Melongok Perjuangan Guru Honorer di Sekolah Pinggiran


Gaji Rp 300 Ribu, 3 Kali Naik Mobil, 1 Kali naik Ketek

Melongok Perjuangan Guru Honorer di Sekolah PinggiranSaat banyak guru tersenyum semringah dan hidup serba berkecukupan karena mendapatkan tunjangan sertifikasi, sejumlah guru honor sekolah pinggiran punya nasib berbeda. Dengan gaji hanya Rp 300 ribu sebulan, mereka bertahan demi menciptakan generasi berkualitasi di Palembang.

================================

Dian Cahyani – Palembang

================================

Seorang guru berjilbab krem muda sedang fokus mengajar para muridnya di salah satu ruang kelas SDN 245 Palembang. Dengan gaya keibuannya, wanita berkacamata itu begitu sabar menyampaikan ilmu yang dimiliki kepada calon penerus generasi bangsa yang ada di hadapannya.

Guru itu, Yuna Ningsih. Sudah 15 tahun dia sudah mengajar di sana, terhitung sejak 1999. Statusnya hingga sekarangmasih honorer. Baru beberapa bulan lalu dia dinyatakan lulus K-II. “Tapi hingga sekarang, belum ada kabar lagi untuk pengangkatan,” ujarnya dengan nada sedikit kecewa.

Bukan tak ikhlas dengan pengabdiannya. Hanya, sudah sewajarnya dia berharap bisa menjadi PNS demi meningkatkan taraf kehidupan keluarganya. Selama ini, banyak sudah suka dan duka yang dialaminya.

Wanita kelahiran OKI, 5 Mei 1966 itu, butuh waktu sekitar satu jam untuk tiba di sekolah tempat dia mengajar. Tapi, bukan waktu yang jadi persoalannya. Proses dan biaya untuk sampai ke SDN 245 yang tidak ringan.

Berangkat dari rumah di kawasan Km 6, Sukarami, Yusna menumpang angkot juruan Way Hitam. Lalu, dia pindah ke angkot Poligon, dan terakhir menumpang angkot ke arah Gandus. Tiba di kawasan Gandus, Yusna harus maik perahu ketek untuk menuju sekolah yang berlokasi di Jl Sungai Tengkorak, RT 29, Kelurahan Keramasan, Kertapati itu. “Itu pun belum langsung sampai. Saya dan para guru lain harus berjalan sekitar 500 meter untuk tiba di sekolah ini,” bebernya. Bagi orang awam, jelas sekali pengorbanan yang luar biasa. Tapi bagi Yusna, hal itu sudah biasa.

”Dalam sehari, pergi dan pulang mengajar, saya harus 2 kali naik ketek dan 6 kali menumpang angkot. Ongkosnya itu yang berat,” tutur ibu empat orang anak ini. Jika ditotal, untuk ongkos transportasi saja, dalam sebulan Yusna butuh Rp 400 ribu.

Kebutuhan itu jelas timpang dengan gajinya yang sebulan Rp 300 ribu. “Uang itu jauh dari kebutuhan. Bahkan untuk ongkos sehari-hari pun, sama sekali tidak cukup,” ungkapnya. Belum lagi, kadang-kadang pihak sekolah membayarkan gaji mereka seyelah dana BOS cair. Saat BOS belum diterima, terpaksa mereka nombok sendiri dahulu.

Sebetulnya, ada jalan baru dari kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) di kawasan Musi II yang mengarah ke sekolah tersebut. Tapi, Yusna tidak bisa mengendarai sepeda motor. Juga tidak ada angkutan umum yang ke sana. Beruntung dia punya keluarga yang selalu mendukung penuh pengabdiannya.

”Mereka yang mengingatkan agar saya tidak menyerah. Sesekali, suami saya yang sehari-hari jadi tukang ojek dan sopir serabutan mengantar ke sekolah. Tapi, tidak bisa sering karena dia harus cari nafkah untuk keluarga juga,” imbuhnya.

Yusna dan para guru honorer lain juga merasa beruntung punya kepala sekolah (kepsek) yang baik hati. Dia terus disemangati agar tidak bolos mengajar. “Saat kami sedang tidak pegang uang, beliau bersedia memberikan pinjaman,” tuturnya.

Semangat lain bagi Yusna untuk terus mengabdi di sana adalah semangat dari semua murid-muridnya. Para calon penerus pembangunan bangsa itu begitu besar keinginannya untuk belajar, menggali ilmu supaya pintar. Itu pula yang membuat dirinya tidak tega kalau sampai harus tidak masuk mengajar meski hanya sehari. (*/ce2)

Sumber: Sumatera Ekspres, Kamis, 6 November 2014

========================================================================
Curhat dengan Kadisdikpora, Biaya Sekolah Anak Digratiskan
========================================================================

Melongok Perjuangan Guru Honorer di Sekolah PinggiranMenjadi single parent dan harus berjuang membesarkan tiga anak bagian dari kisah hidup Mariani. Kepergian sang suami delapan bulan lalu mengharuskan dia bertahan dengan status guru honorer di sekolah pinggiran kota yang gajinya jauh di bawah upah minimum provinsi (UMP).

================================

Dian Cahyani – Palembang

================================

Perasaan sedih dan derai air mata tak mampu disembunyikan Mariani saat Kadisdikpora Palembang, Ahmad Zulianto, bersama Asisten IV Pemkot, Asnawi P Ratu, meninjau sekolah tempat ia mengajar, beum lama ini.

Jujur, saya tidak bisa menyembunyikan perasaan. Saya menangis karena terharu dengan perhatian yang diberikan oleh para pejabat Pemkot melalui kunjungan mereka,” katanya dengan mata memerah.

Cerita kehidupannya pun mengalir dengan sendirinya. Mariani telah mengabdi menjadi guru honorer di SDN 245 sejak tahun 2000 atau kurang lebih 14 tahun lamanya. Hingga sekarang, ia bertahan meski gaji yang diperolehnya dalam sebulan hanya Rp 300 ribu.

Sebelum delapan bulan lalu, boleh dikatakan ia hanya betul-betul mengabdi untuk mencerdaskan murid-muridnya. Ada suaminya yang berstatus PNS yang menghidupi Mariani dan ketiga anaknya. Gaji yang didapatkannya jelas tidak mencukupi untuk apa pun. Tapi, sejak suaminya berpulang menghadap Sang Illahi, kin dialah tulang punggung keluarganya.

”Setelah suami meninggal, terasa betul bagaimana susahnya mencari uang. Saya harus menghidupi kebutuhan ketiga anak saya dengan gaji tersebut,” tuturnya. Ada juga tunjangan fungsional. Tapi semenjak dirinya dinyatakan lulus seleksi honorer kategori II (k-2), tunjangan itu disetop. Sayangnya, hingga kini pengangkatan dia dan honorer lain yang lulus K-2 belum jelas kabar beritanya.

”Beruntung ada tambahan uang pensiun almarhum suami saya. Meski sedang susah, saya harus terus semangat untuk menafkahi anak-anak,” imbuh Mariani.

Perempuan kelahiran Palembang, 18 Agustus 1964 itu mengaku senang mengajar meski pada sekolah di daerah pinggiran kota. Semangat belajar para muridnya yang sangat tinggi membuat ia terkesan dan betah.

Curahan hati (curhat) Mariani rupanya membuat Kadisdikpora Palembang “luluh” dengan ketegaran single parent tiga anak itu. Anak bungsunya yang masih bersekolah di SMA PGRI akhirnya dibebaskan dari biaya sekolah. “Selama sekolah, anak saya itu katanya tidak akan dipungut biaya sepeser pun. Saya sangat berterima kasih atas bantua itu,” ujar warga Karang Jaya, kawasan Musi II itu.

Meski harus berteman dengan becek dan banjir saat musim hujan tiba, Mariani tak mempermasalahkan itu. Semangatnya dan para guru honorer lain terus membara, mengabdikan ilmu dengan mendidik dan mengajari anak-anak di pinggiran kota. Tak banyak harapan mereka dari pengabdian itu. “Saya dan teman-teman honorer lain hanya berharap dapat segera diangkat menjadi PNS. Itu saja,” tukas Mariani. (*/ce4)

Sumber: Sumatera Ekspres, Kamis, 7 November 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: