Sindikiat Pemalsu Dokumen Terbongkar karena SIM Palsu


Beda Material, Tak Mampu Meniru Hologram Asli

Sindikiat Pemalsu Dokumen Terbongkar karena SIM Palsu Jaringan pemalsu SIM, SKCK, KTP, dan beberapa dokumen penting lain dibongkar Satreskrim Polres Banyuasin. Tiga pelaku komplotan ini berhasil diciduk untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Ketiga pelaku yang kini harus meringkuk di balik jeruji besi yakni Aan (28), warga Jalan Sabar, Desa Pematang Palas, Kecamatan Banyuasin I dan Amir Hamzah (25), warga Desa Cinta Manis, Kecamatan Banyuasin I. Seorang lagi, Muslim (38), warga Jalan Naskah, Km 7, Palembang.

Tiga pelaku yang terlibat dalam pemalsuan SIM ini mungkin tak pernah menyangka kecurangan mereka akan terbongkar. Perantara kasus ini bisa terbongkar adalah Juliansyah (29), warga Desa Cinta Manis, Kecamatan Banyuasin I.

Ia datang ke Mapolres Banyuasin untuk mengurus SIM miliknya yang hilang di wilayah Musi II, Palembang. Ternyata nomor SIM 850711184236 atas nama Juliansyah tidak ada. Polisi menduga SIM nonor itu palsu. Kecuriaan lain, nama pada fotocopy SIM yang diberikan Juliansyah masih ditandatangani AKBP Agus Setyawan. Padahal, Kapolres di tahun keluarnya SIM masih dijabat AKBP Ahmad Iksan SIk.

Kasat Lantas Polres Banyuasin, AKP Irwan Andeta berkoordinasi dengan Kasatreskrim Iptu Harmianto SH MSi serta Kanit Pidum Iptu Sofyan Afandi SH SSos. Dari keterangan awal, didapatkan nama Aan. Juliansyah ternyata membuat SIM darinya dengan tarif Rp 1,7 juta.

Didampingi Kapolsek Mariana, Iptu Helmi Ardiansyah, penangkapan terhadapa Aan dilakukan di Jalan Saba, Desa Pematang Palas, Kecamatan Banyuasin I, Senin malam (15/12). Dalam gerak cepat, Selasa dinihari (16/12), sekitar pukul 01.30 WIB, polisi menciduk Amir Hamzah dari kediamannya. Dari Amir Hamzah diketahui kalau yang mencetak SIM palsu adalah Muslim, warga Palembang. Dia ditangkap Selasa pagi, pukul 08.00 WIB di rumahnya.

Polisi menyita dua unit CPU, dua unit keyboard, dua mouse, satu unit monitor tabung, satu unit monitor flat, dua printer Canon, dua kotak laminating, dua bungkus kertas printable card, satu gunting dan satu alat pemotong ID card.

Melihat barang bukti itu, bisa dikatakan jaringan ini sudah profesional. Apalagi car mereka mencari mangsa. Sasaran mereka kebanyakan para sopir yang bekerja di perusahaan sawit di Kecamatan Banyuasin I. “Saya hanya menawarkan pembuatan SIM kepada para sopir itu. tupun setelah ada tawaran kerja sama dari Amir yang mengaku bisa membuat SIM,” kata Aan.

Ia lalu mencari warga yang hendak membuat SIM. Didapatkan delapan orang “korban” Tiap orang dimintainya Rp 1,7 juta, dengan janji SIM akan selesai dalam tig hari. “Selama ini tidak ada yang komplain dengan SIM itu. Saya tidak tahu kalau SIM itu palsu,” bantahnya.

Dari Rp 1,7 juta bayaran korban, Aan mengambil Rp 900 ribu. Sisanya Rp 800 ribu diberkan kepada Amir untuk biaya pembuatan SIM. Dari Rp 800 ribu itu, Amir mengambil Rp 650 ribu dan sisanya Rp 150 ribu diberkan kepada Muslim sebagai jasa pembuatan SIM.

Amir mengetahui kalau Muslim dapat membuat SIM saat dirinya hendak membuat lamaran di tempat usaha cetak Technologi Computer milik Muslim di Jl Kol H Barlian Km 7. “Katanya (Muslim),dia bisa buat SIM. Tapi “saling jaga” tarifnya Rp 150 ribu,” tutur Amir.

Obrolan yang menjurus ke arah kerja sama itu terjadi September 2013. Uang yang didapatkan Amir dari bisnis SIM palsu itu digunakannya untuk biaya hidup. Pengakuan lain keluar dari mulut Muslim. Pemilik usaha cetak Technologi Computer itu mengaku kenal Amir hanya untuk urusan pencetakan SIM itu. Awalnya, Amir datang untuk membuat undangan 40.

Muslim mengaku tidak tahu kalau Aan dan Amir telah memanfaatkan dirinya dalam bisnis SIM palsu tersebut. “Saya hanya dapat Rp 150 ribu, itu pun hanya untuk biaya cetak, tidak banyak untungnya. Saya tidak tahu kalau ini dibisniskan mereka berdua sampai Rp 1,7 juta untuk satu SIM,” cetusnya.

Ia mau membantu karena saat menawarkan kerja sama pembuatan SIM itu, Amir mengatakan kalau dirinya punya usaha transportasi (transportir). “Katanya agar para sopirnya dapat bekerja dengan leluasa dengan punya SIM> Saya hanya buat 8-9 SIM saja, tidak lebih,” beber Muslim.

Dia pun menolak terlibat dalam sindikat pemalsuan ini karena sudah sempat menegaskan kepada Amir tidak mau terlibat dalam pemalsuan SIM. “Saya sudah bilang, saya punya usaha percetakan, bukan sindikat,” imbuhnya.

Namun Kasatreskrim Polres Banyuasin, Iptu Harmianto SH MSi mengatakan kalau otak dari jaringan pemalsuan SIM ini adalah Muslim. “Dia langsung yang mencetak dan mengurusnya,” katanya.

Polisi bahkan mengendus kalau bisnis pemalsuan SIM ini sudah terjadi dua tahun terakhir. Tak hanya SIM yang dipalsukan, tapi juga beberapa kartu dan dokumen resmi lainnya, seperti SIM palsu, SKCK palsu, KTP palsu, dan lainnya. Khusus SIM buatan para tersangka, ekilas sama. Tapi cukup jelas perbedaannya dengan SIM asli. Terutama pada hologram di bagian belakan SIM. Pada SIM asli, hologramnya terang, ada chip seperti ATM yang menyimpan data pemilik SIM. Jika dicek ke database Satlantas dimana SIM dibuat, data pemiliknya akan keluar.

Nah, hologram pada SIM palsu tidak terlalu terang. Gambarnya juga berbayang dan tidak punya chip. “Karena itulah ketika dicek, data pemiliknya tidak bisa dilihat,” beber Harmianto.

Tersangka Aan dan Amir Hamzah berperan sebagai pencari korban dengan mengincar warga yang berasal dari luar Kota Palembang, seperti Banyuasin, Muba, dan OKI. Namun, saat ini polisi baru mendapatkan korban asal Banyuasin. Yang lainnya masih dalam pengembangan. Satreskrim Polres Banyuasin yang akan berkoordinasi dengan instansi terkait di wilayah Alang-Alang Lebar, Palembang karena ada KTP palsu yang dibuat oleh para tersangka dengan alamat Palembang. “Ketiga tersangka akan dikenakan tuntutan pemalsuan dokumen negara pasal 263 dan 262 KUHP dengan ancaman 7 tahun penjara,” tegas Harmianto. (qda/ce1)

Diduga Pelakunya Kenalan Polisi

Salah seorang korban pemalsuan SIM komplotan ini, Juliansyah masih tidak percaya kalau SIM yang didapatkannya dari Aan adalah SIM palsu. Dia menduga Aan punya hubungan dengan anggota kepolisian sehingga bisa membuat SIM dengan cepat.

“Saya memang belum punya SIM. Aan datang dan menawarkan pembuatan SIM tanpa tes. Saya mau saja,” ujarnya. Ia serahkan uang Rp 1,7 juta beserta berkas pembuatan SIM seperti fotochopy KTP, foto 2×3 satu lembar. Tiga hari kemudian, SIM miliknya selesai.

Sebagai orang awam, dia tidak tahu persis bagaimana membedakan SIM yang asli dan palsu. Karenanya, masih ada rasa tak percaya dalam dirinya telah jadi korban pemalsuan SIM. “Tahu begini, lebih baik berkebun saja, dari pada jadi sopir truk pasir,” cetusnya. (qda/ce1)

Ke Loket Resmi, Jamin SIM Asli

Direktur Direktorat Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sumsel, Kombes Pol Suharsono melalui Kasubdit Regiden AKBP Ari Wahyu, mengaku telah mengetahui adanya kasus pemalsuan SIM di wilayah Banyuasin. “Kami sudah mendapatkan informasinya. Kami serahkan kepada pihak penyidik untuk melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut,” ucapnya.

Ari menegaskan kalau kasus itu tidak ada di Palembang karena pihaknya belum menemukan kasus serupa di ibu kota Provinsi Sumsel. Dia mengimbau kepada masyarakat lebih waspada dan mematuhi proses pembuatan SIM yang baku sehingga terhindar dari penipuan. Saat ini banyak modus pelaku demi keuntungan pribadi dari pembuatan SIM.

“Silakan langsung mengurus pembuatan SIM ke loket resmi, jangan melalui orng lain. Kalau itu dipatuhi, kami jamin SIM-nya asli. Jika masih ada yang membuat SIM bukan kepada petugas, sudah dapat dipastikan SIM itu palsu,” pungkasnya. (cj13/ce1)

Jangan Percaya Janji Oknum

Kapolres Banyuasin, AKBP Julihan Muntaha SIK mengajak semua masyarakat tidak percaya adanya pembuatan SIM tanpa melalui proses. “Jangan percaya begitu saja. Buat SIM itu ada prosesnya. Mulai dari menyerahkan syarat, lalu praktek mengendarai kendaraan, baik itu sepeda motor untuk membuat SIM C dan mobil untuk pembuat SIM A,” imbuhnya.

Dijelaskan Julihan, untuk membedakan SIM asli dan palsu dapat membandingkan hologram di sisi belakang SIM. Pada SIM asli, hologramnya terlihat jelas, dan ada chip seperti ATM. “Kalau yang palsu, warna hologramnya kabur dan gambar berbayang. Hologram itu yang tidak bisa ditiru,” bebernya.

Kepada masyarakat yang terjebak menggunakan jasa sindikat pembuatan SIM palsu diimbau segera melapor ke Satlantas Polres Banyuasin dan membuat SIM baru yang asli. Bagi masyarakat yang menggunakan SIM palsu, baik SIM A, B1 hingga C, dan mengetahui kalau SIM itu abal-abal, maka bisa dijerat dengan hukuman sesuai Pasal 262 KUHP dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara. “Jadi bukan hanya yang memproduksi, mereka yang menggunakannya juga bisa dijerat secara hukum bila mengetahui dan menggunakan SIM palsi itu,” pungkas Julihan. (qda/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Kamis, 18 Desember 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: