Pemilik Toko Usir Tim Gabungan


Temuan Produk Kedaluarsa Menurun

Pemilik Toko Usir Tim Gabungan
Cek Kemasan: Kepala Dinkes Palembang, dr Anton Suwindro, turun tangan mengecek produk kemasan yang dijual di Ramayana, kemarin. Sidak gabungan parsel dibagi dalam tiga tim dan menyebar

________________________________________

LEMABANG Tim gabungan berbagai instansi terkait kembali melanjutkan inpeksi mendadak (sidak) parsel di hari kedua, kemarin. Tim ini beranggotakan perwakilan Dinas Kesehatan (Dinkes), BBPOM, Satpol PP, Bagian Kesra dan Bagian Perekonomian Pemkot Palembang, serta YLKI Sumsel.

Kepala Dinkes Palembang, dr Anton Suwindro, bahkan turun tangan langsung pada sidak parsel hari kedua ini. Ada tiga tim yang turun mendatangi toko, perusahaan dagang (PD), minimarket, hypermarket, dan supermarket di wilayah Palembang. Tiga tim tersebut targetnya mengecek 48 titik yang sudah ditentukan.

“Hari ini (kemarin), kami menemukan minuman berparisa buah-buahan merek Original Love Juice sebanyak tiga botol dari salah satu toko di kawasan Lemabang. Produk tersebut langsung kami musnahkan di tempat,” ujar dr Yetti Armagustini MKM, salah seorang pengawas dari Dinkes Kota Palembang yang tergabung dalam tim I.

Dari beberapa tempat usaha yang didatangi, masih banyak ditemukan produk makanan dengan kemasan yang tidak sempurna. Ada yang penyok, bahkan sudah berkarat. “Paling banyak ditemukan pada kemasan produk susu dan sardinces. Nah, produk-produk ini masih dipajang untuk diperjualbelikan,” bebernya.

Padahal, sudah ada ketentuannya. Jika kemasan sebuah produk makanan sudah penyok, rusak, bahkan berkarat, maka tidak boleh lagi dipajang, apalagi dijual kepada masyarakat. Isi dari kemasan itu dikhawatirkan sudah berkurang kualitasnya, bahkan bukan tidak mungkin berbahaya untuk dikonsumsi.

Tim pengawasan juga menemukan aneka kue kering Lebaran hasil olahan rumah tangga yang tidak mencantumkan izin usahanya. “Sudah banyak sekali produk seperti ini beredar di pasaran. Masyarakat harus jeli. Jika belum ada izin dari Dinkes, jangan dibeli,” imbuh Yetti.

Pihaknya juga menemukan adanya kemasan yang bias pada makanan kemasan. Ada juga snack dan permen yang ternyata habis masa berlakunya (expired) alias kedaluarsa. Produk itu ditemukan pada salah satu toko di kawasan Lemabang. Namun, pemilik toko tidak bersedia diperiksa dan mengusir tim gabungan tersebut.

“Biarlah nanti pihak berwenang dan instansi yang berwenang akan menyelesaikannya,” cetus Yetti. Terpisah, dr Anton Suwindro ikut dalam sidak ke pusat perbelanjaan Ramayana di kompleks Ilir Barat Permai (IBP). Hanya ada beberapa produk yang kemasannya penyok.

Menurut Anton, tahun ini terjadi penurunan temuan makanan dalam kemasan kedaluarsa maupun yang rusak kemasannya. “Penurunannya sekitar 50 persen dibanding tahun lalu. Tahun ini, semua hypermarket dan supermarket bebas dari temuan produk kedaluarsa.

Memang masih ada temuan makanan dan minuman kedaluarsa dari beberapa toko, PD, atau minimarket yang disidak. Rata-rata produk kemasan plastik, baik mi instan, saos, maupun minuman berparisa.

Sejumlah minimarket masih memajang produk roti-rotian yang sudah berjamur. “Itu jelas sangat berbahaya. Bisa meracuni masyarakat jika sampai terjual,” cetus Anton.

Dikatakan Anton, Dinkes akan menindaklanjuti hasil temuan ke instansi terkait. Kepada semua pemilik usaha yang didapati temuan, telah diberikan surat peringatan sebagai bentuk pembinaan. (wia/cj6/ce4)

Apem Juga Pakai Rhodamin

Apem Juga Pakai Rhodamin Hari kedua tahap kedua pengawasan yang dilakuan tim Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang, kemarin (16/7), mendapati hasil yang sama dengan dua hari lalu. Lagi-lagi, didapati tahu dan mi basah berformalin (zat pengawet mayat) dari pasar bedug yang disinggahi. Pada kue apem positif mengandung rhodamin B (pewarna sintetis yang bukan untuk makanan).

Kami sempat mencurigai bongkol dan tahu sumedang yang dijual. Ternyata, setelah uji laboratorium, hasilnya negatif formalin,” ujar Kepala BBPOM Palembang, Dra Indriaty Tubagus Apt MKes, di hari terakhir pengawasan pasar bedug, kemarin. Pasar bedug yang didatangi berlokasi di Perumnas, kompleks Pusri, Kertapati, Keramasan, dan Tugu KB.

Pihaknya menurunkan dua tim, masing-masing dengan mobil laboratorium. “Hebatnya, di pasar bedug Perumnas yang rutin menjadi lokasi pemeriksaan sangat sedikit yang menjual tahu dan mi basah berbahaya. Mereka sudah mulai cerdas untuk mengganti makanan dengan produk yang berkualitas,” beber Indriaty.

Di pasar bedug Perumnas dan Pusri, diambil 18 sampel seperti tahu, mi basah, kue apem, bongkol, dan lainnya. Hanya empat sampel yang tidak mengandung bahan berbahaya. (wia/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 17 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: