Melihat Penyebab Merosotnya Prestasi Sriwijaya FC Musim 2014


Siapa Paling Bertanggung Jawab?

Melihat Penyebab Merosotnya Prestasi Sriwijaya FC Musim 2014
Musim Sulit: Pemain Sriwijaya FC bersama dengan Gubernur Sumsel dan jajaran manajemen sebelum kompetisi ISL 2014 dimulai. (foto: Sumeks cetak)

________________________________________

Hasil buruk diraih Sriwijaya FC pada musim ini. Ini lantaran, posisinya berada di peringkat 6 dari 11 kontestan di Wilayah Barat. Lantas, mengapa Laskar Wong Kito terus terpuruk?

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Masalah sudah mulai menimpa klub Sriwijaya FC sejak awal kompetisi. Saat itu, manajemen mengalami kesulitan dalam pemain andalan. Penyebabnya adalah aksi mogok para penggawa tahun lalu. Presiden klub mengklaim aksi tersebut membuat pemain incaran tak mau bergabung karena mendengar kondisi keuangan buruk.

Alhasil, nama-nama beken yang masuk radar seperti Fabiano Beltrame dan Titus Bonai yang sempat didekati manajemen memilih tak mau datang karena aksi mogok tersebut. Situasi ini berujung kekurangan pemain saat mendekati kompetisi Indonesia Super Leaque.

Untungnya, pemain kaliber Asri Akbar, Syakir Sulaiman, Maman Abdurarahman, Lancine Kone, dan lainnya mau bergabung. Namun, apa hendak dikata, pelatih kepala Subangkit tetap kekurangan armada. Solusinya, pemain Sriwijaya FC U-21 yang menjuarai kompetisi ISL U-21 dipromosikan menjadi skuat utama.

Saat awal kompetisi dimulai, Subangkit dipusingkan dengan cidera pemain dan belum bergabungnya Kone dan Abdoulaya Yousouff Maiga karena masalah perizinan. Skuat pas-pasan harus dijalani pada saat itu. Pada 5 pertandingan awal, tim ini hanya mampu meraih dua kemenangan yakni saat melawan Persija Jepara dengan skor 2-1 dan Pelita Bandung Raya 1-0.

Memasuki pertengahan kompetisi, Lancine Kone, Maiga, dan Ongfiang sudah mulai nyetel dengan permainan tim. Harapan sempat terkuak saat klub masih bisa bersaing di empat besar. Dimana, tim berpeluang untuk menggeser posisi Persija Jakarta.

Namun, ketidakberuntungan kembali datang. Satu persatu pemain mengalami cedera secara bergantian seperti Erol Iba, Firdaus Ramadhan, Ongfiang, Syakir Sulaiman. Belum lagi akumulasi kartu yang sering mengenai Kone, Maiga, Sumardi, dan lainnya. Alhasil, tim makin sulit mencapai 4 besar.

Saat 5 pertandingan terakhir, yakni ketika tim bertemu Persijap Jepara, petaka klub dimulai. Hasil buruk diraih karena Asri Akbar dan kawan-kawan dikalahkan dengan skor 0-1. Padahal, saat itu Persijap tengah dirundung masalah finansial dan isu mogok pemain> Akibatnya, pada 4 pertandingan selanjutnya yakni melawan Gresik United, Arema, PBR, dan Persib, Sriwijaya selalu menelan kekalahan. Skuat muda yang menjadi cadangan ternyata tak mampu berbuat banyak untuk menjadi pelapis. Mereka kerap kesulitan berkompetisi di ISL karena fakor masih kurangnya pengalaman bertanding. Akan tetapi, hal ini menjadi kesempatan bagi pelatih untuk mengasah mental dan skill mereka.

“Mereka memang memiliki potensi seperti Rizky, Rishadi, Jeki, Alan dan lainnya. Tetapi faktor jam terbang turut berpengaruh sehingga memerlukan banyak pengalaman bertanding,” terang Pelatih Kepala Sriwijaya FC, Subangkit.

Memang, secara skill dan individu, skuat utama Subangkit tergolong cukup baik di belakang ada Firdaus Ramadhan dan Maiga yang kekuatannya tak jauh berbeda dengan Gathuessi dan Jufriyanto, namun duet keduanya angat jarang bisa bermain karena cedera dan akumulasi kartu tadi.

Lini tengah juga dihuni bintang seperti Asri Akbar, Vendry Mofu, Ongfiang, Syakir Sulaiman, Yohanis Nabar, dan Kone. Nama-nama itu sudah tak dragukan lagi skill dan kemampuan bertandingnya. Komposisi lini depan yang agak meragukan, young gun seperti Rishadi, Syamsir Alam, dan Rizky Ramadhan belum bisa berbuat banyak.

Alhasil dalam beberapa laga yang dilakukan, Subangkit lebih memilih menunjuk Kone menjadi striker tunggal. Padahal, sejatinya, Kone berposisi sebagai playmaker. Namun, itu tak menjadi masalah karena Kone berhasil menjalankan tugas dengan baik.

Hanya saja, masalah krusial yang dihadapi Subangkit adalah kekompakan tim. Kondisi tidak harmonis benar-benar tak terlihat di lapangan Bahkan, sempat terjadi beberapa konflik antarpemain dan pelatih seperti kasus Siswanto dan juga pemain-pemain dengan pemain.

“Memang ada beberapa kendala seperti sikap Ongfiang yang rata-rata membuat anak-anak tidak respek dengan dia. Seharusnya pemain itu berskap profesional,” kata mantan arsitek Persiwa Wamena tersebut.

Disiplin pemain juga kurang. Masih ada pemain yang suka minum minuman terlarang, malas latihan, dan emosional. Contohnya saat pemusatan latihan di Kudus pasca libur-Lebaran. Ada beberapa pemain yang kebanyakan jalan-jalan bukannya berlatih serius. Bahkan, pada saat pertandingan terakhir ada seorang pemain yang sempat emosi dan menggebrak bench karena tak dimainkan. (rip/ion/asa/ce2)

Klaim Finansial Sehat

Presiden Klub Sriwijaya FC, H Dodi Reza Alex memastikan manajemen PT Sriwjaya Optimis Mandiri (PT SOM) tak mengalami kekurangan dana dalam arungi Indonesia Super Leaque (ISL) 2013/2014. Bahkan, ia mengklaim, Laskar Wong Kito — julukan Sriwijaya FC menjadi salah satu klub sehat di bumi pertiwi terkait kondisi finansial.

“Coba lihat dan bandingkan kita dengan klub macam Persebaya, Persijap, dan Arema Malang yang sedang dilanda masalah pembayaran gaji. Kita sendiri tak mengalami masalah itu sama sekali,” kata Dodi.

Ia mengklaim, kesuksesan menjaga finansial klub lantaran keahlian manajemen dalam menjaring sponsor tim. Tercatat ada beberapa perusahaan besar menjadi penyokong dana seperti PT Bukit Asam, Bank Sumsel Babel, PDPDE, hingga beberapa brand ternama lainnya.

“Ini seua sejak Pak Robert Heri (manajer, red) bergabung dengan tim. Semuanya berjalan dengan lancar. Jadi, kita yakin dengan hal tersebut menyebabkan banyak pemain bintang yang akan bergabung dengan kita nanti,” jelas anggota DPR RI tersebut. (rip/ion/asa/ce2)

Sering Bentrok, Penonton Sepi

Salah satu masalah lain yang harus diterima Sriwijaya FC pada musim ini adalah minimnya dukungan, baik dari masyarakat maupun suporter. Dalam beberapa partai kandang terakhir tribun stadion terlihat sepi.

Banyak faktor yang menyebabkan Jakabaring jadi tak angker bagi tim tamu. Seperti karena menurunnya prestasi tim hingga kondisi keamanan bagi si penonton sendiri. Setiap pertandingan kandang, selalu diwarnai bentrok antarsuporter. Bahkan beberapa di antaranya memakan korban, seperti terkena siraman cuka para.

Tak ayal banyak penonton takut ke Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring tersebut. “Saya sudah tak peduli lagi dan tak pernah menonton ke stadion. Karena memang sangat berbahaya,” kata Pembina Simanis Ultras Palembang, Qusoy. Ia sendiri mengaku sangat menyesalkan sering terjadinya baku hantam antarsuporter.

“Saya rasanya ingin mengadu ke Kapolda saja. Bagaimana tidak, setiap ada pertandingan selalu ada tawuran. Semua senjata keluar di sana, termasuk juga cuka parah,” tegas Qusoy.

Ketua Umum Singa Mania, Hendri Zainuddin mengatakan, pemberitaan untuk pertandingan memang kurang heboh. “Seharusnya spanduk soal pertandingan di daerah bukan hanya di Palembang sebagai informasi. Karena suporter dari luar Palembang juga banyak, seperti Banyuasin, OI, dan Musi Banyuasin,” terang dia. Masalah lainnya yang membuat penonton kian sepi lantaran tak adanya door prize seperti dua musim lalu. (rip/asa/ce2)

Tak Perlu Bintang, yang Penting Kompak

Pengamat
Kegagalan Sriwijaya FC musim kompetisi 2013/2014 ditafsirkan banyak pihak karena minim pemain bintang. Kalau dilihat dari komposisi pemain hanya Syakir Sulaiman yang mendapat kesempatan membela Tim Nasional (Timnas) itu pun diusia (U-23) proyeksi Asian Games XVII 2014 di Korea Selatan.

Namun menurut Kas Hartadi mantan pelatih Sriwijaya FC, secara umum skuat Jakabaring sebenarnya cukup baik. Mulai dari posisi penjaga gawang punya Fauzi Toldo, kemudian jajaran bek ada Firdaus Ramadhan, Sumardi, dan Abdoulaye Yousouff Maiga. Lalu tengah punya Oliver Ongfiang, Vendry Mofu serta Asri Akbar.

Sementara untuk depan ada Lancine Kone. “Saya pikir yang bagu memang Kone. Ongfiang juga bagus tapi saya lihat kayak malas-malasan,” ujar coach yang berhasil mempersembahkan juara ISL musim 2011/2012 bagi Sriwijaya FC ini.

Karena itu Kas, sapaan akrabnya menilai pemain bintang tidak begitu penting. “Paling penting sebenarnya adalah kekompakan. Kita punya banyak pemain bintang kalau gak mau kerja sama percuma. Apalagi kalau mereka main malas-malasan,” tambah dia.

Terpisah, Syamsuramel pengamat sepak bola di Sumsel menilai masalah krusial Laskar Wong Kito — julukan Sriwijaya FC adalah dana. Itu setelah klub kontestan ISL dilarang menggunakan APBD. “Memang untuk mengarungi kompetisi cukup, bahkan musim ini tanpa menunggak sama sekali. Tapi apakah mereka punya banyak dana untuk membeli pemain berkelas,” tambah dia.

Kedua kata mantan sekretaris PSSI Sumsel ini, karena kinerja pelatih. “Bagaimanapun pelatih sangat menentukan pemain. Kadang-kadang pemain melihat pelatih dahulu untuk gabung sebuah tim. Kadang juga sebaliknya pelatih punya banyak pemain namun manajemen tidak cukup anggaran,” tambah dosen Unsri ini.

Selain itu Ramel juga menyarankan agar PT SOM (Sriwijaya Optimis Mandiri) dan klub (Sriwijaya FC) terpisah. “Dan isinya harus orang-orang profesional.” (ion/asa)

Sumatera Ekspres, Senin, 8 September 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: