Fenomena Pemberian Parsel Menjelang Idul Fitri


Jadi Tradisi, Prioritas Kirim Atasan

Fenomena Pemberian Parsel Menjelang Idul Fitri
Rapi: Seorang karyawan mall terlihat menyusun kemasan parsel yang akan ditawarkan kepada konsumen. Untuk memikat pembeli, kemasan parsel dibuat menarik.

________________________________________

Menjelang Idul Fitri, baik toko, supermarket, atau jasa pembuat parsel dipenuhi orderan. Berbagai parsel sebagai ucapan selamat sepertinya menjadi tradisi masyarakat turun-temurun. Namun, sayang terkadang pengaplikasian parsel salah arti. Bukannya diberikan kepada masyarakat tak mampu justru kepada atasan.

* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *

Maraknya peredaran parsel menjelang Lebaran mulai diawasi pemerintah, terutama isi produk dalam kemasan parsel itu sendiri. Paket makanan dalam bentuk parsel berisikan berbagai ragam makanan dan minuman serta makanan ringan lainnya dikhawatirkan tak layak komsumsi (expired).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Ir Permana MMA mengatakan, parsel yang dijual menjelang Lebaran Idul Fitri harus benar-benar barang berkualitas prima dan tidak expired. “Diimbau pedagang parsel selektif dan teliti mengemas barang parsel. Penjual hendaknya memudahkan pembeli parsel dengan menyertakan cek list produk apa saja yang dikemas berikut tanggal kode expired-nya,” ujar Permana kemarin (16/7).

Diakuinya, dari banyaknya parsel yang beredar di masyarakat, pengawasan dilakukan Disperindag pada parsel juga tak seintensif seperti halnya pengawasan barang di operasi-operas pasar. Menurut Permana, pengecekan dalam hal ini akan langsung ditujukan ke pihak pengemas ataupun kepada distributor barangnya.

“Kami juga mengimbau masyarakat agar lebih teliti membeli parsel, lihat produk dan labelnya apakah benar sudah sesuai. Jangan sampai parsel beredar malah merugikan konsumen serta masyakarat karena berisi makanan dan minuman yang sudah kedaluarsa tak layak konsumsi,” ungkapnya.

Meski demikan, lanjut Permana, keberadan parsel tentu perlu pengawasan. Disperindag sebagai instansi yang berwenang akan terus produktif melakukan pemantauan terhadap kondisi makanan yang ada di dalam parsel. “Kami akan cek ke tempat pembuatan, makanan dan minuman apa saja yang mereka masukkan. Apakah masih layak dikonsumsi atau tidak. Itu yang perlu dilakukan Disperindag, lebih tepatnya melakukan sidak ke lokasi pembuatan parsel,” imbuhnya.

Apabila terbukti ada pedagang yang mengemas produk expired. Kata dia. Pihaknya akan melakukan tindakan tegas kepada pedagang dan distributor barang dengan memberikan sanksi berupa pencabutan izin usaha. “Tapi kalau pedagang di mall yang tertangkap maka hati itu juga tanpa proses akan kami tindak. Sebab, khusus di mall kami ada tim pengawas,” tukasnya.

Sementara itu, Supermarket Ramayana Palembang tak ketinggalan ambil bagian menjual beragam produk parsel. Asisten Store Manager Ramayana Supermarket Palembang, Muhammad Fahmi mengatakan parsel yang ditawarkan bagi konsumen sangat beragam isinya yang dijual mulai dari harga Rp 100 ribu–Rp 400 ribu.

“Kami menawarkan parsel langsung jadi dengan dua pilihan, kemasan kotak dan keranjang dekorasi, namun kita juga menyediakan parsel pesanan yang isinya bisa ditentukan sendiri oleh konsumen,” ujarnya.

Menurut Fahmi, saat ini permintaan parsel belum terlalu tinggi. Karena tenggang waktu Lebaran masih lama. “Biasanya permintaan parsel akan terjadi mulai H-10 Lebaran,” ungkapnya. Agar kocek lebih hemat, Fahmi menyarankan agar konsumen membeli barang dan minta dikemaskan menjadi parsel. Sebab, kalau langsung jadi sudah harga gabungan sehingga harga cenderung lebih mahal hingga 10-20 persen.

Memang kata dia, pembeli parsel mayoritas kalangan menengah ke atas. Namun, karena gengsi terkadang karyawan yang memiliki jabatan standar (menengah) tidak mau ketinggalan memberikan parsel kepada atasan. “Parsel ini cenderung dikirim kepada atasan atau rekan kerja,” ungkap dia.

Untuk keamanan konsumen, lanjutnya, parsel yang dijual sudah disertai check list lengkap produk dan kode expired barang di belakang kotak parsel. “Jadi kalau ada produk yang expired uang akan kami ganti seratus persen, tahun ini kami menargetkan bisa menjual 70 parsel atau naik dari realisasi tahun lalu 50 parsel,” pungkasnya.

Terkait hal ini, pembeli atau pemesan paket parsel Lebaran dituntut untuk selalu hati-hati dan waspada. Apalagi saat memilih paket yang akan dibeli atau dikirimkan tersebut. Sebaiknya, pembeli tidak hanya melihat dari sisi bungkus atau nilai harga barangnya. Dimana sikap kritis dibutuhkan untuk terhindari dari produk berbahaya. (cj9/nni/asa/ce2)

Perketat Pengawasan, Teliti sebelum Membeli

Perketat Pengawasan, Teliti sebelum Membeli Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Palembang akan memperketat pengawasan peredaran makanan kemasan dalam parsel, baik di swalayan, toko, maupun pasar tradisional. Pasalnya, momen Lebaran kerap dimanfaatkan pedagang untuk melepas sejumlah produk parsel yang kedaluarsa.

“Yang kami awasi makanan dalam kemasan parsel, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak,” ujar Kepala BPOM Palembang, Indriaty Tubagus, kemarin (16/7).

Indri mengatakan, pengawasan terhadap makanan dalam kemasan merupakan kegiatan rutin yang dilakukan BPOM menjelang Lebaran. Langkah ini guna melindungi konsumen.

Parsel yang tidak sesuai ketentuan BPOM seperti produk makanannya memasuki masa kedaluarsa, kemasan rusak, mengandung lemak babi, tidak memenuhi persyarat label, berkarat atau penyok, serta parsel yang jenis pangannya tidak terdaftar pada BPOM RI.

Produk parsel tersebut akan disita dan dimusnahkan. Sebab, produk parsel itu diduga sangat berbahaya jika dikonsumsi karena sudah mengandung bakteri. “Makanan yang kemasannya sudah rusak juga terindikasi makanan tersebut tidak layak konsusi alias mambahayakan bagi konsumen,” ucapnya.

Pihaknya juga bekerja sama dengan instansi pemerintah terkait seperti pihak kepolisian, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan terkait pengawasan parsel ini. Pihaknya juga telah mengeluarkan surat edaran kepada para pedagang, distributor, toko maupun swalayan, tentang imbauan agar tidak menjual produk-produk pangan dan minuman yang tidak layak konsumsi.

“Masyarakat harus berhati-hati terhadap parsel yang dibeli, teliti sebelum membeli, lihat dan jeli dalam mengecek masa kedaluarsa dan komposisi dalam makanan,” pungkasnya. Ia mengimbau kepada para penjual makanan yang akan dijadikan sebagai parsel, jangan memasukkan makanan ataupun minuman yang kemasannya sudah rusak. Pedagang harus kerap lebih hati-hati saat membeli untuk stok barang dan lebih memperhatikan masa kedaluarsa.

Menurut dia, adanya produk kedaluarsa tersebut tidak semata kesalahan produsen. Sebab produsen telah membuat label batas kedaluarsa produknya. Tetapi, produsen juga harus ikut bertanggung jawab, kalau produk yang dikemas minimal satu bulan sebelum masa kedaluarsa, produsen harus menarik produk itu. (roz/nni/ce2)

Pembeli Cenderung Instansi Pemerintah

Salah satu tradisi tak terlewatkan ucapan Lebaran lewat bingkisan parsel. Momen tersebut dimanfaatkan pedagang mencari keuntungan dengan cara mengemas produk. Tak hanya di pasar tradisional parsel juga bisa dijumpai di pasar modern. Salah satunya Carrefour yang tiap tahunnya menjual parsel.

* * * * * * * * * *

Koodinator Customer Service Carrefour Palembang, Lia Sihombing mengatakan, parsel ditawarkan mulai dari harga Rp 179 ribu untuk paket kecil Rp 630 ribu untuk paket besar. Menurutnya, pembeli parsel cenderung berasal dari kalangan instansi pemerintahan, BUMN, dan orang pribadi. “Pembelian dalam jumlah besar biasanya dilakukan oleh BUMN, itu dikarenakan mereka banyak pegawai atau relasi yang akan dikirim ucapan,” ungkapnya.

Dijelaskan, ada dua jenis parsel ditawarkan yakni parsel dekorasi dan parsel kontainer. “Kalau untuk mengirm ke rekan kerja atau atasan konsumen banyak membeli parsel dekorasi. Tapi kalau untuk ke anak yatim, panti asuhan cenderung ke parsel kontainer karena lebih praktis,” ungkapnya.

Dikatakan, hingga saat ini pihaknya telah menjual sekitar 200 parsel. “Kami memprediksi permintaan ini akan terus meningkat. Karena berdasarkan pengalaman permintaan parsel banyak terjadi mendekati Lebaran,” tuturnya.

Menjaga keamanan konsumen. Pihaknya lebih selektif dalam hal mengemas produk untuk parsel. “Kami memilih produk yang jangka expired-nya masih lama untuk dikemas menjadi parsel. Tujuannya meski lambat terjual produk tersebut tidak kedaluarsa,” imbuhnya.

Memfasilitasi konsumen pihaknya juga menerima delivery antar tujuan apabila transaksi minimal Rp 2 juta. “Kalau transaksinya di bawah Rp 2 juta, kami juga menerima jasa pengiriman tapi konsumen dikenakan biaya Rp 45 ribu sekali kirim,” tukasnya.

Sementara itu, salah satu konsumen parsel,karyawan perusahaan BUMN di Palembang, Yoga Pratama mengatakan, pihaknya sudah memesan lima kemasan parsel. “Parsel tersebut rencananya akan dikirim pada kolega bisnis kami, tapi untuk atasan dan perusahaan. Kalau karyawan tidak karena butuh banyak dana,” tuturnya.

Dia mengaku, hampir setiap tahun pihaknya memberikan parsel kepada rekan bisnis. Melalui ucapan tersebut pihaknya berharap tetap menjaga silaturrahmi dan mempererat hubungan kerja. “Ini kan berupa ucapan, baik salam bahagiadan ucapan selamat menuju hari kemenangan. Kami berharap dengan menjalin silaturrahmi seperti ini rekan bisnis tetap terjalin,” tukasnya. (cj9/nni/ce2)

PNS Dilarang Kirim Parsel

Badan Kepegawaian Negara (BKN) kembali mengeluarkan peringatan agar pejabat negara baik pusat maupun daerah agar tidak menerima dan mengirim parsel. Apalagi jika biaya pengadaan parsel diambil dari APBN maupun APBD.

Kepala Biro Humas dan Protokol BKN Tumpak Hutabarat mengatakan, aparat PNS di instansi pusat maupun daerah dilarang menerima parsel Lebaran. Apalagi jika ditaksir dalam bentuk uang, parsel itu harganya cukup mahal. “Jika pemberian parsel itu diterima, bisa masuk kategori gratifikasi,” katanya.

Tumpak mengatakan selama ini tidak dibenarkan ada penganggaran dalam APBN atau APBD untuk membeli parsel Lebaran bAgi kalangan PNS. Potensi pemberian parsel Lebaran bagi aparat PNS biasanya juga muncul dari pihak luar. Seperti dari perusahaan yang sering menjadi rekanan pemerintah.

Pengadaan parsel bisa ditoleransi ketika anggarannya didapat dari tabungan PNS sendiri yang disimpan di koperasi instansi. Dalam kurun waktu tertentu, tabungan itu dicairkan dalam bentuk parsel yang berisi sembako atau lainnya. “Yang dilaang itu menggunakan uang rakyat (APBN atau APBD, red) untuk membeli parsel bagi para PNS,” jelas dia.

Menurut Tumpak, kebijakan pemerintah yang memberikan gaji ke-13 bulan ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Khususnya dipakai untuk mengatasi kebutuhan menjelang Lebaran. Selain memberikan warning soal parsel, selama Ramadhan hingga menjelang libur Lebaran nanti, Tumpak juga berharap PNS tetap menjaga kinerja meskipun sedang berpuasa. Sehingga tidak muncul laporan dari masyarakat, pelayanan instansi pemerintahan menurun selama Ramadhan. “Aturan libur dalam rangka Idul Fitri harus dipatuhi PNS,” tegasnya.

Bagi instansi yang menggunakan jam kerja lima hari dalam sepekan, berarti libur Lebaran-nya dimulai pada 26 Juli. Kemudian pada 28-29 Juli ditetapkan sebagai libur tanggal merah Lebaran. Selanjutnya pada 30 Juli hingga 1 Agustus diputuskan sebagai libur cuti bersama Idul Fitri. Instansi pemerintah mulai kembali bekerja efektif pada Senin, 4 Agustus.

Aturan libur dan cuti Lebaran itu dikecualikan bagi kantor-kantor pelayanan vital. Seperti rumah sakit, pemadam kebakaran, dan sejenisnya. BKN berharap pimpinan instansi-instansi vital itu bisa mengatur jadwal libur pegawainya, sehingga pelayanan tidak berhenti total selama Lebaran. (wan/kim/ce2)

Sumatera Ekspres, Kamis, 17 Juli 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: