Mengetuk Pintu Surga


Mengetuk Pintu Surga Bagi kaum muslimin, tiada kebahagian yang indah selain masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk bertemu kembali dengan bulan yang penuh rahmat yakni bulan suci Ramadhan. Artinya kita masih diberi kesempatan untuk menjalankan salah satu ibadah wajib yakni puasa sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183. “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa.”

Puasa menurut syariat ialah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa (seperti makan, minum, hubungan intim dan sebagainya) semenjak terbit fajar sampai terbenamnya matahari, dengan disertai niat ibadah kepada Allah, karena mengharapkan ridha-Nya dan menyiapkan diri guna meningkatkan taqwa kepada-Nya.

Puasa Ramadhan akan membersihkan rohani kita dengan menanamkan perasaan kesabaran, kasih sayang, pemurah, berkata benar, ikhlas, disiplin, terhindar dari sifat tamak dan rakus, percaya pada diri sendiri dan sebagainya. Meskipun makanan dan minuman itu halal, kita mengawali diri kita untuk tidak makan dan minum dari semenjak fajar hingga terbenamnya matahari, karena mematuhi perintah Allah. Walaupun istri kita sendiri, kita tidak mencampurinya ketika masa berpuasa dami mematuhi perintah Allah SWT.

Ayat puasa itu dimual idengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman” dan disudahi dengan: “Mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa.” Jadi jelaslah bagi kita puasa Ramadhan berdasarkan keimanan dan ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah kita diberi kesempatan selama sebulan Ramadhan, melatih diri kita, menahan hawa nafsu kita dari makan dan minum, menggauli istri, menahan diri dari perkataan dan perbuatan yang sia-sia, seperti berkata bohong, membuat fitnah dan tipu daya, merasa dengki dan khianat, memecah belah persatuan ummat, dan berbagai perbuatan jahat lainnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Bukanlah puasa itu sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Beruntunglah mereka yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan saja dapat membersihkan rohani manusia juga akan membersihkan jasmani manusia itu sendiri, puasa sebagai alat penyembuh yang baik. Namun jangan lupa membagi kebahagiaan dan kegembiraan kita dengan mereka yang kurang beruntung. Fakir miskin, anak yatim-piatu dan saudara-saudara kita lainnya. Alangkah nikamtnya jika mereka juga bisa makan makanan seperti yang kita makan, meminum sesuatu yang kita minum.

Tidak ada gunanya kita makan dan minum berlebihan sementara saudara-saudara kita tidak ikut merasakan. Allah SWT pun tidak suka melihat hamba-Nya yang tamak. “Makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Semoga kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk semata-mata karena Allah SWT. Dengan bekal amal ibadah itulah kita berharap kelak akan mendapat ijin untuk mengetuk pintu surga dan tinggal selamanya dalam kekekalan. (*)

Sambil Berpuasa Jangan Tinggalkan Ibadah Maliyah

Mengetuk Pintu Surga -- Sambil Berpuasa Jangan Tinggalkan Ibadah Maliyah Mengapa memilih Ustadz Burhan Efendi (61) sebagai narasumber sajian utama Misteri bertema puasa? Ada alasan menarik yang menyertainya. Selain sebagai kyai dan ulama daerah Banten yang mumpuni, latar belakangnya juga menarik karena beliau seorang mualaf. Bahkan selteah belajar tekun Al-Qur’an, dia malah jadi kyai yang mengajar agama dan baca Al-Qur’an di daerah Banten. Selain mengajar grup, dia juga mengajar privat dengan tidak mengutamakan bayaran.

Burhan Efendi Wongkar, yang sejak kecil beragama Katolik, memakai kalung salib, kemudian di usia dewasa, pindah agama, setelah mendapatkan hidayah, bisikan gaib, lalu menjadi muslim. Dia tersentuh mendengar suara adzan Maghrib dan mnyatakan dia masuk Islam.

Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, Burhan Efendi langsung berguru pada Kyai Haji Muhammad Sani Husin Ponpen Al-Mujahirin, Grogol, Jakarta Barat. Berkat ketekunannya belajar Islam, maka kini, dia menjadi kyai.

Penulis, reporter Misteri, menjadi salah seorang jemaah Masjid Baitul Mutaqin, yang menjadi pendengar setia khotbah Jumat dan tausiyahnya di mana-mana. Burhan Efendi berasal dari Manado, dengan marga Wongkar. Dia lahir di Jakarta, 9 Desember 1953. Istrinya, Titi, asal Kuningan, Jawa Barat dan mereka memiliki dua anak; satu putra dan satu putri. Berikut tanya jawab hal puasa Ramadhan dengan ustadz yang mantan sutradara teater Metrpolitan grup dan penyanyi Slow Pop Barat pengagum Led Zepelin ini, yang dirangkum oleh Firdaus HM.

Mengetuk Pintu Surga -- Sambil Berpuasa Jangan Tinggalkan Ibadah Maliyah Berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang Pak Burhan alami, apa saja hikmah Ramadhan itu bagi muslim dan muslimah pelaksananya, wabil khusus untuk puasa pada Ramadhan di tahun 2014 ini, ada yang spesial?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW dan pengikutnya agar melakukan puasa di dalam bulan suci Ramadhan karena ini bulan segala bulan. Bulan penuh hikmat, rahmatqn lil alamin, bulan yang penuh pengampunan, bulan penuh kasih sayang dan bulan penuh pahala. Bulan Ramadhan itu, kata Allah, lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan bertabur pahala ini umat muslim diwajibkan untuk menjalankan puasa.

Puasa di dalam bulan Ramadhan adalah ibadah makhdoh, ibadah yang langsung kepada Allah. Di luar ibadah makhdoh ada ibadah maliyah, ibadah sesama manusia. Di antaranya, membantu anak yatim, memberikan makan kepada fakir miskin dan saling tolong menolong pada sesama. Selain menahan lapar dan hausdari fajar hingga terbenamnya matahari, di dalam bulan suci ini kita juga diwajibkan untuk menjaga lisan, mata, hati dan semua indera kita dari hal negatif.

Bulan suci Ramadhan tahun 2014 ini, kebetulan bulan politik. Kita berpuasa bersamaan dengan masa kampanye pilpres dan pemungutan suara yang jatuh pada tanggal 9 Juli 2014. Maka itu, hendaknya berhati-hatilah menjaga lisan. Jangan sampai terjadi pertengkaran hanya karena dukung-mendukung capres. Biasa, hati seseorang akan menjadi panas apabila capres yang didukungnya diejek. Hati tergoda lalu menjadi panas dan berperang mulut.

Hindarilah hal itu dan banyak istighfar. Ingatlah kedua capres yang ada sekarang ini, adalah putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Siapapun yang menang, kita dukung. Jangan karena kita berbeda dukungan capres, lalu teman jadi lawan, saudara menjadi musuh. Sebaiknya kita menghindari pertengkaran itu dan banyaklah mengucapkan istighfar, mohon ampun kepada Allah dan menghindari sengketa sesama manusia. Jangan mengejek orang lain, sebab belum tentu orang yang kita ejek tersebut lebih buruk daripada kita.

Selain menjalankan puasa, amal jariyah juga mutlak harus dilakukan umat muslim. Tadi Pak Burhan menyebutkan bantuan kepada anak yatim sebagai ibadah maliyah selain ibadah langsung kepada Allah?

Ya, benar, Islam itu agama yang penuh toleransi dan agama yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi seluruh alam, juga rahmat bagi umat lain di luar Islam. Untuk itu, pada bulan Ramadhan ini, malah hal itu akan lebih istimewa lagi. Sikap toleransi itu, praktis dan otomatis harus lebih ditingkatkan lagi kwalitasnya.

Toleransi dan berbuat kebaikan itu lakukan dari yang kecil-kecil dulu, dari lingkungan tetangga, kantor, dan kampung. Jangan mimpi yang besar untuk melakukan kebaikan yang besar.

Berbuatlah bukan dengan mimpi, namun dengan kenyataan, walau itu kecil-kecil. Yaitu, memulai dengan lingkungan tetangga dan seterusnya. Saling menghibur, saling bertegur sapa lembut, saling membantu dan saling sayang-menyayangi sesama insan.

Kami juga mengurus panti yatim, namanya Yayasan Basilam. Alhamdulillah sudah ada 64 orang yang menjadi penyantun tetap. Kami berharap semoga lebih banyak lagi orang-orang yang akan turun membantu. Pahala yang lebih besar didapat dari Allah adalah ibadah maliyah, membantu sesama manusia ini.

Shalat, puasa, dan haji, itu adalah ibadah makhdoh kepada Allah dan yang lebih penting dan disukai Allah adalah ibadah maliyah, ibadah jariah, sedekah untuk yatim piatu, fakir miskin dan orang-orang yang susah. Banyak orang yang bangkrut di kiamat nanti karena kurang ibadah sesama manusia ini. Padahal, pahala terbesar yang membawa seseorang ke surga itu, adalah lebih banyak dari pahala ibadah sesama manusia ini.

Ibadah maliyah itu tidak hanya dengan materi, tapi juga dengan menghibur orang kesusahan, memberikan solusi dan saran-saran yang baik, itu juga amal ibadah maliyah. Amal ibadah yang disukai Allah SWT. Satu kali berbuat baik sesama manusia, Insya Allah, Allah akan balas dengan epuluh kebaikan.

Perintah puasa dalam bulan Ramadhan itu tertulis pada ayat suci Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183. Intinya, Allah berfirman, berpuasalah kamu, sebagaaimana puasa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kamu. Di sini, yang dimaksud orang-orang pendahulu itu siapa Pak, Nabi Ibrahim dan pengikutnya?

Setiap Nabi ada syariatnya masing-masing. Baik shalatnya, maupun ibadah yang lain. Begitu pula dengan puasa. Sebelum Nabi Muhammad SAW, Nabi Ibrahim dan pengikutnya berpuasa dengan caranya tersendiri. Ada Nabi-Nabi di kala itu yang puasanya dilakukan pada setiap hari.

Ada pula puasa Nabi Daud AS, yang sehari puasa, sehari lagi tidak. Dan macam-macam puasa dari masing-masing Nabi yang ada, pendahulu Nabi Muhammad SAW.

Tetapi kepada umat Islam, Allah memberikan keistimewaan yang lebih. Puasanya hanya satu bulan dari jumlah 12 bulan yang ada. Nah, di dalam 2/3 puasa pada bulan Ramadhan itu ada malam yang paling istimewa, yaitu malam lailatul qadar. Suatu malam yang lebih indah dari seribu bulan.

Di mana ibadah pada malam itu, shalat sunnah yang dilakukan, perbuatan baik yang dilakukan, aktifitas membaca kitab suci Al-Qur’an, pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sampai seribu kali lipat.

Maka itu, pada malam lailatul qadar, pada malam yang istimewa dan sangat baik ini, ummat Islam dianjurkan untuk shalat tahajju, dilanjutkan membaca Al-Qur’an dan berdzikir hingga sahur. Malam yang berkah dan sungguh indah, yang pahalanya akan berlipat ganda.

Betulkah malam lailatul qadar ini juga menjadi malam yang baik untuk perbaikan nasib. Misalnya menunggu sesuatu pertanda gaib atau rejeki berlimpah dan kaya raya?

Tidak betul itu. Soal rejeki, kita diwajibkan untuk ikhtiar, bekerja keras sebagai kebutuhan duniawi. Tidak bisa dengan berdoa dan meminta kepada Allah di malam lailatul qadar itu, langsung dapat. Omong kosong itu.

Kita berharap pada langit malam lalu datang materi yang diminta. tidak bisa kita minta langsung mendapatkan apa yang kita minta. Tidak akan ada rejeki harta turun begitu saja dari langit. Kita harus bekerja, ikhtiar untuk mendapatkan rejeki. Dan Allah berjanji, Allah akan memberikan rejeki itu kepada orang yang bekerja dan berdoa, meminta kepada-Nya. Manusia wajib bekerja, tapi tidak cukup bekerja keras saja tanpa doa kepada Allah itu sombong namanya. Kita mesti memenuhi unsur keseimbangan dalam hidup ini. Ada bekerja dan ada doa.

Untuk melihat keberhasilan kita di malam lailatul qadar itu adalah pada bulan setelah Ramadhan, bagaimana ibadah kita, meningkat atau menurun. Bagaimana amal kita, lebih baik atau lebih buruk. Jika semuanya membaik, berarti kita berhasil mendapatkan rahmat pada malam lailatul qadar itu. Ini lah ukuran keberhasilannya, bukan materi.

Berdasarkan pengalaman pribadi saya, Alhamdulillah saya tidak pernah lepas dari rejeki pemberian Allah, khususnya pada bulan suci Ramadhan ini. Saya berdoa, tawakkal kepada Allah lalu pergi ikhtiar dan Alhamdulillah, selalu ada saja ada rejeki yang didapat pada untuk berbuka puasa. Pokonya kita tawakkal, berusaha keras lalu berserah diri kepada Allah.

Allah telah berjanji di dalam Al-Qur’an. Kata-Nya: “Hai Muhammad, apabila pengikutmu bertanya di mana Aku, katakanlah, bahwa Aku sangat dekat. Dan mintalah kepada-Ku, tentang apa yang mereka mau, dan Aku akan memberikannya.” Jadi kita dilarang meminta kepada selain dari Allah. Dan Allah akan memberikan permintaan kita itu. Ud Unni astajib lakum; mintalah kepada-Ku dan Aku akan memberikan. Demikian kata Allah.

Banyak orang yang mengetahui, bahwa Pak Burhan selalu ada di setiap ada kematian. Bahkan, sering terlihat sibuk mengurus pemakaman, kenapa ini?

Saya selalu bnerada di bagian terdepan jika ada kematian, ada musibah dan mendengar orang-orang kesusahan. Saya berusaha menghibur keluarga yang ditinggalkan, saya juga aktif mengshalati jenazah. Ini sudah menjadi kebiasaan hidup saya dan bagi saya ini ibadah maliyah terpenting dalam pergaulan hidup sesama manusia, di luar ibadah makhdoh kepada Allah secara langsung.

Ketika menghibur orang yang bersedih, keluarga yang ditinggal mati, adalah ibadah yang saya yakin pahalanya sangat besar diberikan Allah. Kita meneduhkan, kita mampu mendinginkan, memapu menyejukan orang yang sedang gundah dulana, duka dan galau, itu adalah ibadah penting yang sering diabaikan oleh kebanyakan orang. Saya berada di barisan terdepan bila ada yang meninggal.br />
Bahkan hati saya sangat sedih, gelisah dan gunda gulana bila tidak sempat melayat seseorang karena alasan tertentu. Seperti pekan lalu, tukang ojek RT sebelah meninggal, saya tidak ada di rumah dan tidak bisa menshalatinya, saya menangis sendiri dan saya sedih sekali. Saya terbiasa merasakan penderitaan orang sebagai penderitaan saya.

Saya merasakan kesedihan orang sebagai kesedihan saya. Mungkin ini salah bagi orang lain, tapi betul dan baik dan benar bagi saya. Karena saya terlalu sensitif dan tidak ingin diam melihat orang bersedih. Mungkin, dengan cara menghibur orang yang bersedih hingga dia tidak bersedh lagi, menjadi obat mujarab, agar saya pun tidak bersedih lagi. Hidup enteng, ikhlas dan damai menjalani roda dunia yang makin ke sini makin mencekam. Alhamdulillah…. (*)

Lima Tingkatan Puasa

Mengetuk Pintu Surga -- Lima Tingkatan Puasa

Oleh: Ali D

Nama lengkapnya Jefri Samudra, pria ini memang merupakan warga keturunan Tionghoa dan pernah menjadi asisten pastor Gereja Katedral di Kota Gudeg Jogjakarta.

________________________________________

Berawal dari keisengan membaca berbagai buku tentang keislaman sejak dirinya memasuki bangku SLTA di Purbalingga, menjadikannya jatuh hati terhadap Islam. Tapi keinginannya untuk segera memeluk agama Islam terbentur oleh belenggu keluarga yang mayoritan non muslim.

Ditambah lagi dengan cita-cita sang mama, almarhumah Lissa Donna, SH. Beliau menginginkan anak lelaki semata wayang itu bisa menjadi seorang pastor. Sehingga dirinya harus memenuhi keinginan orang tua untuk bersekolah disalah satu universitas swasta Nasrani di Salatiga. Namun dirnya tidak sampai tamat di perguruan tinggi swasta itu, hanya seperempat perjalanan kuliah.

Sehingga, kegigihannya untuk segera belajar tentang keislaman akhirnya meruntuhkan angan dan cita-cita sang mama. Dengan tekadnya yang besar dia tinggalkan kedua orang tuanya untuk masuk di salah satu pondok pesantren di Jogjakarta pada tahun 2006. Melihat usia mualaf yang masih seumur jagung dan mungkin saja diragukan oleh banyak pihak tentang seberapa dalam ilmu pengetahuan tentang Islamnya.

Namun anggapan itu akan terkikis ketika melihat ketekunannya dalam mempelajari agama Islam. Ini dibuktikan dengan tuntasnya pria bujangan itu menyerap Kitab Kuning. Dan sekarang sudah dibuktikan pula dengan semakin mahirnya dia dalam membaca tulisan arab gundul.

Itulah sekelumit kisah hidup Suhu Jefri Samudra, yang mengaku sebagai anak Indigo (mempunyai kelebihan dalam penerawangan gaib) sejak usia 9 tahun.

Bulan suci Ramadhan adalah merupakan bulan yang sarat akan makna hikmah. Seperti kita ketahui bersama, bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah seta rahmat Allah SWT atas hamba-Nya. Bulan Ramadhan juga merupakan bulan yang secara konsep ilmu fiqih, memaparkan dengan jelas tentang manusia dalam ajaran Islam, dituntut untuk menjalankan ibadah shaum atau puasa.

Menurut Suhu Jefri Samudra, salah satu spritualis Islam dari Kabupaten Purbalingga, puasa itu sendiri merupakan sendi dalam rukun Islam ke empat yanh hukumnya adalah fardhu’ain, yang dikerjakan oleh seluruh ummat muslimin dan muslimat di dunia kerena memang di Al-Qur’an dan hadits telah diperntahkan.

“Syahru romadhoonal ladzii unzila fiihi qur-aanuhudan linnaasi wabayyinaatin minal hudaa wal furqooni”. Ayat ini terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Yang artinya bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda,” jelas pria kelahiran 26 Januari 1990.

Tentang perintah berpuasa, ucapnya kemudian, Allah SWT berfirman, “Ya Ayyuhal ladziina aamanu kutiba’aalaikumush shiyaamu kamaa kutiba’alal ladziina min qoblikum la’allakum tattaquuna,” yang artinya: Hai orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

“Ini terdapat dalam aurat Al-Baqarah ayat 183,” tegas pria yang menurut rencana akan menuntaskan masa lajangnya di tahun depan.

Bulan Ramadhan, lanjut Suhu Jefri, adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dalam kitab Durratun Nashihin disebutkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan dimana kitab-kitab langit diturunkan. Menurut riwayat yang tertulis di dalam kitab tersebut, bahwa Allah SWT menurunkan Zabuur pada Nabi Daud AS dan Taurat untuk Nabi Musa AS juga pada bulan Ramadhan.

“Begitu juga dengan kitab Injil dan Al-Qur’an yang diturnkan Allah SWT bagi Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW juga pada bulan Ramadhan. Di dalam kitab Durratun Nashihin, perintah berpuasa pada hakikatnya juga kerena turunnya Al-Qur’an yang mulia ini, maka puasa Ramadhan diwajibkan. Itulah pembahasan yang tercatat di dalam surat Al-Baqarah ayat 185,” papar Suhu Jefri Samudra.

Arti dari puasa yang tentunya para pembaca mengetahuinya, bahwa kita harus bisa menahan diri dari apa yang dirindukan nafsu. Menahan diri dari ketiga hal yang bisa membatalkan puasa kita sepanjang hari. Pasalnya, dari ketiganya itulah yang paling dikehendaki oleh nafsu kita sebagai manusia, adapun ketiga hal tersebut adalah makan, minum, dan kenikmatan farji atau jima.

Ditambahkan pria yang mengaku bisa ilmu metafisika sejak usia 19 tahun ini, bahwa esensi puasa Ramadhan sendiri hakikatnya tidak hanya menahan nafsu belaka, tapi ada kata yang lebih pantas dan tepat disematkan pada ibadah puasa tersebut, yaitu mengendalikan nafsu, karena apalah artinya tidak makan dan tidak minum dan juga menahan jima tapi qolbu atau hati kita tidak berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda; Man shooma romadhoona wahtisanban ghufiro lahu maa taqoddama min dzanbihi. Artinya: barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ikhlas maka diampunilah dosanya yang talah lalu. “Sabda Rasulullah SAW ini terdapat dalam kitab Durratun Nashihin, karya Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawiy,” tandas pria itu.

Mengetuk Pintu Surga -- Lima Tingkatan Puasa Dalam ayat lain dari kitab Durratun Nashihin, ujarnya meneruskan, Rasulullah SAW juga bersabda; Wa anin nabiyyi’alaihish sholaatu was-salaamu annahuqoola, man fariha bidukhuuli romadhoona harromallaahu jasadhu’alan niiraani. Yang artinya: dan diriwayatkan pula dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda “Barang siapa merasa gembira dengan masuknya bulan Ramadhan maka Allah mengharamkan tubuhnya terhadap neraka.”

Anak bungsu dari enam bersaudara pasangan Sugandi BA dan Lisa donna ini menambahkan, ibadah puasa Ramadhan sendiri adalah ibadah yang pahalanya diberikan langsung dari Allah SWT, karena setiap perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri. Sementara itu ketika Nabi Muhammad SAW menyampakan sabdanya di depan para umat pengikutnya. Beliau menjabarkan; “Kullu amalibni Aadama lahu illash shauma, fa innahulii wa-ana ajziibihii.” Yang berarti; “Setiap perbuatan anak Adam adalah untuk dirinya sendiri. Selain itu sesungguhnya puasa tersebut untuk-Ku. dan Aku yang akan memberi balasannya.”

Sebab puasa itu rahasia, tidak ada sesuatu perbuatan pun yang ketika itu yang disaksikan orang lain. Begitupun pada ketaatan-ketaatan lainnya. Dan juga karena puasa itu rahasia yang tidak diketahui seorangpun selain Allah Ta’ala, maka Allah memastikan balasannya.

Suhu Jefri Samudra yang mengaku pernah merasakan kelamnya kehidupan obat-obatan terlarang di tahun 2000-an, ketika dirinya belum memastikan sandaran hidupnya untuk memeluk agama Islam. Kini semakin tekun untuk memperdalam kaidah-kaidah Islam.

Sehingga tidak mengherankan kalau dirinya sering diundang untuk memberikan ceramah tentang keislaman di berbagai tempat pengajian.

Pria yang sekarang ini sangat menguasai kitab kuning itu menambahkan, bahwa puasa itu ada tiga tingkatan. Pertama, puasa orang biasa. Kedua, puasa orang-orang istimewa. Sedangkan ketiga, adalah puasa orang-orang teristimewa.

Suhu Jefri Samudra menjabarkan, adapun puasa orang biasa ialah mencegah perut dan farji dari memenuhi syahwat (nafsu).

Sedangkan puasa orang-orang yang istimewa ialah puasanya orang-orang shaleh, yaitu mencegah panca indera dan melakukan dosa-dosa, hal mana takkan terlaksana kecuali dengan senantiasa melakukan 5 perkara. Pertama, menundukkan mata dari tiap-tiap yang tercela menurut syara’. Kedua, memelihara lidah dari menggunjing, berdusta, mengadu domba, dan bersumah palsu.

“Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda; khomsatu asy-yaa-a tuhbithush shaum aytubthilu. Tsawaabahu; Al-kadzibu wal-ghiibatu wan-namiima tu wal yamiinul ghamuusu, wan-nazharu bi syahwatin,” tegasnya. Yang artinya; “ada lima perkara yang menhancurkan puasa yakni membatalkan pahalanya; berdusta, menggunjing, mengadu domba, bersumpah palsu dan memandang lain jenis dengan syahwat,” ucap pria yang juga menguasai ilmu TAO.

Adapun ketiga, mencegah telinga dari mendengarkan apa saja yang makruh. Sedangkan yang ke-empat, menurut pra yang rajin berdzikir di malam hari, mencegah anggota tubuh dari hal-hal yang makruh, dan mencegah perut dari makanan-makanan syubhat di waktu berbuka.

Artinya, berpasa dengan makan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Perumpamaannya seperti orang yang membangun gedung dengan menghancurkan sebuah kota. Sedangkan tahap kelima, jangan memakan makanan halal terlampau banyak di waktu berbuka.

“Dalam kitab Durratun Nashihin, tertulis sabda Nabi Muhammad SAW yaitu: Maa min wi’aa-in abghodho ilallahi min bathnin malii-in minal halaali. Yang artinya; tidak ada sebuah wadah yang dibenci Allah daripada perut yang dipenuhi makanan halal secara berlebihan,” tegas spiritualis muda yang namanya tengah menanjak ini.

Adapun puasa orang-orang teristimewa di sini, lanjut pria keturunan Tionghoa itu, adalah puasanya hati dari keinginan-keinginan rendah dan pikiran-pikiran duniawi, serta mencegahnya sama sekali dari selain Allah. Apabila orang yang berpuasa seperti ini memikirkan sesuatu selian Allah, itu artinya dia telah berbuka daripada puasanya.

Puasa seperti ini, tegasnya, merupakan tingkatan puasa para Nabi dan Shiddiqin. Karena pelaksanaan dari tingkatan seperti ini adalah dengan menghadapkan diri secara totalitas kepada Allah Ta’ala dan tidak pernah berpaling dari-Nya.

Puasa adalah ibadah yang tak bisa diteliti oleh indera hamba Allah. Artinya, hanya diketahui oleh Allah semata dan orang yang berpuasa itu sendiri. Dengan demikian, imbuhnya, puasa merupakan ibadah antara Tuhan dan hamba-Nya, dan oleh karena itu puasa merupakan ibadah dan ketaatan yang hanya diketahui oleh Allah semata.

Firman Allah berkata; ash-shaumu lii wa-ana ajzii bihi. Yang artinya, puasa itu untuk-Ku dan Aku yang memberi balasan atasnya,” terang pria yang sedang merampungkan studi S1-nya di salah satu perguruan tinggi swasta di Purwokerto. (*)

Sumber: Misteri Edisi 584, Tahun 2014

Advertisements

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: