Kesigapan Tim Gabungan Menanggulangi Kabut Asap di Sumsel


Hot Spot Bertambah, Fokus per Wilayah

Kesigapan Tim Gabungan Menanggulangi Kabut Asap di Sumsel
Padamkan: Kebakaran lahan tak hanya menimpa lahan gambut, melainkan di pinggiran Kota Palembang. (inzet) Pemadaman titik api dari udara menggunakan helikopter MI-8

________________________________________

Sejak awal September lalu, sebagian daeah di Sumatera Selatan (Sumsel) “dikepung” asap. Akibatnya jarak pandang pun terganggu. Ini dipicu oleh sebaran hot spot (titik api, red) yang tak terkendali. Seperti apa pemerintah menanganinya?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Hingga kini, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BPBN) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pengendalian kebakaran lahan dan Hutan (PKLH) Sumsel melakukan pemadaman menggunakan metode water bombing melalui udara. Sementara, melalui jalur darat menyiagakan Tim Manggala Agni.

Nah, untuk jalur udara, tim gabungan menggunakan du helikopter MI-8 dan Bolkow milik Ukraina. Upaya pemadaman hot spot yang memicu kabut asap ini mulai efektif dilakukan awal September hingga berakhirmnya musim kemarau. Setidaknya penanggulangan asap sudah memasuki pekan kedua.

Kepala BPBD Sumsel H Yulizar Dinoto mengungkapkan, saat ini tim tengah memadamkan titik api yang tersebar di sejumlah daerah. Setidaknya langkah tersebut dilakukan baik melalui udara hingga darat. “Kalau melalui udara kami menggunakan helikopter. Dari udara inilah, tim melakukan metode water bombing menggunakan air dari Sungai Musi dan air dari lokasi terdekat dengan titik api,” terang Yulizar.

Sebelumnya, pada hari pertama tim melakukan water bombing di Pagaralam satu titik, OI enam titik, OKI 26 titik, OKU 16 titik, Mura 32 titik, Muba 39 titik, Banyuasin 20 titik, Empat Lawang 13 titik, Lahat delapan titik, Muara Enim 10 titik, Muaratara 24 titik, dan PALI ada enam titik api. “Hari pertama itu memang kondisinya banyak titik apinya, namun setelah dilakukan penanggulangan titik api mulai berkurang.”

Untuk diketahui, kapasitas sekali bombing helikopter MI-8 ini sebanyak 4.000 liter dan Bolkow 500 liter. Helikopter MI-8 ini mempunyai panjang 18,46 meter dan lebar diameter rotor 21,25 meter dengan tinggi ini 4,76 meter. Kecepatan maksimum terbangnya 250 km/jam.

Masih kata Yulizar, data satelit Aqua/Terra Modis, Fire Information of Resouce Management System (FIRMS) dan University of Maryland Usa (NASA) menyebutkan, hingga kemarin terjadi peningkatan titik api. Yakni mencapai 228 titik. Dari jumlah itu tersebar di beberapa kabupaten/kota, seperti Pagaralam 1 titik api, Palembang 3 titik, Empat Lawang 3 titik, OI 5 titik, PALI 5 titik, OKU 6 titik, OKUT 6 titik, Lahat 6 titik, OKUS 14 titik, Muaratara 14 titik, Mura 16 titik, Muara Enim 17 titik, Muba 24 titik, Banyuasin 24 titik, dan OKI 83 titik.

Yulizar menegaskan pihaknya hanya sebagai petugas operasi. Semua biaya dan anggaran dari BPBN pusat. “Semua kegiatan terutama biaya dari pusat yakni BPBN bukan BPBD Sumsel,” tegasnya. Untuk mengetahui kondisi lapangan, dirinya terjun langsung melalui udara menggunakan helikopter MI-8. “Ya, seperti itulah kondisinya, ternyat titik api di Sumsel meningkat, tapi tim kita tetap berusaha semaksimal mungkin melakukan pemadaman,” ucapnya.

Khusus besok (hari ini, red) tim akan fokus melakukan pemadaman per kabupaten. Terutama OI dan Palembang. “Khusus OKI pemadaman di perkebunan Sinar Mas Group pemadaman melakukan helikopter milik perusahaan. Langkah selanjutnya yang akan kami lakukan besok (hari ini, red) melakukan pertemuan dengan pengusaha perkebunan di Griya Agung dengan narasumber Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, Polda dan Kodam,” tutupnya.

Sementara itu, pengamatan Sumatera Ekspres (Sumeks) saat mengikuti penerbangan helikopter MI-8 asal Ukraina ke atas wilayah Kabupaten OI. Pilot heli tersebut adalah Anatolly Hrypass, co pilot Andriy Lazorsky, flight engineer Lystia Pavlo, dan dua teknisi yakni Brailian Sergii serta Pakhomov Sergi. Take off di pangkalan udara TNI AU, selanjutnya langsung mengarah ke OI. Di lokasi tersebut ada sejumlah titik api, khususnya di lahan gambut yang jauh dari permukiman warga.

Awalnya, tim melakukan pengecekan melalui udara, setelah titik api terdeteksi crew langsung mengambil air di sungai. Selanjutnya helikopter terbang agak tinggi menuju titik api. Kemudian air sebanyak 1.000 liter ditumpahakan tepat di pusaran titik api. Langkah serupa dilakukan pada sejumlah daerah yang terdapat titik api.

Upaya pemadaman titik api sendiri mendapat perhatian sejumlah warga. Bahkan ada yang menyaksikan secara langsung proses penyiraman titik api. “Kalau pakai heli baru bisa mati apinya, selama ini kan hanya manual yang dilakukan warga,” ujar seorang warga di lokasi pemadaman titik api.

Dampak dari meningkatnya titik api ini, ternyata berpengaruh pada sebaran kabut asap yang kian mengkhawatirkan. Akibatnya berdampak terhadap kesehatan. Terkait hal ini, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel telah berkoordinasi dengan Dinkes kabupaten/kota untuk mengantisipasi dampak dari asap.

“Maraknya kebakaran lahan atau hutan, asapnya pasti akan berimbas pada kesehatan warga, terutama yang bertempat tinggal di sekitar lokasi yang terbakar. Dikhawatirkan, akan banyak yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA),” ungkap Dra Lesti Nurainy Apt MKes, kepala Dinkes Sumsel.

Tahun lalu saja kata dia, Dinkes Sumsel mencatat ada 17.884 orang di Sumsel yang terserang ISPA. pemicunya lantaran banyaknya hutan dan lahan terbakar. “Ada 6.498 anak di bawah lima tahun dan 11.386 anak di atas lima tahun. Bisa jadi, jika kondisi asap tahun ini tidak ditanggugalangi cepat, akibatnya bisa seperti itu, atau bahkan lebih parah,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinkes 17 kabupaten/kota terkait pembagian masker untuk masyarakat. “Masker menjadi penting agar masyarakat tidak mengisap asap. Kami mengarahkan agar pembagian masker dilakukan pada wilayah yang rawan di Sumsel,” terang Lesti. (nni/uni/wia/ce2)

Mulai Ganggu Jarak Pandang

Untuk Jalur Palembang-Inderalaya

Mulai Ganggu Jarak Pandang
Mengganggu: Kabut asap mulai mengganggu jarak pandang di Jalan Palembang–Inderalaya. Kondisi ini membuat pengemudi kendaraan harus ekstra hati-hati, apalagi jalur tersebut padat kendaraan

_______________________________________

Kebakaran lahan gambut pada sisi kiri dan kanan jalan di jalur Palembang–Inderalaya terus berlangsung. Asap pekat terus membumbung hingga mengganggu jarak pandang. Akibatnya, pengemudi kendaraan yang melintas di jalur tersebut harus ekstra hati-hati.

“Kalau selama ini macet jalur Palembang–Inderalaya karena ada kendaraan mogok atau jalan rusak, sekarang penyebabnya karena asap tebal. Setiap hari terjadi kebakaran lahan ini,” kata sopir travel Palembang–Inderalaya Wani (58) kemarin.

Menurutnya, asap yang diakibatkan kebakaran lahan gambut ini menyelimuti sebagian wilayah di OI. “Kami harus hati-hati, kalau tidak berbahaya. Apalagi, jalur Inderalaya–Palembang padat kendaraan,” ucapnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pemkab OI Drs A Syakroni mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya penanggulangan dan berkoordinasi dengan BPD Sumsel. “Kalau mengandalkan sarana milik Pemkab OI tidak akan mungkin bisa mengatasi kebakaran lahan gambut yang setiap hari terjadi, kita hanya memiliki dua armada PBK dan dua unit pompa apung. Untuk mengatasi kebakaran lahan gambut hanya bisa diatasi dengan melalui udara, yakni helikopter water bomb, termasuk hujan buatan,” katanya.

Masih kata dia, terhitung 1-8 September, terdeteksi 10 hot spot. Pada bulan sebelumnya tercatat 16 titik api. Menurutnya jumlah titik api dari Agustus ke September dari 16 titik api mejadi 6 titik api, padahal September ini merupakan puncak kemarau yang notabenenya dipastikan titik api makin bertambah, tapi justru sebaliknya, itu dikarenakan telah diupayakan pengendalian.

Untuk mengurangi titik api, tidak bisa dilakukan secara manual lagi, harus dilakukan melalui udara, yakni menurunkan helikopter water bombing. Hasilnya, cukup jitu dari 16 titik api yang terdeteksi tinggal 6 titik api dan terakhir tercatat tinggal 2 titik api.

“Karena September ini puncak kemarau, rencananya akan dilakukan hujan buatan, penanggung jawab hujan buatan ini adalah dari pihak provinsi bekerja sama dengan pusat,” lanjutnya. Masih kata Syakroni, OI merupakan kawasan yang sangat rentan sekali terjadi kebakaran lahan, Khususnya di kawasan jalur Palembang–Inderalaya di dua kecamatan. Masing-masing Pemulutan dan Inderalaya Utara.

Memang kata Syakroni, upaya penanggulangan kebakaran lahan ini, BPBD Pemkab OI agak sedikit kewalahan, lantaran baik sarana pendukung sangat terbatas termasuk personelnya juga sangat minim. Saat ini hanya ada dua armada PBM dan dua unit pompa apung, begitu juga tenaga personel satgas hanya 25 orang, kebutuhan sendiri paling tidak ada 50 personel.

Terkait kabut asap yang mulai mengganggu pemandangan dan pernapasan, warga diimbau untuk memakai masker saat naik kendaraan bermotor. Karena, ada sejumlah titik yang memang terbilang tebal kabut asapnya. (sid/asa/ce2)

Waspada El Nino, Dirikan Posko

Kepala UPTD Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKHL) Dinas Kehutanan (Dishut) Sumsel, Achmad Taufik mengungkapkan, Di Sumsel ada 1,4 juta hektare lahan gambut yang tersebar di beberapa wilayah di Sumsel seperti, OKI, Muba, Banyuasin, Ogan Ilir dan Muara Enim. “Lahan gambut susah dipadamkan, mengingat medan mudah sekali terbakar,” ujarnya.

Ia mengaku, saat ini memang terjadi puncak hot spot, dan pihaknya bersama pihak terkait akan terus bekerja sama menanggulangi pemadaman api. “September musim kemarau, memicu peningkatan hot spot,” katanya.

Sementara penanggulangan kabut asap, hot spot dan kemungkinan datangnya bencana El Nino di OKI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) OKI mendirikan sejumlah posko dan membentuk relawan di sejumlah titik rawan kebakaran seperti di Kecamatan Air Sugihan. Tulung Selapan, Pedamaran Timur, dan Lempuing Jaya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten OKI, Azhar SE menambahkan, selain membentuk posko, Pemerintah Kabupaten OKI sudah dua kali melayangkan surat edaran kepada seluruh perusahaan perkebunan dan HTI serta para camat dan kades di wilayah OKI.

Surat edaran tersebut berisikan imbauan pada September 2014 memasuki musim kemarau, berkurangnya curah hujan hingga berada jauh di bawah nol dan naiknya suhu permukaan laut yang disebut dengan El Nino. (hak/nni/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 12 September 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: