Awas Copet Makin Berani, Banyak Wajah Baru


Terorganisir, Nyamar Kuli Angkut

Awas Copet Makin Berani, Banyak Wajah Baru
Rawan Copet: Kawasan Pasar 16 Ilir Palembang menjadi daerah paling rawan aksi copet. Terutama di Jl Tengkuruk Permai, bawah Jembatan Ampera dan BKB

________________________________________

Tindak kriminal pencopetan kian marak di Metropolis. Sasarannya tak hanya kaum wanita, melainkan siapapun bisa jiadi korban. Terutama bulan Ramadhan hingga Idul Fitri nanti. Beragam modus pun dilakukan pelaku. Seperti Apa?

* * * * * * * * * *

Masyarakat sepertinya harus ekstrahati-hati saat berpergian di keramaian maupun pusat perbelanjaan. Sebab, tidak menutup kemungkinan akan menjadi korban pencopetan. Dalam beroperasi pelaku tidak mengenal waktu dan tempat, begitu ada kesempatan maka langsung beraksi.

Hasil penelusuran Sumatera Ekspres bersama anggota Unit Pidum Polresta Palembang Bripka Agus Akbar, berhasil memantau sejumah lokasi tempat pelaku copet beraksi. Seperti di Jl Tengkuruk Permai kawasan Pasar 16 Ilir Palembang dan kawasan bawah Jembatan Ampera. Hampir setiap sudut kawasan tersebut sangat rawan dengan aksi pencopetan.

Bahkan sejumlah pencopet kerap kali beraksi dengan cara menyamar dan berkamuflase sebagai kuli angkut barang, penjual dagangan, pedagang asongan dan pengunjung pasar. Atktivitas pencopet memang kerap kali berbagi menjadi beberapa kelompok, seperti kelompok Tangga Buntung, Kramsan, Kertapati bahkan sekarang semakin bertambah dengan adanya pemain baru dari luar daerah. Dalam satu kelompok tersebut, biasanya mereka beranggota empat hingga tujuh orang.

Pelaku tindak pencopetan tersebut, sering kali terlihat saat aktivitas masyarakat sedang padat melakukan transaksi jual beli di kawasan Pasar 16 Ilir. Pukul 08.00–10.00 WIB, pukul 14.00–16.00 WIB, dan pukul 17.00–18.30 WIB, merupakan waktu yang sangat diminati oleh para pelaku untuk melakukan aksinya.

Para pencopet yang kerap beraksi ini, sulit dibedakan dengan masyarakat biasa. Selain tidak memiliki ciri-ciri khusus, si pelaku juga relatif masih muda, dengan kisaran 18–28 tahun. Modus para pelaku sebelum melancarkan aksi, kerap kali melakukan pengintaian terhadap sasarannya. Dengan memperhatikan barang bawaan atau benda berharga yang dibawa oleh korban.

Setelah mengetahui korban lengah, para pelaku langsung membuntuti dari belakang hingga korban terjebak di dalam kerumunan keramaian masyarakat yang melakukan aktivitas. Dengan gerakan cepat, sang pelaku langsung mengambil sasarannya seperti dompet maupun handphone dari dalam saku korban. Cara tersebut dianggap sangat efektif bagi para pelaku, karena korban sangat sulit untuk merasa curiga bahkan melakukan pengejaran terhadap pelaku.

Sebagian besar pedagang maupun juru parkir (jukir) di kawasan Pasar 16 Ilir, mengetahui wajah-wajah pelaku yang kerap melancarkan aksi ini. Bahkan disaat Sumatera Ekspres melakukan pemantauan terhadap para pelaku, mereka langsung menunjukkan letak-letak dan pelaku pencopetan yang hendak melancarkan aksi.

Sekitar pukul 11.25 WIB, setelah malakukan pemantauan dari dalam mobil, terhadap salah seorang copet kambuhan (ST) merupakan rombongan pencopet dari kawasan Tangga Buntung. Pelaku terlihat menyamar sebagai kuli angkut dengan mengenakan helm, seolah membantu para pedagang di sekitar kawasan bawag Jembatan Ampera menurunkan barang dagangan.

Sedangkan anggotanya yang lain menyebar hingga memasuki Lorong Pasar Tengkuruk. Tidak ada gerak-gerik pelaku yang mencurigakan, Sumatera Ekspres berusaha membuntuti salah seorang pelaku yang masuk ke dalam pasar, yang telah dicurigai hendak melancarkan aksi. Namun sayang pelaku yang mengetahui sedang dibuntuti ini, langsung lari dan berusaha kabur sebelum beraksi.

Tapi pelaku sempat tertangkap oleh seorang satpam lalu dibawa ke sebuah pos di kawasan pasar. Pelaku yang diketahui berinisial HR ini mengaku warga simpang pasar Tangga Buntung, Kelurahan 36 Ilir, Kecamatan Ilir Barat (IB) II, Palembang. Sebelumnya sempat mengelak saat ditanyai mengenai sejumlah rekannya.

Namun pelaku baru mengakui profesinya sebagai copet setelah Bripka Agus Akbar menunjukkan sejumlah foto copet yang berhasil diamankan oleh anggota Polresta Palembang.

“Iyo pak itu kawan-kawan aku galo, aku kenal galo samo wong itu. Aku belom ngembek apo-apo pak, aku baru turun langsung nak beli rokok. Aku janji pak, idak nak nyopet lagi, aku dak tau di mano posisi kawan-kawan aku, kami tumpak datang langsung nyebar.”

Terpisah, Kapolresta Palembang kombes Pol Sabaruddin Ginting melalui Kapolsek Ilir Timur (IT) I Kompol Apriya Jaya, mengatakan, pihaknya saat ini, sangat memprioritaskan aksi giat copet dan jambret di sekitar kawasan Pasar 16 Ilir. Ia membenarkan, semenjak puasa hingga perayaan Idul Fitri nanti, aksi pencopetan mulai meningkat terutama di kawasan padat aktivitas.

“Sekarang banyak pencopet pemain baru, kemungkinan banyak masyarakat alih profesi menjelang perayaan Idul Fitri nanti menjadi copet. Masyarakat kami minta harus lebih waspada terhadap copet. Mereka sering berkumpul di sekitar kawasan Pasar 16 Ilir, Pasar Sayangan, Dika dan sekitar Internasional Plaza. Hampir disetiap sudut mereka ada,” ungkapnya. (tim/ce1)

Di Penjara, Malah Belajar Nyopet
Pelaku tindak kejahatan copet mengintai masyarakat Palembang. Biasanya kawanan ini membentuk sebuah kelompok dan lebih dari satu orang dalam melancarkan aksinya. Para pencopet melakukan aksinya mulai dari ikut-ikutan, sampai pada kesetiakawanan pada kelompoknya.

Pengaruh lingkungan sangat besar membentuk karakter para pencopet ini, termasuk dalam lingkungan penjara. Seperti yang dialami pelaku copet bernama Reno Sastro alias Cecot (24), warga Kertapati, Jl KH Wahid Hasyim, Lr Terusan, RT 43, Kelurahan Kertapati, Kecamatan Kertapati.

Baru beberapa hari bebas dari penjara Rutan Pangkalan Balai Banyuasin dalam kasus penganiayaan, ia harus masuk bui lagi di tahanan Polsek Ilir Timur I Palembang terkait kasus copet.

“Aku baru tiga hari keluar dari rutan di Pangkalan Balai karena kasus 351 penganiayaan,” ujar Cecot yang kini diamankan di Mapolsek Ilir Timur I Palembang.

Nah, pengalaman selama mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun, ternyata memberikan pengaruh buruk bagi dirinya. Ia sedikit banyak bertukar pikiran dengan tahanan lainnya, terutama dalam kasus pencurian.

Ketika bebas dari penjara, muncul perasaan bahwa ia merupakan mantan pelaku kejahatan yang dicap masyarakat dan memiliki keinginan untuk mengulangi tindak kejahatan. Kali ini memilih untuk mencopet. Sementara, Zk, seorang mantan copet yang kini sudah tobat mengakui, jika modus mencopet pun bermacam-macam. Copet itu ada tekniknya. Biasanya ada koordinator yang dipimpin seorang copet juga yang sudah senior atau disebut raja copet. (roz/nni/asa/ce1)

Waspada Copet

Tips Terhindar dari Copet

— Jangan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah saat berbelanja. Mereka yang menggunakan bahasa Indonesia dan daerah, buat para pencopet merupakan sasaran empuk. Yang berbahasa Indonesia pasti orang pendatang dari Jakarta sementara yang menggunakan bahasa daerah mereka dari dusun. Hal tersebut dipercaya membawa banyak uang.

— Simpan uang atau dompet di saku celana bagian depan. Jangan menggunakan perhiasan apapun saat berbelanja, termasuk jam tangan yang mahal dan handphone.

Titik Copet di Palembang

— Kawasan 16 Ilir (Dermaga, bawah Jembatan Ampera, Pasar Tengkuruk, Pasar Ikan)

— Kawasan depan International Plaza (IP)

— Angkutan kota (angkot), terutama bus kota

— Benteng Kuto Besak (BKB)

— Pasar Dika

— Sayangan

Modus Kawanan Copet

— Diam-diam mencabut dompet dari saku celana menggunakan dua jari

— Menyilet tas

— Pura-pura menabrak

— Terang-terangan menarik dompet korbannya

— Pelaku segera mengoper hasil copetan ke pelaku lain

Sumber: Hasil Peliputan Sumatera Ekspres

Jenis Pidana Pencurian di Palembang

Triwulan 2014

Pencurian dengan pemberatan (curat)

Januari: 146 kasus
Februari: 151 kasus
Maret: 124 kasus

Pencurian ringan

Januari: 27 kasus
Februari: 30 kasus
Maret: 32 kasus

Pencurian kendaraan bermotor (curanmor)

Januari: 124 kasus
Februari: 142 kasus
Maret: 149 kasus

Pencurian dengan kekerasan (curas)

Januari: 53 kasus
Februari: 48 kasus
Maret: 50 kasus

Sumber: Polresta Palembang

Sumatera Ekspres, Minggu, 13 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: