TPA Sukawinatan hanya Bertahan 2028


Sampah Menggunung, Armada Angkutan Belum Ideal

TPA Sukawinatan hanya Bertahan 2028

Kerusakan jalan menuju Tempat Pembuanan Akhir (TPA) Karyajaya, menjadikan TPA Sukawinatan Palembang sebagai lokasi pembuangan sampah utama. Bahkan, TPA tersebut diharapkan berfungsi hingga 15 tahun ke depan.

________________________________________

Setidaknya TPA Sukawinatan memiliki luas lahan 25 hektare. Dari luas lahan tersebut, dilengkapi kolam retensi yang berfungsi menampung limbah. “Khusus untuk lokasi pembuangan sampah 15-20 hektare. Mlihat kondisi ini bisa dipastikan 10-15 tahun ke depan TPA Sukawinatan masih aman menampung sampah. Kita juga memisahkan antara sampah organik dan anorganik,” ujar Kepala Bidang (Kabid) TPA Sukawinatan Saparudin SH MSi.

Ia mengatakan untuk pemanfaatan sampah, pihaknya yang melakukan pengelolaan secara khusus. Yakni dengan cara diratakan, dijadikan pupuk, program 3R (reduce, reuse, and recycle). Pola ini menerapkan pemanfaatan sampah sebaik mungkin.

“Di TPA Sukawinatan tersebut, ada 60 orang petugas terdiri dari petugas 3R, pembuar pupuk, petugas kebersihan, pegawai perkantoran dan lainnya,” terangnya. Lanjut Saparuddin, mengingat kondisi sampah di Palembang sangat banyak, dalam waktu dekat Kementerian ESDM melalui Dirjen Energi Baru Terbarukan akan memanfaatkan sampah untuk kepentingan masyarakat. Yakni menjadikan pembangkit listrk Tenaga Sampah (PLTSa)>

Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan dan Kebersihan DKK Palembang Armansyah mengatakan, per hari DKK hanya bisa mengangkut sekitar 500 ton sampah. “Satu hari itu biasanya ada 800 ton sampah, sedangkan yang terangkut dan dikirim ke TPA Sukawinatan hanya sekitar 500 ton,” aku Armansyah.

Dalam hal ini, pihaknya terus melakukan pendekatan teknis di TPS yang ada, armada, juga revitalisasi. Sedangkan pendekatan non-teknis seperti pemberian intensif, dana ramah lingkungan untuk memaksimalkan pengangkutan sampah ini. “Yang jelas sampah dari pasar paling banyak setiap harinya diangkut ke TPA perbandingannya 40 persen sampah rumah tangga dan 60 persen samah rumahan,” ucapnya.

Ia mengaku, saat ini masih kekurangan lahan tempat pembuangan sampah (TPS). “Saat ini baru sekitar 400-an TPS resmi di kelola DKK, selebihnya berasal dari swadaya masyarakat. Masih butuh sekitar 700-an TPS lagi,” katanya seraya mengatakan dengan keterbatasan lahan membuat masyarakat sembarangan membuang sampah.

Hanya saja, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No 27 Tahun 2011, larangan membuang sampah bagi yang melanggar akan dikenakan hukuman kurungan penjara selama tiga bulan atau denda Rp 50 juta.

Namun, Armansyah tidak memungkiri kalau kurang optimalnya pengangkutan sampah, yang dikarenakan jumlah mobil angkutan sampah di Metropolis itu kurang ideal. “Idealnya 178 unit mobil, namun sekarang hanya ada 50 persen atau 98 mobil. Jumlah itu sendiri bukan dalam kondisi fit semua,” ujarnya. Yang perlu diperhatikan, terhitung sampai dengan 2028, besar kemungkinan TPA Sukawinatan akan ditutup dan dijadikan taman kota, setelah gas habis di 2028.

Sementara H Sadruddin Hadjar, Kabag Perekonomian Setda Kota Palembang mengatakan, pengelolaan sampah yang baik dan maksimal harus dilakukan. “Dalam hal ini, salah satunya kami mengajak para pedagang pasar tradisional serta pengurus pasar tradisional untuk menyimak bagaimana menjadikan pasar tradisional bisa bersaing dengan pasar modern. Yang terpenting, dalam hal pengelolaan sampah dan drainase,” terangnya. (tim/asa/ce2)

Sampah Cemari Sungai Bayas

Sampah Cemari Sungai Bayas
Cemari Sungai: Tumpukan sampah rumah tangga berupa plastik tampak memenuhi Sungai Bayas yang merupakan anak Sungai Musi

_________________________________________

Sampah tak hanya memenuhi trotaor saja, melainkan Sungai Musi hingga anak sungai sekalipun. Seperti yang terjadi di Sungai Bayas. Selain menimbulkan pemandangan yang tak sedap, juga menimbulkan kesan kumuh.

“Kajadian ini sangat disesalkan, mengingat Sungai Bayas bertemu langsung dengan Sungai Musi yang menjadi ikon Kota Palembang. Secara tidak langsung, membuat air sungai tercemar,” ucap Rahmi, salah seorang warga yang tinggal di kawasan tersebut.

Kondisi sungai yang bersebelahan langsung dengan Gedung Balawi ini sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah rumah tangga seperti plastik nyaris memenuhi permukaan sungai. Kondisi sungai yang sedang surut membuatnya terlihat jelas bahwa sungai tersebut sudah lama tidak dibersihkan.

Warga lainnya, Susaina mengatakan bahwa Sungai Bayas ini dulupernah dibersihkan oleh pemerintah, namun sekarang sudah benar-benar kotor. “Mungkin karena sungai ini berada di ujung sehingga sampah-sampahnya mengalir ke sini, kurangnya kesadaran masyarakat membuat sungai ini menjadi sangat kotor,” ujarnya.

Lanjutnya, Susaina mengharapkan pemerintah memiliki solusi agar Sungai Bayas ini tidak selalu kotor dengan sampah-sampah plastik ini yang jelas membuat lingkungan menjadi tidak sehat. Menanggapi hal tersebut, Camat Ilir Timur II, Syahiruligama mengatakan bahwa pihaknya sudah menyusun rencana untuk melakukan pembersihan terhadap seluruh anak sungai di wilayahnya. “Kami akan libatkan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pengendalian Sumber Daya Air (PSDA) Palembang dan seluruh stakeholder di IT II,” tegasnya. (nni/way/ce2)

Penanggulangan Sampah Belum Maksimal

Hilangkan Budaya Buang Sampah Sembarangan
Direktur Walhi Sumatera (Selatan) Hadi Jatmiko mengatakan, saat ini penanggulangan sampah belum maksimal dilakukan. “Sampah perlu perhatian secara khusus oleh pemerintah dan masyarakat sendiri, ke depan sampah menjadi ancaman yang sangat membahayakan apalagi jika masyarakat kurang sadar dengan sampah yang dengan seenaknya membuang di sembarang tempat,” ujarnya.

Katanya, sampah menjadi persoalan lingkungan dimana masyarakat harus dihilangkan budaya suka membuang sampah sembarangan, apalagi sampai buang ke sungai. “Pemerintah juga harus memaksimalkan penanggulangan sampah dengan menyediakan tempat pembuangan sampah. Kalau buang sampah ke sungai dapat berbahaya, aliran air akan tersumbat yang berdampak banjir,” terangnya.

Sungai Musi menjadi sumber air bagi masyarakat Kota Palembang, dengan begitu pemanfaatan dan pengolahan di bantaran Sungai Musi harus benar-benar optimal seperti melakukan sosialisasi. Menempatkan tempat sampah di setiap sudut Sungai Musi dan membuat imbauan jangan buang sampah ke sungai.

Dalam hal ini Walhi Sumsel mengimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan, buang sampah pada tempatnya. Sungai Musi sebagai ikon Kota Palembang harus dijaga kelestariannya, jangan dijadikan tempat membuang sampah dan limbah. “Pabrik-pabrik di sekitar Sungai Musi jangan buang limbah di sungai. Mengatasi ini pemerintah harus melakukan warning larangan keras bagi industri yang membuang sampah di sungai,” terangnya.

Sampah sangat besar sekali manfaatnya jika dimanfaatkan secara benar, hanya saja untuk sampah anorganik memang sulit untuk ditanggulangi. “Sampah ada dua organik dan anorganik, pilahlah sampah dengan benar,” tandasnya. (nni/ce2)

Sumatera Ekspres, Jumat, 22 Agustus 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: