Waspadai, Zat Berbahaya pada Menu Takjil


Dibuat Menarik, Dominan Formalin

Waspadai, Zat Berbahaya pada Menu Takjil
Cerdas Memilih: Banyak pasar bedug yang menjual menu berbuka puasa, harus diimbangi kecerdasan dalam memilih makanan

Selama Ramadhan, menu berbuka puasa atau takjil banyak dijual bebas baik di pinggir jalan hingga pasar bedug. Untuk memikat pembeli, biasanya aneka makanan tersebut diberi warna mencolok.

________________________________________

Padahal di balik menu yang menawan itu, tidak semua pembeli tahu kandungan zat di dalam menu takjil tersbut. Apakah berbahaya atau tidak. Bukan rahasia umum lagi jika dalam menu takjil terdapat zat pewarna dan pengawet yang berbahaya bagi tubuh.

Pertanyaannya kemudian, mengapa pedagang memasukkan zat berbahaya itu pada makanan? Jawabnya sepele. Tujuannya untuk memelihara kesegaran dan mencegah kerusakan makanan atau bahan makanan. Sehingga, makanan tidak tengik karena proses perubahan kimiawi bisa dihambat.

Pengamatan Sumatera Ekspres di pinggir jalan Kota Palembang terdapat penjual menu berbuka. Mereka hampir bisa ditemukan di setiap ruas jalan Palembang. Tidak hanya itu, makanan tersebut juga banyak dijumpai di lokasi pasar bedug yang tersebar di Metropolis.

Banyak cara pedagang untuk mengelabui pembeli. Inilah yang harus diwaspadai. Satu sisi, calon pembeli harus cerdas dalam memilih menu berbuka yang akan dibelinya. Setidaknya mengamati secara seksama makanan tersebut. Jika meragukan, jangan segan-segan menanyakan kepada pedagang terkait pengolahan dan sebagainya.

Rinto, salah seorang pedagang takjil di pinggir Jl Mayor Zen mengatakan, ia menjual takjil berbuka untuk meraup berkah dan untung di bulan Ramadhan. Namun, ia sama sekali tidak terbersit untuk menjual hidangan mengandung formalin dan bahan berbahaya. “Saya sendiri menjual menu es cendol dan mi tahu. Saya sendiri membeli bahannya dari pasar, jadi yakin-yakin saja kalau bahan yang dibeli terbebas dari bahan pengawet,” katanya.

Menurutnya, memang beredar di kalangan masyarakat jika menu berbuka yang dijual di pinggir jalan dan pasar dadakan mengandung zat berbahaya. Tapi itu harus dibuktikan oleh petugas yang berwenang. Jika sudah terbukti, seharusnya ditanyakan dari mana bahan tersebut dibeli.

“Jangan cuma salahkan pedagang takjil, karena kebanyakan pedagang takjil membeli bahan dari pasar, mana tahu bahan yang dibeli pakai formalin atau tidak,” terangnya. Edi, penjual takjil di pasar bedug Masjid Agung Palembang mengakui, memang ada pedagang nakal dengan sengaja memasukkan bahan formalin ke dalam menu berbuka. Tapi, itu sangat sulit dibuktikan jika belum diuji oleh pihak berwenang.

Ia mengatakan, pihak BBPOM semestinya menelusuri asal muasal peredaran bahan yang mengandung bahan berbahaya tersebut. Dimulai dari pasar yang menjual bahan bakunya. Jika memang bahannya sudah mengandung formalin dan pengawet, maka segera disita.

Hartati, ibu rumah tangga (IRT) yang biasa membeli barang kebutuhan di pasar mengatakan, para pembeli memang harus selektif dan mengetahui kandungan dalam bahan makanan yang dibeli. Masyarakat jangan terlalu mudah tergiur dengan warna-warni yang menghiasi menu takjil.

“Sebab, bisa jadi mengandung zat pewarna makanan yang barbahaya bagi tubuh. Bahaya itu, berasal dari sejumlah zat yang digunakan. Sebut saja formalin atau boraks,” ungkapnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Sumatera Selatan, Ir H Permana mengimbau masyarakat untuk menjadi masyarakat cerdas, terkait makanan tersebut. “Makanan itu hasl produksi kuliner rumahan (home industry) yang menjadi makanan dan jajanan musiman. Menyikapi hal itu masyarakat harus cerdas dengan bisa mengenali warna, aroma, rasa sehingga terhindar dari oknum pembuat makanan berbahaya,” ujar Permana.

Banyaknya makanan tersebut, pihaknya mengembalikan ke konsumen. Kalau bicara jelas dirinya menegaskan tidaklah jelas dan jauh dari kata higienis mengingat tak ada label Depkes. “Kalau jelas tentunya masuk daftar BPOM (Balai Pengawas Obat dan Makanan),” tegasanya. Disperindag, untuk home industry, hanya bisa mengimbau baik konsumen, penjual ataupun produsen. “Kalau dalam partai besar (pabrik, red) baru akan turun tangan, melakukan peringatan, pengawasan imbauan untuk ada label BPOM, dan Depkes,” ucapnya.

Ia mengaku, pihaknya sudah melakukan pendataan di beberapa pasar Ramadhan di antaranya, Demang Lebar Daun 40-50 lapak, Hangtuah 70 lapak, Radial 20-30 lapak, Cinde 100-110 lapak, PIM 10 lapak. “Selama Ramadhan sudah dilakukan pendataan para pedagang pasar Ramadhan,” ungkapnya.

Pedagang, diimbau untuk menyantumkan label bahan dasar pembuatan. Nah, dalam hal ini ke depan Disperidag akan melakukan pembinaan cara memasak dan membuat kue dengan menerapkan usaha kecil menengah (UKM). “Ke depan jika ada event seperti ini, UKM inilah yang akan kita dorong,” ucapnya. (nni/roz/ce2)

Tindak Pedagang Nakal
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Sumatera Selatan (Sumsel) masih menemukan banyak produk makanan berbuka puasa atau takjil yang mengandung zat berbahaya. Hal ini didapatkan saat inpeksi mendadak (sidak) dibeberapa pasar bedug di Palembang, yakni pasar bedug Cinde, pasar bedug Masjid Agung, pasar bedug Kompleks Balayudha, Sekip dan Pasar Km 5, pasar bedug Ratna, Tangga Buntung, Masjid Taqwa, 7 Ulu dan Kertapati, dan Ogan Permata Indah (OPI).

“Kami sudah melakukan sidak ke beberapa pasar dan mengambil beberapa sampel makanan. Dari sidak tersebut didapatkan hasil bahwa tahu dan mi basah yang diambil sampelnya mengandung formalin,” ujar Kepala BBPOM Sumsel Dra Indriaty Tubagus Apt MKes.

Dikatakan, ada juga beberapa pedagang yang menjual sambal tahu dan tahu goreng namun negatif mengandung formalin. “Dari beberapa sampel yang diambil hanya ada beberapa yang tidak mengandung formalin. Kami melihat sepertinya belum ada penurunan minat pembelian konsumen terhadap tahu dan mi basah. Padahal BBPOM dan instansi lainnya selalu mengimbau masyarakat bahwa tahu dan mi basah dominan mengandung formalin.”

Indriaty menuturkan, selain lebih utama mengawasi peredaran tahu dan mi basah, pada sidak pasar bedug tersebut pihaknya juga mengambil sampel pada beberapa jenis makanan lainnya seperti kue lapis, dawet, bola-bola warna-warni campuran es dawet, juga pempek.

“Ternyata apa yang kami curigai tidak terbukti. Tidak terdapat adanya campuran bahan boraks atau rhodamin B pada makanan lainnya,” ungkapnya. Menurutnya, peredaran tahu dan mi basah harus dihentikan secepatnya. Hal itu karena dari sekian banyak tahu dan mi basah yang sudah diuji sampel BBPOM Sumsel adalah positif mengandung bahan berbahaya itu.

Sebelum Ramadhan, tim BBPOM juga sudah melakukan pengawasan dan pemeriksaan di beberapa pasar tradisional di Palembang. Tidak ada satu pun yang bersih atau negatif, semua yang ditemukan itu adalah positif gunakan formalin,” tutur Indriaty.

Untuk itu, pihaknya selalu bekerja sama dengan pihak berwenang seperti kepolisian, Pol PP, Disperindag kota dan provinsi untuk bisa menghentikan peredaran tahu dan mi basah berbahaya. Hanya saja, kata Indri, memang masih banyak pedagang nakal dan pembeli yang kurang pemahaman akan pentingnya menghindari konsumsi tahu dan mi berformalin. (roz/nni/ce2)

Memilih Takjil

— Pilihlah takjil ditempat bersih.

— Jangan percaya dengan takjil murah.

— Pilihlah makanan yang tidak berlemak atau kadar gula tinggi.

— Belilah takjil di tempat-tempat yang terpercaya.

Takjil Sehat & Aman

— Perhatikan tekstur.

— Jangan beli makanan berwarna menyala

— Beli makanan yang fresh

Lokasi Pasar Bedug

— Pasar Cinde.

— Halaman Masjid Agung.

— Kompleks Balayudha.

— Sekip.

— Palimo.

— Pasar Bedug Ratna.

— Tangga Buntung.

— Masjid Taqwa.

— 7 Ulu.

— Kertapati dan Ogan Permata Indah (OPI).

— Demang Lebar Daun.

— Jl Radial.

— Hangtuah.

Cerdas Memilih Takjil

— Kanali warna.

— Aroma.

— Rasa.

Sumatera Ekspres, Selasa, 8 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: