Tetap Pakai Pengawet Mayat


Hasil Sidak Tahu-Mi di Enam Pasar Beduk

Tetap Pakai Pengawet Mayat PALEMBANGHari kedua, BBPOM Palembang yang melakukan sidak di enam pasar beduk, kemarin (2/7), masih saja ditemukan tahu dan mi basah yang mengandung formalin (pengawet mayat). Itu artinya, oknum pembuat tahu atau mungkin pedagang “nakal” tidak jera meracuni pembeli.

Demi mendapatkan untung banyak, mereka tetap saja menggunakan zat pengawet yang berbahaya bagi tubuh. Enam titik yang disidak, yakni pasar beduk Jl Ratna, Tangga Buntung, Masjid Taqwa, 7 Ulu, Kertapati, dan Kompleks Ogan Permata Indah (OPI).

Dari hasil uji terhadap tahu dan mi basah, hanya beberapa sampel yang bebas formalin. “Lebih banyak yang masih mengandung formalin,” beber Kepala BBPOM Sumsel Dra Indriaty Tubagus Apt Mkes.

Tim BBPOM juga mengambil sampel beberapa jenis makanan lain, seperti kue lapis, dawet, bola-bola warna-warni capuran es dawet, dan pempek. “Ternyata apa yang kita curigai ternyata tidak terbukti. Tidak terdapat adanya campuran boraks atau rhodamin B pada makanan lainnya. Itu berarti makanan yang lain sehat. Hanya tahu dan mi basah yang harus diantisipasi masyarakat,” ungkapnya.

Indriaty bahkan berharap, peredaran tahu dan mi basah harus dihentikan secepatnya. Dengan begitu, tidak ada lagi masyarakat yang akan terkontaminasi zat-zat berbahaya, khususnya formalin.

“Sebelum ini (jelang Ramadhan), tim BBPOM juga sudah melakukan pengawasan dan pemeriksaan pada beberapa pasar tradisional di Palembang. Tidak ada satu pun yang bersih atau negatif (formalin). Semua sampel yang diambil dan diuji positif menggunakan formalin,” tuturnya.

Itu artinya, penggunaan formalin pada tahu dan mi basah sudah pada tahap yang mengkhawatirkan dan kebablasan. Karena itu BBPOM Palembang berharap pihak berwenang seperti kepolisian, Satpol PP, dan Disperindag Kota Palembang maupun Provinsi bisa menghentikan peredaran tahu dan mi basah yang berbahaya.

Pihaknya menilai, masih banyak pembeli dan pedagang yang kurang memahami akan bahaya dari penggunaan formalin pada makanan. “Kami akan serahkan hasil pengujian ini kepada pemerintah daerah. Setelah itu, silakan pemerintah bersikap tegas agar ada efek jera terhadap pembuat dan pedagang tahu serta mi basah “nakal” tersebut. Untuk makanan yang kami pinta, akan dimusnahkan di kantor BBPOM,” tegas Indriaty.

Ia meminta masyarakat semakin pintar dalam memilih makanan yang sehat. Bahkan, Indriaty menganjurkan masyarakat berhenti dahulu mengonsumsi tahu dan mi basah. Ke depan BBPOM Palembang akan terus melakukan pengawasan dagangan di pasar beduk dan pasar tradisional lainnya.

“Kami akan lakukan pengawasan terus-menerus. Kami melihat, masih banyak pedagang “nakal”, bukan berarti skala kecil, tapi juga pedagang besar yang tidak menindahkan imbauan kami,” tandasnya. (wia/ce4)

Omzet Turun hingga 50 Persen

PALEMBANGKeinginan masyarakat untuk membeli tahu dan mi basah menurun. Salah satu sebabnya, hasil razia terpadu Satpol PP Sumsel dan Satpol PP Palembang bersama Dinas Kesehatan dan Disperindag Sumsel, serta hasil pengecekan BBPOM Palembang dua hari terakhir membuktikan kalau dua bahan pangan itu banyak yang diawetkan dengan formalin.

Sejumlah pedagang tahu dan mi basah pun mengeluh, pendapatan mereka turun karena jumlah pembeli berkurang. “Beberapa hari lalu, terutama jelang puasa, pembelu tahu banyak. Tapi hari ini (kemarin), paling laku 100 buah,” ungkap Bik Amah (70), salah seorang pedagang tahu di kawasan Pasar 16 Ilir.

Nenek yang mengaku sudah 30 tahun berjualan tahu itu bingung karena dagangannya banyak tidak laku terjual. “Ini berusaha balik modal saja karena kami sudah beli kontan dari agen. Tidak mungkin disimpan untuk besok (hari ini),” cetusnya.

Sementara Tina (40), yang sudah tujuh tahun berjualan tahu dan mi basah di Pasar 16 Ilir juga mengeluhkan berkuangnya pembeli. “Pembeli berkurang sekitar 50 persen. Kalau jam begini, biasanya sudah terjual 10 kilogram mi basah. Tapi, ini baru laku 5 kilogram,” imbuhnya.

Belum lagi, harga mi basah naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 10.000. Sedangkan tahu juga baru terjual sekitar 100 buah dari biasanya 200 buah. “Kami hanya menjual, tidak ada nita meracuni pembeli. Kalau tidak, kami mau dagang apa,” tuturnya.

Liza, pedagang mi basah dan tahu di Pasar Palima mengakui, pembeli berkurang 8-10 persen dibanding hari-hari sebelumnya. Menurutnya, penurunan pembeli karana harga mi basah yang naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 12.000 per kilogram. “Kenapa hanya mi dan tahu saja. Padahal cincau dan beberapa makanan lainnya juga banyak yang mengandung formalin. Itu pun bkan kami yang membuatnya,” pungkasnya.

Di Pasar Lemabang, para pedagang tahu juga sepi pembeli. Dewi, pedagang tahu di sana, mengakui adanya imbas dari sidak dan razia tahu berformalin terhadap penjualan. “Selalu begini. Setiap kali ada yang kedapatan buat atau jual tahu pakai formalin, pasti jualan kami tidak laku. Pembeli mengira produsennya sama,” ujarnya.

Biasanya, Dewi menjual tahu lebih dari dua ember per hari. Tiap ember berisi 100 potong tahu. Namun, kemarin hanya 30-40 potong tahu yang terjual. “Saya berharap dinas terkait segera menghukum produsen nakal tersebut sehingga kami dapat kembali menjual tahu seperti biasa. Pembeli juga tidak lagi takut beli tahu,” pintanya.

Sejumlah pedagang tahu di Pasar Sekip Ujung mengatakan, tidak merasa imbas banyak dari razia dan sidak tahu berformalin. “Hanya sebagian warga yang takut membeli. Tapi, langganan masih tetap. Lagian, tahu yang kami jual benar-benar bebas formalin,” ungkap Novi, salah satu pedagang tahu di sana.

Senada diungkap Siti Aminah, pedagang tahu di Pasar Kuto. Katanya, penjualan tahu tetap normal dan tidak ada penurunan pembeli. “Saya jual Rp 700 per potong. Tahunya dijamin bagus dan tanpa formalin,” tuturnya. (cj6/cj7/ce4)

Sumatera Ekspres, Kamis, 3 Juli 2014

About Iwan Lemabang
Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: