Pancing Buaya Pemangsa Manusia


Pancing Buaya Pemangsa Manusia

Jadi Tontonan: Buaya jantan berukuran besar, sepanjang 4,75 meter dengan berat sekitar 400 kg, yang mati setelah masuk jebakan, jadi tontonan warga Desa Jaya Karet, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimatan Tengah (Kalteng), kemarin. Sebelumnya, warga setempat sudah delapan orang yang tewas dimangsa buaya.

________________________________________

SAMPITSeekor buaya sepanjang 4,75 meter dengan bobot sekitar 400 kg, masuk dalam jebakan warga Desa Jaya Karet, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Buaya jantan yang diperkirakan berusia 50 tahun itu, salah satu dari kelompok buaya yang sudah memangsa delapan orang.

Buaya jantan itu berhasil mati lemas Minggu (6/7), setelah terkait akar-akar pohon di dalam Sungai Mentaya, dekat Pulau Lepeh, masuk perangkap pada Sabtu (5/7) sekitar pukul 21.00 WIB. Meski demikian, teror hewan pemangsa itu bukan berarti telah berakhir, karena masih ada beberapa ekor buaya liar di sungai itu.

“Ada lima ekor buaya yang terlihat muncul di sekitar Pulau Lepeh, dua ekor lainnya di sekitar Pulau Hanaut. Buaya itu mudah terlihat atau menampakan diri pada malam hari dibandingkan pada siang hari,” kata Kartini, salah seorang anggota tim pemburu buaya. Tiga rekannya, tak lain saudaranya sendiri. Badun, Ta’ajudn, dan Masradan.

Untuk menangkap buaya raksasa itu, peralatan mereka gunakan meliputi, nilon dengan diameter 8 milimeter dan panjang 20 meter dan besi (betoneser) berukuran sekitar 6 milimeter dan mata pancing. Bentuk pancing buaya itu menyerupai gancu yang digunakan buruh kasar di pasar. Bedanya, gancu ini bermata ganda, searah jarum jam.

Sebanyak 19 pancing mereka sebar, dengan umpan enam ekor kera dan dua ekor biawak. “Karena umpannya terbatas, terpaksa umpan ini kita bagi, yang penting cukup dengan jumlah pancing yang ada. Pada waktu terkena pancing, buaya itu mengamuk ke sana ke mari membawa tali pancing. Setelah tiga jam tidak muncul lagi ke permukaan air, dia mati lemas terlilit tali pancing di dasar sungai di akar-akar pohon lama,” jelas Kartini. (fin/ign/air/ce1)

Sumatera Ekspres, Senin, 7 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: