Belum Mengarah Jaringan Teroris


Ancaman Personal, Penyidik Jemput Paksa Dedi

Belum Mengarah Jaringan Teroris
Tim gabungan melakukan pra-rekontruksi di TKP untuk mencari bukti baru keterangan saksi-saksi. (Inzet) Dedi yang dijemput paksa oleh petugas kemarin Subuh.

________________________________________

PALEMBANGTim penyidik gabungan masih terus mendalami kasus meledaknya bom rakitan low explosive di Jl SMB II, Lr Margo II No 3000, Rt 30/06, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami, Palembang, dua hari lalu. Kemarin (10/10), Dedi Irawan alias Dedi (27), mantan suami Karlesi alias Sesi (28), adik kandung korban Evi Sukaesih (37) dijemput paksa.

Tim penyidik mencurigai pria yang baru lima bulan bercerai dengan Ses itu, sebagai pelaku yang mengirimkan bingkisan sekaligus perakit bom yang meledak di rumah Sesi. Ia dijemput dari rumahnya di kawasan Rambutan, Kabupaten Banyuasin, sekitar pukul 04.30 WIB.

Hanya saja, hingga berita ini diturunkan Dedi masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Sukarami sebagai saksi. Mengenakan T-shirt warna putih, celana jeans setengah tiang warna biru dan sandal jepit warna merah, Dedi dimintai keterangan penyidik Direktorat Reskrimum Polda Sumsel, Polresta Palembang, Satbrimob Polda Sumsel, Tim Lab Forensik, dan Polsekta Sukarami. Rencananya pemeriksaan ini akan dilakukan selama 3 x 24 jam di ruang pemeriksaan yang berbeda.

nformasi yang diperoleh dari pemeriksaan, saat kejadian Dedi berada di rumah Zakaria, pamannya di kawasan Serong, Talang Kelapa, Banyuasin sejak Rabu (8/10) sekitar pukul 23.00 WIB hingga Kamis (9/10) lalu. Dari rumah Zakaria, sekitar pukul 08.30 WIB ia pulang ke rumah Desi, saudara kandung Sesi di Perumahan Mega Asri II, Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin menggunakan mobil dump truk Mitsubishi Colt Diesel pengangkut kayu.

“Aku numpang mandi di rumah Desi, Pak. Sudah itu aku pegi lagi ke rumah Zakaria. Aku melok dio narik kayu di Desa Riding, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI),” terangnya.

Oleh tim penyidik, Dedi banyak dicecari pertanyaan seputar latar belakang pendidikan, pengalaman kerja serta pergaulan dengan orang-orang di sekitarnya. Baik itu tokoh ulama, tukang as, maupun pertanyaan seputar hubungannya dengan nelayan. Pertanyaan itu diarahkan, untuk mengungkap ada atau tidaknya jaringan yang berada di belakang Dedi.

Namun sayang, hampir keseluruhan penyidik baik dari Polda Sumsel maupun Polresta dan penyidik yang lainnya enggan mengungkapkan secara pasti terang-terangan terkait hasil penyelidikan yang mereka lakukan tersebut. Pihak penyidik hanya mengonfirmasikan saat memberikan keterangan, jawaban Dedi banyak tidak sinkron dengan pertanyaan yang diberikan.

Dedi juga mengakui memang sebelumnya pernah terlibat selisih paham dengan Sesi karena ketahuan berselingkuh dengan Khodijah, warga Kota Pagaralam. Terakhir kali ia berkunjung ke rumah Sesi, Minggu (5/10) sekitar pukul 19.00 WIB, saat Idul Adha. Dedi datang bersama Zakaria (45) untuk mengambil tabung kompresor untuk las, namun sempat ditolak oleh Sesi. “Dio mgomong kalu nak ngambek tabung itu, aku harus bayar utang dulu. Memang aku pernah utang Rp 1,5 juta samo Sesi, Pak. Jadi tabung itu idak jadi kami ambek, soalnyo idak dikasih oleh Sesi,” ungkap Dedi kepada penyidik.

Pantauan Sumatera Ekspres, Dedi sempat beberapa kali pindah ruang pemeriksaan. Seperti di ruang tim Riksa I, Ruang Bareskrim dan Ruang Kanit Shabara Polsekta Sukarami. Tampak juga tim penyidik gabungan menunggu di depan ruang pemeriksaan, menanti giliran untuk memintai keterangan Dedi.

“Saya tidak bisa menjelaskan lebih lanjut, karena ini merupakan proses penyidikan yang dilakukan tim gabungan. Memang proses pemeriksaan dipusatkan di sini (Mapolsek Sukarami) untuk mengungkap kasus ini. Dedi akan diperiksa secara kontinu selama 3 x 24 jam,” terang Kapolsek Sukarami Kompol Imam Tarmdui SIk.

Sekitar pukul 11.25 WIB, tim gabungan juga melakukan pra-rekonstruksi terhadap Sesi untuk mendaami keterangannya sebagai saksi yang sehari sebelumnya dimintai keterangan di Mapolsek Sukarami. Pra-rekonstruksi ini untuk memastikan keterangan yang baru, karena sebelumnya Sesi sempat memberikan keterangan berbelit dan tidak sesuai dengan hasil oleh TKP awal.

Sejumlah saksi kunci, seperti Sesi dan Mushadi, teman laki-lakinya terkuak bukti baru. Yaitu, Mushadi bertamu ke rumah Sesi, bukan ke rumah Evi, seperti pengakuan awal Sesi. Tapi Mushadi menyangkal, kalau ia melihat Sesi menemukan bungkusan kresek yang dikira lampu emergency saat hendak memasuki rumahnya.

“Aku idak tau Pak, ado bungkusan apo idak, aku idak nian jingok. Sesudah aku memarkirkan mobil, aku langsung duduk nyandar di kursi teras depan rumah Sesi. Tiba-tiba aku tekejut ado suaro ledaka, dari teras rumah Evi. Aku langsung lari keluar nyelametke diri dulu,” ujar Mushadi.

Setelah warga sekitar sudah banyak mendekati, Mushadi kembali menghampiri rumah Sesi. Lalu membantu membawa korban ke RS Myria bersama dua warga lainnya. “Aku lari deket warung depan itu, di situ aku minta bantuan samo warga. Aku dak berani deket pak,” beber warga Jl Putri Kembang Dadar, RT 51, Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat (IB) I, ini.

Terpisah, Kapolresta Palembang, Kombes Pol Sabaruddin Ginting SIk mengungkapkan, pihaknya menggelar pra-rekonstruksi untuk mengumpulkan bukti baru dan dan melengkapi proses penyelidikan. Pihaknya tetap membantah jika kasus tersebut dikaitkan dengan ancaman jaringan terorisme. Sabaruddin Ginting menyebutnya hal tersebut sebagai ancaman terhadap personal.

“Kami oleh TKP ulang, karena ingin dalami lagi kasusnya. Hari ini kami mendapat satu saksi untuk memeriksa empat kesaksian sebelumnya. Dedi kami periksa terkait empat laporan tersebut. Terlalu dini kalau kita menyimpulkan adanya keterkaitan teroris,” bantah mantan Kapolres Muba dan OKU Timur ini.

Sementara itu, Kapolda Sumsel Irjen Pol Prof Dr Irza Fadri SIk SH MH mengatakan, pihaknya tengah mengumpulkan sejumlah petunjuk dan melakukan pengembangan terkait kasus yang sempat menjadi sorotan nasional tersebut. “Tapi kasus meledaknya bom rakitan ini masih bersifat pribadi. Sementara itu, jenis bom rakitan berdaya ledak rendah. Kita biarkan penyidik melakukan tugasnya dulu dan semua tim khusus sudah kita kerahkan seperti Jibom dan Labfor,” singkat Irza.

Saat disinggung mengenai dugaan pelaku yang sebelumnya mengarah kepada mantan suami Sesi. Kapolda langsung membantahnya dengan tegas. “Kami tidak boleh berandai-andai, ini masalah sensitif dan tidak boleh gegabah dalam menyimpulkannya,” bantah mantan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) Mabes Polri yang ditemui usai shalat Jumat di Mapolda Sumsel, kemarin.

Irjen Pol Saud Usman Nasution sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT), usai serah terima dengan Kapolda Sumsel yang baru juga ikut menimpali. Menurut dia, kasus tersebut masih dalam proses penyelidikan, dan pihaknya berharap dapat melihat secepatnya hasil penyelidikan tersebut dari pihak penyidik.

Diwartakan sebelumnya, bom rakitan tersebut meledak dan mengenai bagian tubuh Evi. Akibatnya korban mengalami luka-luka sayat dan luka robek tangan kanan sampai payudara sebelah kanan terkena pecahan gelas dan serpihan bom rakitan, Evi ayuk kandung Karlesi alias Sesi (28), yang seharunya menerima bingkisan. Evi dan Sesi, pelayan di kafe Masteria. (cj13/war/ce2)

Sumber: Sumatera Ekspres, Sabtu, 11 Oktober 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: