Keberadaan Pasar Tradisional di Tengah Perkembangan Pasar Modern


Segera Revitalisasi, Pengunjung Merosot

Keberadaan Pasar Tradisional di Tengah Perkembangan Pasar Modern
Kumuh: Minimnya perhatian pemerintah terhadap penataan hingga pengelolaan pasar tradisional 10 Ulu Palembang, mengakibatkan tidak terkontrolnya kebersihan dan kenyamanan. Bahkan keberadaan pedagang kaki lima (PKL) mempersempit badan jalan di kawasan tersebut.

________________________________________

Di tengah “gempuran” pasar modern, pasar tradisional hingga kini tetap eksis. Tapi, tidak menutup kemungkinan ke depan keberadaannya terancam punah. Ini bisa terjadi, jika pemerintah kurang memedulikan pasar yang sudah ada sejak dulu tersebut.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Budaya masyarakat yang terus berkembang membuat kehadiran pasar modern makin menggeliat. Itu lantaran masyarakat lebih mengutamakan pelayanan dan kenyaman saat berbelanja. Selain itu, sebagian masyarakat juga mengutamakan practice, seihngga enggan berbelanja ke pasar tradisional.

Pantauan Sumatera Ekspres beberapa pasar tradisional di Palembang seperti, Pasar Cinde, 10 ulu, 7 ulu, dan 16 ilir terlihat semrawut. Dimana banyak pedagang kaki lima (PKL) menggelar dagangannya hingga memakan badan jalan. Akibatnya, menimbulkan kemacetan jalan terutama saat pagi hari. Kondisi tersebut diperparah dengan sikap pemilik kendaraan yang memarkirkan kendaraannya disembarang tempat.

Tidak sampai disitu, pasar tradisional juga kerap dicap kumuh. Terutama di sekitar pedagang sayur, ikan, hingga daging. Limbah bekas pembuangan dibiarkan mengalir pada saluran yang kurang memadai. Belum lagi di saat musim penghujan. Sehingga menambah kotornya kawasan pasar tradisional.

Jika persoalan tersebut dibiarkan begitu saja, tidak menutup kemungkinan akan berakibat pada tingkat kunjungan pembeli yang terus menurun. Inilah yang dikhawatirkan pedagang karena akan mempengaruhi pendapatan mereka. Pemerintah harus serius memperhatikan keberadaan pasar yang sudah ada sejak dulu tersebut. Tentunya melalui pengelolaan baik dari segi kebersihan dan keamanan. Jika hal ini tidak dilakukan, tidak menutup kemungkinan masyarakat akan beralih ke pasar modern.

Saat ini saja, khususnya untuk belanja life style masyarakat cenderung beralih ke pasar modern. Apalagi program tenant di mall yang menawarkan diskon yang menawan. “Kalau untuk beli pakaian masyarakat sepertinya sudah memilih ke pasar modern daripada pasar tradisional. Karena selain tempatnya nyaman juga banyak pilihan,” ungkap Koordinator Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aperindo) Wilayah Barat, Hasannuri kepada Sumatera Ekspres, kemarin.

Menurutnya, tiga unsur yang membuat masyarakat beralih ke pasar modern yaitu, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan. Saat ini masyarakat jarang ada yang mau berhimpit-himpitan menahan panas untuk berbelanja, apalagi kalangan anak muda. “Faktor keamanan juga mempengaruhi pengunjung untuk berbelanja ke pasar modern,” tuturnya.

Kalau pasar tradisional tetap seperti saat ini pihaknya meyakini pangsa pasar tradisional akan terus menurun. Apalagi persentase masyarakat menengah ke atas terus meningkat. “Kalau mreka (masyarakat, red) yang memiliki banyak uang cenderung mengutamakan kenyamanan dan lebih memilih belanja di pasar modern. Sebab, sambil belanja bisa rekreasi,” ungkap dia.

Oleh karena itu, pemerintah harus segera merevitalisasi pasar tradisional ke arah modern. Sebab kalau tidak, pengunjung akan terus berkurang. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan sepi pembeli. “Artinya pemerintah khususnya pengelola pasar harus melakukan pembenahan untuk meningkatkan layanan. Khususnya tiga unsur tadi yakni, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan, tegasnya.

Masih banyak yang harus dilakukan pemeintah agar pangsa pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern. “Lahan parkir juga harus diperhatikan. Sebab, tempat parkir ini sangat jadi masalah bagi masyarakat. Apalagi masyarakat saat ini telah memiliki kendaraan sendiri.”

Pengelolaan dan perawatan pasar tradisional telah dianggarkan dalam APBD. Jadi, semestinya bisa bersaing dengan pasar modern. “Artinya PD Pasar harus banyak melakukan studi banding untuk meningkatkan kualitas pasar tradisional di Palembang, agar tidak tertinggal dengan pasar modern,” tutupnya.

Upaya lain lanjutnya, harus ada pembatasan bagi pasar modern untuk masuk sesuai yang tertuang dalam Keppres Nomor 53 Tahun 2007 tentang pembinaan pasar tradisional dan pasar modern. “Aturannya sudah jelas, cuma tinggal aplikasinya yang perlu diawasi pemerintah. Jangan melanggar peraturan yang dibuat sendiri,” tukasnya.

Hal tersebut juga kembali dijelaskan pada Kemen Nomor 70 Tahun 2013. Namun, masih banyak terdapat kelemahan karena pasar modern diwajibkan menjual 80 persen produk lokal.

Permasalahannya kalau barang kebutuhan masyarakat tidak diproduk dalam negeri. Ini terlalu teoritis, makanya saat ini pihaknya sedang mengkaji peraturan tersebut. “Artinya produk dalam negeri belum mampu secara rutin baik kualitas dan kuantitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sementara masyarakat butuh, sedangkan vendor berdagang mencari keuntungan,” tukasnya.

Salah seorang pembeli Meri (42), mengaku pengelola pasar harus memperhatikan kebersihan. Seperti di Pasar 7 Ulu Palembang misalnya, sampai saat ini terkesan kumuh. “Kotor nian dek tempatnyo, apolagi siang bew dak tahan rasonyo bau nyo bercampur-campur, tapi nak cakmano lagi nak ke mal jauh,” ucapnya.

Oleh karena itu pihaknya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan kondisi pasar tradisional. “Tolong pemerintah perhatike pasar ni, kami wong kecik ni (miskin, red) belanjo sinilah. Sebab, hargonyo murah pacak pulo nawar,” tandasnya. (tim/asa/ce2)

Akan Semakin “Terjajah”

Akan Semakin Terjajah
Becek: Air menggenangi sebagian jalan lorong di Pasar 16 Ilir Palembang mengakibatkan kawasan tersebut becek.

________________________________________

Pengamat ekonomi Sumsel, Yan Sulistyo memprediksi pasar tradisional akan terus merosot seiring menjamurnya pasar modern dan swalayan di Metropolis. Jika pemerintah tidak cepat mencarikannya solusi maka lambat laun pasar tradisional akan semakin terjajah. “Pemerintah kota harus segera melakukan revitalisasi pasar tradisional ini supaya bisa bersaing,” kata Yan kepada Sumatera Ekspres, kemarin.

Menurut Yan, revitalisasi pasar sudah dilakukan, hanya permasalahannya diserahkan kepada pihak swasta yang unsurnya bisnis, sehingga sewanya tinggi. “Akibatnya pedagang yang dirugikan, makanya lebih baik pedagang bertahan pada pasar tradisional yang lama. Pemerintah juga harus cerdas memanfaatkan APBD,” ungkapnya.

Diungkapkan, berdasarkan peraturan menteri perdagangan terdapat aturan perbandingan pasar modern dan tradisional. Tapi implementasinya belum diterapkan pemerintah kabupaten/kota alias nihil atas dasar kepentingan. “Realitanya tak diterapkan pemerintah daerah. Misalnya, pembangunan Alfamart dan Indomaret di Palembang yang menguasai hampir setiap daerah. Dalam aturannya harus ada jaraknya keduanya.”

Hal senada diungkap Ketua Komisi II DPRD Sumsel, Dr H Budiarto Marsul. Menurutnya, pemerintah harus memberikan perhatian lebih kepada pasar tradisional agar mampu bertahan dalam persaingan jual-beli. “Banyak warga yang mengeluhkan keberadaan pasar tradisional yang kotor dan tak nyaman.” Ditambahkan, pasar tradisional sangat dibutuhkan masyarakat karena biasanya dekat dengan lokasi rumah dan harga yang murah. Makanya, keberadaannya tidak boleh tergerus oleh menjamurnya pasar modern. (tim/asa/ce2)

Pasar Tradisional Optimis Bisa Bersaing

Semakin berkembangnya pasar modern di Metropolis membuat pasar tradisional dituntut harus meningkatkan pelayanan. Langkah tersebut untuk mengantisipasi peralihan pengunjung ke pasar modern.

Direktue Utama PD Pasar Palembang Jaya, Apriadi S Busri melalui Kasubid Perencanaan Data dan Informasi, Fahria Suziana mengatakan, pihaknya akan terus berusaha merevitalisasi pasar tradisional yang ada. “Tahun ini rencananya Pasar 10 Ulu akan dikembangkan, semula dari dua lantai rencananya akan dijadikan satu lantaran banyak petak yang kosong,” ungkapnya.

Sebenarnya wacana pembongkaran Pasar 10 Ulu tersebut sejak 2011 lalu. Namun masih terkendala dana bantuan dari Kementerian Perdagangan dan Industri sebesar Rp 12 miliar belum disetujui DPR. “Dananya belum cair sehingga proses pembongkaran belum bisa kami lakukan,” imbuhnya.

Tahun ini pihaknya optimis dana tersebut akan cair dan ditargetkan pengerjaan serta pemindahan sementara para pedagang bisa dilakukan. “Ada dua opsi pemindahan sementara para pedagang yakni di belakang gedung BJ 10 Ulu dan lahan sekitarnya, atau ke halaman kelenteng. Saat ini kami sedang melakukan pendekatan dengan pengurus kelenteng, camat setempat, dan Desperindag untuk kerja sama,” ungkapnya.

Sebenarnya, kata dia masih banyak pasar yang rencananya akan direvitalisasi seperti Pasar Cinde, Soak Bato, Km 5, Lemabang. “Tapi ini akan kita lakukan secara bertahap. Tahun ini difokuskan dulu untuk Pasar 10 Ulu,” katanya. Dikatakan, saat ini total pasar tradisional baik dikelola pemerintah, joined swasta, dan swasta murni sebanyak 37 pasar. (lihat grafis)

Jumlah tersebut sebenarnya masih kurang untuk mencover masyarakat di Palembang yang hampir mencapai 2 juta jiwa. “Untuk ukuran kota sebesar Palembang ini masih kurang, kalau melihat dari geografis wilayah dan jumlah penduduk minimal ada 60 pasar,” tutrnya.

Namun, lanjutnya untuk menambah pasar saat ini terkendala pda lahan dan permukiman warga. Makanya, pihaknya mencari solusi dengan cara melakukan pendekatan kepada pengelola pasar tumbuh. “Tahun ini, kami telah menggandeng pasar pagi Polygon untuk kerja sama. Jadi total ada 10 pasar tumbuh yang kami gandeng kerja sama,” tukasnya.

Untuk biaya perawatan dan kebersihan pasar yang dikelola pihaknya mengeluarkan dana sebesar Rp 300 juta per bulan. “Tapi terkadang masih terlihat kumuh, ini lantaran kesadaran para pedagang dan pembeli yang masih kurang,” ucapnya. (tim/ce2)

Keberadaan Pasar Tradisional di Tengah Perkembangan Pasar Modern

Sumatera Ekspres, Rabu, 27 Agustus 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: