Keraton Gaib Sungai Musi


Keraton Gaib Sungai Musi

Oleh: Yudhistira Manaf

Secara kasat mata, dia manusia biasa. Artinya, sebagaimana manusia kebanyakan. Tetapi, padasaat-saat tertentu, dia menjadi makhluk super. Dia mampu melenyapkan dirinya ke dalam pohon. Dia bisa terbang seperti kupu-kupu. Dia berjalan dipermukaan laut dan melesat bagaikan kilat

______________________________

Sebagai sahabat kecilnya, aku beruntung mengetahu kelebihan Arkahadi Azhar. Sejak kecil kami bersahabat dan aku sudah melihat kelebihan-kelebihan supranatural itu. Ayahnya orang biasa, ibunya juga orang biasa. Tetapi, kakek angkatnya, seseorang yang sangat menyukai Arkahadi Azhar, mengangkat dia anak gaib dan dijadikanlah dia manusiasakti mandraguna. Sang kakek angkat, arkian, bukanlah manusia biasa. Tetapi penguasa Sungai Musi, menunggu harta karun dan bekas Kerajaan Sriwijaya abad ke tujuh lalu.

Ketika kami sama-sama kecil di tepi Sungai Musi, Palembang, kami biasa mandi di pinggir sungai yang angker itu. Tidak beberapa jauh dari Jembatan Ampera, jembatan yang menghubungankan Seberang Ilir dan Seberang Ulu Kota Palembang. Pada saat kami kelas enam sekolah dasar, kami berdua iseng berenang menyeberangi Sungai Musi. Sebenarnya saya takut karena arus deras, tetapi, karena tantangan dari Arkahadi Azhar, maka aku beranikan diri karena gengsi.

Ya, kami lalu menyeberang dengan telanjang dada. Hanya memakai celana pendek karet, semacam sempak yang ketat untuk menghindari pornografi. Banyak nelayan, motor getek dan kapal jukung yang melintas menegur kami. Mereka meminta kami agar kami tidak berenang di daerah sangat berbahaya itu. Tetapi, kami hanya mengangguk, namun terus berenang menyeberangi sungai seluas lebih dari satu kilo meter itu.

Bagaikan mendapatkan kekuatan tambahan, aku mampu berenang dengan lurus, tidak hanyut ikut arus dan punya kekuatan penuh. Semua itu terjadi setelah Arkahadi meniup kepalaku sebelum kami beranjak berenang ke tengah meninggalkan tepian.

“Mana kepalamu, aku sembur, biar kau mendapatkan kekuatan tambahan,” katanya. Setelah disembur oelh ludahnya, badanku tiba-tiba menjadi ringan, dan aku mampu mengapung dan menyelam seperti ikan.

Semua teman bingung melihat kelihaian kami berdua berenang. Punya kecepatan, ketepatan dan akurasi renang yang menyakinkan. Namun, hanya itu yang dilakukan. Arkahadi tidak mau diajak ikut lomba berenang. Katanya, kakek gaibnya marah bila dia diikutkan lomba dan bersombong-sombong diri. “Kakek buyut ku tidak memperbolehkan aku ikut berlomba dan kompetisi apapun,” desisnya.

Kepadaku Arkahadi bercerita, sesungguhnya kakek buyut angkatnya itu, bertemu dia tatkala menyendiri di tepi Sungai Musi pada malam Jumat Kliwon, tengah malam. Kakek buyut berambut uban, bongkok dan memakai peci putih itu, memberinya makanan kecil. Makanan itu berbentuk seperti kue kering dan rasanya pahit sekali. Tapi Arkahadi dipaksa menelan makanan itu, lalu setelah itu, dia bisa berjalan di atas air dan terbang bagaikan kupu-kupu.

“Kakek buyut menyayangi dan gaib memerintahkan kakek buyut untuk mengangkatmu sebagai anak,” ungkap Si Kakek.

Arkahadi Azhar hanya diam. Dia menurut saja apa yang dikatakan Sang Kakek. Malam itu juga, Arkahadi Azha dibimbing ke rumah kakek. Sebuah rumah bagaikan istana raja, tempat yang luas dari batu marmer, dinding emas dan tiang-tiang batu pualam. Semua perhiasan di dalam kerajaan itu terbuat dari kristal, mutiara dan intan anjani murni.

“Tempat indah itu bukan di dunia biasa, tapi di alam gaib di tengah Sungai Musi. Bahkan, kerajaan itu, bukan pula kerajaan manusia, tapi kerajaan jin, kerena kakek buyut yang mengangkat aku anak itu adalah Raja Jin Alkobar, penguasa Sungai Musi,” cerita Arkahadi Azhar kepadaku.

Sebagai sahabatku, Arkahadi Azhar meminta agar aku tidak menceritakan kelebihannya itu kepada siapapun. Termasuk kepada orangtuaku, adik dan kakak-kakakku dan para teman kami di sekolahan. Aku setia kepada permintaan ini dan aku merahasiakan masalah itu hingga kami tamat sekolah menengah atas.

Dari SD hingga SMA, aku terus berteman dengan Arkahadi Azhar. Dia selalu bersamaku di mana pun aku masuk ke sekolah tertentu. Kamisebangku dan kami terus berteman hingga aku tamat SMA dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Yogyakarta. Sementara itu Arkahadi melanjutkan ke Kuala Lumpur, Malaysia dan tinggal dengan Pakciknya di Kuala Lumpur.

Sejak itu kami terpisah. Aku tak dapat lagi berkomunikasi dengan Arkahadi karena kala itu teknologi komunikasi belum secanggih searang. Aku kuliah sambil bekerja di Yogyakarta sementara aku mendengar Arkahadi kuliah dan bekerja di Kuala Lumpur dan Penang, Malaysia.

Jika aku pulang kampung ke Palembang, Arkahadi tidak pulang. Jika Arkahadi pulang, aku masih di Yogyakarta. Kami tak pernah pulang bersamaan hingga kami tak biisa bertemu di kampung. Aku hanya mendengar kabar tentang dia dari ibunya, dari ayahnya dan kakak-kakaknya di 10 Ulu, Palembang, rumah orangtuanya.

Setelah 40 tahun tdak bertemu, aku mencari Arkahadi di Malaysia. Ayah dan ibunya telah lama meninggal dan kakak-kakaknya kehilangan jejak menyangkut Arkahadi di Malaysia. Aku pun berangkat ke Kuala Lumpur, mencari dia di alamat lamanya di Kelening Elok dan mendapatkan kabar sesungguhnya dia telah pulang ke Palembang. Padahal tidak ada satu pun orang yang tahu, kalau Arkahadi ada di Palembang.

Dengan melacak jejak secara mistik, aku melakukan ritual di Sungai Musi selama lima malam. Malam ke enam aku mendpatkan jalur jejaknya, bahwa dia mukswa di Sungai Musi. Dia masuk kerajaan gaib sebagaimana yang diceritakannya ketika kecil kepadaku. Untuk dapat masuk ke alam mistik kerajaan gaib Sungai Musi, aku harus mendapatkan kunci pintu gaib itu.

Maka itu, setiap malam aku melakukan ritual. Aku membaca mantra-mantra yang pernah diajarkan Arkahadi kepadaku ketika kami kecil. Alhamdulillah, mantra yang masih aku ingat itu, berhasil menjadi anak kunci untuk untuk membuka alam gaib, aku masuk dalam kerajaan gaib Alkobar, keraton Sungai Musi yang diisi oleh harta karun Kerajaan Sriwijaya adab ke tujuh yang lampau.

Aku bertemu Arkahadi dalam keadaan kami sama-sama tua. Aku berumur 58 tahun dan Arkahadi berusia 59 tahun. Kami berpelukan erat dan Arkahadi memintaku untuk tinggal dalam kerajaan bersamanya selamanya. Tetapi, aku nohon maaf, karena aku meninggalkanempat anak dan istri di alam nyata. Aku masih dibutuhkan untuk memberi nafkah kepada istri dan anak-anakku di dunia. Sementara Arkahadi tidak pernah menikah dengan manusia biasa, di mana dia di kelilingi 12 dayang cantik, istri-istri tercintanya di alam gaib ginaib. Dia menjadi raja penerus Alkobar, menguasai keraton Sungai Musi yang super ginaib.

Arkahadi memahami tentang keberadaanku sebagai manusia biasa. Seorang manusia yang masih hidup dan masih dibutuhkan di dunia oleh keluarga, istri dan anak-anak. Untuk itulah, setelah tujuh hari tujuh malam dalam kerajaan gaib Sungai Musi itu, aku diizinkan pulang ke dunia dan aku kembali ke keluargaku di Yogyakarta.

Namun, dari kerajaan gaib, keraton Sungai Musi itu, aku diberi emas batangan oleh Arkahadi Azhar dan emas itu aku bisa tukarkan dengan uang di Logam Mulia. Dari uang itu aku bisa membangun rumah, membeli kendaraan dan membantu pesantren serta panti yatim di Yogyakarta dan sekitarnya. Emas itu nyata dan semua benda gaib bisa maujud karena diberikan Arkahadi, yang kini menguasai keraton Sungai Musi tersebut.

Sahabat sejatiku ini, tidak bisa dikatakan masih hidup dan tidak bisa pula disebut sudah mati. Dia raib ke alam gaib, dia migrasi alam, pindah dunia ke dimensi supranatural, yang disebut mukswa. Alam antahberantah tetapi ada dan tidak bisa diabaikan karena bukan hanya saya, banyak orang yang mengalami hal itu dan benar-benar nyata.

Belakangan, aku berusaha menemui Arkahadi di keraton gaibnya. Aku pulang bersama keluarga besarkudan mereka aku tempatkan di salah satu hotel yang ada di Palembang. Sementara aku pergi ke Sungai Musi, ke Pulau Kemaro untuk membuka kunci pintu gaib dengan mantra-mantra sakti pemberian Arkahadi. Sayang, hingga tujuh malam aku ritual di Pulau Kemaro, tengah Sungai Musi itu, aku tidak mampu lagi masuk ke keraton gaib Alkobar dan tidak dapat menemui sahabatku Arkahadi Azhar. Mantra itu tiba-tiba tidak ampuh lagi dan tidak bisa lagi menjadi kunci pembukaalam gaib, di mana sahabat baikku ada di dalamnya.

Malam ke delapan, aku mendapat bisikkan dari Pulau Kemaro, dari Arkahadi yang mengatakan dia tidak dapat aku temui lagi karena sifat dunia ku yang dominan. Syahdan, ternyata aku tidak boleh mendatangi keraton gaib karena harta, karena meteri yang dijadikan untuk kekayaan.

Boleh datang, tapi hanya sekedar silaturrahmi, bukan dengan motivasi untuk meminta harta benda dari alam keraton gaib tersebut. Memang niatku, mau bertemu Arkahadi untuk meminta lagi emas batangan seperti yang diberikannya beberapa waktu lalu kepadaku. “Tidak, kau tidak akan mendapatkan emas itu lagi, bahkan kau tidak akan bisa bertemu aku lagi selamanya,” bisik Arkahadi Azhar, ke telingaku.

Sejak itu aku pulang kembali ke Yogyakarta bersama keluarga besarku. Kami terbang ke bandara Soekarno-Hatta lalu lanjut terbang nyambung ke bandara Adi Sucipto, Yogyakarta dan pulang ke rumah kami yang permanen di Kutu, Sleman, Yogyakarta Utara.

Hingga detik ini aku tidak dapat bertemu lagi dengan sahabat kecilku ini. Bahkan, jangankan bertemu, mendengar biikannya pun, tidak dapat lagi aku lakukan. Dia marah dan dia menjauhiku karena sifat dunia yang dominan. Kata kyaiku, Kyai Haji Mukron Hasan, 86 tahun, berhubungan dengan gaib tidak boleh serakah. Cukup boleh, tapi tidak untuk kaya raya.

Katanya, karena aku ambisi besar untuk kaya raya, maka gaib marah dan sabahat sejatiku itu menjauhi diriku. Bahkan, dia tidak akan menganggap aku sahabatnya lagi untuk selamanya. Hatiku gundah gulana, sangat bimbang dan galau. Aku ingin minta maaf, menyesal dan tidak akan mengulangi ambisi itu lagi.

Namun, bagaimana caranya dan kapan aku bisa bertemu lagi dengan Arkahadi? Entahlah, aku hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Allah Yang Maha Agung. Hanya kepada-Nya aku menggantungkan diriku dan berserah sedalam-dalamnya. Bila Allah menghendaki, tidak ada yang tidakk mungkin terjadi di kolong langit ini. Termasuk, menerima maaf dan dapat jumpa lagi Arkahadi Azhar sahabat baikku.

Sumber: Misteri Edisi 596 Tahun 2015

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: