Kabut Asap, Maskapai Rugi hingga Rp 20 M


Bahayakan Semua Transportasi

Kabut Asap, Maskapai Rugi hingga Rp 20 M
Tuna Keberangkatan: Kabut asap yang pekat pagi hari kemarin menyebabkan jarak pandang penerbangan terganggu. Demi keselamatan penumpang, sejumlah maskapai salah satunya Gurda Indonesia memilh delay (tunda penerbangan)

________________________________________

PALEMBANGKabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti Provinsi Sumatera Selatan kian hari tambah parah. Akibat jarak pandang yang pendek, bisa dipastikan mengganggu dan membahayakan semua sektor transportasi. Tak hanya udara, tapi darat maupun sungai merasakan dampaknya.

Sektor transportasi udara misalnya, Gangguan penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II tercatat beberapa kali delay. Oktober 2014 ini saja, tiga hari berturut-turut penerbangan terganggu akibat kabut asap pekat di pagi hari. Rata-rata penerbangan ditiadakan mulai pukul 06.20–10.30 WIB.

Sebut saja, 10 Oktober ada 15 maskapai delay, dimana 4 maskapai untuk keberangkatan dan 11 kedatangan. Kejadian terulang pada 11 Oktober ada 6 maskapai delay. Kemarin (12/10), 14 penerbangan dari dan menuju Bandara SMB II terpaksa delay.

Apa saja? Di antaranya, enam penerbangan menuju Palembang yakni, GA 100 dari Jakarta. Harusnya tiba pukul 07.00, GA 102 dari Jakarta harusnya tiba pukul 08.40, Lion Air JT 340 dari Jakarta seharusnya tiba 07.30, Sriwijaya Air SJ 082 dari Jakarta seharusnya tiba 07.50, Citylink QG 931 Batam, tiba 08.30 dan Citylink QG 820 dari Halim Perdana Kusuma.

Sedangkan penerbangan dari Palembang ada delapan yang terpaksa delay. Antara lain, GA 103 tujuan Jakarta, seharusnya berangkat 06.50 WIB, GA 105 tujuan Jakarta jadwal berangkat 07.45, GA 107 tujuan Jakarta 09.25, Lion Air JT 341 tujuan Jakarta 08.10, Sriwijaya Air SJ 880 tujuan Pangkal Pinang seharusnya berangkat 08.05, Citylink QG 930 tujuan Batam 09.00, Citylink QG 111 tujuan Halim Perdana Kusuma 08.20 dan Lion Air JT 246 tujuan Batam seharusnya berangkat 07.00.

Sedangkan pesawat Air Asia AK 451 dari Kuala Lumpur tujuan Palembang seharusnya mendarat pukul 08.10 WIB. Namun sempat berputar-putar (holding) di sekitar bandara. Karena kabut asap masih menyelimuti Bandara SMB II, akhirnya pilot mengalihkan pendaratan (divert) ke Bandara Soekarno-Hatta.

Pantauan Sumatera Ekspres, sekitar 1.500 penumpang menumpuk di ruang tunggu keberangkatan lantai II. Sebagian penumpang sibuk memainkan gadget, mengobrol dengan penumpang lain, dan memilih untuk tidur di kursi tunggu. Tak sedikit penumpang yang tidak mendapatkan kursi terpaksa duduk di lantai ruuangan itu.

Beberapa penumpang ada yang menggunakan masker untuk mengantisipasi kabut asap. Untuk keterlambatan penerbangan itu, pihak airlines memberikan kompensasi minuman dan snack sembari menunggu keberangkatan pesawat.

Di antara kerumunan penumpang, terlihat artis Lyra Virna bersama mantan suaminya Erick Strada menuju ruang tunggu. “Ya, saya mau berangkat ke Jakarta, tapi sepertinya pesawat yang saya tumpangi mengalami delay akibat kabut asap. Saya maklumi karena ini disebabkan cuaca buruk,” ungkap wanita berhijab itu.

Begitupun dengan penumpang Solihin. Dia mengaku sudah menunggu lebih dari dua jam, dari schedule awal pukul 06.45 WIB. “Sampai pukul 09.00 WIB, belum ada kejelasan dari pihak maskapai. Saya mengerti keterlambatan ini diakibatkan kabut asap yang tidak bisa dideteksi kapan selesainya masalah ini,” katanaya.

Delay terjadi beberapa menit mulai dari keberangkatan pesawat terbang pertama, Garuda Indonesia GA 101. Jadwal terbang pukul 05.45, namun baru bisa dilakukan 06.00. Lion Air JT 331, seharusnya berangkat pukul 06.00, tapi sedikit terlambat pukul 06.10 WIB. Saat itu, jaerak pandang masih normal. Hanya saja, setelah pukul 06.30 WIB.

Berdasarkan data yang dihimpun, penerbangan berangsur normal mulai pukul 10.30 WIB. Ditandai dengan keberangkatan pesawat Sriwijaya Air SJ 880 tujuan Pangkal Pinang. Kemudian disusul dengan mendaratnya pesawat Sriwijaya Air SJ 082 dari Jakarta pukul 10.50 WIB.

Rukmanidar, pengawas Operasional Bandar Udara (OBU) menjelaskan kejadian kemarinmerupakan gangguan aktivitas ketiga kali sejak adanya kabut asap. Jarak pandang penerbangan (visibility) pukul 06.30 sekitar 150-200 meter, ketika pukul 08.00 WIB vsibility menurun hingga 100 meter. Gangguan jarak pandang itu membuat pilot informan memutuskan untuk tidak melakukan penerbangan sementara.

Dia mengakui soal adanya pesawat dari Kuala Lumpur yang lebih dari empat kali berputar-putar (holding) di udara. Pesawat itu sudah menuju ke Bandara SMB II, namun tidak berani landing lantaran kabut asap yang terlalu pekat sehingga pesawat terpaksa mampir di Bandara Soekarno-Hatta. “Terpaksa mereka harus menunggu di sana (Bandara Soekarno-Hatta, red) sampai kabut dalam kondisi aman,” ungkapnya.

Terhadap delay berulang kali tersebut, sejumlah maskapai mengalami kerugian miliran rupiah. “Dampak signifikan Garuda Indonesia mengalami kerugian materi hingga Rp 20 miliar,” ungkap juru bicara PT Garuda Indonesia, Pujobroto.

Menurut dia, kerugian itu karena Garuda harus mengeluarkan biaya tambahan untuk keperluan penambahan avtur, biaya waktu tunggu lama saat mau take off atau harus berputar-putar baru landing. “Penerbangan tertunda akibat asap memunculkan keterlambatan pada pesawat berikutnya,” kata dia.

General Manager Garuda Indonesia Distriict Palembang, Henny Nurcahyani menambahkan sejak dua minggu terakhir, beberapa penerbangan Garuda Indonesia mengalami delay karena kabut asap mengepung Bandara SMB II. “Delay kami lakukan untuk menjaga keselamatan penumpang. Penerbangan baru akan dilanjutkan jika kondisi cuaca sudah memungkinkan. Sejauh ini delay pesawat kami mencapai lebih dari 3 jam,” jelas dia.

VP Corporate Communications Maskapai Citylink, Benny S Butarbutar, mengatakan pihaknya masih menyusun laporan kerugian yang dialami Citylink akibat fenomena kabut asap. “Kabut asap membuat operasional penerbangan Citylink terganggu. Ini tentu saja memperbesar biaya operasioanl dan membuat kami rugi,” terangnya saat dihubungi.

Presiden Direktur AirAsia Indonesia, Sunu Widyatmoko, mengatakan, AirAsia indonesia juga rugi akibat kabut asap. “Penerbangan ami ke Pekanbaru jadi terganggu,” bebernya. Untuk penerbangan Medan-Palembang baru akan terbang perdana 21 Oktober nanti.

Divisi Komunikasi AirAsia Indonesia, Ika Yanuarini mengatakan, terkait divert AirAsia tujuan Kuala Lumpur-Palembang tadi pagi memang benar terjadi. “Karena jarak pandang di SMB II kurang dari 500 meter, maka pesawat Kuala Lumpur-Palembang sempat dialihkan ke Jakarta. Sekalian juga isi bahan bakar kemudian terbang lagi ke Palembang dan sore sudah kembali ke Kuala Lumpur,” pungkasnya.

Bagaimana dengan transportasi darat? Bahaya kabut asap terasa dengan terjadi sejumlah kecelakaan di Jalintim. Begitu juga jalur transportasi sungai. Beberapa waktu lalu, terjadi kecelakaan. “Saya kira dengan kondisi kabut asap seperti sekarang, semua transportasi berbahaya. Jadi, harus hati-hati,” ungkap Ketua INSA (Indonesian Nasional Shipowners Association) Sumsel, Kurmin Halim.

Soal kerugian, kata Kurmin, pihaknya mengalami kerugian penurunan omzet yang signifikan yakni berkisar 50 persen. Menyusul keluarnya maklumat syahbandar tentang tentang pengaturan kapa melintas. Dimana kapal hanya boleh keluar dari perairan Sungai Musi pada tanggal ganjil dan masuk kembali saat tanggal genap. “Akibatnya, jika biasanya kapal boleh keluar masuk dalam satu hari tapi saat ini menjadi dua hari karena hanya boleh masuk tanggal genap. Tapi, kami patuh dengan maklumat tersebut karena menyangkut keselamatan penumpang.”

Terpisah, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Kenten, Indra Purnama, menjelaskan, jarak pandang akibat kabut asap kemarin (12/10) kurang dari 100 meter berkisar 50-75 meter. Artinya jarak pandang itu dalam kategori tidak aman. Hal itu dapat menjadi kendala aktivitas transportasi, baik dari udara, sungai dan darat.

“Membahayakan semua jenis transportasi, visibility yang aman itu hanya harus lebih dari 200 meter. Untuk bandara, visibility itu boleh dengan jarak 200 meter boleh dilakukan pendaratan karena adanya alat Instrument Landing System (ILS),” katanya.

Dia mengimbau kepada masyarakat yang kerap melakukan aktivitas di luar rumah untuk lebih waspada. Apalagi, kabut asap yang terlihat pekat. “Gunakan masker ketika keluar rumah, bila perlu kurangi aktivitas di luar jika tidak terlalu penting,” imbaunya. Terhadap pemerintah, lanjut dia, harus lebih diperhatikan dan terus dipantau masalah kabut asap ini.

Selain kabut asap yang membahayakan, masyarakat juga harus mewaspadai kualitas udara yang dalam kategori membahayakan. Kondisinya sekarang sudah 1.000 mg/m3, melebihi batas normal 150 mg/m3.

Sementara itu, pemerintah sepertinya harus mencari cara lain dalam menanggulangi kebakaran di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Setelah reda beberapa hari, kini titik api dan kabut kembali menyelimuti dua wilayah tersebut.

Berdasarkan pengawasan satelit Terra dan Aqua milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak kemarin pagi pukul 05.00 WIB, di Sumatera telah terdeteksi 153 titik api, yang terdiri dari 144 di Sumatera Selatan, 3 di Riau, 3 di Jambi, 2 di Kepulauan Riau dan 1 di Aceh.

Dari laporan tersebut, dilaporkan bahwa kondisi terparah terjdi di Riau dan sekitarnya. Kabut asap semakin pekat dan menyebabkan udara tercemar. Indeks standar pencemaran udara (ISPU) pun mencapai 240 yang mengindikasikan udara sangat tidak sehat. Untuk diketahui, perhitungan ISPU 0-50 menandakan baik, 51-100 sedang, 101-299 sangat tidak sehat, dan di atas 300 artinya berbahaya.

“Semua terhalang asap. Jadi jarak pandang juga terbatas. Di Pekanbaru hanya 500 m, Rengat 50 m, Dumai 1 Km dan Palalawan 500 m,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, kemarin (12/10).

Sutopo mengatakan, pemadaman terus berlangsung. Pihak BNPB telah berkoordinasi dengan BPBD untuk terus melakukan pemadaman. Namun sayangnya, titik api masih muncul kembali lantaran masih banyaknya pembakaran lahan dan hutan. “Penegakan hukum juga sudah berjalan. Namun masih banyak pembakaran. Ini perlu kerja sama semua pihak termasuk masyarakat untuk dapat mencegah pembakaran. Gerakan masyarakat mencegah dan memadamkan karhutla,” urainya.

Dia melanjutkan kabut asap yang menyelimuti wilayah Riau ini dijamin tidak akan menyeberang hingga ke Singapura. Sebab, menurut Sutopo, arah angin tidak akan mengarah ke negeri Singa itu. Angin secara umum bergerak dari Tenggara-Barat menuju barat laut-utara. “Dengan kecepatan 5-15 knot, maka tidak akan menyebar hingga Singapura,” tegasnya. (mia/aph/art/mik/cj10/fad/qiw/cj12/ce1)

Sumber: Sumatera Ekspres, Senin, 13 Oktober 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: