23 KK Kehilangan Tempat Tinggal


Jerit Tangis di Permukiman Padat

23 KK Kehilangan Tempat Tinggal
Padamkan Api: Warga bahu membahu memadamkan api yang melahap rumah warga di Lr Langgar Soto, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, kemarin. Ratusan jiwa terpaksa kehilangan tempat tinggal dalam musibah tersebut

________________________________________

PALEMBANGKebakaran hebat terjadi di permukiman padat penduduk, Lr Langgar Soto, RT 14, Kelurahan Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, Sumatera Selatan, kemarin (21/9). Sekitar pukul 09.00 WIB. Jerit tangis warga terdengar di tengah kobaran api dan upaya pemadaman si jago merah.

Tak ada korban jiwa, namun ratusan jiwa dari 23 kepala keluarga (KK) harus kehilangan tempat tinggal. Mereka menghuni enam rumah semi permanen dari dua RT yakni RT 12 (18 KK) dan RT 14 sebanyak 5 KK yang dikontrakkan.

Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh M Sofyan (23), sekitar pukul 09.00 WIB. Dia melihat ada percikan api dari kontrakan Kgs Rodali alias Ali (60), warga RT 14 yang disewakan kepada Sukarman (36). “Tadi kami rame-rame jingok ado asep dari stop kontak listrik di dalam kontrakan Ali. Kami cubo padamke tapi idak mati-mati. Trus kabel itu meledak keluar api langsung nyamber rumah,” ujar Sofyan saat ditemui Koran Ini di lokasi kejadian, kemarin. Dengan cepat api menyambar dan membakar seisi rumah kontrakan Ali.

Diketahui, kontrakan Ali dihuni oleh 5 KK dengan 42 jiwa. Dari kontrakan Ali, api menjalar ke kontrakan milik Rafil dan Kgs Amid juga di RT 14. Setelah itu ke rumah Ismail (60), Kgs H Djanudin (55), dan Jufri Susanto (58). Berdasarkan data kepolisian dari ketiga kontrakan disebut terakhir yang terletak di RT 12 ada 18 KK (100-an jiwa).

Dalam kejadian itu, Junaidi (45), warga sekitar yang hendak memberikan bantuan dengan membawa racun api, terjebak dalam kobaran api. Ia mengalami cedera, luka bakar sekujur tubuh mulai bagian muka, kedua tangan, dan kaki. Korban sempat di larikan ke RS AK Gani.

“Aku nak bantu warga madamke api. Api itu besak nian, aku tejebak di tengah-tengah, idak biso maju idak biso mundur. Untung langsung ditarik oleh kawan yang di belakang, jadi aku slamet,” cerita korban usai mendapatkan perawatan medis.

M Firdan Rosidi (57), ketua RT 12, memastikan tak ada korban jiwa dari RT 14 maupun RT 12. “Kita sudah data. Alhamdulillah semua (warga) selamat. Soal kerugian belum bisa dipastikan. Warga masih trauma.”

Lurah Talang Semut, Darwani, mengatakan hingga tadi malam masih terus mendata para korban kebakaran. “Dari RT 14 ada sekitar 42 jiwa. Kalau RT 12 sekitar 81 jiwa, tapi ini kemungkinannya masih bertambah. Ya, kalau ditotal ratusan jiwa kena musibah ini.”

Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Suryadi SIK didampingi Kapolsek Ilir Barat (IB) I, Kompol Budi Santo, menyatakan, pihaknya masih menyelidiki penyebab kejadian tersebut. “Korban kebanyakan masyarakat sipil biasa. Di sini kawasan padat penduduk dan rumahnya terbuat dari papan. Mengenai penyebab kebakaran apakah dari korsleting listrik atau kompor masih belum dapat dipastikan,” tegas Suryadi saat ditemui di lokasi kejadian. Pantauan Sumatera Ekspres, mobil pemadam kebakaran (damkar) dari Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) tiba di lokasi tak lama dari kejadian kebakaran. Hanya saja, meskipun jarak kantor BPBPK dekat, sekitar 100 meter dari titik kebakaran, proses pemadaman tetap menemui kendala.

Sebanyak 18 unit mobil damkar yang dikerahkan tak leluasa bergerak. Itu tadi, lantaran rumah yang terbakar berada di lorong sempit. Akhirnya warga dan petugas BPBPK bahu membahu “menaklukan” si jago. Warga dengan peralatan seadanya mengambil air dari anak Sungai Musi. “Kita turunkan seluruh damkar 18 unit. Cuma kendala untuk menjangkau lokasi sangat sempit. Warga juga panik dan membuat petugas kewalahan,” kata Kepala BPBPK Edison.

Sebagian warga yang lain sibuk menyelamatkan barang yang bisa diselamatkan. Mereka terlihat shock dan terus meratapi musibah yang mereka alami. “Kami idak tahu nak tiduk di mano? Bingung nian,” ujar seorang warga sembari menyeka air matanya. Fitri (30) yang tinggal di daerah Seberang Ulu hanya bisa duduk menatap puing sisa kebakaran rumah orang tuanya. “Aku idak tinggal di sini, Dek. Rumah wong tuo ayuk yang terbakar,” ujarnya lirih.

Wakil Wali Kota Palembang H Harnojoyo didampingi sejumlah pejabat terkait meninjau lokasi kebakaran sekitar pukul 13.00 WIB. Dua buah tenda sudah berdiri persis di lapangan, Lr Khatib. Ada juga posko kesehatan dari PMI. “Tenda difunsikan sebagai tempat berteduh atau pun tempat tidur sementara bagi masyarakat yang tidak mempunyai sanak-keluarga. Di sana, juga disiapkan makanan dan minuman,” kata Faizal AR, Kadinsos Kota Palembang, kemarin (21/9).

Menurut Faizal, pihaknya menunggu rekomendasi dari lurah dan camat untuk data para korban yang rumahnya hangus terbakar. “Sudah ada perda tentang kewajiban pemkot untuk membantu korban kebakaran. Bahwa pemkot wajib membantu sekitar Rp 2 juta/KK dan jika ada korban meninggal bantuan akan ditambah. Dan itu pasti akan dilakukan,” pungkasnya. (cj13/why/chy/ce1)

Sumatera Ekspres, Senin, 22 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: