Kaji Ulang Adipura Palembang


Kaji Ulang Adipura Palembang
Kokoh Berdiri: Tugu Adipura Kencana menambah deretan tugu di Metropolis sebagai lambang keberhasilan dalam bidang kebersihan dan pengelolaan lingkungan hidup

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Pemberian Adipura dari pemerinth pusat kepada Kota Palembang perlu dikaji ulang. Pasalnya, dilihat dari ruang terbuka hijau kota pempek ini masih sangat minim. Sehingga tidak memenuhi kriteria UU No 26/2007 tentang Tata Ruang.

________________________________________

Direktur Eksekutif Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko, mengungkapkan, secara UU setiap daerah atau kota harus memiliki 30 persen dari luas kota untuk dijadikan ruang terbuka hijau publik. Namun di Palembang saat ini hanya 3 persen. Artinya pemerintah yang memberikan penilaian dan pemberian Adipura harus benar-benar memperhatikan hal tersebut. “Saya berpendapat, Adipura Palembang harus dikaji ulang,” ucap Hadi.

Jika tidak, maka penghargaan itu hanya dijadikan prestise. Saat ini Adipura hanya dijadikan gengsi bagi kota yang terpilih. Padahal beberapa unsur semestinya belum memenuhi kriteria. Beberapa lokasi kawasan hijau publik di Kota Palembang telah dialihfungsikan untuk kebutuhan komersil privat. Seperti GOR menjadi Palembang Icon atau PSCC, lahan parkir jadi under mall. Semestinya ini tidak boleh, sebab menghancurkan kenyamanan kota serta pencemaran polusi udara.

Menurutnya pemerintah memiliki kewajiban untuk mengadakan ruang terbuka hijau publik. “Fungsinya selain untuk keindahan kota, juga tempat pertukaran udara segar. Wajar jika kota gersang dan panas jika tidak memiliki ruang terbuka hijau,” kata dia.

Menurutnya, sebelum dibangun under mall lokasi tersebut dulu digunakan untuk tempat pendidikan dan olahraga. Tapi saat ini telah jadi komersil sehingga masyarakat harus bayar untuk ke lokasi tersebut. “Seharusnya ini tidak boleh dialihfungsikan sebab untuk kebutuhan publik,” tegasnya.

Memang kata Hadi, penerimaan Adipura ada beberapa kriteria penilai. Tapi salah satunya adalah ruang terbuka hijau publik dan kualitas air bersih. Semestinya menerima Adipura menjadi acuan bagi pemerintah untuk meningkatkan kesehatan kota. Baik dari lingkungan maupun kebersihan air sungai.

“Kita memiliki sungai terkenal, yakni Sungai Musi tapi kondisi airnya saat ini sangat memprihatinkan, penuh dengan limbah sehingga air tidak layak untuk dikonsumsi,” tutur.

Jadi, menurutnya, penerimaan Adipura tersebut harus dievaluasi. Karena beberapa penilaian tidak memenuhi standar kriteria kota yang sehat dan bersih. “Kalau penerimaan Adipura hanya untuk simbol, maka tidak ada keuntungan bagi masyarakat selain gengsi pemerintah,” tukasnya.

Semenrata itu, salah satu SKPD yang terlibat langsung menyukseskan raihan Adipura Kencana, yakni Dinas Penerangan Jalan, Pertamanan dan Pemakaman (DPJPP) Kota Palembang. Tugas utama mereka tidak lain meramu kota ini dari sisi keindahan, terutama pertamanan dan penerangan.

Sekretaris DPJPP Palembang, Novran, mengatakan, dalam rangka mempertahankan raihan prestasi Adipura Kencana secara global kita tetap menjaga dan merawat taman kota, jalan beserta lampu sesuai dengan funggsi kami.

Dijelaskan, saat ini pihaknya memiliki enam taman kota yang menjadi jantung penilaian Adipura. Di antaranya, taman kota Kambang Iwak, taman Polda, taman POM IX Kambang Iwak Kecil, taman di Jl Kol H Barlian KM 6, Taman Danau depan RSI Khadijah dan sejumlah taman kecil lainnya. “Untuk lampu tetap kita rawat dan jika ada laporan yang mati atau rusak segera kami benarkan,” ungkap Novran.

Mengenai anggaran, lanjutnya secara global untuk pertamanan dan penerangan, DPJPP mengusulkan anggaran dari APBD Kota Palembang 2015 sebesar Rp 12 M. “Khusus untuk perbaikan dan mempercantik lampu, anggarannya sebesar Rp 750 juta-Rp 1 miliar. Ini yang kami usulkan dan mudah-mudahan dikabulkan dalam rangka memperindah dan mempercantik kota,” paparnya.

Pihaknya optimis, Kota Palembang mampu memertahankan Adipura Kencana. Selain itu, ini juga dalam rangka mewujudkan Palembang EMAS (Elok, Madani, Aman, dan Sejahtera) 2018. “Kami juga mengimbau partisipasi masyarakat untuk bersama menjaga taman dan lampu kota. Tidak hanya itu, kami juga mengajak warga ikut menanam dan memerindah kota karena pemerintah tidak bisa berdiri sendiri,” pungkasnya. (art/mik/nni/asa/ce1)

Butuh 700 TPS, Minim Truk Pengangkut Sampah

Pengelolaan Libatkan Empat Kecamatan
Agung Nugroho Kelapa Dinas Kebersihan kota Palembang mengatakan, Palembang yang memiliki penduduk 1,8 juta jiwa menghasilkan sampah sekitar 600-700 ton per hari. Terkait hal itu, ada beberapa kendala. Seperti minimnya truk pengangkut sampah.

“Saat ini baru ada 95 truk sampah. Semuanya dalam kondisi baik,” ujarnya. Dulu, volume sampah berkisar 400-500 ton per hari. Namun, dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, termasuk berkembangnya bisnis kuliner rumah tangga, volume sampah pun meningkat.

Sampah dari seluruh Palembang diangkut ke TPA Sukawinatan yang memiliki luas 25 hektare. Ia mengaku, saat ini masih kekurangan lahan tempat pembuangan sampah (TPS). “Saat ini baru sekitar 400-an TPS resmi yang dikelola DKK, selebihnya berasal dari swadaya masyarakat. Masih butuh sekitar 700-an TPS lagi,” katanya.

Ia menegaskan berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 27 Tahun 2011, larangan membuang sampah bagi yang melanggar akan dikenakan kurungan penjara selama tiga bulan atau denda Rp 50 juta. Dari keseluruhan luas lahan TPA Sukawinatan, dilengkapi kolam retensi yang berfungsi menampung limbah. Khusus untuk lokasi pembuangan sampah 15-20 hektare. “Melihat kondisi ini bisa dipastikan 10-15 tahun ke depan TPA Sukawinatan masih aman menampung sampah. Kita juga memisahkan antara sampah organik dan anorganik,” ucapnya.

Kata Agung lagi, sebagai pemanfaatan sampah, pihaknya melakukan pengelolaan secara khusus. Yakni dengan cara diratakan, dijadikan pupuk, pogram 3R (reduce, reuse, and recycle). Pola ini menerapkkan pemanfaatan sampah sebaik mungkin. “Ada sekitar 60 petugas terdiri dari petugas 3R, pembuat pupuk, petugas kebersihan, pegawai perkantoran dan lainnya.

Setelah berhasil mendapat bantuan dari Kementerian ESDM untuk pembangunan PLTSa pertama di Indonesia, pihaknya mendapat bantuan dari JICA (Japan Internasional Coorperation Agency) untuk penglahan sampah dan beberapa kegiatan lain yang berhubungan dengan “sampah”

Armansyah ST, Kasi Pembinaan Kebersihan Lingkungan Masyarakat DKK Palembang menambahkan. “Di Indonesia, hanya ada dua daerah yang dipilih untuk mendapatkan bantuan dari JICA yakni Palembang dan Balikpapan. Untuk kegiatannya sendiri meliputi empat aspek. Masing-masing regulasi yang akan menghasilkan perda persampahan, master plan, management data, dan pilot project,” ucapnya belum lama ini.

Lebih lanjut diungkapnya, tahap awal ada empat kecamatan yang dilibatkan langsung serta dibina dalam kegiatan tersebut. Yakni di Kecamatan AAL, tepatnya di Perumnas Talang Kelapa, Kecamatan Kalidoni Bukit Sangkal, Kecamatan SU II Kelurahan Sentosa, juga di Kecamatan IB I Poligon.

Khusus Kecamatan AAL Perumnas Talang Kepala, tim DKK bersama tim JICA sudah melakukan tinjauan langsung ke lapangan dan dipilih 1.203 KK yang akan dilibatkan langsung. “Berdasarkan survey di lapangan dan hasil diskusi dengan ketua RT di sana, ada 1.203 KK dengan 14 RT yang akan terlibat langsung,” bebernya. Masih kata Armansyah, masyarakat diajak dan dibina untuk melakukan pemilahan sampah sendiri mulai dari sampah organik, anorganik. (nni/asa/ce1)

Optimis Kembali Raih Adipura Kencana

Palembang berhasil menjadi nomor 7 kota yang layak huni di Indonesia. Itu terbukti dari prestasi Kota Palembang yang berhasil menyabet Adipura sebanyak 7 kali berturut-turut. Bahkan, pada 2014 lalu berhasil meraih Adipura Kencana. Berikut wawancara Sumatera Ekspres dengan (Plt) Wali kota Palembang, Harnojoyo.

Anda yakin Palembang mampu mempertahankan Adipura Kencana?

Tentu sangat yakin. Dengan catatan, kita bersama-sama mendukung program tersebut. Dengan cara semaksimal mungkin menjaga kebersihan dan melestarikan segala infrastruktur yang ada.

Apa yang sudah dilakukan?

Kita terus fokus menjaga kebersihan, keindahan dan kesejukan kota. Penataan tata ruang kota yang apik dan nyaman. Kita juga konsen terhadap ruang terbuka hijau, sehingga Palembang benar-benar asri.

Instansi apa saja yang dilibatkan?

Banyak mulai dari BLH bertugas menjaga lingkungan, DKK untuk mengatur sampah, DPJPP untuk mengurus soal penerangan dan pertamanan kota.

Berapa lama persiapan?

Persiapan dilakukan terus setiap tahun, karena tidak hanya mengharapkan Adipura tapi untuk kenyamanan dan kebersihan kota. Apalagi, sudah kewajiban pemerintah kota untuk terus menata Palembang menjadi asri. Terbukti, banyak wisatawan yang banyak berkunjung ke Palembang.

Apa saja yang telah dibangun?<

Pembangunan PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) di TPA Sukawinatan, ini akan jadi penilaian untuk memenangkan Adipura kembali. (chy/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Minggu, 11 Januari 2015

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: