Asap Telan Korban di Sungai Musi


Speed Tabrak Pohon, 1 Tewas Belasan Luka

Asap Telan Korban di Sungai Musi
Evakuasi: Kondisi bagian depan speedboat Rezeki mengalami kerusakan saat dievakuasi, kemarin (atas). Tampak (bawah) korban dirawat di RS Dr AK Gani.

________________________________________

PALEMBANGPekatnya kabut asap belakangan benar-benar berdampak pada jalur transportasi air. Kemarin (18/9), sekitar pukul 07.00 WIB, speedboat Rezeki 200 PK mengalami kecelakaan tunggal, menabrak pohon di perairan Sungai Musi. Tepatnya di Desa Bintara, Dusun Awitan, Jalur 8, Kecamatan Air Saleh, Kabupaten Banyuasin.

Seorang penumpag dari speedboat bermuatan 40 orang plus atu serang (nakhoda) itu, meninggal dunia. Dia bernama Azima (60), warga Jalur 29, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), sedangkan 16 penumpang lain menderita luka-luka, dan menjalan perawatan intensif di RS AK Gani, Palembang. Masing-masing 12 orang luka ringan dan empat luka berat. Kemudian, lima penumpang selamat lain dievakuasi ke Puskesmas Air Sugihan. Salah satunya, anggota Polsek Air Sugihan Brigadir Ovionto. Sedangkan, penumpang lain langsung kembali ke jalur 29, OKI.

Bagaimana kejadian sebenarnya? Begini. Informasinya, pagi itu sekitar pukul 06.30 WIB, speedboat Rezeki dengan serang bernama Rusdi (38) bertolak dari Jalur 29, OKI menuju Palembang. Meskipun kabut asap tebal, serang tetap melaju dengan kecepatan tinggi.

Tanpa disadari, di depan ada kayu—penduduk setempat menyebut pohon Pedado. Serang sempat menghindar, namun kabut asap menghalangi pandangan an membuatnya justru menabrak pohon Pedado lain di pinggir tebing sungai.

Suprianto (21), korban selamat mengaku dirinya duduk dilantai 2 speed bersama tiga penumpang lainnya saat kejadian. “Waktu kejadian, kabut asap memang pekat. Tiba-tiba speed sudah berada di depan pohon Pedado. Sempat menghindar, tapi malah menabrak pohon lain di tepian sungai,” tuturnya saat ditemui Koran Ini di RS AK Gani.

Supri—panggilan akrabnya—mengaku sempat kesulitan mengevakusi korban lantaran speednya sempit. Apalagi jumlah penumpang angat padat. “Seluruh bangku dilepas guna memudahan evakuasi. Semua korban dikeluarkan dari bagian belakang dikarenakan bagian depan speedboat hancur total.”
br />
Nuri (40), warga Dusun Awitan, saksi mata yang melintas di TKP pasakejadian mengungkapkan hal serupa. “Serang idak tejingok (pohon Pedado) karena pagi tadi (kemarin) kabut asap tebal nian. ‘Kan sekarang musim kemarau jadi banya hutan terbakar.”

Menurut dia, 30 menit setelah kejadian datang speed Rezeki lain dan langsung memberi pertolongan. Sebagian penumpang dievakuasi ke Palembang, sebagian lagi kembali ke Jalur 29 OKI. “Speed yang itu langsung diamankan polisi. Nah, aku dak tahu kalu ado yang ninggal apo idak,” imbuhnya.

Junaidi, saksi mata lain menyebutkan saat kejadian kondisi sungai sedang sepi. Lokasi kecelakaan juga jauh dari permukiman. Jarak 1,5 jam menggunakan speedboat kecepatan 40 km/jam dari desa terdekat, Dusun Awitan. “Yang aku tahu speed itu ditarik polisi ke Desa Bintaran, ruan (bagian depan speed) hancur. Tapi tiidak ada lagi penumpang.

Cikola (57), serang ketek yang mengevakuasi speed Rezeki mengatakan, dirinya diminta tolong oleh Polair Upang (Banyuasin) menarik speed tersebut ke pos Polair Upang. “Aku dengan anak aku Lasi (35) nyari daun nipah. Nah, ketika sedang lewat dipanggil pak polisi untuk minta tolong tarik speed rusak itu ke pos. Aku idak tahu apo penyebabnyo yang penting kutarik bae,” ungkapnya.

Komandan Pangkalan Pos Polair Upang, Aipda Sugeng Wijaya membenarkan kecelakaan tunggal speedboat Rezeki di perairan Jalur 8, Kecamatan Air Saleh, Banyuasin. “Kecelakaan terjadi sekitar pukul 07.00 WIB. Dugaan sementara asap tebal menyelimuti sungai membuat serang tidak bisa melihat terlalu jauh dan menabrak pohon,” ungkapnya.

Dikatakan, dari insiden tersebut phaknya telah mengamankan barang bukti berupa speedboat yang hancur bagian depan. “Sudah kami amankan. Rencananya speedboat tersebut akan kami serahkan ke Polair Sungai Lais untuk penyelidkan lebih lanjut.”

Rusdi, serang speedboat Rezeki belum bisa dilakukan penyelidikan. Yang bersangkutan mengalami patah kaki dan menjalani perawatan di Puskesmas Jalur 29. “Kami sudah berkoordinasi dengan polsek setempat untuk diajak kerja sama.”

Sugeng menambahkan, Rusid bisa dijerat pasal 359 KUHP karena kelalaian dan menyebabkan orang meninggal dunia. “Semua korban speed kita evakuasi ke RS AK Gani. Hanya Rusdi di Puskesmas Jalur. Penumpang lain dikembalikan ke daerah asal Jalur 29.”

Sebelum kejadian nahas tersebut, kata Sugeng, pada Rabu (17/9) lalu, sekitar pukul 19.00 WIB, kecelakaan juga dialami speedboat penumpang Aktif bermesin 40 PK bermuatan 8 orang tujuan Palembang-Makarti (Banyuasin). Tiba di TKP, Muara Jalur 10, speedboat tersebut menabrak jukung. “Seluruh penumpang 8 selamat. Hanya saja serang speed Mursidi bin Luwi (40) hingga sekarang belum ditemukan,” ungkapnya.

Peristiwa tersebut, tambah dia, tengah diselidiki Polair Upang. “Speed Aktif sudah kami amankan. Sementara jukung masih dalam proses pengejaran. Waktu kejadia tidak ditemukan karena cuaca gelap,” tukasnya.

Terkait dua insiden beruntun yang menelan nyawa tersebut, Kepala SAR Palembang, Joni Superiadi, mengatakan, pihaknya belum mendapat informasi insiden speedboat Rezeki yang terjadi kemarin. “Segera dkoordinasikan.” Meski begitu, Joni menurunkan satu unti kapal rescue dan speed menyusuri pinggiran Sungai Musi. Bukan mencari korban speed Rezeki, melainkan menyisir korban speed Aktif.

Kasubdit Gakkumundu Ditpolair Polda Sumsel, AKBP Denny Haryadi menegaskan pihaknya terus melakukan indentifikasi dan menyelidiki penyebab kecelakaan tunggal tersebut. “Diduga keadaan saat itu gelap karena kabut asap. Kemudian nakhoda ingin menghindari kayu tersebut dan tiba-tiba kapal langsung oleng dan menabrak pepohonan yang berada di tepian sungai.” Kapolsek Air Sugihan Ipda Dharmanson menegaskan pihaknya teru berkoordinasi dengan jajaran Polres Banyuasin dan Polsek Muara Padang untuk menyelidiki penyebab pasti laka tunggal tersebut.

Pantauan Sumatera Ekspres, korban terluka masih menjalani perawatan di RS AK Gani. Nursahid (49), warga Desa Sidomakmur, Jalur 29, Air Sugihan OKI terpaksa dirawat diiruang Flamboyan Isolasi. “Bapak saya tidak sadarkan dirimungkin kena benturan yang cukup keras. Bahkan dari hidung dam mulut juga mengeluarkan darah. Rencananya bapak saya ini ke Palembang untuk memfotocopy materi pelajaran karena dia seorang guru,” ucap Iwan (25) saat menunggu d samping tempat tidur bapaknya.

Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian SH memerintahkan Kadishubkominfo Banyuasin agar mendata para korban, baik itu meninggal, luka berat dan ringan. “Kepada pengendara speedboat atau jukung, tidak usah berlayar kalau memang kabut asap tebal.”

Supriadi, Kadishubkominfo menambahkan, pihaknya segera mengeluarkan surat peringatan kepada operator agar tidak melakukan aktivitas pelayaran saat kondisi kabut asap masih tebal. “Untuk jadwal yang tidak diperkenankan, pagi dan sore jelang malam hari, karena di waktu itu kabut masih sangat tebal,” terangnya.(qda/hak/wiy/ce1)

Solusi, Hanya Hujan Buatan

PALEMBANG —- Kabut asap masih saja menyerang Palembang, kemarin. Namun kondisinya tdak sepakat dua hari yang lalu. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kenten Palembang, Muhammad Irdham, mengatakan, soluusi mencegah munculnya hotspot dan terjadinya kebakaran hutan atau lahan di musim kemarau.

”Untuk hujan bautan ini tergantung kebijakan Pemprov Sumsel. Kami belum mendapatkan informasi tentang itu. Tapi bisa saja dilakukan. Samua tergantung dari kebijakan pemerintah daerah,” ungkapnya.

Diakuinya, hujan buatan itu juga harus didukung kondisi awan. Menurut Irdham, saat ini pembentukan awan di langit Palembang belum mengandung air. “Tapi harus diakui kalau kabut asap saat ini suudah mengganggu aktivitas,” katanya.

Maraknya kebakaran hutan dan lahan di Sumsel ternyata sudah diketahui pemerintah pusat. Hari ini (19/9), Kepala Badang Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN), Syamsul Maarif ke Palembang. “Besok (hari ini) pukul 14.00 WIB ada Kepala BPBN datang ke sini (Palembang) dan melakukamn pertemuan di Griya Agung,” kata Kepala Badang Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Yulizar Dinoto.

Katanya, Kepala BPBN akan langsung mengecek dan memantau langsung hutan atau lahan yang terbakar, maupun yang berpotensi untuk terbakar di musim kemarau ini. Pada 17 September, tercatat ada 194 hotspot. Jumlahh itu terbaya kedua setelah 10 September, dimana terdeteksi 228 hotspot.

Katanya, rata-rata dari setiap kabupaten/kota terdeteksi hotspot, kecuali Lubuk Linggau dan Prabumulih yang masih nol. Sementara itu, helikopter Rusia, bantuan tambahan BPBN untuk Sumsel ternyata beralih ke Riau.

Sebelumnya sempat beredar informasi kalau operasional helikopter Kamov itu terkendala izn dari bea cukai dan keimigrasian untuk pilotnya. “Helikopter masih dipinjam Riau untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan di sana, bukan karena itu (terkendala bea cukai dan imigrasi),” kata Yulizar.

Terkait kecelakaan kapal bermuatan 40 penumpang di Air Sugihan, Yulizar mengau belum tahu penyebab pastinya. “Bisa saja kecelakaan terjadi karena faktor asap, tapi mungkin juga karena yang lain,” katanya. Pihaknya telah menurunkan tim SAR (Search and Rescue) untuk membantu evakuasi para korban. Kalaupun kecelakaan perairan itu karena asap, seharusnya nakhoda atau serang kapal lebih waspada dan memahami kondisi alam. (wia/ce1)

Sumatera Ekspres, Jumat, 19 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: