Jumlah Sepeda Motor Menggila


Tujuh Bulan Bertambah 1.024.897 Unit

Jumlah Sepeda Motor Menggila
Tidak Patuh: Para pengendara sepeda motor merangsek maju saat kendaraan dari arah Cinde masih melintasi lampu hijau. Ulah tidak tertib di kawasan simpang Charitas ini terjadi saban hari. Tak hanya membahayakan diri sendiri, tapi tindakan itu dapat membahayakan nyawa orang lain

________________________________________

PALEMBANGHampir setiap waktu, terjadi kemacetan pada sejumlah titik di jalanan Kota Palembang. Ada beberapa faktor penyebabnya. Salah satu dan yang paling utama, adanya pertambahan jumlah kendaraan bermotor.

Di sisi lain, pertumbuhan jalan tak mampu mengimbangi. Tapi siapa sangka, pertambahan kendaraan bermotor ini begitu menggila. Dari data terakhir yang dihimpun Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Sumsel melalui sistem administrasi manunggal satu atap (Samsat), dalam tujuh bulan terhitung akhir 2013, telah terjadi pertambahan 1.215.979 unit, baik roda dua maupn roda empat.

“Akhir 2013, jumlah kendaraan bermotor tercatat 2.525.915 unit sepeda motor dan mobil. D Juli 2014, jumlah yang tercatat sudah mencapai 3.741.894 unit sepeda motor dan mobil,” ungkap Kasi STNK Regident Ditlantas Polda Sumsel, Kompol Andi Supriadi.

Jika dirinci, jumlah sepeda motor pada 2013 hanya 2.183.756 unit. Tapi pada Juli 2014 lalu, jumlahnya 3.208.643 unit atau telah bertambah 1.024.897 unit. Sedangkan mobil, akhir 2013 tercatat 342.092 unit. “Di bulan Juli 2014, jumlah mobil sebanyak 533.251 unit atau telah bertambah 191.092 unit,” tuturnya.

Tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor di Sumsel, baik roda empat maupun roda dua tidak dapat dipungkiri karena berbagai kemudahan untuk memiliki kendaraan. Katanya, rendahnya angsuran kredit yang diberikan dealer atau leasing membuat keinginan masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor meningkat tajam.

Wajar kalau kemudian kemacetan makin sering terjadi dan semakin tidak bisa dikendalikan. Dengan pertumbuhan kendaraan yang begitu tinggi, ruas jalan yang tersedia dan nyaris tidak bertambah luas dirasakan semakin sempit. “Kondisi ini tidak hanya terjadi di Palembang saja, tapi juga di beberapa daerah lain,” tutur Andi.

Ditambahkannya, untuk menekan pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor ini, diperlukan kebijakan pemerintah. “Samsat hanya sebagai tempat yang memberikan layanan sarana dan prasarana untuk mengurusi berbagai kelengkapan administrasi kendaraan,” tukasnya.

Setelah mengetahui kondisi ini, pemerintah dapat mengambil kebijakan untuk mencegah makin banjirnya kendaraan di jalanan Metropolis dan kabupaten/kota lain di Sumsel. Masyarakat tidak harus membeli kendaraan. Caranya fasilitas dan kualitas angkutan umum harus lebih bagus dan memberikan kenyamanan.

Kasatlantas Polresta Kota Palembang, Kompol Arief Fitrianto SIk tak memungkiri tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan di Metropolis. Pertumbuhan ini tidak didukung dengan prasarana jalan yang ada. “Maka, ada kemacetan tiap hari yang tidak bisa dihindari,” katanya.

Berbagai hal dilakukan pihaknya untuk mengurai kemacetan. Salah satunya, menerjunkan sedikitnya dua personel pada titik rawan kemacetan seperti Jl Jenderal Sudirman, Bundaran Air Mancur, Km 5, Angkatan 45, simpang RS RK Charitas, dan titik macet lainnya. Khususnya pada jam-jam sibuk, pagi hari atau pulang kerja.

“Dua waktu itu sangat rawan terjadinya kemacetan,” jelas Arief. Diungkapnya, kemacetan juga dipengaruhi kurangnya kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas. “Banyak pengendara yang tidak sabar dan sering menyerobot, menerobos lampu merah atau keluar dari marka jalan,” tuturnya. (uni/ce4)

Laris Seperti Kacang Goreng

Kemacetan yang terus saja menghantui Metropolis dinilai pengamat ekonomi Yan Sulistyo sudah mengarah pada kondisi kronis. Salah satunya, disebabkan pertambahan jumlah kendaraan yang jauh melampaui volume jalan.

Pertumbuhan kendaraan ini, baik yang baru maupun kendaran luar yang masuk ke wilayah Sumsel, khususnya Palembang. “Pertumbuhan kendaraan sangat tinggi. Untuk mobil saja, per tahun sekitar 4.000 unit. Belum lagi, sepeda motor yang sudah seperti membeli kacang goreng. Di sisi lain, volume jalan tidak bertambah,” bebernya.

Kondisi ini, ucap Yan, jelas akan menyebabkan kemacetan. Belum lagi, ketidaktegasan pemerintah dalam menertibkan pengguna kendaraan di jalanan. Seperti becak, bentor, dan lainnya yang seenaknya berkeliaran di jalan raya maupun parkir sembarang tempat. Ditambah pejalan kaki yang masih saja menyeberang jalan, padahal sudah ada jembatan penyeberangan. Belum lagi, banyak ruko yang dibangun tanpa menyediakan fasilitas parkir yang memadai sehingga tak jarang memakan badan jalan, bahkan bisa hingga parkir tga lapis.

“Tidak ada ketegasan dari Satlantas, Dishub, dan lainnya. Seperti tidak ada usaha sama sekali, dan semua lemah sehingga dampaknya meluas,” cetus Yan. Di samping itu, arah pembangunan, khususnya kawasan pinggir jalan, harus jelas dan tertata. (chy/ce4)

Klaim Macet hanya Jam Sibuk

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Palembang menilai, kemacetan di sejumlah titik hanya terjadi pada jam-jam sibuk. Di luar waktu saat pagi berangkat ke sekolah atau kantor dan sore ketika orang-orang pulang kerja, jalanan normal dan lancar.

“Itu hanya macet insidentil, tidak lama,” kata Kadishub Palembang, H Masripin Toyib, melalui Kabid Pengawasan dan Pengendalian, Isranedy. Untuk meminimalisir kemacetan yang terjadi, pihaknya menurunkan tim patroli. Ada 3 tim yang bertugas pagi, 2 tim siang, dan 1 tim patroli pada malam hari.

“Kalau menemukan adanya kendaraan yang akan parkir sembarangan, tim akan menegur. Tapi kalau kendaraannya sudah terparkir, terpaksa ban mobilnya dipasang kunci ban,” bebernya. Meski mendapat kecaman, cara itu dimaksudkan untuk memberikan efek jera kepada pemilik kendaraan agar tertib dan tidak mengulangi perbuatannya yang dapat menimbulkan kemacetan.

Kabid Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) dan Perkeretaapian Dishubkominfo Sumsel, Sudirman menegaskan, pihaknya tidak punya kebijakan untuk membatasi masyarakat dalam memiliki kendaraan pribadi. “Kami bersama instansi terkait lain hanya boleh mengatur pengguna jalan dan jembatan agar tidak terjadi kemacetan panjang,” katanya. Dishubkominfo juga berharap ada kebijakan dari pemerintah yang mengatur pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor saat ini. (chy/wia/ce4)

Sumatera Ekspres, Rabu, 10 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: