Pasar Cinde seperti biasa tetap menjajahkan dagangan pakaian bekas yang telah mereka setok sejak seminggu lalu. Mereka tidak menghiraukan imbauan Kemendag yang melarang penjualan baju bekas akibat mengandung bakteri.

“Kalau larangan itu sudah lama dek, tapi sejauh ini aman-aman saja dan tidak ada keluhan dari pelanggan saya,” kata Misnan Hasan (65), seorang pedagang BJ di Pasar Cinde, saat dibincangi Koran Ini.

Misnan yang telah bergelut dengan bisnis baju BJ sejak tahun 1972 ini mengatakan, pelarangan baju BJ akibat bakteri bukan pertama kali, tapi sudah berkali-kali dilakukan Kemendag. “Dulu di Palembang juga pernah dirazia dan dimusnahkan baju BJ di Sungai Lais karena ilegal. Dan isu ini selalu muncul dek, kalau dulu dimusnahkan karena kata agen laporan dari pemilik toko baju yang tersaingi dangan BJ akibatnya tidak laku bajunya. Kalau sekarang, saya tidak tahu kenapa,” cetusnya.

Dijelaskan, baju BJ didapatkan pedagang melalui agen yang langsung datang ke pasar. Ada dua sistem pembelian, bisa langsung se-bal (sekarang) yang isinya sekitar 176 baju dengan berat 100 kg. Atau bisa dengan memilih sendiri hasil sortiran tapi harga lebih mahal dan minimal ambil 50 baju setiap membuka karung. “Untuk satu bal itu harganya Rp 3,5 juta, kebetulan saya memilih yang sortiran saja. Sebab, jika ambil sebal itu resikonya akan dapat baju yang jelek dan susah jualnya,” ungkap bapak sebelas anak ini.

Dalam sehari, lanjut warga 29 Ilir ini, pembeli baju tidak tentu, bahkan kadang tidak ada yang beli. Tapi, khusus untuk hari Minggu, biasanya pembeli cukup ramai dan pembeli ini dari semua kalangan. “Untuk celana saya jual seharga Rp 25-40 ribu. Sedangkan untuk jas Rp 125 ribu sudah satu pasang dengan celana. Yang membeli pun dari berbagai kalangan, kalau jas ini banyak dari kalangan dosen/guru, tahunya karena mereka cerita beli sekali banyak untuk ganti ngajar,” cetusnya.

Sebagai penjual baju BJ , ia berharap pemerintah memerhatikan nasib mereka. Jangan karena dilarang dengan begitu saja nantinya mengambil tindakan kepada pedagang yang hanya mencari uang untuk makan. “Kami ini-kan hanya mencari makan, kalau memang berbakteri tinggal cuci saja. Selama ini saya pakai BJ juga tidakada penyakit-penyakit yang tertular,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sumsel Permana menjelaskan, pakaian bekas sejak dari dulu sudah dilarang dan tidak boleh dipakai oleh masyarakat karena mengandung bakteri. “Tapi pasarnya tetap masuk dari pintu-pintu yang tidak kita rokemendir, kalau resmi pasti masuk Bea Cukai, jadi ini barang ilegal,” ungkap Permana.

Barang-barang ilegal tersebut, lanjutnya, berasal dari Eropa dan masuk melalui negara Malaysia, Thailand, dan Singapura. Lalu, masuk ke Indonesia melalui Pelabuhan Belawan, Batam, Samarinda dan Balikpapan di Pulau Kalimantan. “Selanjutnya sampai ke Palembang. Ada juga yang masuk dari Pelabuhan Kualenok, Jambi, dan Tarakan, Lampung, tapi itu skala kecil. Nah, untuk menindak ini kami tidak memiliki wewenang apa pun, karena yang resmi itu lewat Bea Cukai,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, sebenarnya barang bekas ini sampah warga Eropa dan biasanya digunakan untuk tanggap darurat bencana. Seharusnya, barang ini dimusnahkan, tapi justru dimanfaatkan sejumlah jaringan untuk dijual karena dinilai masih layak dan negara-negara yang masih berkembang menjadi tujuan, termasuklah Indonesia.

“Untuk di Palembang ini sudah merada penyebarannya, tapi memang pusatnya di Pasar 16 Ilir, bawah Ampera, Pasar Induk, Cinde dan sekitar Pasar Lemabang. Baju BJ ini sudah menyebar di kabupaten/kota walau pun tidak menyeluruh, dan mereka rata-rata mengambil barang di Palembang secara karungan,” jelasnya. Ditegaskan Permana, dalam seminggu ini pihaknya akan menggelar operasi terkait larangan Kemendag tersebut, melibatkan unsur Pol PP dan polisi untuk disita dan dimusnahkan. (mik/asa/ce6)

Pembeli Harus Selektif

Peminat BJ di Metropolis terbilang tinggi. Bahkan menyentuh semua kalangan. Umumnya pembeli tidak begitu paham akan dampak yang ditimbukan. Ini harus menjadi perhatian pemerintah setempat melalui instansi terkait guna melindungi warganya dari serangan penyakit berbahaya.

“Dinkes Sumsel memang belum pernah melakukan penelitian terhadap baju BJ. Hanya saja berdasarkan pemberitaan dan logika saja, baju bekas tersebut bisa saja terindikasi bakteri yang kemungkinan bisa berdampak kematian,” ungkap Kepala Dinkes Sumsel Dra Lesty Nurainy AP MKes melalui Kabid Pengendalian Masalah Kesehatan (PMK) dr H Matdani Nurcik M Epid.

Katanya, sampai saat ini memang belum ada laporan yang mengalami gangguan kesehatan terkait dengan baju bekas tersebut. Lanjutnya, masyarakat yang gemar membeli pakaian bekas impor diimbau waspada terhadap virus yang bsa menyebabkan penyakit kulit. “Saya punya pandangan terkait larangan pakaian impor bekas yang sudah ramai saat ini. Namanya pakaian bekas pastinya harus waspada bukan berarti tidak boleh membeli atau memakainya,” ucap H Matdani.

Menurutnya, penyakit yang bisa dibawa oleh pakaian yang sudah tersimpan lama dalam sebuah tempat yang digunakan untuk menyimpan pakaian impor bekas bisa disebabkan oleh jamur dan bakteri, kutu badan (kulit). “Biasanya kalau sudah mengetahui terdapat kutu badan, baju bekas harus dibuang atau dibakar karena akan berakibat virus dan bakteri yang menyebabkan herpes simplex, genital herpes, lalu gatal-gatal pada kulit,” terangnya.

Apalagi pecinta baju bekas itu memang sedang menderita suatu penyakit, besar kemungkinan kesempatan akan terkena penyakit terutama penyakit kulit. Ditanyakan apakah baju bekas bisa menyebabkan virus penyakit HIV/AID, Matdani menegaskan, baju bekas impor tidak bisa menularkan penyakit HIV/AID, menurutnya penularan penyakit tersebut karena human immunodeficiency virus hanya bisa terjadi melalui hubungan seksual dan pertukaran darah atau cairan tubuh. “Kalaupun kita baju orang HIV, tidak ada masalah,” katanya. (nni/asa/ce6)

Tindak Baju Bekas Impor

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menilai baju bekas impor yang masuk ke Indonesia banyak memberikan kerugian. Tak hanya mendatangkan penyakit karena bekas pakai, tapi juga merugikan industry garmen dalam negeri. Saat ini, pihaknya sudah mempersiapkan larangan impor pakaian bekas untuk melindungi kesehatan konsumen di Inonesia. “Impor ilegal pakaian bekas tidak hanya memberikan dampak panyakit pada konsumen Indonesia. Tapi juga merugikan industry garmen Indonesia,” ujarnya.

Ia menyakini jika impor pakaian bekas ini dihentikan, pasar dalam negeri akan sanggup melakukan ekspor. Potensi Indonesia di bidang garmen tidak kalah dengan negara lain. Buktinya sudah banyak, seperti pasar pakaian di Tanah Abang atau sepatu di Bandung. Malah, baru-baru ini diketahui pakaian produksi Indonesia diperdagangkan di Afrika. “Itu punya kemampuan, tapi kalau kita tidak jaga mereka, kita tidak akan mampu bersaingan dengan produk seerti itu,” sambung Gobel.

Untuk lebih melindungi industry dalam nengeri, lanjut dia, pihaknya juga akan membuat peraturan mengenai perdagangan barang bekas antardaerah. Sebelumnya, Direktorat Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen (Dirjen SPK) sudah mengadakan tes laboratorium terhadap sejumlah pakaian bekas. Dari tes lab itu ditemukan banyak baju bekas mengandung bakteri atau virus yang berbahaya bagi konsumen.

Meski begitu, Gobel sendiri mengaku tidak dapat menindak pakaian bekas impor yang sudah beredar di pasaran. Ini lantaran pihaknya sulit memastikan apakah pakaian bekas yang beredar berasal dari impor atau bukan. Selain itu, ditemukan juga barang selain baju yang berbahaya. Menurut Gobel, apel impor dan baju bekas yang belakangan ini ditemukan mengandung virus dan bakteri hanya kebetulan diketahui. “Itu yang kebetulan ketahuan, beum kepada produk holtikultura lainnya yang mengandung kimia ataupun apa,” tukasnya. (and/ce6)

Sumber: Sumatera Ekspres, MInggu, 8 Februari 2015

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: