Pengalaman Mistis Usai Melayat


Pengalaman Mistis Usai Melayat

Oleh: Abdul Wahab

Setelah melayat ke rumah duka dan akan kembali ke rumah, dalam perjalanan pulang Hengky bersama sahabat karibnya Jarwo, harus mengalami serentetan penampakan gaib. Jarwo yang sejak dulu dikenal penakut benar-benar dicekam ketakutan yang luar biasa begitu meihat makhluk pocong dan kuntilanak, sedangkan Hengky yang dikenal alim tetap sabar menghadapi berbagai penampakan tersebut.

_______________________________________


Saat itu Hengky masuk kantor seperti biasanya pada pukul 8 pagi. Kantor Hengky terletak tidak jauh dari GOR Saburai, Bandar Lampung. Saat sedang mengerjakan tugas-tugas kantor, sekitar pukul 10 pagi, ada pengumuman dari penerangan kantor yang mengabarkan berita duka cita. Karena ada salah satu ppegawai di instansi itu yang meninggal dunia. Hengky sempat terkejut, karena yang meninggal teman sejawat sebagai Satpol PP.

Padahal rencana Hengky bersama Jarwo, salah satu teman karibnya akan menjenguk Ardani, yang memang hampir seminggu ini mengalami sakit. Namun itulah takdir, manusia hanya berencana, tapi Tuhan berkehendak lain.

Rencana pun berubah, mereka akan melayat pada malam hari saja, karena pemakaman akan dilaksanakan keesokkan harinya, karena kebetulan ada beberapa tugas kantor yang tidak bisa ditinggalkan. Lalu setelah ngobrol dengan Jarwo, akhirnya disepakati pukul 7 malam akan berangkat dari rumah Hengky, maka Jarwo-lah yang akan menjemput Hengky, lalu berangkat bersama-sama menuju rumah duka.

Pukul 7 kurang 10 menit, Jarwo pun tiba di rumah sahabatnya. Setelah menunggu sebentar, akhirnya Hengky dan Jarwo dengan berboncengan sepeda motor pun berangkat menuju lokasi. Hengky yang berada di depan, karena dialah yang tahu jalan untuk menuju lokasi rumah almarhum Ardani, yang kebetulan tidak jauh dari kampung kelahirannya di Kabupaten Pasawaran.

Melewati jalan tembus dari Sekarmaru ke arah Pangaretan, adalah pilihan jalan yang akan dilewati, karena lebih singkat dan tidak terlalu ramai, daripada harus melewati jalan lainnya, yang ramai tapi harus memutar terlalu jauh. Tidak sampai satu jam perjalanan, sampailah mereka di lokasi rumah duka, lalu setelah memarkirkan motor, masuklah mereka ke dalam rumah duka mendoakan bagi kedamaian dan ketentraman arwah Ardani, dan memohonkan kepada Allah akan pengampunan dosa bagi almarhum.

Setelah itu menyalami keluarga yang berduka dan menguatkan mereka, kemudian mereka dipersilahkan duduk di tempat yang telah dsediakan. Lalu keduanya membaur dengan warga yang ada, dan aing berkenalan, lalu mengobrol tentang almarhum dan keluarganya, serta ikut mendengarkan rencana tentang pemakaman almarhum Ardani.

Tak terasa hampir 2 jam lebih mereka di sana, karena dianggap sudah cukup lama dan sudah tidak ada kepentingan lagi, mereka akhirnya mereka berpamitan kepada keluarga almarhum, sekalian permintaan maaf dan izin untuk tidak bisa menghadiri acara pemakaman jenazah, karena tugas yang tidak bisa ditinggalkan untuk esok harinya, juga mereka pun memohon pamit kepada warga yang hadir di sana.

Lalu mereka pun meninggakan lokasi, tapi Hengky tidak langsung pulang, tapi mampir sebentar ke rumah saudaranya, untuk sekedar menjenguk keluarga yang ada, sekalian ingin buang air kecil. Dan tepat pukul 11 malam, mereka berdua ppun pulang dari Pangaretan.

Sebagai gambaran, jalan tembus Sekarmaru ke Pangaretan adalah jalan aspal yang cukup besar, cuma masalahnya daerahnya yang harus dilewati adalah sawah-sawah, rumah pun tidak terlalu ramai hanya di lokasi tertentu saja dan selanjutnya sepi lagi, ada 2 kuburan dari arah kanan dan kiri yang mengapit jalan, jadi sering disebut kuburan kembar, lalu harus berbelok-belok kiri dan kanan, setelah itu ada semacam kuburan Cina sepanjang jalan sekitar 200 meteran panjangnya dan hutan kecil pohon jati yang sepi, lalu ada juga jembatan yang juga terkenal keangkerannya, dan setelah 100 meter terdapat kuburan umum.

Penulis sendiri pernah melewati jalan tersebut dan memang, jika sudah pukul 9 malam, jalanan tersebut memang sudah sepi, jadi terkadang penulis lebih memilih jalan besar yang ramai jika pulang agak malam dari mengunjungi Om Dito di daerah sana.

Soal penerangan jalan jangan ditanya, tidak ada sama sekali, jadi kalau pun ada tidak seterang penerangan jalan di jalan besar, jadi kalau tidak bertemu dengan mobil atau motor dari arah berlawanan , kita harus berhati-hati membawa kendaraan mobil atau motor, dan sebagian besar kiri dan kanan jalan adalah daerah persawahan.

Nah, saat dalam pejalanan pulang itu, Jarwo mulai ribuut karena ketakutan harus melewati kuburan umum, jembatan dan kuburan cina, karena dia melihat sosok putih yang melompat-lompat dari arah seberang kuburan menuju masuk ke kuburan.

“Mas, Mas… coba kamu lihat, apa itu di depan dekat kuburan itu yang loncat-loncat?” tanya Jarwo.

“Nggak ada apa-apa kok, paling juga kambing lepas yang lagi nyeberang. Lagipula di sini kan banyak warga yang memelihara kambing,” jawab Hengky, padahal sebenarnya dia tahu bahwa ada pocong yang sedang menyeberang ke kuburan.

Tapi Hengky selalu percaya bahwa Allah SWT akan meindunginya dari gangguan makhluk gaib. Selain itu, Hengky juga berdoa supaya sahabat karib yang dikenalnya sejak sama-sama kuliah di Universitas Lampung itu tidak berpikiran macam-macam.

Namun sejak menjadi mahasiswa, Jarwo memang sudah seringkali dicap sebagai cowok penakut. Dan peristiwa malam itu pun harus membuat dirinya tercekam dalam ketakutan. Jika sudah begini, maka dipeluknya erat-erat tubuh Hengky dari belakang, sampai-sampai Hengky tidak bisa bernapas.

“Woi, ngapain peluk kencang-kencang begini. Aku nggak bisa napas nih!” bentak Hengky, protes.

“Sorry, Mas. Aku benar-benar takut nih. Gimana kalau motornya lebih dikebut lagi,” pinta Jarwo.

Lalu setelah melewati kuburan, sekilas Hengky melihat makhluk hitam, tubuhnya tinggi, di beberapa bagian tubuhnya yang setengah telanjang banyak ditumbuhi bulu-bulu kasar mengerikan. Makhluk yang memiliki mata merah menyala itu sedang duduk santai di sisi jembatan. Melihat penampakan gaib itu membuat Hengky tetap tenang sambil mulutnya membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an, lalu memencet bel motor tanda permisi. Jarwo tersentak kaget mendegar suara bel motor berbunyi berkali-kali saat melewati jembatan.

“Ada apa, Mas. Ngapain bunyiin klakson?” tanya Jarwo tidak mengerti.

“Oh, tadi ada orang yang lagi jalan di pinggir jembatan, makanya aku pencet klakson biar minggir,” kata Hengky berbohong.

“Mana orangnya, Mas? Kayaknya dari tadi cuma kita berdua aja yang lewat. Ah, jangan bikin takut akulah, Mas. Rasanya nggak ada orang lain di jembatan ini selain kita,” kata Jarwo sambil mempererat pelukannya, sampai-sampai Hengky menjadi risih sendiri.

Setelah dari jembatan jalan agak menanjak, sehingga motor melambat, dan sampailah di jalan yang di sebelah kanannya adalah kompleks kuburan cina tua dan umum dan di sebelah kiri adalah jalan hutan pohon jati yang cukup rimbun dan tinggi-tinggi. Di sana hanya ada penerangan lampu neon 10 watt di depan makam. Jarwo tiba-tiba semakin mempererat dekapan tangannyake perut Hengky.

“Jarwo, apa-apa sih? Ayo lepaskan pelukanmu. Dari dulu sampai sekarang kamu masih saja pengecut. Asal kamu tahu, kalau begini caranya aku nggak bisa napas nih!” protes Hengky.

“Mas, Mas, coba kamu lihat, apa itu tadi yang terbang melayang dari pohon jati ke kuburan, kayak perempuan pakai baju putih, Mas. Ayo, Mas…. Tolong dikebut lagi motornya, hiii….!” Rengek Jarwo sambil memeluk sekencang-kencangnya dan memejamkan mata.

“Mana, mana? Paling-paling cuma layangan putus dan talinya kecantol pohon dan tertiup angin,” jawab Hengky, sambil berusaha melonggarkan pelukan tangan Jarwo. Padahal yang sesungguhnya Hengky tahu ada sesosok kuntilanak yang terbang melintas di depan mereka, hanya saja dia berusaha tenang, supaya temannya yang bertubuh tambun itu tidak semakin ketakutan.

Akhirnya motor pun melewati kuburan cina tua itu dan meluncur ke daerah yang lumayan banyak rumah penduduk, dan hal itu cukup membuat Jarwo agak sedikit tenang, walaupun masih tetap memeluk tubuh Hengky.

Setelah 5 menit tidak ada kejadian apa-apa, mereka harus melewati kuburan kembar. Di sini Jarwo mulai ketakutan lagi, karena dari kejauhan melihat ada orang yang sedang menyapu di sekitar kuburan dan membakar sampah daun-daun kering.

“Mas, Mas, coba kamu perhatikan, masa malam-malam begini ada orang yang lagi nyapu dan bakar sampah di kuburan kembar itu. Ayo, Mas… lebih ngebut lagi, aku takuuut…” kata Jarwo, sambil kembali memeuk kencang ke perut Hengky.

Hengky tahu kalau itu kerjaan juru kunci makam kembar, yang memang punya kebiasaan nyapu dan bersih-bersih makam pada malam hari. Sebab Hengky sering lewat di jalan tersebut dan pernah bertemu Mbah Kamto di kampung kelahirannya.

Jadi Hengky tidak merasa takut. Tapi saking jengkelnya dengan Jarwo yang super penakut, Hengky sengaja memerlambat motornya begitu mendekati orang yang sedang menyapu. Jarwo malah semakin panik, karena motor semakin melambat dan mendekati orang tersebut dan akhirnya dia memejamkan matanya saking takutnya.

Kemudian Jarwo mendengar Hengky menyapa orang tersebut. “Malam, Mbah. Lagi tugas ngih Mbah?”

“Eh, Mas Hengky to? Dari mana malam-malam begini? Oo, rupanya bareng temannya, ya? Tanya Mbah Kamto.

Jarwo agak sedikit heran dan dengan segera membuka matanya. Jarwo hampir tidak percaya, ternyata yang dia takutkan adalah benar-benar sosok manusia seperti dirinya. Selanjutnya Hengky menjelaskan agar temannya tahu kalau Mbah Kamto adalah manusia sungguhan, bukan makhluk gaib. Ternyata Hengky usil juga, Jarwo jadi malu dan langsung meminta maaf kepada Mbah Kamto, karena telah menganggap Mbah Kamto adalah sosok hantu. Setelah di rasa cukup, akhirnya kedua lelaki itu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. (*)

Sumber: Misteri Edisi 586 Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: