Menelusuri Mahalnya Harga Jual Daging Sapi di Pasaran


Dari RPH ke Pasar, Naik Rp 40 Ribuan

Menelusuri Mahalnya Harga Jual Daging Sapi di Pasaran

Jual Daging: Seorang pedagang pada salah satu pasar tradisional di Pelembang dan daging sapi dagangannya

_________________________________________

Selalu, jelang hari-hari besar keagamaan, terutama Lebaran Idul Fitri, harga jual daging sapi melonjak tinggi. Saat ini, beberapa pasar tradisional, pedagang sudah menjualnya Rp 110-120 ribu per kilogram. Bagaimana pergerakan harga daging sapi dari rumah potong hewan (RPH) ke pasaran?

* * * * * * * * * * * * * * *

Tingginya permintaan daging sapi jelang Lebaran menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga jual daging di pasaran. Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Palembang, Harrey Hadi melalui Kabid Peternakan, Novayanti mengatakan, harga daging sapi di pasar cenderung berbeda-beda.

Banyak pedagang kecil mengambil daging ke pedagang besar untuk dijual kembali. “Agar mendapat untung, mereka menjual dengan harga lebih tinggi. Makanya harga daging di pasar kecil, seperti Pasar Kertapati dan Pahlawan lebih mahal dibanding Cinde dan 16 Ilir,” ujarnya didampingi Kepala UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) Suwandi, kemarin.

Diungkapnya, saat ini harga jual daging sapi beserta tulangnya di RPH dibandrol Rp 76 ribu per kilogram. Jika saat ini harga pasar Rp 110-120 ribu, maka ada kenaikan Rp 40 ribuandari RPH. “Tapi pedagang tidak bisa membeli sedikit. Minimal harus beli satu ekor sapi yang telah dipotong. Kami (RPH) hanya menyediakan alat dan tempat pemotongan. Sementera sapi yang dipotong dari pengusaha,” bebernya.

Kondisi itu yang membuat pedagang kecil tidak dapat membeli sapi langsung dari RPH. Berdasarkan pengalaman jelang Lebaran, permintaan daging sapi di Palembang mencapai 80 ribu ton per hari atau sekitar 200 ekor sapi. “Permintaan meningkat drastis dari kondisi normal yang hanya 12 ribu ton atau 30 ekor sapi per hari,” ucap Novayanti.

Akan tetapi, saat ini permintaan daging sapi cenderung menurun. Karena harga jual tinggi, sebagian masyarakat beralih ke ikan dan ayam. “Penurunan sejak harga daging sapi di atas Rp 100 ribu per kilogram,” cetusnya.

Harga jual sekarang, dinilainya sudah ideal. Pedagang besar membeli dari pengusaha Rp 76 ribu, dalam kondisi daging bercampur tulang. “Kalau dipisahkan seekor sapi tersebut, dagingnya hanya 52 persen. Sisanya yang 48 persen lagi berupa tulang dan jeroan,” tutur Novayanti. Sapi yang dipotong rata-rata besar, beratnya mencapai 400 kilogram per ekor. Sapi-sapi itu diimpor dari Australia. “Rata-rata daging sapi yang dijual di Palembang berasal dari Lampung, karena mereka di sana ada penangkaran khusus. Sapi tersebut didatangkan dari Australia,” ujarnya.

Karena didatangkan dalam bentuk sapi yang belum dipotong, masyarakat tidak perlu khawatir dengan maraknya isu daging oplosan. “Kalau pemotongan di RPH, kami pastikan daging sapinya berkualitas. Kami tidak mau memotong apabila ada indikasi sapi tersebut cacat atau sakit. Selain itu, kami mempunyai tim untuk mengawasi pendistribusian sampai dipasarkan ke pedagang,” imbuh Novayanti.

Pihaknya menyarankan masyarakat membeli daging sapi kepada pedagang resmi atau pedagang yang telah lama menjual daging sapi di pasaran. “Pedagang lama otomatis akan menjaga image mereka, tidak mungkin melakukan kecurangan seperti mengisi daging dengan air (daging gelondongan) atau mencampurnya dengan daging babi demi mendapat untung besar,” tukasnya. (cj9/ce2)

Daging di Mall Lebih Murah

Saat harga daging sapi di pasar tradisional meroket, daging sapi yang dijual di mall atau pusat perbelanjaan jadi pilihan masyarakat. “Ternyata, harganya lebih murah. Pantauan koran ini di Carrefour Palembang, satu kilogram daging sapi semur dibandrol Rp 82.900.

Harga itu belum ada kenaikan sejak akhir pekan lalu. “Harga cenderung stabil. Tapi prediksi kami, akan tetap bertahan hingga Lebaran nanti,” ungkap Kepala Buyer Carrefour Palembang, Nicolas.

Dikatakanya, daging sapi semur yang mereka jual merupakan daging impor dari Australia. “Tapi impor langsung berupa sapinya. pemotongan dilakukan sendiri sehingga kualitas daging terjaga,” tuturnya. Karena itu, Carrefour dapat menjual dengan harga lebih murah, sebab tanpa melalui perantara.

Menurut Nicholas, saat ini permintaan daging masih terbilang stabil. Ia memprediksi, akan terjadi lonjakan pada H-1 Lebaran. “Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, pembelian daging akan meningkat mendekati Lebaran,” imbuhnya.

Seorang pengunjung Carrefour, Magdalena mengaku, hampir sebulan sekali dia membeli daging di sana. Jumlahnya tidak terlalu banyak untuk konsumsi sendiri. “Kalau suami habis gajian, biasanya beli daging sapi. Tapi sedikit, paling 2 kilogram,” ungkapnya.

Dia memilih membeli daging sapi di pasar modern karena selain tempatnya lebih bersih, juga tidak berhimpit-himpitan. Harganya pun relatif murah dibanding pasar tradisional. “Belum kalau sedang ada promo, bisa lebih murah lagi,” ucapnya. (cj9/ce2)

Diprediksi Terus Meroket

H-2 Lebaran Bisa Capai 170 ribu
Tingginya harga jual daging di pasaran tidak hanya dikeluhkan pembeli. Pedagang daging sendiri mengeluh karena berpengaruh kepada konsumen. Kemarin saja, beberapa pedagang di pasar tradisional di Palembang masih menjual daging sapi Rp 110-120 ribu per kilogram.

Sedang tulang sapi Rp 70-80 ribu per kilogram. Para pedagang memprediksi, H-2 Lebaran, harga daging sapi bisa mencapai Rp 160-170 ribu per kilogram. Pasalnya, permintaan masyarakat akan semakin tinggi.

Effendi (52), salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Lemabang berharap kepada pemerintah untuk menstabilkan harga jual saat ini. Cara yang paling efektif menurutnya dengan memberikan subsidi.

“Selama ini, pemerintah hanya omong besar mau membantu subsidi harga. Cuma teori saja, praktiknya sama sekali tidak ada. Padahal, dengan subsidi pemerintah, masyarakat bisa membeli daging sapi dengan harga lebih murah,” imbuhnya.

Hukum pasar, pembeli pasti menawar agar mendapat harga murah. Agar tidak rugi, pedagang biasanya terpaksa membuka harga lebih tinggi. “Misal harga pasaran Rp 110 ribu, maka buka harganya Rp 120 ribu. Kalau ditawar, jadinya Rp 110 ribu,” tutur Effendi.

Tren pembeli sekarang lebih suka membeli bagian tulang dan iga sapi yang harganya relatif lebih murah. “Kalau daging akan banyak diburu mendekati Lebaran,” ucapnya. Amin (30), penjual daging sapi di Pasar Cinde menyatakan, dengan adanya subsidi pemerintah, pedagang dan masyarakat sama-sama untung.

Jelang dua pekan mendekati Lebaran, permintaan daging sapi masih normal. Ia menjual Rp 110 ribu per kilogram. Saat sepi, ia kadang harus menurunkan harga menjadi Rp 100 ribu. “Kalau tulang iga bisa dijual Rp 65 ribu,” ungkap Amin.

Naning, penjual daging sapi di Pasar Cinde menuturkan, sebenarnya harga daging dari dahulu tidak naik dan tidak pula turun, tergantung tawar menawar pedagang dan pembeli. “Kecuali saat pasokan dari RPH Gandus mengalami kendala karena jalan dan transportasi yang mengalami kemacetan, harga jual bisa mencapai Rp 140 ribu per kilogram. Dan itu sering terjadi,” bebernya. (cj9/roz/ce2)

Beralih Konsumsi Ayam atau Ikan

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Ir Permana MMA menjamin ketersediaan bahan pokok aman hingga Idul Fitri. Menurutnya, sudah dua pekan puasa berjalan, semua barang kebutuhan masyarakat terpenuhi.

“Kalaupun naik, tapi harganya masih dalam batas kewajaran,” ujar Permana di ruang kerjanya, kemarin (15/7). Berdasarkan pantauan pihaknya di sejumlah pasar tradisional, seperti Pasar Cinde, Sako, Perumnas, 7 Ulu, Km 5, dan Pasar Impres Lubuklinggau, harga daging sapi dan ayam sedikit turun.

“Kalau daging sapi sempat Rp 120 ribu, kemarin Rp 105 ribu. Sedangkan ayam dari Rp 34 ribumenjadi Rp 27 ribu per kilogram,” ungkapnya. Namun, daging sapi khas diperkirakan akan tembus Rp 130 ribu H-5 Lebaran nanti.

Karenanya, Disperidag Sumsel mengajak masyarakat beralih ke ikan gabus dan patin. “Stok gabus ada 30 ribu ton di pedagang yang memiliki peti es besar mengingat kebutuhan akan daging akan terus meningkat,” ulasnya.

Khusus untuk stok daging sapi, tidak bisa langsung stok banyak. Karena dibeli dalam kondisi hidup, maka perlu dilakukan karantina. Selama sebelum dipotong, artinya perlu diberi makan. Kondisi kesehatan sapi-sapi itu perlu diperhatikan seksama. Beda dengan impor daging sapi beku. Bisa dilakukan kapan saja. “Hingga saat ini belum ada usul ke menteri untuk impor daging. Saat harga jual daging di pasaran sudah melampaui luar ambang batas tertinggi, baru dilakukan operasi paar dan inpeksi mendadak (sidak) ke para pedagang,” kata Permana.

Ia mengimbau para pedagang tidak menjual daging sapi oplosanataupun gelondongan. Disperindag sudah menjalin kerja sama dengan Polda Sumsel dan dinas terkait untuk menindak tegas pedagang nakal yang mencoba meraih untung dengan cara yang tidak dibenarkan. “Yang terbukti melanggar, izin usahanya akan dicabut,” tegasnya.

Menghadapi Lebaran ini, ada empat hal yang dilakukan,. Pertama, menjamin kesediaan bahan pokok, termasuk daging sapi. Kedua, melancarkan arus distribusi dari dan ke Sumsel. Ketiga, mengendalikan disparitas (perbedaan) harga. “Yang terakhir, melakukan koordinasi intensif terkait pemenuhan bahan pokok. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga berperan dalam menstabilkan harga,” tandasnya. (nni/ce2)

Sumatera Ekspres, Rabu, 16 Juli 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

One Response to Menelusuri Mahalnya Harga Jual Daging Sapi di Pasaran

  1. Pingback: Harga Daging Sapi Di Pasar | Distributor Daging Sapi Termurah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: