Kualitas Udara tidak Sehat, Kebakaran Lahan Makin Parah


Pemerintah Tak Berdaya Tangani Asap

Kualitas Udara tidak Sehat, Kebakaran Lahan Makin Parah
Ganggu Pernapasan: Tiga mahasiswi mencatat kepadatan arus lalu lintas di Metropolis. Mereka harus mengenakan masker lantaran kualitas udara sudah tidak sehat

________________________________________

Mau tak mau pemerintah harus mengakui jika penanggulangan asap belum sesuai harapan. Meski pada kenyataannya berbagai langkah dilakukan. Butuh penanganan komprehensif terkait bencana ini. Seperti apa?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Kabut asap di Palembang makin parah. Dampak yang ditimbulkannya pun mulai terasa. Terutama bagi kesehatan, transportasi baik udara, darat dan laut. Upaya penanggulangan yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama instansi terkait seakan tidak membuahkan hasil maksimal.

Kebakaran lahan dan hutan yang terjadi di sejumlah daerah di Sumatera Selatan (Sumsel) sudah mencapai level parah. Wajar, jika beberapa proovinsi di antaranya Riau, Kalimantan, dan Jambi serta negara tetangga seperti Singapura menyebut jika Sumsel penyumbang asap.

Danlanud Palembang Letkol Pnb Sapuan SSos menegaskan, kondisi kabut asap yang pekat memicu jarak pandang kemarin pagi (12/10) kurang dari 200 meter. “Tidak bisa dilakukan penerbangan jarak pandang hanya 100 meter, kondisi ini dipastikan tidak bisa melakukan penerbangan pemdaman asap,” ujar Sapuan.

Ia mengatakan, sekitar pukul 10.00-11.00 WIB kabut mulai membaik. Sehingga pihaknya berinisiatif melakukan penerbangan untuk melakukan pemadaman asap. “Sudah ada satu helikopter melakukan penerbangan ke daerah OKI guna melakukan water bombing ke daerah penyumbang kabut asap terbesar hari ini (kemarin, red),” ucapnya.

Selama kondisi kabut asap, setiap pagi pihaknya melakukan pemantauan hotspot baik melalui satelit, helikopter, dan darat. “Melakukan penerbangan jarak pandang paling tidak 800 meter,” terangnya. Lanjut Sapuan, kondisi asap yang semakin pekat (tebal, red) tim penanganan sudah mendapat tekanan dari pusat, dalam penanganan asap yang saat ini kondisi udara sudah tidak sehat. “Diakui, kabut asap beberapa hari terakhir makin pekat, berdampak pada buruknya kondisi udara. Bahkan jika seseorang yang kondisi tubuhnya tidak kuat bisa berdampak pada kesehatan,” akunya.

Sekarang, masyarakat diminta jika keluar rumah harus menggunakan masker, jangan berada di luar rumah jika tidak dalam kondisi terdesak apalagi bagi anak-anak. “Sangat penting keluar rumah menggunakan masker, asap dan debu yang tercemar.”

Penanganan sekarang, mulai mengalami permasalahan helikopter yang digunakan MI-8 dan helikopter Kamov, kesulitan dalam mendapatkan air ketika ingin melakukan water bombing. “Sulit mendapatkan sumber air saat melakukna water bombing akibat kemarau sekarang, bahkan sempat beberapa kali saat dilakukan pengambilan air menggunakan baketn (mangkok penampung air, red) malah terambil lumpur,” ucapnya.

Sebagai antisipasi terjadi hal serupa pada tahun depan, pihak kita bakal melakukan penyiraman terlebih dahulu pada kordinat dianggap rawan dan melakukan sosialisasi ke masyarakat yang tinggal di sekitar kordinat titik api. “Kita telah mengantongi kordinat titik api. Mudah-mudahan tahun depan hal seperti ini dapat segera teratasi,” kata dia.

Mayor POM Robert Flan SH menambahkan, kondisi titik api terjadi kemarin sebanyak 120 titik api yang tersebar di beberapa wilayah Sumsel, seperti Ogan Komering Ulu (OKU), Banyuasin, Ogan Komering ilir (OKI), Ogan Ilir (OI), Tulung Selapan.

“Segala unsur terkait bergerak, kita akan berupaya membantu semaksimal mungkin dalam penanganan kabut asap ini,” ucapnya. Besok (hari ini (13/10)), tim melakukan pemadaman kordinat titik api di beberapa wilayah dengan menggunakan tiga helikopter. “Tempat pengambilan air pada posisi S:3.21.53, E:105.4.33,” terangnya.

Setelah melakukan pengambilan air, helikopter pertama MI-8 melakukan pemadaman di wilayah Kecamatan Pampangan. S : 3.22.16. E : 105.5.23 dan S : 3.12.40. E :105.06.35 kemudian helikopter Kamov di Kecamatan Pedamaran S : 3.23.59. e : 105.06.35. “Kordinat tersebut hasil ground check lapangan oleh Kepala BPBD Sumsel, Kepala Dinas Kehutanan dengan helikopter Bolkwow yang dilakukan kemarin (12/10) pukul 12.00 WIB,” tukasnya.

Sementara Kepla Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang Thabrani melalui Kepala Bidang Lingkungan Henny Kurniawati mengatakan, saat ini kualitas udara di Kota Palembang masih dalam keadaan berbahaya, karena itu warga diminta untuk tetap menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah.

Dari sampel titik pantau yang dilakukan LBH, menurut dia, kualitas udara sudah di atas 100 PM10. Titik pantau tersebut antara lain simpang Charitas, Bundaran Air Mancur, Jembatan Ampera, Jalan Merdeka Kambang Iwak, dan kawasan Benteng Kuto Besak (BKB).

Sejak dilakukan pemantauan pada 7-8 Oktober hingga hari ini (kemarin, red) kualitas udara sangat tidak sehat yaitu mencapai 120 indeks standar pencemaran udara, padahal dalam kondisi normal di bawah 100,” terangnya.

Menurut dia, setiap hari petugas mengecek kualitas udara di wilayah Kota Palembang. Partikel debu yang tebal akibat asap kebakaran hutan menjadi penyebab utama udara dalam kondisi berbahaya. Sejauh ini upaya mengantisipasi dampak asap tersebut pada kesehatan dengan mengurangi aktivitas di luar rumah. Selain itu, warga yang terpaksa ke luar rumah harus mengenakan masker, dan perbanyak minum air putih.

Sementara itu, Sektretaris Asosiasi Pengusaha Indonesa (Apindo) Sumatera Selatan (Sumsel) sekaligus Bendahara Apindo Kota Palembang Hermansyah SE MM menegaskan, kabut asap yang menyelimuti Sumsel berdampak pada perekonomian. Akibatnya, pendapatan dari pelaku usaha menurun dari biasanya.

“Penerbangan terganggu, otomatis janji bisnis juga terganggu, seperti hari ini (kemarin, red) ada lauching apartemen di Kuala Lumpur. Namun, karena kabut asap penerbangan terhambat dua hingga tiga jam,” ujarnya.

Ditegaskannya selama musim kabut asap terjadi sektor yang paling besar mengalami kerugian semua bergerak pada bidang ritel dan penerbangan. Akibat pengaruh asap banyak masyarakat yang mengurangi aktivitas di luar rumah. Sektor usaha kecil menengah (UKM) banyak melakukan pengurangan aktivitas di luar rumah. Nah, kondisi ini tentu berdampak pada kurangnya masyarakat yang berbelanja.

“Aktivitas di luar rumah berkurang otomatis penghasilan pedagang juga berkurang yang disebabkan sedikitnya para pembeli,” tandasnya. (nni/asa/ce2)

Penderita ISPA Naik 69,67 Persen
________________________________________

Mutu Udara Buruk, Kurangi Jam Pelajaran

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang mencatat penderita ISPA meningkat sekitar 69,67 persen dari 4.839 penderita. DEmikian diungkap Kepala Dinkes Kota Palembang dr Anton Suwindro MKes melalui dr Afrimelda.

Menurutnya, angka tersebut akan meningkat tajam seiring belum tuntasnya pemadaman api dari kebakaran lahan dan hutan di Sumsel. Selain ISPA masih banyak penyakit lain diderita masyarakat akibat dampak dari tidak sehatnya udara saat ini. “Penyakit lain terganggunya radang pernapasan, asma, selaput mata, kulit, mulut, tidak stabilnya stamina tubuh,” terangnya.

Dirinya menegaskan, dari beberapa penyakit yang diderita masyarakat terbanyak adalah ISPA berdasarkan laporan dari 39 puskesmas yang ada di 16 kecamatan. Seperti wilayah Gandus, Kertapati, Plaju, Alang-Alang Lebar, Sukarami, Kenten maupun di daerah Lemabang.

Sebagai antisipasi, pihak kita sudah memiliki protaf, premnya di bulan Januari penyakit-penyakit tersebut akan meningkat mengingat fenomena alam yang tidak bisa dilakukan intervensi cuaca.

“Antisipasi sebelumnya telah dilakukan penyuluhan, program cuci tangan, konsumsi gizi seimbang, protein, pencegahan udara tidak sehat masuk ke mulut dengan menggunakan penutup hidung dan mulut. Terpenting konsumsi air putih sebanyak mungkin,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyakarat untuk tidak berada di luar rumah saat pagi dan sore hari jika tidak ad kegiatan mendesak. “Pagi dan sore di rumah saja, tutup semua jendela dan pintu, apalagi jika ada anak kecil di rumah. Sebab di saat itu udara Palembang sangat tidak baik, kabut asap sangat tebal,” tukasnya.

Sementara itu, pekatnya kabut asap yang terjadi pada pagi hingga sore hari di Kota Palembang, membuat orangtua mengkhawatirkan kondisi kesehatan anaknya. Karena itu, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang melakukan koordinasi dengan seluruh Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Disdikpora guna melakukan langkah penanganan. Di antaranya, mengurangi jam pelajaran pada setiap sekolah di Kota Palembang.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Palembang Ahmad Zulianto mengatakan, pengurangan jam pelajaran berlaku sejak 27 Septembe lalu. Menurut dia, pada kondisi normal, setiap siswa diwajibkan mengikuti mata pelajaran pertama pada pukul 07.00 di pagi hari. Namun, sekarang siswa diperkenankan memulai pelajaran pukul 07.30.

“Ini keputusan berdasarkan pertimbangan kesehatan dan keselamatan para siswa yang terkena dampak kabut asap,” kata Ahmad Zulianto. Menurut Zulianto, pihaknya sudah mengeluarkan surat edaranke seluruh sekolah yang ada di Kota Palembang. Surat edaran tersebut berlaku hingga kondisi kabut asap dipandang tidak lagi berbahaya bagi keselamatan dan kesehatan para siswa.

Surat edaran tersebut berisi pengumuman bahwa setiap harinya jam belajar mengajar pada satu mata pelajaran dikurangi lima menit. “Masuk pagi jam 07.30. Kalau siswa siang tetap seperti biasa, tetapi pulangnya akan lebih cepat 30 menit. Satu pekan terakhir ini mutu udara di Kota Palembang bisa dikatakan buruk,” terangnya.

Sementara itu, Kepala SMP Negeri 26 Palembang Tri Agustina menganjurkan para siswa khususnya yang berdomisili cukup jauh dari sekolah untuk mengenakan masker. Begitupun jika kabut cukup pekat ketika sudah berada di lingkungan sekolah, karena dikhawatirkan siswanya akan terserang ISPA. “Kita lakukan imbauan agar siswa mengenakan masker. Tapi beruntung kondisi sekolah kita banyak tanaman, jadi kabut asap tidak terlalu tampak,” tandasnya. (nni/but/asa/ce2)

Hentikan Kebijakan Ekspansi Perkebunan
_________________________________________

Sejak Agustus hingga sekarang, Sumatera Selatan (Sumsel) masih dikepung kabut asap. Kondisi dampak dari parahnya kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel). Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) meminta pemerintah untuk segera mencabut izin perusahaan perkebunan yang tak ramah lingkungan.

Jika perusahaan perkebunan masih membakar lahan, ini membuktikan jika perusahaan tersebut tidak bisa merawat dan menjaga lahan dengan konsesinya,” ujar Direktur Walhi Hadi Jatmiko. Menurutnya, alangkah baiknya lahan tersebut diberikan kepada masyarakat untuk dikelola. Karena, masyakarat lebih bisa menjaga lingkungan ketimbang perusahaan.

Ia mengatakan, melalui perjanjian AATHP (ASEAN Agreement on Transboundary haze Polution), pihaknya menuntut pemerintah melakukan penegakan hukum dengan menjerat koorporasi baik perkebunan dan HTI dengan meminta ganti kerugian atas kerusakan dan segera melakukan pemulihan lingkungan hidup.

Kemudian, tuntut negaranegara ASEAN terutama Singapura dan Malaysia yang telah terlebih dahulu meratifikasi AATHP untuk turut bertanggung jawab atas bencana asap di Sumatera Selatan, dengan memberikan sanksi terhadap perusahaan-perusahaan mereka yang beroperasi di Indonesia. Yang di dalam konsesinya terdapat kebakaran dan titik api seperti Asia Pulp and Paper (Sinar Mas Group).

“Hentikan kebijakan rkspansi perkebunan dan HTI di Sumsel. Karena kebijakan ini telah merugikan lingkungan hidup, rakyat dan negara,” ucapnya. Hal yang tak kalah penting meminta Dinas Pendidikan Sumsel untuk meliburkan dan mengubah jadwal sekolah bagi para siswa khususnya sekolah dasar (SD) guna mencegah dampak lebih besar terhadap bahaya asap. Kata Jatmiko, berdasarkan informasi didapat dari BMKG Sumsel yang disampaikan Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kenten belum lama ini, kabut asap akan berakhir paling cepat Oktober saat musim hujan tiba.

Di sisi lain, pihaknya menilai penegakan hukum dan pengawasan terhadap perusahaan yang diberikan izin jauh panggang dari api. Seperti yang dicontohkan Hadi, penguasaan lahan dan hutan yang timpang antara masyarakat dangan perusahaan. Grup perusahaan Asian Pulp and Paper (APP) melalui tujuh perusahaan yang bergerak diperkebunan kayu (HTI) menguasai setidaknya 792,135 hektare atau sekitar 47 persen dari 1,669,370 hektare luas hutan produksi di Sumsel yang diperuntukkan untuk HTI.

“Khusus penguasaan lahan di kawasan hutan yang diberikan pemerintah melalui skema PHBM (HD, HTR dan/atau HKM) hanya luas sekitar 12 ribu hektare atau tidak sampai 1 persen dari luasan hutan Sumsel,” ucap Hadi Jadmiko. Adapun titik api dikonsesi HTI sebanyak 417 titik berada di wilayah konsesi HTI perusahaan Asia Pulp and Paper (APP) di atas lahan gambut, merupakan salah satu perusahaan produksi kayu terbesar di dunia milik pengusaha Singapura. (nni/asa/ce2)

Sumber: Sumatera Ekspres, Senin, 13 Oktober 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: