Duka Di Balik Musibah Kebakaran, Penyebab 130-an Jiwa Kehilangan Rumah di Kelurahan Talang Semut


Semua Ijazah Terbakar, Ingin Bisa Bangun Rumah Lagi

Duka Di Balik Musibah Kebakaran, Penyebab 130-an Jiwa Kehilangan Rumah di Kelurahan Talang Semut
Sisa Kebakaran: Sejumlah korban kebakaran di Lr Langgar mengais puing-puing rumah mereka mencari barang yang mungkin masih tersisa

_________________________________________

Para korban kebakaran di Jl Mujahidin, Lr Langgar, RT 12 dan RT 14, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, mulai membersihkan puing rumah yang berserakan. Muslim (35), salah seorang korban. Seperti apa duka dia dan warga lainnya yang kehilangan tempat berteduh karena amukan si jago merah, Minggu (21/9) lalu?

================================

Khoirunnisak, Fauzi – Palembang

================================

Kesedihan kehilangan tempat masih jelas tergambar di raut wajah sebagian warga Lr Langgar, RT 12 dan RT 14, Kelurahan Talang Semut. Peristiwa kebakaran tiga hari lalu telah merenggut semua harta benda mereka. Untung saja, tak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Namun, sekitar 130-an jiwa yang semula tinggal di sana, kini tak punya tempat berteduh lagi. Meski ada bagian rumah mereka yang tersisa sedikit, tapi kebanyakan tinggal arang dan dan rata dengan tanah. Meski begitu para korban berharap ada barang yang tidak terbakar di balik tumpukan puing yang telah habis terbakar.

Merka pun membongkar dan membersihkan puing-puing kediaman masing-masing. Termasuk Muslim yang merapikan sisa bangunan rumah orang tuanya, H Kgs Diah Udin yang juga ikut terbakar. Dia mencari sisa-sisa kayu dan mungkin barang berharga di lokasi rumah yang tidak ikut hangus dilalap api.

“Semuanya terbakar, tak ada yang tersisa. Hanya sofa ini,” ucap Muslim sembari menunjukkan ke arah sofa yang tidak ikut terjilat api. Baginya dan keluarganya, kebakaran hari Minggu lalu ibarat mimpi jelang siang. Dengan cepatnya lidah api semuanya tanpa ia dan warga lain sempat berbuat banyak untuk menyelamatkan semua yang berharga dari dalam rumah.

Diceritakan Muslim, ketika kebakaran terjadi, kediaman mereka sedang kosong. Orang tuanya dan keluarganya yang lain kebetulan sedang menjenguk famili mereka di OKI. Sedangkan Muslim dan istrinya, menginap di rumah mertuanya. “Kami baru mendengar kabar adanya kebakaran saat api sudah besar dan menyambar sebagian rumah. Karena itu, tidak ada barang yang sempat diselamatakan, kecuali pakaian di badan,” tuturnya.

Tidak terkecuali yang hangus terbakar ijazah sekolahnya yang ada di rumah berdinding beton dua lantai tersebut. Mulai dari ijazah SD, SMP, SMA, hingga Strata (S-1) jadi abu. Ikut juga terbakar ijazah saudaranya. “Tetangga juga banyak yang ijazahnya terbakar. Bahkan, ada sepeda motor mereka ikut hangus,” beber Muslim sembari menyatakan kalau kebakaran itu baru pertama kali melanda kawasan tinggal mereka.

Saat sebagian besar tetangganya bingung mau tinggal sementara di mana, Muslim dan keluarganya tetap tinggal di eks lokasi rumah yang terbakar untuk sementara waktu. Ada satu kamar dan satu ruangan ruumah yang tidak terbakar. Ruangan yang cukup besar itu mampu menampung sebagian dari keluarganya. “Lumayan masih ada tempat untuk berteduh,” ucapnya.

Muslim dan para korban lain juga bersyukur, bantuan dari banyak pihak yang iba dengan musibah tersebut terus mengalir. Dua hari lalu ada bantuan dari Gubernur Sumsel yang diserahkan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto, dan Kabid Banjamsos Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, Drs MS Sumarwan.

Ada juga bantuan dari pengurus Vihara Dharmakirti dan Perhimpunan Indonesia Tionghoa Sumsel (Inti Sumsel). “Semua korban kebakaran memang sangat membutuhkan bantuan makanan dan pakaian,” tuturnya.

Untuk ijazah yang terbakar, Muslim mengatakan akan mengurusnya ke Dinas Pendidikan agar bisa mendapatkan duplikatnya. Di balik itu semua, para korban kebakaran ini berharap ada bantuan untuk membangun dan menata tempat tinggal mereka kembali.

Kesedihan juga dirasakan Fitri (30), seorang ibu rumah tangga, warga yang tinggal di Seberang Ulu. Ia hanya bisa terduduk sembari menatap puing rumah orang tuanya yang habis terbakar. “Aku tidak tinggal di sini. Tapi rumah orang tua Ayuk yang terbakar. Habis tak ada sisa sama sekali,” imbuhnya.

Bagi Junaidi (56), kebakaran tersebut membawa kenangan yang tak mungkin bisa ia lupakan. Pagi itu, ia bersama istri dan anaknya sedang berada di rumah. “Tiba-tiba terdengar suara orang menjerit kebakaran….. kebakaran. Saya keluar dan melihat api dan asap sudah membubung tinggi,” ujarnya sembari meringis kesakitan.

Tampak perban masih menempel di pipi, tangan dan kai kanannya. Junaidi mengalami luka bakar karena berusaha membantu memadamkan api yang menjilat rumah tetangganya. “Meski pun usaha saya tidak dapat menghentikan amukan api, tapi setidaknya saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk membantu,” tuturnya.

Ketika itu, Junaidi bahkan tidak ingat kalau dirinya keluar rumah tanpa alas kaki. Selain menyelamatkan tetangganya, Junaidi juga ingin menyelamatkan rumah adik iparnya. Namun apa hendak dikata, kobaran api begitu cepat menghanguskan semuanya. Dia sempat dirawat di RS AK Gani, tapi diizinkan pulang karena luka bakarnya tidak terlalu parah. (*/ce4)

Sumatera Ekspres, Rabu, 24 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: