BKB dan Rencana Lama Pemda Menjadikannya Objek Wisata “Terbuka”


Unik Karena Peninggalan Pribumi, Kesulitan Lahan Pengganti

BKB dan Rencana Lama Pemda Menjadikannya Objek Wisata Terbuka
Benteng Kuto Besak (BKB) yang menjadi salah satu bangunan heritage masih berdiri kokoh hingga sekarang

________________________________________

Siapa tak tahu Benteng Kuto Besak (BKB)? Lokasinya di kawasan Monpera, Jembatan Ampera, dan di pinggir Sungai Musi. Sudah lama ada wanca menjadikan bangunan peninggalan sejarah ini sebagai objek wisata “terbuka”. Sayangnya, rencana itu tak kunjung terwujud.

================================

Dian Cahyani – Palembang

================================

Timbul tenggelam. Kata itu mungkin tepat menggambarkan rencana pemerintah daerah, baik provinsi maupun Kota Palembang untuk mengoptimalkan daya tarik wisata BKB. Wisatawan hanya dapat leluasa menikmati kondisi di luar tembok tinggi benteng. Sedangkan bagian dalamnya dikuasai TNI, dalam hal ini Kodam II/Sriwijaya.

Menjadi aset militer, tentu tak boleh sembarangan orang masuk ke sana. Kondisi itu pula yang menyebabkan keberadaan BKB sebagai bangunan kuno bernilai sejarah (heritage), tak termanfaatkan secara maksimal.

Usut punya usut, tak hanya Pemprov Sumsel yang punya keinginan untuk mengoptimalkan BKB Sumsel, khususnya Palembang, Pemkot Palembang juga sudah menyusun rencana. “Inginnya BKB sebagai bangunan heritage menjadi objek wisata terbuka. Dalam artian, masyarakat dan wisatawan bisa bebas datang ke sana dan melihat detail dari bangunan keraton abad XVIII yang pernah menjadi pusat Kesultanan Palembang itu,” kata Ahmad Zazuli, Sekretaris Disbudpar Kota Palembnang.

Pemkot sendiri sudah lama mempunyai rencana untuk menjadikan BKB yang merupakan bangunan heritage sebagai salah satu objek wisata. “Tujuannya agar masyarakat bisa dengan bebas datang ke BKB dan melihat setiap detail bangunan yang ada di dalamnya,” bebernya.

Diwacanakan pula relokasi warga kini mendiami rumah-rumah bagian dalam bangunan kesultanan itu. Termasuk lahan pengganti untuk rumah sakit (RS) AK Gani dan Akper Kesdam. Diperlukan izin dan persetujuan Panglima TNI. Karena itulah recana ini harus dikaji lagi. Terutama dalam hal penyediaan lahan. Jika benar Kesdam II dan Akper Kesdam disetujui pindah dari sana, sudah tentu diperlukan lahan baru. Pemkot Palembang siap bekerja sama dengan Pemprov Sumsel untuk menyediakan lahan seluas itu.

Pemkot tidak punya lahan seluas itu. “Provinsi mungkin masih mempunyai lahan yang luas,” kata Zazuli. Karena itu, rencana merelokasi aset TNI dan para penghuni yang saat ini masih bertahan di rumah-rumah dalam benteng cukup sulit. Padahal, BKB punya keunikan dibanding benteng-benteng lain di Indonesia. Zazuli menuturkan, hampir semua benteng merupakan peninggalan penjajahan Belanda, tidak demikian halnya dengan BKB. Benteng ini peninggalan pribumi karena dibuat langsung mulai masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB ) I tahun 1724-1758.

Pelaksanaan pembangunannya dilanjutkan Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin sosok tokoh Kesultanan Palembang Darussalam yang realitis dan praktis dalam perdagangan internasional.

Dia seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagi pusat sastra agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan, ia pindah dari Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Benteng ini mulai dibangun pada 1780 dengan arsitek yang tidak diketahui secara pengerjaannya. Pelaksanaan pengawasan pekerjaan dipercayakan pada seorang keturunan Tionghoa. Semen perekat bata menggunakan batu kapur yang ada di daerah pedalaman Sungai Ogan ditambah putih telur. Lamanya pembangunan keraton ini sekitar 17 tahun. Keraton ini ditempati secara resmi pada hari Senin, 21 Februari 1797.

“Dengan kata lain, BKB merupakan warisan kebudayaan Palembang asli. Selain itu, pembuatannya pun sangat unik karena menggunkan batu kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekat batu,” tuturnya.

Dengan keterbatasan masuk ke bagian dalam, Disbudpar Palembang terus membuat pelataran BKB menjadi ruang publik dan tempat nongkrong yang nyaman.

Keberadaan pedagang mi tek-tek dan lainnya terus ditertibkan. Begitu juga persoalan parkir. “Masalah parkir akan lebih ditata. Kalau malam hari, masyarakat bisa memarkirkan kendaraannya di halaman Kesdam II/Sriwijaya karena mereka sudah bisa membantu dalam hal parkir. Juga disarankan untuk parkir di sekitar bawah Ampera dan samping Monpera,” imbuh Zazuli.

Adanya rencana untuk membuka akses masuk ke dalam BKB agar lebih optimal sebagai objek wisata dibenarkan Kepala Bappeda Palembang, Safri H Nungcik. “Memang Pemkot berencana untuk menjadikan BKB lebih optimal sebagai salah satu objek wisata. Rencana itu bekerja sama dengan provinsi (Pemprov),” tandasnya.

Mencuatnya kembali rencana lama itu disikapi bijaksana oleh Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Iskandar M Sahil. Di sela kunjungan ke Graha Pena, belum lama ini, orang nomor satu di jajaran Kodam II/Sriwijaya itu mengatakan belum ada pembicaraan lebih lanjut terkait rencana relokasi BKB. “BKB diterima Kodam melalui penyerahan dari penjajah. Sampai sekarang tetap kami kuasai,” tegasnya.

Selain aset perkantoran, di dalamnya ada perumahan yang sebagian besar sudah dikuasai warga sipil. “Itu sulit untuk dipindahkan. Kalau hanya untuk akses masuk dalam rangka pengembangan wisata, saya rasa bisa dibicarakan. Tidak ada masalah, tinggal atur saja waktunya. Kami sangat terbuka,” tukasnya. (*/ce4)

Sumber: Sumatera Ekspres, selasa, 13 Januari 2015

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: