7.000 Ha Gambut Terbakar


Alex: Ini Bencana Asap Luar Biasa

7.000 Ha Gambut Terbakar PALEMBANGKebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan benar-benar memprihatinkan. Terdata sudah 7.000 hektare (ha) lahan gambut yang terbakar di daerah ini. Lokasinya dominan di daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Lahan gambut 7.000 ha yang terbakar itu hanya bisa dipadamkan oleh hujan lebat, sementara sekarang ini tidak bisa melaksanakan hujan buatan. Meski demikian, kita sudah memaksimalkan operasi darat. Pengeboman air sudah ratusan kali namun dianggap kurang optimal karena ssudah ada ribuan ha lahan terbakar,” ungkap Gubernur Sumsel Alex Noerdin, usai shalat istiiqa’ di halaman Pemprov Sumsel.

Alex menambahkan saat ini kondisi dan status bencana asap di Sumsel sudah terindikasi luar biasa. Meningkat dari sebelumnya yang hanya dianggap darurat. “Sekarang sudah luar biasa. Lahan gambut itu tanpa dibakar saja akan terbakar, apalagi jika sengaja dibakar. Kami membuka lebar jika ada yanf ingin menjadi sukarelawan dalam operasi darat, sehingga yang biasa demo, jangan hanya bisa mengkritisi tapi juga bisa gabung dan rasakan bagaimana melakukan tindakan pemadaman,” beber Alex lagi.

Ia juga minta semua masyarakat Sumsel untuk berperan aktif mengurangi kebakaran lahan dan hutan dengan cara tidak bakar lahan apapun alasannya. “Sudah banyak bantuan berupa heli untuk water bombing via udara. Ada juga bantuan Hercules untuk TMC (teknik modifikasi cuaca) tapi gagal karena tidak ada awan di Sumsel.

Usai melakukan pemadaman, Alex mengatakan, pihaknya kini fokus pada upaya mencegah dan mengatasi ISPA berupa pembagian jutaan masker, penyuluhan kesehatan dan lainnya. “Kami juga shalat istiqa’ (minta turn hujan) kepada Allah SWT mengiringi usaha pemadaman yang sudh kita lakukan. Bermunajat minta berkah berupa hujan yang deras.”

Shalat istiqa’ di halaman Pemprov Sumsel pukul 07.00 WIB, diikuti SKPD dan karyawan-karyawati di lingkungan Pemprov Sumsel, alim ulama, perwakilan pelajar hingga anak panti asuhan. Shalat dipimpin oleh Ustadz KH Nawawi Dencik Al Hafiz sebagai imam dan khatibnya Abdurrahman Romli Al Hafiz.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dra Lesty Nurainy Apt MKes menuturkan, saat ini kondisi udara di Sumsel sudah berbahaya. Asap yang menyelimuti Sumsel membuat penderita ISPA meningkat dibandingkan dengan bulan biasanya. “Dari data di bulan-bulan sebelumnya, kami melihat ada peningkatan 10 persen. Jadi di bulan biasa sudah banyak peningkatan penderita ISPA, tapi saat ini bencana asap, ISPA meningkat.

Dinkes Sumsel sudah memberikan instruksi kepada Dinkes kabupaten/kota se-Sumsel untuk memberikan penyuluhan kesehatan dan membagikan masker kepada masyarakat setempat. “Kita juga mengimbau warga agar tak keluar rumah saat asap tebal. Gunakan masker saat harus ke luar rumah dan patuhi perilaku hidup sehat.” Agar tidak terkena ISPA, tambah dia, harus juga makan sayuran dan banyak minum air putih. Karena ISPA lebih banyak menyerang anak dan lansia, maka orang terdekat harus mampu menjaga anggota keluarganya agar tetap terjaga staminanya. “Kondisi udara kita memang tidak baik. Sebisa mungkin kita cegah agar ISPA tidak meluas dan menyebar lagi,” imbuhnya.

Sekda Sumsel, Mukti Sulaiman bersama Kadinkes Sumsel dan Harian Sumatera Ekspres, kemarin, bersama-sama membagikan masker ke pengguna jalan. Pembagian dilakukan pagi hari di seputaran Kantor Pemprov Sumsel dan kepada jemaah yang shalat istiqa’. Lalu, siang hari ke pengguna jalan di Kantor DPRD Sumsel.

Sekedar diketahui, pantauan satelit Modis (Terra dan Aqua) setiap hari ada banyak hotspot di Sumel. Terbanyak di Ogan Komering Ilir (OKI). “Bukan OKI saja yang produk asap, ada kabupaten dan kota lain bahkan provinsi lain yang menghasilkan asap. Tidak benar jika OKI yang paling banyak hotspot di Sumsel,” tegas Buapti OKI, Iskandar SE, kemarin.

Keberadaan asap hanya dikarenakan angin bertiup menuju Kota Palembang. “Jika dikatakan paling banyak (asap) kita bisa buktikan dari atas. Hanya kebetulan angin yang menerpa menuju ke selatan. Bukan hanya Sumsel, Jambi dan Riau itu penuh kabut asap, Kalimantan juga pekat.”

Iskandar mengingatkan, permasalahan kebakaran sudah menjadi hal rutin tiap tahunnya. “Lahan OKI didominasi oleh gambut yang luasnya hingga puluhan ribu hektare. Untuk menuju ke sana berpuluh-puluh kilo jauhnya. Untuk operasi darat tidak sanggup, hanya heli yang bisa (lakukan water bombing). Inilah keterbatasan kita,” bebernya lagi.

Menurut Iskandar, pihaknya terus melakukan penanganan terhadap permasalahan kebakaran lahan dan hutan di OKI. “Hanya hujan yang bisa padamkan. Karena di lahan gambut itu kedalamannya bisa mencapai 5-6 meter,” ungkap dia.

Selain itu, pihaknya juga memantau setiap hutan tanaman industri (HTI) yang ada di OKI, dan tidak ditemukan adanya kebakaran lahan dan hutan. “Yang jelas khusus penanganan lahan gambut kita akan mendirikan posko di tiap lokasi. Ada juga rencana akan membuat line koodinasi terhadap lahan gambut yang ada.”

Terpisah, Kepala BNPB Sumsel Yulizar Dinoto menegaskan, hotspot ada 56 titik dan semuanya berada di OKI. “Itu pantauan satelit Terra dan Aqua. Satu titik di daerah Cengal, 7 titik Pampangan dan 48 titik ada di Kecamatan Tulung Selapan,” ujarnya.

Untuk melakukan water bombing, BNPB Sumsel menyiagakan tiga unit heli, yakni Bolco 105, Kamov, an MI-8. Pantauan Sumatera Ekspres di lokasi titk api Desa Sungai Tenang, Kecamatan Pampangan, OKI, lokasi hutan yang terbakar merupakan lahan gambut. Petugas kesulitan untuk melakukan pemadaman dan ditambah lagi lahan yang terbakar cukup luas.

Kapten heli Bolco 105 Triyanto menjelaskan, sehari pihaknya melakukan dua kali penerbangan. Satu kali penerbangan dua jam. “Kita melakukan water bombing di wilayah OKI. Di sana titik apinya terbanyak.” (cj12/wia/ce1)

Hujan Alami, Bukan Buatan
_____________________________________________

Hujan Alami, Bukan Buatan Hujan terjadi di sejumlah titik di Provinsi Sumatera Selatan, siang kemarin. Terpantau di Kota Palembang, Banyuasin, Musi Banyuasin, Lahat, Pagaralam dan Kabupaten Muara Enim. “Hujan hari ini (kemarin, red) adalah hujan alami, bukan buatan. Meski hanya beberapa saat, hujan menyebabkan kabut asap berkurang,” ujar Kasi Observasi dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indra Purnama, kepada wartawan, kemarin.

Di Kota Palembang sendiri, hujan turun memang belum secara merata di seluruh wilayah. Berdasarkan pantauan, hujan turun beberapa menit di kawasan Seberang Ulu, Tangga Buntung, Jalan Talang Kerangga, Jalan Kapten A Rivai, dan Jalan Merdeka.

Menurut Indra, itu menandakan mulai terjadinya peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Awan-awan hujan, memang sudah banyak terbentuk di atas langit Sumsel. Hanya saja, arah angin masih bertiup dari arah tenggara menuju barat laut.

“Di Riau dan Jambi sudah sering turun hujan. Awan-awan hujan sendiri sudah banyak, namun karena arah angin masih bertiup menjauhkan awan hujan dari Palembang, makanya hujan belum akan terjadi dalam intensitas yang besar dan waktu yang cukup lama di kawasan Sumsel, khususnya Palembang,” bebernya lagi.

Masa peralihan atau pancaroba, tambah dia, akan berlangsung dalam kurung waktu satu hingga dua minggu ke depan. Itu sebelum arah angin sudah benar-benar bertiup dari arah sebaliknya yakni barat laut menuju tenggara.

Berdasarkan catatan BMKG, tambah Indra, kawasan OKI belum diguyur oleh hujan. Di sana titik-titik api yang menyebar masih dipadamkan secara manual oleh water bombing petugas BPBD Sumsel. Tentu saja, dibantu aparat kepolisian, militer, dan relawan.

Sebelumnya, pagi hari kemarin fenomena kabut asap masih mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Tercatat dalam minggu ini gangguan penerbangan sudah empat kali, bahkan sempat “lumpuh” selama empat jam.

Kemarin (14/10), tercatat 3 maskapai mengalami delay, dimana 1 keberangkatan dan 2 kedatangan. Menurut PT GM Angkasa Pura II, Huzain Achmadi, pekan ini penerbangan memang terganggu lantaran kabut asap yang menyelimuti Provinsi Sumsel. Namun, untuk kemarin keterlambatan sudah berkurang dibandingkan dua hari lalu. Sebab jarak pandang (visibility) sedikit aman.

Pukul 05.00 WIB visibility 800 meter, jarak pandangnya dalam kondisi aman. “Makanya penerbangan pertama masih tetap dilakukan, seperti pesawat Garuda Indonesia GA 101 tujuan Jakarta yang berangkat pukul 05.45 WIB.”

Namun, pukul 06.00 WIB, jarak pandang menurun menjadi 300 meter. Hal ini sedikit menghambat aktivitas penerbangan. “Sekitar pukul 06.00 sampai 08.00 WIB, pilot informan memutuskan untuk tidak dilakukan aktivitas penerbangan dulu,” katanya.

Sementar itu, Lina, salah seorang penumpang Lion Air mengatakan keberangkatan pesawat yang ditumpanginya memang sedikit terlambat dari schedule yang ditentukan. “Saya harus memaklumi dan mengerti dengan kondisi kabut asap ini. Pihak airlines melakukan ini juga demi keselamatan penumpang,” tutup Lina. (qiw/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Rabu, 15 Oktober 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: