Kerajaan-Kerajaan di Maluku


Kerajaan-Kerajaan di Maluku Oleh: Burhanuddin

Sungguh tak disangka Guheba menawarkan bantuan kepada Jafar Sadek untuk membawanya terkbang ke kahyangan.

_______________________________

Hatta, pada zaman dahulu, seorang Arab yang bernama Jafar Sadek atau Jafar Noh berlabih di Ternate. Dan tak lama setelah itu, ia pun pergi ke sebuah bukit yang bernama Jore-Jore dan membangun rumah dengan memanfaatkan pepohonan yang tubuh subur di tempat itu.

Hingga pada suatu petang, ketika Jafar Sadek pergi untuk mandi di Danau Ake Sentosa yang terletak di kaki Bukit Jare-Jare, sebelum sempat ia membuka pakaian, tiba-tiba secara tak sengaja bola matanya melihat ada tujuh bidadari yang tengah mandi di danau itu.

Dari balik rimbunnya semak dan pepohonan, Jafar Sadek pun mencuri salah satu dari ketujuh sayap milik bidadari tersebut. tak lama kemudian, ia pun pergi untuk menyembunyikan sayap curiannya itu.

Setelah puas bersimbah, ketujuh bidadari itu pun segera menepi ke pinggir danau. Tetapi apa hendak dikata, Nur Sifa bungsu dari tujuh bidadari itu tidak bisa menemukan sayapnya.

Dengan berat hati, akhirnya, keenam kakanya pun terpaksa meninggalkan Nur Sifa di bumi. Melihat itu, Jafar Sadek pun muncul seolah pahlawan dan menghibur Nur Sifa yang tengah dirundung kesedihan. Sehingga Nur Sifa pun dengan senang hati menerima pinangannya.

Keduanya hidup tenang dan damai. Seiring dengan berjalannya sang waktu, pasangan ini dkaruniai tiga orang putra yang masing-masing diberi nama Baka, Darajat dan Sahajat.

Hingga pada suatu hari, ketika sedang memandikan sibungsu, Sahajat, samar mata Nur Sifa melihat bayangan sayap miliknya memantul di permukaan air. Setelah diperhatikan dengan saksama, akhirnya Nur Sifa pun yakin bahwa sayapnya yang telah lama hilang itu sengaja disembunyikan oleh suaminya di langit-langit rumah.

Bergegas Nur Sifa mengambil dan langsung mencobanya. Tiga kali ia mencoba untuk terbang, tiga kali pula ia gagal. Ketika baru beberapa meter terbang, mendadak, telinganya mendengar suara tangisan si bungsu yang demikian menyayat.

Naluri keibuannya pun bangkit. Ia langsung turun dan mengambil sebuah gelas dan menampung air susunya di gelas tersebut. Ia pun berpesan kepada si sulung, Baka; “Minumkanlah susu inijika adikmu kembali menangis.”

“Dan beritahu ayah, jika ibu sudah kembali ke kahyangan,” demikian kata Nur Sifa dengan sendu dan kembali terbang.

Ia menatap semua yang dicintainya dengan perasaan yang tak menentu. Walau telinganya sayup-sayup menangkap tangisan si bungsu yang kembali pecah, namun, Nur Sifa telah menetapkan niatnya untuk kembai berkumpul dengan sanak keluarganya di kahyangan.

Begitu menjelang petang, saat Jafar Sadek kembali ke rumah, hatinya langsung berguncang ketka mendengar kepergian istrinya dari si sulung. Karena tak kuasa menahan kesedian, ia pun menangis dengan sejadi-jadinya. Tangisan Jafar Sadek ternyata terdengar oleh seekor Guheba (elang laut; bahasa Ternate).

Karena penasaran, guheba itupun terbang dan mendekati Jafar Sadek sambil bertanya; “Apakah yang menyebabkan engkau demikian bersedih?”

Dengan singkat dan sambil terisak, Jafar Sadek pun menceritakan semua kejadian yang baru saja didengarnya. Tanpa banyak tanya guheba pun menyatakan bersedia membawa Jafar Sadek ke kahyangan. Mendengar itu, dengan senang hati, Jafar Sadek pun langsung melompat ke punggung Guheba dan membawanya terbang ke kahyangan.

Singkat kata, sesampainya di kahyangan, Jafar Sadek bertemu dengan penguasa langit yang merupakan ayah dari ketujuh bidadari tersebut. Setelah menyampakan salam takzim, ia pun menyampakan maksudnya kepada penguasa langit; “Anak Anda, Nur Sifa, adalah istri hamba. Oleh sebaab itu, hamba bermaksud untuk membawanya kembali pulang.”

Sang penguasa langit hanya tersenyum dan segera memanggil ketujuh puterinya. Tak berapa lam kemudian, ketujuh bidadari itu pun muncul satu persatu dari balik tabir yang berkabut. Mereka benar-benar mirip satu sama lainnya. Mulai dari wajah, pakaian, lekuk tubuh, tinggi badan, bahkan rambutnya pun semua sama. Sehingga sulit untuk membedakan antara satu dengan lainnya.

“Jika engkau bisa menunjuk istrimu dengan tepat, maka silakan bawa dia pulang,” demikian kata sang penguasa langit.

“Akan tetapi, jika salah, maka, hukuman mati bakal engkau terima,” imbuhnya dengan penuh wibawa.

Kegalauan langsung saja menyergap hati Jafar Sadek. Di tengah-tengah kebingungan dan hukuman mati yang bakal diterimanya, tiba-tiba, Gufu Sang (lalat hijau: bahasa Ternate) hinggap di pundaknya dan menawarkan pertolongan tanpa meminta imbalan. Ambil berbisik Gufuu Sang meminta Jafar Sadek memerhatikan, sebab ia akan hinggap di bahu Nur Sifa.

Bersamaan dengan Jafar Sadek mengangguk tanda mengerti, maka, Gufu Sang terbang berputar-putar di antara ketujuh bidadari. Dan tak lama kemudian, ia pun hinggap di salah satu bahu bidadari. Ternyata Gufu Sang dengan mudah menemukan Nur Sifa berkat aroma susu yang menguar, maklum, kala itu, ia sedang menyusui. Jafar Sadek yang sejak tadi mengawasi, dengan penuh percaya diri menunjuk salah satu bidadari yang bahunya dihinggapi Gufu Sang. Dan pilihannya itu tepat adanya.

“Pilihanmu benar-benar tepat anak muda,” demikian kata sang penguasa langit. Dengan senang hati, sang penguasa langit pun memperkenankan Jafar Sadek untuk membawa puterinya pulang, bahkan, ia juga merestui pernikahan keduanya. Rupanya Jafar Sadek dan Nur Sifa tidak ingin cepat-cepat pulang ke bumi, mereka tinggal di kahyangan untuk beberapa lama sehingga kembali mendapatkan putera yang diber nama Mashur Malamo.

Ketika Mashur Malamo mengijak usia setahun, Jafar Sadek dan Nur Sifa pun mohon diri pada penguasa langit untuk pulang ke bumi. Tapi adpa saya tiap akan meninggalkan kahyangan, Mashur Melamo selalu menangi dengan keras. Sang penguasa langit yang tanggap dan sadar betapa cucunya itu menginginkan kopiah yang dimilikinya.

Ketika sang kakek memakaikan kopiah tersebut, Manshur Malamo pun tak menangis lagi. Bahkan wajahnya tampak bersr-seri seakan menunjukkan kegembiraan. Semua yang melihat hanya bisa tersenyum melihat ulah Mashur Malamo yang lucu itu. Akhirnya, Jafar Sadek, Nr Sifa serta Mashur Malamo yang mengenakan kopiah kakeknya kembali pulang ke bumi.

Ketika sampai di bumi, mereka kembali bertemu dengan ketiga putranya. Kemudian Nur Sifa memberikan tanda masing-masing berbeda keada putranya—putra sulungnya, Baka diberi sebuah tempat duduk dari age (sepotong buncak pohon dalam bahasa Ternate), yang kemudian bertolak ke Makian dan menjadi cikal bakal kerajaan Bacan.

Darajat, putra kedua diberi tempat duduk dari ginoti (sepotong kayu terapung dalam bahasa Ternate), kemudian pergi ke Moti yang kemudian menjadi cikal bakal Kerajaan Jailolo. Sang putera ketiga, Sahajat diberi sebuah tempat duduk moti (batu dalam bahasa Ternate), yang kemudan bertolak ke Tidore dan menjadi cikal bakal Kerajaan Tidore.

Sementara, Mashur Malamo diberi sebuah tempat duduk berupa kursi dan kemudian mejadi cikal bakal Kerajaan Ternate, sedang kopiah dari san penguasa langit yang dimilikinya, kemudian manjadi mahkota bagi kerajaan Ternate. (dari berbagai sumber terpilih) (*)

Sumber: Misteri Edisi 586 Tahun 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: