Menelusuri Transaksi PSK di Metropolis


Longtime, Mahasiswa Pasang Tarif Rp 10 Juta

Menelusuri Transaksi PSK di Metropolis
Tunggu Pelanggan: Seorang PSK mengenakan pakaian seksi mangkal di pinggir Jl Diponegoro menunggu kedatangan pria hidung belang untuk mengajaknya kencan

________________________________________

Bisnis prostitusi di Kota Palembang ternyata tak kalah banyak seperti di Kota Metropolitan Jakarta atau kota besar lainnya di Indonesia. Modusnya ada yang terselubung, ada pula terang-terangan. Begitu juga soal tarif, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

* * * * * * * * * * * * * * *

Menelusuri beberapa jalan utama di Metropolis ternyata memberikan kesan tersendiri. Apalagi kehidupan dunia malamnya. Di Jl Merdeka misalnya, saat waktu menunjukan pukul 22.00 WIB beberapa wanita berpenampilan seksi berdiri di sepanjang trotoar. Mereka tidak malu-malu melambaikan tangan kepada pengendara motor hingga mobil yang melintas.

Pemandangan sama juga terlihat di Jl Diponegoro, Jl Ahmad Dahlan hingga Jl Radial. Kawasan tersebut memang terlihat berbeda dengan tempat lainnya. Apalagi saat malam. Dari pantauan Sumatera Ekspres aktivitas di kawasan tersebut terbilang ramai dari pagi hingga larut malam. Jenis usaha pun laris manis di daerah tersebut. Ada rumah makan, warung kopi, spa, karaoke, tempat hiburan hingga panti pijat.

Memang, lokasi tersebut menjadi favorit untuk sekedar kongkow. Baik bersama keluarga, mitra kerja, pacar hingga teman kencan, Nah, dari beragam pelaku usaha yang hadir di kawasan itu ada pula penawaran jasa yang belum banyak diketahui, yakni transaksi wanita pekerja seks (PSK).

Sumatera Ekspres berhasil bertemu mucikari, sebut saja Adi (bukan nama sebenarnya). Berbagai penawaran ditawarkan dari PSK bayaran kecil, hingga termahal yang ia kordinir. “Untuk short time (waktu singkat) Rp 500 ribu. Kalau longtime (satu malam penuh) Rp 1 juta. Ditambah tempat penginapan (hotel X) sekitar lokasi, Rp 1.060.000,” ujarnya.

Lanjutnya, kelas harga tersebut termasuk di bawah standar. Ada lagi penawaran harga yang begitu fantastis dengan wanita simpanan para pengusaha dan politisi Metropolis. “Kalau ini beda lagi. Karena dia cantik dan masih berusia 24 tahun. Untuk shorttime Rp 5 juta, sedangkan longtime dan pakai pengaman Rp 10 juta, namun belum termasuk biaya hotel,” tuturnya.

Ia mengatakan, pria hidung belang yang sudah memesan biasanya janjian bertemu di lobi hotel yang ditentukan. Saat di lobi, pemesan langsung bertemu dirinya (mucikari, red) dan PSK. “Sebelum masuk kamar pelanggan harus bayar dulu pada saya. Jika sudah masuk kamar, itu urusan mereka berdua,” jelasnya.

Ia menjelaskan PK kelas tinggi tidak ingin melayani pelanggan di wisma ataupun hotel biasa. Hotel berbintang lima dan apartemen menjadi tempat mereka memuaskan nafsu para hidung belang tersebut. “Semua biaya kamar dan akomodasi lainnya ditanggung pelanggan,” ujarnya.

Terpisah, Sumatera Ekspres berhasil meyakinkan dan mendapatkan informasi tentang PSK bertarif tinggi dari mucikari tersebut. Kurang lebih 20 menit kemudian datang wanita bernama Citra (24), dengan penampilan yang mengundang syahwat mengendarai mobil Avanza.

“Satu minggu bisa bisa dua sampai tiga pelanggan. Ada juga pelanggan tetap yang sering ngajak kencan,” ujarnya. Pada umumnya, profesi PSK dilakoni lantaran faktor ekonomi yang mendesak. Namun tidak bagi kupu-kupu malam berkulit kuning langsat ini. Materi yang berlimpah menjadi tujuan utamanya bersama pelanggan. “Ya sudah terbiasa aja. Uangnya juga banyak,” katanya.

Ia mengakui, masih tercatat sebagai salah satu mahasiswi perguruan tinggi swasta. Akan tetapi, baik dosen maupun teman kampusnya belum mengetahui profesi yang ia jalani sekarang. “Kalau sampai tahu, studi saya bisa berantakan. Ya dibawa happy aja. Namanya juga hidup. Perlu dinikmatilah,” katanya meninggikan suara.

Sementara itu, lain halnya transaksi PSK di Jl KH Ahmad Dahlan, Kelurahan 26 Ilir, Kecamatan Bukit Kecil. Tanpa mucikari, mereka (PSK, red) langsung menawarkan jasanya pada setiap pengendara yang melintas di jalan tersebut dari pukul 22.00 hingga 01.30 WIB. Sebut saja Nova (19), ia bukan asli warga Palembang. Melainkan salah satu remaja asal Kota Batam yang hidup sebatang kara di kawasan Lemabang. Pertama ke Palembang diajak teman wanitanya yang saat itu mendekam di lembaga pemasyarakatan (lapas) wanita dan ia sudah melakoni profesi PSK sejak satu tahun lalu. “Tarif Rp 150 ribu untuk short time di rumah susun. Tidak layanan full time,” katanya.

Ia mengatakan, sebelumnya pernah menjadi pelayan di salah satu klub malam ternama di Metropolis. Namun, kondisi tersebut tidak membuat dirinya bebas karena terikat dengan aturan dari Mami (mucikari, red) untuk “anak-anaknya”.

Waktu itu kami bisa dibayar sampai Rp 700 ribu. Tapi masih disuruh nyetor. Artinya tidak dapat uang full dari pelanggan,” tutunya.

Ia mengakui, ada niat ingin berhenti dari profesi tersebut dan memilih bekerja di kafe sebagai karyawati. “Ingin juga pulang ke Batam tapi uang saya belum cukup. Naik pesawat kan mahal,” katanya.

Beda lagi dengan pengalaman Ratna (31), ia pernah menikah sirih dan menjadi istri ketiga oleh salah satu pengusaha di kota pempek selama tujuh tahun. Akhirnya, ia memutuskan berpisah, hingga kembali menikah sirih dengan pria pengangguran. “Saya jadi seperti ini karena sudah biasa jadi wanita simpanan. Terus, mau kasih makan dua anak anak dan suami saya di rumah. Kalau tidak ya nggak ada beras di rumah,” katanya.

Tambahnya, ia memasang harga Rp 120 ribu untuk short time ditambah pengaman. Namun tidak melayani full time untuk pelanggan karena harus kejar target satu malam dua pelanggan. “Kalau sudah “main”, saya lanjut cari pelanggan sampai pukul 02.00 WIB,” tutupnya.

Sementara itu, geliat waria tak kalahnya dengan sejumlah pekerja seks komersial. Di Palembang, para waria bisa dikatakan agak sedikit terkoordinir. Saat ingin “menjajakan” dirinya, mereka pun selalu berkelompok dan minimal berdua mangkal di sejumlah titik yang sudah menjadi sasaran hidung belang. (tim/ce1)

Berfantasi lewat Seks Online
__________________________________________________

Selain mengubah gaya hidup, teknologi juga mengubah cara orang menikmati seks. Melalui internet, orang bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Inilah realitas kehidupan manusia modern pada zaman sekarang.

Semakin berkembang pesatnya kemajuan teknologi saat ini, semakin banyak pula hal-hal negatif yang berada di balik kemajuannya. Kali ini kemajuan media jejaring sosial berbasis internet lewat text, video streaming, audio streaming dan voip. Seringkali digunakan, untuk menyalurkan nafsu seks melalui via internet.

Beragam situs yang bisa dijumpai, seperti jojxxx.com, omexxx.com, camxxx, hampir semuanya menawarkan jasa yang sama. Yakni, jejaring sosial yang bisa melakukan tatap muka secara langsung dan berkomunikasi dengan orang sesuai dengan keinginan sendiri.

Internet telah merevolusi cara berkomunikasi, menembus jarak, ruang dan waktu. Dunia nyata telah diganti dunia maya. Keberadaan pecandu sex online, yang sering kali disebut cybersex. Telah mengubah gaya seks, jauh melampaui sifat alami.

Mungkin sebagian orang berpikir, bergabung dengan situs di dunia maya, hanya untuk berkomunikasi secara intim, dengan orang-orang yang dekat dan kita kenal saja. Tapi saat ini, orang-orang justru banyak mencari pasangan kencan melalui dunia online.

Seperti yang ditelusuri Sumatera Ekspres, dari salah satu situs jejaring berbasis video live streaming. Hampir rata-rata pengguna situs tersebut berusia 25-40, meskipun beragam ras dengan beragam bahasa yang bisa digunakan. Namun hal ini tidak membatasi penikmat cybersex, untuk menyalurkan nafsu mereka melalui via dunia maya. Melakukan tatap muka secara langsung, dengan sedikit komunikasi melalui pesan singkat yang dikirimkan. Cybersex sudah bisa mengajak pasangannya berfantasi seksual, menyalurkan nafsu seks mereka dengan beragam instruksi yang diinginkan.

Mengacu pada populasi dunia, tingkat kesadaran manusia terhadap teknologi kini semakin tinggi, termasuk cybersex sendiri. Untuk kondisi Indonesia cybersex, memang masih merupakan suatu yang dianggap tidak wajar an masih tabu. Seks online dianggap sebuah penyimpangan seksual dan bertentangan dengan norma.

Pergeseran nilai pun, mau tidak mau sudah terjadi karena kebebasan dunia internet yang tanpa batas. Internet tidak hanya bisa dimiliki orang-orang dewasa. Beragam bentuk media yang berbau seks beredar dengan mudah di kalangan masyarakat kita. Baik itu melalui handphone, gadget, maupun dengan mendaftarkan diri melalui situs online lainnya.

Terpisah menurut keterangan, Hidayatullah (25) salah seorang cybersex yang sempat dibincangi Sumatera Ekspres ini, kecanduan dengan sex online tersebut pertama kali berawal dari keseringan dirinya menjelajah situs online.

“Awalnya saya merasa sendirian dan tidak memiliki teman wanita, saya mencoba untuk mencari pelampiasan melalui dunia maya. Karena merasa tidak merugikan orang lain, akhirnya hal tersebut membuat saya semakin kecanduan,” ungkapnya.

Dia juga menuturkan, saat melakukan penjelajahan di situs internet berbasis video streaming, dia bisa bertemu dengan beragam orang asing. Hal tersebut diakuinya semakin menambah daya fantasi.

“Kalau kita berhubungan di dunia maya, kita bisa kencan dengan wanita asing ari Eropa maupun dari Rusia. Memang tidak ada kontak fisik secara langsung, tetapi kita akan melakukan masturbasi secara bersama-sama,” ungkapnya.

Berbeda lagi dengan Nugroho (30), dia mengaku sering menjelajahi situs jejarng sosial berbau sex party, untuk memuaskan hasratnya. “Tapi kebanyakan situs yang menawarkan bisa melakukan kontrak secara langsung dengan admin, itu sangat jarang sekali yang benar. Hampir keseluruhan banyak yang menipu,” ungkapnya.

Tapi dia juga menambahkan, untuk menghubungi admin secara langsung, itu bisa dilakukan. “Kita harus melakukan chat terlebih dahulu dengan mereka. Setelah mendapat kontak mereka secara langsung, baru kita bisa menghubungi mereka dan mengajak mereka bertemu,” terangnya.

Diungkapkan Nugroho, untuk biaya transaksi jasa yang biasa ditawarkan oleh admin dalam room tersebut biasanya beragam, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2,5 juta. “Biasanya kalau saya dapat nomor kontak pribadi admin, baru saya hubungi transaksi nanti setelah kita bisa ketemu. Kalau dia minta langsung via rekening, saya tidak mau karena takut tertipu,” terangnya. (tim/ce1)

Aibat Rendahnya Moral Masyarakat
________________________________________________________
(Komentar)

Guru besar sosiologi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Prof Dr Abdullah Idi Med menilai, tumbuhnya titik-titik baru tempat pekerja seks komersial (PSK) di Metropolis tidak terlepas dari motivasi ekonomi.

“Di sana ada transaksi, antara orang yang butuh uang dan pria hidung belang. Dalam artian ini tidak terlepas dari unsur bisnis akibat himpitan ekonomi,” kata Abdullah kepada Sumatera Ekspres, kemarin.

Dijelaskan, transaksi seks ini bukan hanya faktor kebutuhan biologis pria hidung belang. Tapi, ditopang adanya kesempatan dan bahkan bisa memilih klasifikasi sesuai dengan taraf ekonomi, apakah mau yang kelas bawah, menengah, atau atas. “Bisa dikatakan juga akibat rendahnya moralitas atau bansa ini sedang mengalami degradasi moralitas di masyarakat,” jelas Direktu Pascasarjana UIN Raden Fatah ini.

Menurutnya, ternjadinya pengklasifikasian PSK ini tetap saja dalam hal perilaku yang sama. Yakni menjajakan cinta untuk hasrat pria hidung belang. Masalah transaksinya bisa di mana saja, di tempat yang beralaskan tikar sampai kasur empuk di hotel-hotel berbintang. “Intinya sama meskipun ada kualifikasi, perilakunya sama menjajakan seksualitas,” ungkapnya.

Lanjutnya, pemerintah harus melakukan upaya preventif jika tidak ingin ini menjamur. Sehingga merusak generasi muda sebagai penerus bangsa. Pasalnya, ini mengganggu ketertiban masyarakat. “Ini tugas pemerintah, harus tegas kan sudah ada perdanya. Surabaya saja berani mengeluarkan kebijakan untuk menutup lokalisasi, Gang Dolly. Masak kita Palembang tidak bisa? Surabaya sebagai kota perbandingan untuk kita melakukan penutupan,” jelasnya.

Diungkapkan, masyarakat dalam berbisnis haru memiliki etika, jika tidak pantas sebagai mata pencarian lebih baik mengalihkannya dengan mencari pekerjaan yang baru dan lebih beretika.

“Salah satu cara terbaik, kita dekati dan ajak ganti pekerjaannya. Ini menyangkut harkat dan martabat wanita juga. Saya rasa semua pihak punya tanggung jawab, orang tua, pendidik dan masyarakat harus bersama memerangi ini,” pungkasnya. (mik/art/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Minggu, 7 Desember 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: