Kisah Astina, Juru Parkir Berusia 86 Tahun


Masih Kuat Kerja hingga Jam 11 Malam

Kisah Astina, Juru Parkir Berusia 86 Tahun Hidup enak dan serba kecukupan di hari tua tak bisa dirasakan Astina. Diusianya yang mencapai 86 tahun, dia masih berjibaku mencari rupiah demi rupiah dengan menghidupi dirinya. Menjadi tukang parkir di pinggir jalan adalah pilihannya.

================================

Dian Cahyani – Palembang

================================

Seorang nenek mengenakan rompi merah list hitam dan lambang Dishub di dada kiri rompi menggerak-gerakan tangannya mengatur parkir kendaraan di Jl Jenderal Sudirman, kawasan simpang Sekip. Rupanya, nenek yang rambutnya sudah memutih itu juru parkir di sana.

Setelah kendaraan terparkir, dia kembali duduk di kursi plastik kecil di depan salah satu minimarket di sana. Dialah, Astina, biasa disapa Nek Astina. Keriput di wajahnya tak mampu menyembunyikan usianya yang kini sudah 86 tahun.

Sudah hampir sepuluh tahun ia menjadi juru parkir. Pekerjaan itu mau tidak mau dilakoninya. Dia harus kuat untuk tetap hidup. “Pertama kali menjadi tukang parkir, tarif parkir sepeda motor masih Rp 200 dan parkir mobil Rp 500,” kenangnya.

Beberapa kali perbincangan dengan Sumatera Ekspres terhenti karena Nek Astina mengatur mobil dan sepeda motor yang parkir di halaman supermarket itu. Peluh dan lelah bersarang di wajahnya setelah bekerja. Sembari memasukkan uang Rp 2 ribu yang diterimanya, dia mengaku tak minta lebih kepada pengendara yang memarkirkan kendaraannya.

“Kalau dikasih, ya diambil. Tidak bayar juga tidak apa-apa,” katanya tersenyum. Nenek 21 cucu ini mengaku mulai bekerja pukul 08.00 WIB hinga 23.00 WIB. “Tapi kalau sudah sepi, jam 9 atau 10 malam sudah pulang,” imbuhnya.

Nek Astina bukanlah asli warga Palembang. Dia kelahiran Tanjung Sejaro, Inderalaya. Dengan usia yang uzur, dia tak ingat tanggal kelahirannya. “Ada di KTP, tapi tidak nenek bawa, di rumah. Hanya ingat umur sekarang 86 tahun,” ucapnya sembari menunjukkan rumah kontrakannya di seberang jalan, tak jauh dari tempat bekerja.

Di sana, dia tinggal berdua dengan cucunya yang masih bujangan. Edi namanya. Sedangkan semua anaknya sudah menikah dan mereka tinggal berpencar. Ada yang tinggal di Suban, Sinar, Prabumulih, dan juga Inderalaya.

Nek Astina sudah 11 tahun tinggal di Palembang. Sejak 6 tahun lalu, ia ditinggal suaminya yang menghadap Ilahi. “Sejak itu, terpaksa nenek cari biaya hidup sendiri,” bebernya dengan sedikit nada sedih. Dalam sehari, ppaling banyak ia dapat Rp 50 ribu-Rp 70 ribu. Itu pun harus dipotong setoran parkir yang harus dibayarnya ke Dishub Palembang.

“Petugas Dishub menagih setiap malam,” ucap Nek Astina sembari menunjukkan bukti kuitansi setoran uang parkir. Juru pakir “gaul” dengan jam di pergelangan tangan kirinya itu menyatakan, banyak orang yang menyayanginya. Saat ia mudik, banyak yang menanyakan dan mencarinya. “Penjaga toko dan pak polisi juga sudah kenal nenek. Ada dari mereka yang sesekali memberikan roti dan makanan lain. Semua baik,” tuturnya.

Di sela-sela obrolan, ada bunyi dari saku bajunya. Rupanya ponsel genggam Nek Astina berdering. Dengan handphone keluaran lama itulah dia berkomunikasi dengan anak-anak dan cucunya. “Ini telepon dari anak nenek. Mereka sering menelepon, menanyakan kabar,” tukasnya sembari mengaku hanya bisa menerima telepon, tidak bisa mengirim short message service (SMS) atau lainnya. (*/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 11 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: