Rencanakan 13 Lokasi Stasiun


Monorel Terkoneksi dengan PS Mall

Rencanakan 13 Lokasi Stasiun

PALEMBNGRencana pembangunan monorel dimatangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel. Sudah ditentukan 13 titik yang akan menjadi stasiun pemberhentian kereta berteknologi tinggi ini.

13 titik itu pada dua koridor sepanjang 25 kilometer (km) yang akan dibangun pada tahap awal ini. Koridor I sepanjang 15 km dimulai dari Bandara SMB II, Jl Kol H Barlian, hingga kawasan Masjid Agung Palembang.

Sementara koridor II yang panjangnya 10 km dimulai dari kawasan Masjid Agnug Palembang, Jl GHA Bastari menuju Jakabaring. “Jalur monorel membentang dari bandara SMB II hingga Jakabaring. 13 tempat pemberhentian itu terletak pada lokasi yang strategis,” tutur Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Sumsel, Musni Wijaya.

Dari 13 titik pemberhentian yang direncanakan tersebut, ada 7 lokasi yang tidak perlu melakukan pembebasan lahan lagi. Lokasinya memang berada di atas lahan pemerintah setempat. “Nah, sisanya membutuhakan land clearing,” bebernya.

Ia meyakini, tidak akan ada kendala berarti untuk proses pembebasan lahan. Jalur monorel ini dibangun pada median jalan yang notabone memang jarang dimanfaatkan pemilik lahan. “Kami akan menggandeng Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk proses pembebasan lahan tersebut,” kata Musni.

Progres monorel sendiri sejauh ini dalam fase yang positif. Hal itu dibuktikan dengan mengalirnya dukungan dari pemerintah pusat. “Yang pasti, sudah on the track karena memang Bappenas RI memberikan dukungan luar biasa. Pola investasi kerja sama pemerintah dan swasta yang akan diterapkan dalam pembangunan monorel ini memang di bawah koordinasi Bappenas,” jelasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, 13 titik stasiun pemberhentian monorel yakni di Bandara, depan Auto 2000 Jl TAA, simpang TAA (arah Jl Kol H Barlian, depan Dolog), simpang Talang Buruk (depan Kantor Telkom), Pasar Km 5, jembatan layang (flyover Polda), simpang Angkatan 45–Demang, Palembang Square (PS) terkoneksi dengan mall, Pasar Cinde, Ampera (sisi kiri jembatan), simpang Jakabaring (GHA Bastari), depan stadion JSC, dan depan kompleks OPI.

Sebelumnya, Sekretaris Dishubkominfo Sumsel, Uzirman Irwandi menuturkan, rencananya pada tiap stasiun pemberhentian monorel akan dibangun semacam pusat bisnis. keberadaan pusat bisnis itu akan jadi salah satu penunjuang agar investasi yang ditanamkan investor bisa lebih cepat kembali.

“Seperti di Singapura, begitu keluar dari MRT, akan langsung ketemu mall. Pihak lain juga akan diberikan kesempatan untuk memasang iklan,” katanya. Pihaknya juga sedang menyiapkan beberapa studi menyangkut proses tender. Penyiapan ini bekerja sama dengan Bappenas RI melalui Infrastructure Reform Sector Development Project (IRSDP).

“Awalnya kita akan melakukan proses lelang pada Juni lalu, namun diundur menjadi September sesuai saran IRSDP. Pasalnya, masih ada beberapa berkas seperti analisis hukum dan studi ekonomi makro yang dibantu mereka secara langsung,” tutur Uzirman.

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, sendiri pernah mengatakan, sudah ada beberapa calon investor yang berminat. Diantaranya Hanwa Group, Posco E&C, dan Dohwa Engineering dari Korea, juga Intamin danri Swiss. “Nantinya, yang berhak menjalankan proyek dengan pola public private partnership adalah pemenang tender,” bebernya.

Dana yang dibutuhkan untuk investasi monorel Palembang ini sekitar Rp 5,5 triliun. “Untuk pembebasan lahan, tidak terlalu bermasalah karena ini layang dan hanya butuh sedikit pembebasan lahan untuk tiang dan stasiun,” tukas Alex. (rip/ce4)

Diperlukan, Siap Rekayasa Lalu Lintas

Rencanakan 13 Lokasi Stasiun Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Palembang siap mendukung rencana pembangunan monorel di Palembang. Kapolresta Palembang, Kombespol Sabaruddin Ginting, melalui Kasatlantas Polresta Palembang, Kompol Arief Fitriyanto mengatakan, pihaknya siap melakukan rekayasa lalu lintas (lalin).

Rekayasa dilakukan pada beberapa titik yang diperlukan agar tidak terjadi kemacetan. Soal seperti apa konsep rekayasa lalu lintasnya, Arief belum bisa bicara banyak. Pihaknya belum mengetahui konsep monorel tersebut. “Jadi, kami belum bisa memastikan apakah ada rekayasa lalu lintas atau tidak. Tapi kalau memang diperlukan nantinya, kami siap,” tegasnya.

Sepengetahuannya, monorel dibangun pada sisi atas jalan sehingga tidak akan mengganggu terlalu banyak arus lalu lintas di bawahnya. “Mungkin ini bisa menjadi solusi kemacetan yang mengancam Palembang,” imbuhnya.

Monorel merupakan moda transportasi massal yang bisa mengangkut banyak orang. Adanya monorel berdampak dalam mengurai kemacetan. “Beberapa titik, khususnya ruas jalan protokol yang memang sering macet, diharap bisa lancar dengan adanya monorel tersebut,” pungkas Arief. (rip/ce4)

Rencana 13 Stasiun Pemberhentian Monorel

— Stasiun Bandara SMB II

Stasuin depan Auto 2000

— Stasiun simpang TAA arah Kol H Barlian (depan dolog)

— Stasiun simpang Talang Buruk depan Kantor Telkom

— Stasiun Pasar Km 5

— Stasiun sebelum flyover Polda

— Stasiun simpang Jl Angkatan 45 — Jl Demang Lebar Daun

— Stasiun PS Mall/Hotel Arista (connect dengan mall)

Stasiun Pasar Cinde

Stasiun simpang Jl GHA Bastari

— Stasiun depan Stadion JSC

— Stasiun depan OPI

Keterangan:

Hitam: perlu pembebasan lahan
Merah: tidak perlu pembebasan lahan

Sumatera Ekspres, Kamis, 10 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: