Sumsel Darurat KDRT, Perceraian Meningkat


Dipicu Cemburu, “Tangan Bicara”

Sumsel Darurat KDRT, Perceraian Meningkat
Seorang ibu muda melaporkan kasus KDRT yang dialaminya ke Mapolresta Palembang belum lama ini

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Sumsel, khususnya Kota Palembang, cukup mengkhawatirkan. Himpitan ekonomi dan perselingkuhan menjadi penyebab utama meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Perempuan dan anak masih menjadi objek utama KDRT, harapan perlindungan dan pemenuhan hak yang diinginkan masih jauh dari harapan. Kekerasan ini terjadi pada semua tingkat kehidupan dan status sosial, baik pelaku maupun korban. Sementara perempuan yang terjebak dalam KDRT ini, tidak jarang juga menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri.

Untuk diketahui, kekerasan dalam rumah tangga atau disingkat KDRT adalah kekerasan yang dilakukan di dalam sebuah rumah tangga baik oleh suami maupun istri. Menurut Pasal 1 UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), KDRT adalah adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.

Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersuborinasi di dalam rumah tangga itu. Pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembantu rumah tangga yang tinggal di rumah.

Data Women’s Crisis Center (WCC) Palembang menyebutkan, KDRT masih tinggi di wilayah hukum Sumsel. Setidaknya, hingga November tercatat 65 kasus KDRT yang dilakukan pendampingan. Angka tersebut diprediksi akan betambah mengingat laporan dan pengaduan Desember belum masuk.

“Jika dibandingkan dengan tahun lalu sebanyak 67 kasus. Maka kasus yang terjadi pada 2014 ini meningkat, karena Desember ini banyak sekali laporan yang belum terdata. Bahkan sudah ada dua orang yang komunikasi melalui telephone,” ungkap Direktur Eksekutif WCC Palembang, Yeni Roslaini Izi.

Kekerasan KDRT ini terbnyak dialami perempuan di wilayah Sumsel, setelah kasus pelecehan seksual. Perbandingan tahun 2013, dari total 234 kekerasan, 29 persen diantanranya KDRT. Sementara istri terbanyak menjadi korban kekerasan mencapai 80 persen. Sedangkan sisanya, dialami anak-anak dan pembantu rumah tangga (PRT). “Dari data total perkara sebanyak 254 kasus sampai November, berarti KDRT ini mencapai 25 persen secara total,” ungkapnya.

Diungkapkan, hasil pendampingan menunjukkan perempuan pelaku KDRT terlebih dahulu menerima kekerasan oleh suami karena dalam kondisi tekanan ekonomi. Selain itu, terlebih dahulu mengalami kekerasan psikis oleh suaminya. “Misalnya cemburu, dugaan selingkuh dengan perempuan lain dan berad pada tingkat depresi yang tinggi,” tukasnya.

Ia menilai, meningkatnya pengaduan dan laporan ini dikarenakan mulai beraninya perempuan untuk terbuka dan menganggap KDRT bukanlah masalah individu. Apalagi, kekerasan yang dialami sudah sampai menggunakan alat dan bahkan sampai melukai.

“Seringkali rasa bersalah dan malu serta menganggap urusan keluarga aib membuat korban enggan melaporkan peristiwa yang dialami atau membicarakannya dengan orang sekitar karena takut menerima vonis dari lingkungannya.. Nah, saat ini perempuan mulai berani sehingga wajar jika laporang meningkat,” urainya.

Lanjutnya, kekerasan terhadap perempuan dapat dialami dan dilakukan oleh semua lapisan masyarakat, profesi, usia, status, sosial, berpendidikan atau tidak. Sementara KDRT ini merupakan delik aduan yang sulit menjerat pelaku jika tidak melapor. “KDRT ini terus berlanjut jika tidak dihentikan. Bahkan akan berulang kali dan bahkan menggunakan senjata. Makanya dalam dalam beberapa tidak tidak hanya korban yang didampingi, tapi juga pelaku,” tuturnya.

Ditambahkan Yeni, dalam hal advokasi pihaknya melakukan dua cara. Yakni, pertama mendampingi kepentingkan korban di sepanjang peradilan. Kedua, membantu dalam membentuk konsultasi menyikapi proses pengadilan termasuk membuat konsep gugatan dan sebagainya. “Kami dalam mendampingi mengutamakan proses mediasi, dan mengingatkan korban untuk tidak buru-buru mengambil jalur hukum. Semuanya pendampingan tetap mensyaratkan persetujuan dari korban. Sementara Pengadilan Agama tidak menggunakan UU PKDRT sebagai acuan, sebab pemisahan antara perkara perdata dan pidana. Peraturan ini jelas tidak menguntungkan bagi perempuan korban untuk mendapatkan keadilan,” tukasnya. (mik/asa)

Anak Bisa Dendam

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Palembang, Adi Sangadi SH, mengatakan, banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berimbas kepada anak-anak. Baik secara psikis maupun secara fisik atau langsung dan tidak langsung. “Sejumlah kasus yang kami dampingi, akibat orang tua bertengkar menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak-anak,” kata Adi kepada Koran Ini, kemarin.

Dikatakan Adi, sejumlah kejadian KDRT ini berakhir di pengadilan agama (PA) yang akhirnya orang tua bercerai. Pascacerai, mereka memperubtkan hak asuh anak. Inilah yang kami sebut efek langsung terhadap anak, seakan dilemparkan dan diperebutkan. “Selama 2014 ini ada 17 kasus terkait hak asuh anak ini yang melibatkan KPAID Palembang. Parah lagi, ada anak yang ikut mengalami kekerasan akibat KDRT kedua orang tua mereka. Kalau masalah psikis jelas pasti mereka alami,” ungkap Adi.

Sementara jangka panjangnya, menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi anak. Ia bahkan dendam kepada orang tuanya, apalagi sudah meranjak dewasa mendapatkan kekerasan fisik, yang akhirnya anak berusaha membalas atau berani menentang bapaknya karena membela ibunya. “Perceraian sebab KDRT ini juga membuat pengawasan anakmenjadi lepas, sehingga mereka berusaha mencari pelarian atau bahkan berkumpul dengan teman-temannya sekedar untuk pelampiasan. Ini juga yang menjadi faktor penyebab kenakalan pada anak memasuki usia remaja,” tuturnya.

Bagian lain, anak mendapatkan hukuman masyarakat dan menjadi minder terhadap teman-teman sejawatnya. Ketika depresi yang dialami anak sangat tinggi, kemudian tidak ada orangtua yang mendampingi dan memberikan kasih sayang, maka anak juga bisa berpikiran pendek sampai bunuh diri. “Sebaiknya bagi orang tua menghindari KDRT, apalagi sampai bercerai. Jelas ini membuat imbas negative bagi anak. Dalam berumah tangga memang musyarawarah keuangan ini penting, sehingga menghasilkan win win solution,” pungkasnya. (mik/asa)

Komentar

Suami Tempramental

Pengadilan Agama Kelas I A Palembang melansir, kasus KDRT merupakan salah satu pemicu perceraian rumah tangga. “Memang ada faktor penyebab lainnya. Tapi setidaknya, dari sekian penyebab perceraian tersebut kasus KDRT yang masuk dalam kategori kekejaman jasmani mencapai 183 kasus sepanjang tahun 2014,” ungkap Drs H Syamsul Bahri SH MM, Hakim sekaligus humas di Pengadilan Agama Kelas I A Palembang.

Jika kita amati dari angka itu, tentunya sangat memprihatinkan. Bisa saja ada kasus KDRT lainnya yang korbannya tidak melaporkan ke lembaga hukum. Sehingga tidak tercatat. “Penyebab dari KDRT sendiri karena suami cenderung temperamental, itu tidak dipengaruhi oleh minuman keras dan narkoba. Selain itu penyebab lainnya karena cemburu atau himpitan ekonomi,” katanya.

Dari data yang diihimpun Pengadilan Agama Kelas I A Palembang, ada beberapa faktor penyebab perceraian. Ini yang menjadi tanggung jawab kita semua. “Kita harus memberikan pemahaman bagi masyarakat, dan itu tanggung jawab kita semuanya. Artinya, tidak semata-mata dibebankan kepada orang tua, tokoh agama, atau Pengadilan Agama melainkan semuanya harus terlibat,” imbuhnya.

Apalagi, kasus perceraian ini menimpa usia produktif. Antara 25-40 tahun. “Sayang kan, kalau rumah tangga yang sudah terbina malah rusak. Tentunya anak akan imbas dari perceraian orang tuanya. Itu yang harus diperhatikan,” katanya. Memang, Pengadilan Agama terus memberikan pengertian dan pemahaman,, yakni melalui mediasi. Agar langkah perceraian itu tidak diambil. Tapi, semuanya dikembalikan kepada kedua belah pihak. (asa)

Kekeliruan Sosialisasi Peran Gender

Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Palembang Nurindah Fitria MPsi, mengatakan, perempuan kerap dijadikan korban KDRT karena kekeliruan sosialisasi peran gender yang terjadi pada masyarakat.

Selama ini laki-laki disosiaslisasikan sosok yang kuat, berkuasa dan patut dihormati. Sebaliknya peran gender perempuan haruslah lembut, pasif dan menerima apapun yang dilakukan laki-laki. “Nah, sosialisasi demikian membuat laki-laki terlalu berlebihan menghayati peran gendernya sebagai sosok yang menguasai, sebliknya perempuan sosok yang dikuasi,” ucapnya.

Sehingga lanjut dia, saat berada di rumah tangga, kekerasan dapat terjadi karena kurangnya penghormatan kepada perempuan. Sebagai kaum lemah, tidak perlu dipentingkan haknya. Nurindah yang juga psikolog anak dan remaja Rumah Sakit Hermina Palembang ini menjelaskan, jika dilihat lebih dalam pada kasus KDRT yang terjadi, akan terlihat pihak si laki-laki adalah pria dengan sosialisasi gender konvensional seperti yang disebutkan sebelumnya. “Bahwa mereka bisa melakukan apapun kepada istri atau bahkan anaknya karena mereka berkuasa atas istri dan anaknya,” ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, adanya andil peran gender bahwa perempuan itu harus lembut, tidak boleh berontak dan lainnya, membuat ia tidak bisa melawan terhadap kekerasan yang ia alami. Biasanya juga korban adalah tipe perempuan yang sangat menggantungkan kehidupannya terhadap suami. “Sehingga ketika terjadi kekerasan pada dirinya, dia tidak bisa melakukan apapun karena biasanya mendapat ancaman secara langsung ataupun tidak bahwa hidupnya tidak akan dinafkahi lagi oleh suami,” urainya.

Masih menurut Nurindah, pada akhirnya kondisi ini seperti lingkaran yang tak berujung. Karena di satu sisi perempuan merasa bahwa ia harus bebas tetapi di sisi lain ia membutuhkan suaminya untuk tetap hidup atau kadangkala untuk mendapatkan kasih sayang. “Bahkan terkadang alasan beberapa wanita tidak bisa lepas dari kondisi ini adanya nilai “tidak mau jadi janda”, “ini hal yang wajar”, atau “tidak ada kata cerai dalam keluarga”. Inilah yang makin membuat perempuan terjebak dalam KDRT,” paparnya.

Ditambahkannya, secara psikologis KDRT ini berdampak sangat banyak. Si perempuan sendiri lama-kelamaan bisa kehilangan kepercayaan dirinya, karena ia selalu dan selalu direndahkan oleh suaminya sendiri bahkan disakiti. Ia pun merasa selalu terancam bahkan ketakutan jika ada suaminya. “Istri selalu takut melakukan sesuatu karena alih-alih membuat senang suaminya malah mebuat marah suaminya yang akhirnya makin lama makin menurunkan penilaian keberhargaan dirinya sendiri.”

Ia mengatakan, untuk menghindari KDRT ini bisa dilakukan semenjak mengenal sebelum menikah. Jika sejak sebelum menikah menemukan tanda-tanda bahwa pasangan sulit sekali diajak berdiskusi, sulit ditentang, atau bahkan seringkali marah yang meledak-ledak, harus mulai berhati-hati. “Ciri lain biasanya mereka bersikap agak posesif, cukup banyak melarang kita berhubungan dengan orang lain bahkan hanya sekedar teman biasa. Paling buruk jika ia sudah mulai melakukan kekerasan bahkan sebelum menikah,” ingatnya.

Jika memang sudah terjadi dan berada dalam posisi ingin sekali keluar dari kondisi ini, ingatnya, ada baiknya perempuan mulai mengenali kelebihan diri dan mulai mengatur mendapatkan penghasilan sendiri. “Kesulitan perempuan yang pertama adalah mengenai finansial jadi kalau pun mau berpisah cara penguatan finansial untuk dirinya dahulu. Kemudian, carilah orang yang dirasa bisa melindungi ketika kekerasan tersebut akan terjadi. Jadi setidaknya kita memiliki saksi akan apa yang terjadi pada kita,” pungkasnya. (mik/asa)

Sumber: Sumatera Ekspres, Minggu, 21 Desember 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: