Romi-Masyitoh Ditahan Bersamaan


Harnojoyo Jabat Plt Wako

Romi-Masyitoh Ditahan Bersamaan
Kasus Pertama: Wako Romi Herton mengenakan baju tahanan dicium pendukungnya sebelum memasuki mobil tahanan usai diperiksa di Gedung KPK. Bersamaan, Masyitoh, istri Romi juga ikut ditahan, kemarin. Keduanya terkait dugaan suap sengketa plikada

“Sebagai pejabat Plt dilarang, melakukan mutasi pegawai kecuali aeizin pemimpin di atasnya (gubernur),” Didik Suprayitno.

________________________________________

JAKARTAWali Kota Palembang Romi Herton dan istrinya Masyitoh Romi akhirnya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya atas perkara suap sengketa pilkada. Keduanya langsung ditahan bersamaan setelah diperiksa sekitar lima jam oleh penyidik KPK.

Romi Herton yang datang pukul 10.00 WIB, keluar terlebih dulu dari Gedung KPK dengan mengenakan rompi oranye (baju tahanan) sekitar pukul 17.00 WIB. selang beberapa menit kemudian, Masyitoh Romi keluar Gedung KPK dan dibawa dengan mobil berbeda ke Rutan KPK.

Penahan Romi dan Masyitoh Romi sempat diwranai kericuhan pendukungnya. Sejumlah orang yang mengaku pengawal Romi dan Masyitoh Romi menghalang-halangi pewarta yang hendak mengambil gambar dan meminta statement orang nomor satu Pemkot Palembang tersebut.

Tidak banyak yang disampaikan Romi, dia mengaku menerima penahanannya untuk menghormati proses hukum. “Saya kira tidak ada langkah hukum apa-apa, saya akan mengikuti proses ini,” ujar bapak empat anak ini.

Romi juga menyerahkan sepenuhnya pada aturan yang berlaku terkait jabatannya sebagai wali kota. “Terkait pemerintahan di sana ‘kan ada aturannya, saya ikut saja aturan yang berlaku. Termasuk jika harus dinonaktifkan,” ujarnya.

Pria kelahiran Lampung 19 April 1965 itu tak mau mengomentari kasus hukumnya. Menurut dia, hal tersebut sudah masuk materi dan diserahkan sepenuhnya ke KPK. Sementara si istri, Masyitoh juga tidak mau berbicara apapun, termasuk nasib empat anaknya pascapenahanannya.

Penahanan pasutri yang terjerat korupsi dalam waktu bersamaan ini baru yang pertama kali dilakukan KPK. Sebelumnya KPK memang pernah menjerat dan menahan pasutri tersangka korupsi namun tidak bersamaan, yakni Nazaruddin dan Neneng Sri Wahyuni.

Pada bagian lain, Juru Bicara KPK Johan Budi mengungkapkan untuk kepentingan penyidikan keduanya ditempatkan penjara yang berbeda. Romi ditahan di Rutan KPK di Pomdam Guntur. Sedangkan Masyitoh ditempatkan di Rutan yang ada di Gedung KPK. “Keduanya ditahan untuk 20 hari ke depan,” kata Johan.

Dalam perkara ini, selain dituduh menyuap Akil Mochtar, Romi dan istrinya juga dijerat pasal memberikan keterangan tidak benar dalam persidangan. Saat menjadi saksi untuk Akil, pasutri ini memang memberikan keterangan yang berbelit dan bertentangan dengan kesaksian orang lain.

Pasal yang digunakan untuk menjerat keduanya ialah pasal 6 ayat 1 huruf (a) UU No. 20/2001, jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Seta pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 UU 20/2001 untuk keterangan tidak benar dalam persidangan.

Dalam sengketa pilkada Palembang, Akil didakwa meminta uang suap Rp 20 miliar, namun hanya diberi Rp 19,8 miliar oleh Romi. Transaksi penyuapan itu dalam sidang diketahui melalui perantara orang dekat Akil, yakni Muhtar Ependi.

Sidang pembuktian untuk suap pilkada Palembang dilakukan beberapa kali dengan memeriksa sejumlah saksi. Pada sidang 28 Maret diketahui Sekda Kota Palembang Ucok Hidayat membawa uang Rp 2 miliar ke Jakarta melalui pesawat terbang. Uang itu ditaruh koper dan terdeteksi petugas keamanan Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Saat itu jaksa juga menanyakan ke Romi soal uang itu. Dia mengatakan, uang tersebut digunakan untuk kebutuhan mendesak membiayai keperluan sidang sengketa pilkada selama di Jakarta.

KPK mencurigai uang itu untuk Akil. Sebab, dalam temuan penyidik, uang tersebut lalu dititpkan di BPD Kalbar melalui Muhtar Ependi. Penitipan uang di BPD Kalbar tersebut diduga dilakukan Masyitoh.

Keterangan itu klop dengan kesaksian beberapa pegawai dan petugas keamanan BPD Kalbar yang menyebutkan Muhtar memang datang bersama perempuan berkerudung saat membawa uang. Saat ditunjukkan foto Masyitoh, pegawai BPD Kalbar menyatakan wajah itu mirip dengan perempuan yang datang bersama Muhtar.

Namun, masyitoh menyangkal mengenal Muhtar dan tidak pernah ke BPD Kalbar. Romi juga mengaku tidak kenal Muhtar. Padahal, KPK memiliki bukti surat penagihan pembuatan atribut pilkada dari Muhtar ke Romi. KPK juga menemukan nama Muhtar MK di ponsel Romi. Wali Kota Palembang itu justru balik curiga kepada KPK karena ponselnya selama ini disita penyidik.

Terhadap penahan Romi tersebut, Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Didik Suprayitno menegaskan saat ini Romi masih menjabat sebagai Walikota Palembang. Hanya saja, Kemdagri segera menonaktifkannya setelah Romi menjadi terdakwa.

“Nanti setelah kita menerima register (perkara) terdakwa-nya, maka kita akan menonaktifkannya,” jelasnya kepada koran ini tadi malam di Jakarta. Lantas mengenai pemangku jabatan sementara sesuai PP No. 49 Tahun 2008 pasal 132 a, Wakil Walikota Palembang Harnojoyo akan ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt).

Sesuai aturan tersebut, lanjut Didik, Harno tidak boleh mengeluarkan kebijakan. Seperti melakukan mutasi pegawai atau pemekaran wilayah walaupun larangan itu tidak mutlak adanya. “Sebagai pejabat Plt dilarang, melakukan mutasi pegawai kecuali seizin pimpinan diatasnya (gubernur). Dilarang melakukan pemekaran wilayah seperti memekarkan kecamatan atau kelurahanm,” tukasnya. Nanti jika dalam perkaranya Romi terbukti melakukan tindak pidana korupsi, barulah bisa diberhentikan tetap.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin menegaskan Pemprov Sumsel merasa prihatin dengan pemberitaan tersebut. Namun, ia tetap mengikuti prosedur yang ada. “Proses hukum harus dihormati,” ungkap orang nomor satu di Sumsel itu.

Alex memastikan, pemerintahan di Kota Palembang akan tetap berjalan dengan baik seperti biasa. “Pemkot Palembang harus tetap berlangsung dan efektif demi kelanjutan pembangunan. Saya jamin itu.”

Wakil Gubernur Sumsel, Ishak Mekki, tetap menyerahkan kasus yang menjerat Romi dan istrinya kepada pihak berwenang. “Itu tndak lanjut dari temuan KPK dan merupakan kewenangan KPK untuk melakukannya,” kata Ishak. Ia juga menyakini jika Romi akan taat kepada hukum yang sudah ditetapkan. “Saya yakin Pak Romi Herton pastinya akan taat hukum,” terangnya.

Terpisah Ketua DPRD Kota Palembang, H. Ahmad Novan menegaskan, pihaknya masih menunggu proses hukum yang berjalan dan keputusan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan kejelasan kepemimpinan Pemerintahan Palembang. “Yang pasti roda pemerintahan masih tetap berjalan karena ada Wakil Wali Kota dan Sekda,” tukas dia.

Koran ini sempat mendatangi kediaman Wakil Wali Kota Palembang H Harnojoyo di Jl Musi II. Di sana, hanya bertemu dengan penjaga rumah. “Pak Harno-nya lagi tidak ada di rumah,” ucap dia.

Gelar Buka Bersama
Pantauan Sumatera Ekspres, pascapenahanan Romi dan Masyitoh, kediaman pribadi mereka di Jl Taqwa tampak sepi. Rumah bercat putih dengan arsitektur megah tersebut, dijaga ketat oleh beberapa anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Tampak pengunjung yang ingin masuk harus melapor terlebih dahulu. “Tidak ada orang di rumah,” kata seorang penjaga rumah, tadi malam. Hal serupa terlihat dikediaman pribadi Romi yang berada di Jl POM IX, samping Hotel Aryaduta.

Berbeda dengan kedua kediaman tersebut, di rumah dinas wali kota di Jl Tasik tengah berlangsung pengajian rutin yang biasa digelar setiap Kamis malam. Hanya saja, tak satupun terlihat pejabat pemkot yang hadir. Hanya ada adik ipar Wako Palembang bernama Edy hadir bersama istri. “Memang ada buka bersama bareng anak yatim,” ujar staf bagian umum dan perlengkapan Sekretariat Daerah (Setda) Kota Palembang, Ngadiran.

Hadir pada buka bersama Kepala Bagian Sosial Masyarakat (Sosmas), Camat Ilir Barat (IB) I dan Ilir Barat (IB) II. Menurut Kabag Sosmas, Haidir mengatakan, dirinya mengetahui kalau Wali Kota Palembang ditahan dari media. Terpisah, Ratu Dewa, Kabag Humas Pemkot Palembang mengatakan, semua anak Romi dan Masyitoh masih berada di Palembang. “Anak-anak bapak masih berada di Palembang. Tapi, nanti akan membesuk Bapak dan Ibu di Jakarta,” sambungnya. Pengacara RH dan M akan mengatur waktu untuk jadwal besuk keluarga. (rip/ran/gun/yun/cj6/ce1)

Titip Palembang kepada Wawako

Ditahannya Romi Herton dan istrinya, Hj Masytoh, menyisakan kenangan tersendiri. Koran ini sempat mendengar langsung kata-kata perpisahan sang Wali Kota ketika ia menghadiri penyerahan hasil pemeriksaan keuangan Pemkot Palembang di kantor Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Sumsel, 20 Juni lalu.

Ketika itu, Pemkot Palembang meraih opini wajar tanpa pengecualian (WTP) yang keempat kalinya dengan paragraf penjelasan. Dua puluh hari lalu itu, Romi seperti sudah ada firasat kalau kasus hukum yang menyeretnya sebagai tersangka akan bermuara pada penahanan dirinya dan sang istri oleh lembaga antirasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“Saya akan dipanggil KPK. Ini yang terakhir. Saya mohon maaf untuk semuanya. Maafkan saya, saya memang bukan orang yang sempurna karena tidak ada yang sempurna di dunia ini,” ungkapnya saat itu. Dalam acara itu, hadir Wakil Wali Kota H Harnojoyo, Ketua DPRD Palembang, dan para kepala satuan kerja perangkat dinas (SKPD) di lingkup Pemkot Palembang.

Dia bahkan menitipkan Palembang ke Wakil Wali Kota Palembang, Harnojoyo. “Harapan ke depan, Pemerintahan Kota Palembang akan lebih baik lagi,” kata pria kelahiran Metro (Lampung), 19 April 1965 itu.

“Kepada semua pejabat pemerintahan Kota Palembang, media, dan masyarakat Palembang, saya mohon pamit. Nanti, ke depan, saya harus menjalani proses, yakni selama sembilan bulan diproses KUHP Pidana. Ditahan selama empat bulan, lalu disidik dan diproses. Lalu di sini akan terbukti, apa benar saya melakukan kesalahan ini,” lanjutnya.

Ia menuturkan hal apapun yang akan terjadi ke depan, dirnya ikhlas menjalani semuanya. Bahkan, sembilan bulan masa tahanan itu akan dianggapnya sebagai masa “sekolah”, tidak sebagai tahanan.

“Apapun yang terjadi, saya ikhlas. Saya akan bertahan dan menganggap ini adalah sekolah. Saya ikhlas, seikhlas-ikhlasnya. Akan saya hadapi dengan baik,” imbuh alumnus Megister Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang.

Baginya, Palembang adalah belahan hatinya. Sebagai manusia biasa, dia harus selalu bersyukur dalam kondisi apa pun. Romi percaya akan ada rahmat dari Allah SWT yang dia dapatkan ke depan. “Saya akan tetap tegak berdiri di tengah himpitan dan jepitan beragam masalah. Dan saya akan mencoba lakukan yang terbaik,” katanya.

Romi juga mengatakan sepakat dengan program KPK untuk memberantas segala bentuk kecurangan yang ada dalam pemerintahan. Ayah dari empat orang anak ini menuturkan, selama menjadi wali kota Palembang dia selalu mencoba berikan yang terbaik. Diungkapnya, selama menjabat, telah terjadi kenaikan APBN dari Rp 1,8 triliun menjadi Rp 3,1 triliun.

Harpan besarnya, meski dirinya menjalani proses hukum di KPK, anak-anaknya dan anak bangsa lainnya tetap memiliki pandangan positif terhadapnya. “Saya juga mohon maaf apabila selama menjabat ada kesalahan yang dilakukan,” tandasnya. (wia/ce1)

Sumatera Ekspres, Jumat, 11 Juli 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: