Menelusuri Jejak Sekolah Memprihatinkan di Kota Palembang


Belajar di Eks Gudang Padi, Mampu UN Sendiri

Menelusuri Jejak Sekolah Memprihatinkan di Kota Palembang
Memprihatinkan: Para murid SD Empat Tunggal yang berlokasi di tepian Sungai Ogan Serikat, Kelurahan 15 Ulu belajar di tempat yang tidak layak disebut sebagai kelas. (inset) Dua murid mencoba kursi dan meja bantuan PSMTI Sumsel

________________________________________

Sebuah bangunan panjang berdinding papan kusam, tanpa cat dan terlihat rapuh berdiri di tepi Sungai Ogan Serikat, Kelurahan 15 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) I Palembang. Andai tak ada plang nama di bagian depan dinding, tak akan ada yang menyangka kalau itu bangunan sekolah.

* * * * * * * * * * * * * * *

Namanya Sekolah Dasar (SD) Empat Tunggal. Sekolah swasta ini milik Yayasan Empat Tunggal. Ketuanya yang juga Kepala Sekolah SD tersebut, H Malik Mahiya. Untuk mencapai ke sana tidak terlalu susah. Lokasinya bagian belakang kompleks OPI Jakabaring. Mungkin ada sekolah lain yang kondisnya memprihatinkan, tapi salah satunya SD ini.

Kepala SD Empat Tunggal, H Malik Mahiya mengungkapkan, sekolah yang dipimpinnya itu berdiri sejak 1978. “Sebenarnya, sebelum itu sudah ada, tapi baru terdaftar pada 1978 di Dinas Pendidikan,” ujarnya. Dalam usianya yang menginjak 36 tahun, sudah beberapa kali sekolah ini pindah tempat.

Dan berada di lokasi sekarang terhitung 2003 lalu. H Malik menjelaskan, bangunan kayu sepanjang kurang lebih 10 meter dan lebar enam meter yang mereka jadikan SD Empat Tunggal sekarang dahulunya gudang penyimpanan beras. “Saat kami diminta pindah dari lokasi lama di kawasan Sungai Buaya, dapat informasi ada bangunan ini. Akhirnya kami sewa untuk meneruskan keberadaan sekolah ini. Per tahun sewanya Rp 2,5 juta,” bebernya.

Bangunan panjang itu lalu disekat ala kadarnya hingga menjadi lima ruang. untuk ruang belajar murid kelas I dan II jadi sat dengan ruang guru dan kepala sekaloah. Sedangkan kelas II-VI ada kelas sendiri karena jumlah muridnya lumayan banyak, 15-20 orang. Total murid SD Empat Tunggal sekarang sekitar 100 orang. “Sekitar 80 persen anak-anak dari warga keturunan Tionghoa yang tinggal di sekitar sekolah, maupun seberang sungai. Alhamdulillah, mereka percaya untuk sekolah di sini,” imbuhnya.

Bangku dan meja belajar pada tiap kelas tidak seragam. Ada dari kayu, ada juga kursi plastik. Suara berderit terdengar jelas saat bangunan itu diterpa angin cukup kencang. Para murid bisa keluar masuk ke kelas lain dari bagian dalam karena memang antarkelas tidak tersekat sempurna. Pada beberapa bagian, dinding kelas bolong ataupun terlepas pakuannya karena papannya yang rapuh termakan usia. Banyak sekali tempelan foto, alat peraga, dan lainnya pada dinding semua kelas. Untung saja, lantainya sudah disemen, bantuan dari PSMTI Sumsel, belum lama ini.

Bagian teras depan, berhadapan dengan rumah warga lebarnya paling cukup untuk tiga orang. Lantainya masih tanah. Tanpa disadari, debunya terbang tertiup angin masuk ke kelas. Sungguh tak layak disebut sebagai ruang belajar dan sekolah. Kondisi ini ibarat bumi dan langit jika dibandingkan dengan SD lain yang gedungnya berdiri mentereng.

“Ya beginilah kondisinya. Yang penting anak-anak bisa sekolah dn menimba ilmu. Kami tak berharap banyak lagi dari dinas dan pemerintah,” kata H Malik. Ia yakin Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Palembang sudah tahu kondisi sekolah mereka.

Hanya ada bantuan operasional sekolah (BOS). Berapalah besar dananya, dengan jumlah siswa hanya sekitar 100 orang. Meski dengan kondisi apa adanya, H Malik dengan sembilang guru lain tetap bersemangat. Tujuh orang guru dengan pendidikan terakhir strata-1 (S-1) dan dua orang lulusan SPG. Padahal, kalau mau tahu, gaji mereka hanya Rp 500 sebulan.

“Harus kami akui, tidak bisa sesuai upah minimum provinsi (UMP). Itulah kemampuan kami. Inilah pengabdian kami kepada masyarakat, menjadikan mereka anak-anak yang berpendidikan,” bebernya. Karena ini sekolah swasta, pihak sekolah terpaksa menarik biaya SPP per murid Rp 60 ribu. Itu pun rupanya ada sejumlah anak yang orang tuanya tidak mampu membayar.

Padahal, uang dari SPP itulah yang digunakan untuk membayar gaji para guru dan operasional sekolah. “Mau bagaimana lagi. Bagi yang memang tidak mampu, SPP-nya gratis. Termasuk yang sudah menunggak karena memang tidak mampu membayar, kami ikhlaskan saja,” kata H Malik sembari tersenyum.

Hebatnya, SD Empat Tunggal mampu melaksanakan ujian nasional (UN) sendiri, tanpa menginduk ke sekolah lain. Itu telah berlaku sejak 1990. Alumninya hingga saat ini sudah 1.300 orang lebih. Dengan adanya bantuan 120 set meja dan kursi untuk murid, enam set meja dan kursi untuk guru, serta satu set meja dan kursi untuk kepala sekolah dari PSMTI Sumsel memberikan kebahagiaan tersendiri bagi para murid dan guru SD Empat Tunggal.

Mereka bisa sedikit berbangga. “Meski sekolah kami berdinding papan, tapi meja dan kursi kami baru dan bagus.” Untuk menambah dana operasional sekolah, SD Empat Tunggal menerima bantuan bulanan dari PSMTI Sumsel sebesar Rp 3 juta. “Kami sangat terbantu dengan semua yang telah dilakukan PSMTI Sumsel. Kami tidak bisa ngomong apalagi, selain rasa terima kasih tak terhingga,” tukas H Malik dengan mata memerah. (tha/ce2)

Mengabdi dengan Keikhlasan

sudah 12 tahun, Liza, alumnus S-1 Universitas PGRI Palembang ini mengajar di SD Empat Tunggal. Saat itu, ia masih duduk di semester V. Kini, ia dipercaya mengajar murid-murid kelas IV. “Sebelumnya saya mengajar untuk kelas VI,” ucapnya.

Dengan semua keterbatasan yang ada, para guru hanya bergaji Rp 500 per bulannya. Gaji itu didapatkan dari uang SPP dari para murid.

Dimana setiap murid dikenakan Rp 60 ribu. Semua biaya untuk pergi dan pulang mengajar dari gaji itu. “Kami terbantu dengan adanya tambahan Rp 300 ribu, dari bantuan PSMTI mulai beberapa bulan lalu,” tuturnya.

Meski belum mencapai UMP, setidaknya sedikit lebih besar dari yang mereka bawa pulang selama ini. “Tapi semua tidak kami persoalkan. Kami, semua guru di sini senang bisa ikut mencerdaskan generasi penerus bangsa. Ini pengabdian kami, dengan keikhlasan. Semoga pemerintah bisa peduli juga,” beber Liza. (tha/ce2)

Target Akhir Bangunkan Gedung

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Sumsel, Kurmin Halim SH mengatakan, bantuan yang mereka berikan kepada SD Empat Tunggal setelah mendapatkan informasi betapa memprihatinkannya sekolah di pinggiran Sungai Ogan itu.

“Kami tidak menyangka kalau masih ada sekolah yang demikian apa adanya di Kota Palembang,” imbuhnya didampingi Kabid Pendidikan, Hendri. Bantuan meja dan kursi belajar, bingkisan untuk seluruh murid serta uang bulanan Rp 3 juta itu bentuk kepedulian PSMTI Sumsel terhadap perkembangan pendidikan di Sumsel.

“Target terakhir kami, membangunkan gedung yang lebih layak untuk tempat belajar seluruh murid dan guru SD Empat Tunggal ini,” katanya. PSMTI Sumsel sudah mendapat bantuan tanah dari pimpinan PT Sekawan Kontrindo.

Ditambahkan Kurmin, pihaknya juga punya program lain di bidang pendidikan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. “Kami akan berikan beasiswa kepada 50 pelajar SD, yang mendapat rangking 1-5. Kami terapkan sistem anak asuh,” imbuhnya.

Nantinya, anak-anak asuh yang berprestasi itu akan “ditawarkan” kepada donatur. Satu donatur mungkin bisa membina satu atau lebih anak asuh. “Tapi tetap di bawah pengawasan PSMTI,” tukas Kurmin. (tha/ce2)

Tidak Boleh Ada Perbedaan

Bantuan fasilitas bagi dunia pendidikan tidak boleh ada perbedaan antara sekolah negeri dan swasta. Apalagi menyangkut infrastruktur yang menjadi pendukung utama proses belajar mengajar. “Negeri atau swasta sama, jangan ada perbedaan. Sesuaikan dengan tingkat kebutuhan. Yang mendesak lebih diutamakan,” ujar anggota Dewan Pendidikan Sumsel, Prof Amzulian Rifai SH LLM PhD.

Ia mengatakan, tidak perlu harus menyalahkan pemerintah. Dalam hal ini, apakah ada yang proaktif untuk membantu. “Jangan saling menyalahkan, tapi cari solusinya,” ucapnya. Peran serta masyarakat sangatlah diperlukan dalam memperhatikan kondisi sekolah-sekolah yang membutuhkan bantuan tersebut. (nni/ce2)

Swasta Dapat Ajukan Permohonan

Disdikpora Prioritaskan Sekolah Negeri
Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) terus mengupayakan perbaikan sekolah rusak di Metropolis. Hal itu ditegaskan Kepala Disdikpora Palembang, Ahmad Zulinto, dua hari lalu. “Sepanjang tahun ini, kami memang ada program untuk me-renovasi sekolah, baik SD, SMP, dan SMA. Yang diutamakan dan menjadi prioritas renovasi adalah sekolah negeri,” katanya.

Sekolah swasta tetap mempunyai peluang untuk mendapatkan bantuan renovasi sekolah. “Mereka dapat mengajukan permohonan atau semacam proposal ke Disdikpora. Nanti akan kami pelajari, layak tidak untuk dibantu,” imbuhnya. Ditambahkan Kabid PPS (Perencanaan Pembangunan Sekolah) Disdikpora Palembang, Hasanuddin SPd MSi melalui Kasi Bangunan Gedung dan Perabotan, Rahmat Purnama, setidaknya ada tiga kategori renovasi sekolah.

“Ada yang dibantu dengan dana APBD dan ada pula yang melalui dana APBN,” katanya. Tapi ada pula dari bantuan sosial (bansos). Khusus dari yang dibantu APBD Palembang, ada 31 sekolah yang akan direnovasi. Meliputi 21 SD, empat SMP, satu SMK, dua SMA, satu gedung UPTD dan dua kantor.

Untuk yang direnovasi dengan sistem PL ada lima SD, satu SMP dan dua kantor. Syaratnya, dana renovasi tiap sekolah atau kantor kurang dari Rp 200 juta. Sedang yang direnovasi dengan sistem tender ada 16 SD, tiga SMP, satu SMK, dua SMA, dan satu UPTD. Dana tiap sekolah atau gedung lebih dari Rp 200 juta.

Renovasi juga bisa menggunakan dana APBN yakni alokasi dana alokasi khusus (DAK). “Untuk renovasi yang menggunakan dana APBN ini, ada sekitar 15 SD, dan 10 SMP yang akan dibantu,” bebernya. Sealin dua dana tersebut, ada bansos yang pelaksanaannya juga setelah Lebaran. Renovasi dikerjakan secara swakelola oleh pihak sekolah. “Untuk yang dibantu dana bansos ini ada enam SD Negeri, bentuknya penambahan ruang kelas,” ujar Rahmat.

Disdikpora mengutamakan bantuan untuk sekolah negeri karena banyak yang kondisinya rusak berat dan memerlukan perbaikan segera. berdasarkan data Disdikpora, di Palembang terdapat 268 SD negeri dan 86 SD swasta. Sedang untuk MI ada dua yang negeri dan 89 berstatus swasta. Dari jumlah itu, 2.830 ruang belajar dalam kondisi baik, 993 ruang sekolah rusak, dan 606 ruang belajar dalam kondisi rusak berat. (cj6/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 23 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

One Response to Menelusuri Jejak Sekolah Memprihatinkan di Kota Palembang

  1. winda says:

    apakah ada alamat lengkap SD Empat Tunggal
    serta Nomor yang bisa dihubungi?

    terimakasih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: